Keberuntungan di Umur ke-50

Hmmm… Hari ini ITB berulang tahun yang ke-50, sebuah umur emas yang patut dibanggakan. Tapi, kalo dipikir-pikir lagi, apa bener umur segini bisa dibanggakan? Kalo dibandingkan dengan universitas-universitas lain di seluruh dunia yang umurnya udah lebih dari ratusan tahun, rasanya ITB ini masih seumur jagung, masih seperti anak kemarin sore. Dengan umur segini, masih banyak yang belum tercapai oleh ITB, masih banyak hal-hal yang tidak dimiliki oleh ITB, padahal ITB sudah terkenal di jagat internasional. Harusnya ITB bisa lebih dari yang sekarang, “lebih” dalam artian lebih baik, lebih bagus, pokoknya segala lebih deh, kalo dibandingkan dengan semua perguruan tinggi di Indonesia ini.

Gw cukup kaget waktu baca koran Pikiran Rakyat, di sana disebutkan bahwa hanya 30% dari total jumlah mahasiswa baru yang diterima melalui SNMPTN (seleksi nasional mahasiswa perguruan tinggi negeri), sisanya diterima melalui jalur khusus, yaitu USM (ujian saringan masuk). Kaget, karena ini artinya semakin lama yang bisa masuk ke ITB cuman orang berduit aja. Kita semua tahu, bahwa masuk lewat USM itu bayarnya mahal, setiap tahun biayanya naik. Tahun 2009 ini biaya masuk minimal sebesar 60 juta rupiah, beda waktu tahun 2006 lalu waktu gw masuk yang “cuman” 45 juta rupiah (minimal). Wow! Kalo gitu gimana caranya orang berotak encer tapi ga mampu? Emang sih patut diakui bahwa kualitas orang yang melewati USM itu lebih baik dari pada yang melewati SNMPTN, seperti yang dikatakan oleh Rektor ITB sendiri, Pak Djok Santoso. USM itu punya standar sendiri, tidak seperti SNMPTN yang menerima masuk mahasiswa sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia. Kalo USM punya standar minimal di setiap jurusan yang dipilih. Jadi, kalo misalnya yang lolos kualifikasi SAPPK cuman sepuluh orang, ya yang diterima masuk lewat USM cuman segitu, sisanya berarti diisi dari hasil SNMPTN. Inilah yang dikatakan oleh Pak DjokSan.

Sebenernya ada sih jalur masuk yang (bisa dibilang) gratis, alias ga bayar. PMBP namanya, Penelusuran Minat, Bakat, dan Potensi. Ini sebenernya sama aja dengan USM, cuman namanya aja yang beda. Kalo USM tuh sekarang cuman ada di daerah (di luar Bandung), kalo USM terpusat tahun ini namanya  PMBP-ITB (sampai tahun lalu masih USM terpusat namanya). Tertulis di situs “http://www.itb.ac.id/usm-itb/PMBPPusat/IndexFolder.htm”, bahwa yang boleh ga bayar SDPA (Sumbangan Dana Pengembangan Akademik) adalah siswa yang pernah dapat medali olimpiade tingkat nasional (apalagi internasional), siswa yang melewati jalur Beasiswa Ekonomi Lemah dan jalur Beasiswa Penuh, dan siswa yang sejak awal memilih beberapa jurusan tertentu (ada lima, monggo dilihat ke situs di atas…).

Kalo gitu, sebenernya bisa dong orang kurang mampu masuk ke ITB? Iya, menurut gw emang masih bisa, dan kesempatannya sangat terbuka sekali. Apalagi sebenernya, ada banyak banget beasiswa yang bisa diambil kalo kita udah masuk ITB. Tinggal kita aja yang musti rajin-rajin cari informasi. Ada beasiswa penuh sampe lulus, ada beasiswa yang per tahun, per semester, banyak lah pokoknya. Bisa dibilang, orang yang kurang mampu masih bisa survive di ITB. Kalo mahasiswanya pintar, dan dosennya baik, kadang dosennya mau kok bantu cari bantuan dana untuk si mahasiswa (ini cerita NYATA lho, kata temen2 gw).

Tapi… tapi nih… ITB kan sekolah milik rakyat, jadi harusnya merakyat, ya ‘kan? Seharusnya prosentase yang diterima lewat jalur khusus dengan yang umum (SNMPTN) jangan terlalu timpang gitu. Ya setidaknya 50 – 50 lah, biar kesempatan rakyat Indonesia yang pengen sekolah di ITB lebih besar. Apa mungkin karena status hukum ITB sebagai BHP (badan hukum pendidikan), jadi perguruan tinggi harus cari dana sendiri? Apalagi di UU BHP tertulis bahwa PTN harus menyediakan beasiswa bagi (minimal) 20% mahasiswanya yang miskin. Apakah aliran dana dari mahasiswa yang melewati jalur khusus diberikan sebagian untuk mereka?        ……. Who knows…?

Yah, gw sih berharap aja dengan umur ITB yang baru menginjak 50 tahun ini, semoga laju perkembangannya berbanding lurus dengan pertambahan umurnya. Masih banyak yang harus diperbaiki ITB, dari segi kualitas dan kuantitas pengajarnya sampe kualitas prasarana-nya. Kalo ada yang belum pernah masuk ke dalam ITB, coba deh sekali-sekali datang dan masuk. Mungkin Anda bakal ngerasa sedikit kecewa kalo melihat langsung keadaan kampus ITB. “Apakah ini yang disebut-sebut sebagai institut teknik terbaik di Indonesia?” mungkin ada yang berpikir begitu nanti. Hehehe… 😀 Bukannya menjelek-jelekkan almamater sendiri nih, tapi emang beginilah kenyataannya. Gedung2 banyak yang kurang terurus, catnya yang udah kusam, jalan aspal dalam kampus yang mulai rusak… 

Semoga ITB bisa lebih baik lagi dan menjadi kebanggaan Indonesia di dunia Internasional!!!

8 Comments

  1. Selamat Ultah ke-50 untuk ITB!!! Sampaikan salamku Sop, untuk ITB!!

    Salam Ganesha!! *Sotoy bgt gw… ^^

    Reply

  2. Huheehhehe kok gue jadi kebayang bayang raffie ahmad ama yunisara ya???
    Qkqkqkqkqkk
    Eh gue komen di sini, karna menurut gue aman, komen cuman 2 plus gue satu hueheheheehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s