24
Apr
09

Bahasa Indonesia Asli atau Serapan?

Saya akhir2 ini makin gemes ama banyaknya kata2 yang saya baca di berbagai media, entah itu koran, majalah, tabloid, sampe berita di TV, yang sering sekali (dan banyak) menggunakan kata2 serapan (bener gak nih istilahnya?). Kata2 itu SANGAT mirip sekali dengan bahasa Inggris, padahal sebenarnya bisa dengan bahasa Indonesia.

Saya ga bisa ngasih contoh banyak2, karena saya lupa mencatatnya, dan sekarang saya lagi cepet2 posting gara2 ada urusan lain yg lebih penting. Contohnya:

Mangrove = Ini kan artinya bakau. Coba liat di koran2 dan di TV, semuanya menggunakan kata MANGROVE ketimbang dengan BAKAU!! Ya elah… saya ga habis pikir, kenapa sih??

Imaturitas = Bahasa Inggrisnya immaturity. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “maturitas” emang ada, tapi kenapa harus ditambahai I- didepannya? Saya cari Imaturitas di KBBI, ga ada tuh…. Kenapa kok ga pake kata “ketidakdewasaan“? Terlalu panjang dan rumit menulisnya? Kurang keren? Ayolah, emang inilah bahasa kita, gunakanlah meskipun jelek kata itu….

Kustomisasi = Ini aneh. Ada yang pernah baca kata ini? Kalo ada yang belum pernah, gapapa, emang ini cuman ada di majalah game berinisial Z. Saya kaget juga waktu baca kata ini. Loh? Sekarang warga negara bisa bikin bahasa sendiri yah? Kata ini dari kata customization. Lebih baik buat saya menggunakan kata bahasa Inggris tapi katanya dimiringkan karena bahasa/istilah  asing.

Introduksi = Saya cari di KBBI, emang ada kata ini. Artinya ya perkenalan, dari kata introduction. Yang saya heran, kenapa kok tidak memakai kata “perkenalan” saja? Kenapa harus menyerap bahasa asing? ck ck ck….

Tolong, kalo ada yang bisa menambahkan kata2 serapan yang aneh, yang sebenarnya bisa menggunakan bahasa Indonesia, beri tahu saya. Kalo ada yang bisa memberikan penjelasan atas hal ini, saya bersyukur sekali… 🙂

Advertisements

40 Responses to “Bahasa Indonesia Asli atau Serapan?”


  1. 24 April 2009 at 14:37

    mungkin karena lebih keren, lebih meng-kota, lebih menarik, lebih asing…masih banyak lagi dehh

  2. 25 April 2009 at 04:57

    Iya ya.. aneh2 aja..

    Tapi kalo basaha inggris kayak download, install, dll.. mending g usah di bahasa indonesia-in, jelek banget..

    Download = Unduh
    Install = Pasang

    • 28 October 2011 at 11:41

      tolol! aneh menurut lo yang orang aneh.

      • 28 October 2011 at 17:16

        Komentar situ juga bikin saya bingung. Aneh juga. 😦

  3. 25 April 2009 at 06:22

    hmmmmm bahasa asing mungkin karena lebih keren, lebih meng-kota, lebih menarik

    • 6 Adik Asop
      30 April 2009 at 10:26

      Ya, memang. Saya mengerti.

      Dasar orang kritis :d

      Yang saya pelajari selama ini, kalau ada kata asing yang terdengar aneh, pedomannya adalah KBBI!!

      Memang yang paling menjadi pedoman tata bahasa sekarang adalah KBBI!! Jadi kata “introduksi” tak ada salahnya dipakai, karena itu sudah baku dan sudah merupakan bahasa Indonesia,

      Hanya perlu diingat, bahwa kata-kata dalam bahasa Indonesia itu terus bertambah. Jadi kalau dari kamus yang saya lihat, yang merupakan KBBI lama, kata seperti “Mangrove, Kustomisasi, Imaturitas” tidak ada di situ. Tapi mungkin di KBBI terbaru, kata itu sudah ada.

      Kalau masalah perubahan kata ari bahasa asing seperti kustomisasi tadi, mungkin merupakan kebiasaan dari kita yang belajar bahwa kata “-ization” menjadi “-isasi”. Dan huruf “c” jadi “k”.

      Terima kasih

    • 7 Adik Asop
      30 April 2009 at 10:31

      Ya, memang. Saya mengerti.

      Dasar orang kritis :d

      Yang saya pelajari selama ini, kalau ada kata asing yang terdengar aneh, pedomannya adalah KBBI!!

      Memang yang paling menjadi pedoman tata bahasa sekarang adalah KBBI!! Jadi kata “introduksi” tak ada salahnya dipakai, karena itu sudah baku dan sudah merupakan bahasa Indonesia,

      Hanya perlu diingat, bahwa kata-kata dalam bahasa Indonesia itu terus bertambah. Jadi kalau dari kamus yang saya lihat, yang merupakan KBBI lama, kata seperti “Mangrove, Kustomisasi, Imaturitas” tidak ada di situ. Tapi mungkin di KBBI terbaru, kata itu sudah ada.

      Kalau masalah perubahan kata ari bahasa asing seperti kustomisasi tadi, mungkin merupakan kebiasaan dari kita yang belajar bahwa kata “-ization” menjadi “-isasi”. Dan huruf “c” jadi “k”.

      Terima kasih

  4. 8 zefka
    25 April 2009 at 08:29

    bahasa memang akan mengalami pertumbuhan… seiring dengan perubahan jaman. KAlo ada sesuatu yg baru memang biasanya agak aneh dengarnya tp ntar jg keliatan wajar.

  5. 25 April 2009 at 09:14

    @ Deady

    Duh, masa’ alasannya hanya karena meng-kota?
    Di mana hati kita sebagai bangsa Indonesia (gileee bahasanya ^^)? Di mana janji sewaktu sumpah pemuda? Bahasa kita satu, bahasa Indonesia….

    @ Ardi

    Mending pake unduh ama tetikus (mouse), Di… kita ngerasa aneh dengan kata2 itu karena kita udah terbiasa dengan bahasa inggris. Lama2 jga bakal terbiasa kalo pake bahasa indo asli….

    @ mrpall

    Duh, menurut saya ga masuk akal kalo alasannya karena lebih meng-kota….. >.<

    @ Mas Zefka

    Duh, artinya kita harus tunduk pada perubahan zaman dan membiarkan istilah2 asing mengubah bahasa kita??

  6. 25 April 2009 at 11:54

    ya… jujur aq si lebih bisa d bahasa inggris dari pada d bahasa indonesia…
    uji coba UNAS yg pertama ajah indonesiaku 5,80 sedangkan inggrisku 9,00

    doakan UNAS lancar! oke!

  7. 25 April 2009 at 12:14

    Amin!! Moga lulus semua deh se-spensix! ^^

  8. 12 deeedeee
    25 April 2009 at 12:48

    ck..ck..ck.. saya amaze… sempet2nya ngecek KBBI buat liat makna2nya…
    *memiringkan kata asing supaya gak dikomplen Asop,, haiyaaah!*

  9. 25 April 2009 at 14:32

    jahaha,, kok nanya balik sih sop.. coba tanya diri kita ndirii dhee,, jujur aku biasanya buat nekanin suatu bahasa yang kurang layak memang sengaja pake bhsa lainya yang lebih terlihat dewasa attau bisa kita sebut sog kerenn.. hanya saja sperti bakau tadi memang sudah klweatann sih.. hhe…

    ayoo bangga dengan negeri kita,, hip hip..

  10. 25 April 2009 at 14:41

    Wah, gimana nih sebagai warga negara? ^^

  11. 26 April 2009 at 04:28

    Hahai..
    Coba nanti gw tanyain k guru b.ind gw..
    Hhe,
    Untg wakt UN gada pertanyaan ìtu,cba kl ada, bs kelabakan gw.
    😀

  12. 26 April 2009 at 11:32

    wah, bahasan menarik nich mas asyraf ^atoasopajakaliya^ . . .
    hmm, nisa kog gak peka ya, gak pnah ngamatin yg ky gt, *duwh nis. . .*

    yg disayangkan jg itu boso jowo mas. . . aq pengen baca majalah panjebar semangat . . . ^^

    kangen pelajaran BD, ho no co ro ko *hayah nis,*

  13. 17 masnoe®
    26 April 2009 at 15:17

    wah sebagwai warga negara indonesia menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar kapan bahasa saya masih campur gado2

  14. 18 Sukma
    27 April 2009 at 00:37

    Ugh, tak bisa komentar banyak. Saya termasuk orang yang suka pakai bahasa ngasal 😛 *dijitak guru Bahasa Indonesia*

  15. 27 April 2009 at 03:13

    @ Qarii

    Bagus, tolong tanyain yah.. 😀

    @ NIsa

    Yup, pake Asop aja. Btw, kok tahu kalo nama panggilan saya juga Asyraf?

    @ Masnoe

    Hmmmm… bhasa gado2 sih menurut saya monggo2 aja, yg penting tahu waktu dan tempatnya. Jangan sampe di keadaan formal banget seperti presentasi dan rapat kita tidak menggunakan bhs indonesia yang baik da benar dan tidak menggunakan EYD. Saya suka kesal ama orang seperti itu…. >.<

    @ Sukma

    Bahaya nih Sukma…. :mrgreen:

  16. 27 April 2009 at 04:56

    Kalau memang harus menggunakan bahasa asing, sekalian saja bahasa asing. Bukan introduksi. Sekalian saja introduction. Kalau tidak ya harus bahasa indonesia, yaitu perkenalan. Kalau itu sih nanggung. Indonesia enggak, asing juga enggak. Tapi kalau mau secara bijak menyikapi hal ini, mungkin alasan dibalik itu semua antara lain biar media yang bersangkuta mempunyai ciri khas.

  17. 29 April 2009 at 08:04

    waduh..dah lama gag belajar EYD
    jadi gag ngerti

  18. 4 May 2009 at 10:34

    AFAIK, kata2 dalam bahasa Indonesia itu 80%nya merupakan kata serapan, entah itu bahasa luar negeri maupun dari bahasa daerah negeri sendiri. Ini dengan mengacu kalo bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahkan Alif Danya Munsi alias Remy Sylado pernah membahas kata2 di bahasa Indonesia yg berasal dari bahasa lain, dalam bukunya yg berjudul “9dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing” 😉
    hal ini wajar, mengingat kepulauan Indonesia terdiri dari berbagai suku dan bahasa daerah, tetapi sudah mengenal bahasa Melayu sebagai lingua franca, dan merupakan persilangan perdagangan laut antara China/Jepang dan India/Afrika/Arab. ditambah lagi dengan masuknya bangsa Eropa di masa kolonial, yg sedikit banyak memperkaya kosa kata dalam bahasa Indonesia sekarang ini 🙂
    contoh, “gratis” itu berasal dari bahasa Spanyol, dengan arti sama. kalo bahasa melayu-nya setau saya “percuma”, tapi kata “percuma” lebih tepat digunakan untuk “sia-sia” dalam bahasa Indonesia 😉 *inget lagu “naik kereta api” 😛 *
    contoh lagi, “cinta” berasal dari bahasa Spanyol juga, yg artinya “pita”. mungkin inlander2 jaman dulu melihat Spaniard yg saling mengikatkan pita sebagai tanda saling mencintai 😛

    Jadi sepertinya wajar saja kalau mengikuti perkembangan jaman orang2, terutama yg berkutat di dunia media, mulai memasukkan kata2 asing lainnya dalam tulisan-tulisan mereka. mungkin karena memang tidak menemukan padanannya di bahasa Indonesia, atau supaya lebih mudah dijelaskan karena butuh beberapa kata atau satu kalimat untuk menjelaskan kata asing dalam bahasa Indonesia, maka digunakanlah metode adaptasi yg merubah kata asing tersebut sesuai dengan pelafalan Indonesia.
    kalo untuk kata yg ada padanannya di bahasa Indonesia tapi tetep digunakan proses adaptasi, mungkin si pengguna merasa kurang sreg menggunakan kata asli, atau seperti komentar bung Iis Kusaeri di atas supaya media yg bersangkutan memiliki ciri khas 🙂

  19. 4 May 2009 at 18:24

    Hmmmm…. gitu toh, saya baru tahu kalo ternyata bahasa kita itu dari bahasa asing…

    Tapi, saya rasa untuk kata2 di atas di postingan saya ini, rasanya keterlaluan kalo tetap menggunakannya. Rasanya seperti kita ga punya jati diri, ga punya bahasa sendiri. Menyedihkan…. Masa’ ngomong bakau aja mangrove?

  20. 5 May 2009 at 10:44

    asing di sini maksud saya non-Melayu 🙂 bisa Jawa, Sunda, Menado, Ambon, Belanda, Spanyol, China, Inggris, dan banyak lagi 😉
    dan proses penyerapan kata2 asing sendiri (terutama di bidang teknologi) sepertinya tetap berlangsung seiring dengan kemajuan jaman. hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bisa dilihat Jepang yg banyak memasukkan kata2 asing juga dalam bahasa mereka (yg ditulis make katakana sesuai pelafalan mereka, contoh “terebi” untuk television, “pasokon” untuk personal computer, dll)

    mengenai kata2 yg mas Asop sebut di atas, IMO kata “mangrove” lebih memiliki efek berkesan ilmiah ketimbang “bakau”, sehingga mungkin si pengguna lebih memilih menggunakan kata2 itu agar tulisannya lebih mendapat perhatian. kata “mangrove” sendiri merupakan kata adopsi, tidak melalui perubahan bentuk dan diambil mentah2 tulisan dan pelafalannya.
    mengenai kata2 lainnya, mungkin si pengguna merasa lebih formal menggunakan kata2 serapan tersebut, dan efeknya memang lebih diperhatikan (dipandang tinggi) ketimbang menggunakan padanannya di bahasa Indonesia. dan untuk kata “kustomisasi”, bukankah malah sudah bagus dengan dipilih menggunakan kata serapannya, yg sudah menjadi kata dalam bahasa Indonesia? kebetulan setahu saya kata itu tidak ada padanannya (padanan = sinonim kan 😛 ) yg benar2 tepat untuk kata “customization”. 🙂

    lagipula IMHO, toh inti dari suatu bahasa sebagai alat komunikasi adalah pihak2 yg saling berkomunikasi dapat mengerti maksud yg ingin disampaikan satu sama lain 😉

    just my Rp 2,- 😉

  21. 6 May 2009 at 00:10

    hm.. jati diri bahasa indonesia ya 😀 memang sudah meluntur, kurasa…

    v(^^)/ pa kabar bung ? 😛

  22. 7 May 2009 at 03:51

    apdet maz…

    o iya, ada awardz.

  23. 7 May 2009 at 08:51

    huehue..iya ya kadang ga nyadar ampe segitunya…
    mungkin krna lebih keren aja..enaknya dibaca..hehe

  24. 8 May 2009 at 03:19

    mampir lagi 😀

  25. 8 May 2009 at 05:52

    @ Arm

    Kalo jepang sih emang saya tau (tapi ga tau banyak apa ga), ada kata2 yang bener dari bahasa asing, macem “purezento” dari kata “present”.

    Duh, saya tetap ga bisa menerima alasan orang2 yang memakai “mangrove” ketimbang bakau. Nama ilmiah bakau itu bukan “mangrove”….. >.<

    @ Nisa

    Kabar baik…. ^^

    @ konohanasakuya

    Asik… ambil ah….

    @ Titin

    Iya ‘kan? 😦

  26. 8 May 2009 at 07:57

    Nama ilmiah bakau itu bukan “mangrove”….. >.<

    iya ngerti, mangrove itu cuma nama sebutan umum.. kalo jenisnya banyak, ada Avicenna, Rhizopora, dll..
    makanya saya bilang cuma berkesan ilmiah aja. segala sesuatu yg “berbau asing” biasanya dianggap masyarakat awam berbau ilmiah 😉
    padahal tu mangrove bakau cuma ada di daerah tropis lho.. 😛

  27. 8 May 2009 at 08:29

    Nah, pendapat bahwa “segala sesuatu yang ‘berbau asing'” itulah yang sulit saya pahami mengapa dan sulit saya terima…. -_-‘

  28. 8 May 2009 at 09:51

    yang penting udah bisa di baca dan dimengerti gua udah seneng SOOOOOOOOOOOP

  29. 8 May 2009 at 12:40

    Gak bisa Den, berarti kamu orangnya tidak kritis… -_-‘

  30. 11 May 2009 at 13:36

    wahh..nasionalisme yang tinggi..
    beda ma beberapa teman2qw..
    hehehehe

  31. 14 May 2009 at 06:22

    Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English).
    […]
    Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora) adalah salah satu family tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan mangrove.

    ~dikopi dari sini. CMIIW 😛

    • 14 May 2009 at 12:33

      Makasih infonya… Saya coba ke sana.
      Saya pertaruhkan keyakinan saya akan “bakau”.

  32. 37 conrad_weller
    15 May 2009 at 05:09

    halo…gabung yah. sy sendiri lagi punya masalah sama kata serapan neh…atasan sy minta semua istilah laboratorium diterjemahin dalam bahasa indo. jadi kayak centrifuge jadi pemusing, peripheral jadi tepi, gitu deh…disposable = sepabu (sekali pakai buang)…mulai gak masuk di akal. skrg sy lg kelabakan nyari terjemahan. ada yang merasa tertantang mengindonesiakan kata2 asing g?

    • 15 May 2009 at 11:03

      Wow, repot juga yah… saya turut berduka… 😦

      tapi menurut saya, kalo untuk istilah laboratorium, itu gak harus diterjemahin. Bakal sulit juga yah kalo menerjemahkan semua istilah lab itu…. 😦

      Untuk ini saya angkat tangan… Tapi saya tetap mendukung Anda.. moga semangat terus! 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Si Empunya Blog

Siapa saya? Monggo lihat halaman "Tentang Saia..." di atas. Tinggal klik! Mau meninggalkan jejak? Monggo klik halaman "Tinggalkan jejak..." di atas. Jangan lupa, nikmatilah hidup ini. ^_^

Hubungi saya di jejaring sosial

Kadang-kadang di blog ini saya menggunakan emoticon Parampaa. Silakan datang ke blog Bang Ova di sini. Dapatkan emoticon-nya di sini. HAJAR!!

Masukkan e-mail Anda di sini kalo mau dapet pemberitahuan postingan baru saya via e-mail

Join 973 other followers

Powered by FeedBurner

Saya sedang membaca ini


Tulisan Saya Berdasarkan Bulan

Arsip Tulisan

Ups, maap, kalau mau melihat arsip semua tulisan saya, lihat halaman di atas ya, yang "Arsip Tulisan" itu lho....

TIPS!

Kalo tulisan di blog saia ini terlalu kecil, monggo diperbesar. Untuk pengguna windows, tahan [Ctrl] sambil di-scroll mouse tengah. Untuk pengguna Mac, tahan [Cmd] dan tekan [+] atau [-].

Ga nyambung sih ini, bukan promosi, tapi kalo mau browser Safari, donlot di sini.

Blogroll: By Name


Abed Saragih "disave" |
Abi Harestya dan Bidadarinya |
Abu Aufa |
Abu Bakar "Bchree" |
Abu Ghalib |
Achmad Edi Goenawan |
Achoey El Harris |
Ade Kurniawati |
Adi Surya Pamungkas "bacelzone" |
Fan Adie Keputran |
Adya Ari Respati "abstractdoodle" |
Afra Afifah |
Ageng Indra |
Agry Pramita |
Agung Budidoyo |
Agung Firmansyah |
Agung Hasyim |
Agung Rangga "Popnote" |
Agung Yansusan Sudarwin |
Agustantyono |
Agyl Ardi Rahmadi |
Ahmad Musyrifin |
Akhmad Fauzi |
Alfi Syukrina |
Alid Abdul |
An Fatwa "Siho" |
Andi Nugraha |
Andi Sakab |
Andhika |
Andreas A. Marwadi |
Andrew Paladie |
Andrik Prastiyono |
Andyan |
Angga "SERBA BEBAS" |
Angga Dwinovantyo |
Anies Anggara |
Anindita |
Anistri |
Anita Rosalina |
Anto "Kaget" |
Anyes Fransisca |
Are 3DRumah |
Ari Artanto "Cah Gaul" |
Ari Muhardian "Tunsa" |
Ariana Yunita |
Arief Hartawan |
Arif "Bangkoor" Kurnia |
Arif Nurrahman |
Arif Sudharno Putro |
Ariyanti "Sauskecap" |
Arnolegsa Maupasha |
Arundati R.A. |
Aruni Yasmin Azizah |
Aryes Novianto |
Asep Saiba |
Asrul Sani |
Atha "kepompong" |
Aul Howler |
Awalul Hanafiyah "Masyhury" |
Baha Andes |
Baiq Fevy Wahyulana |
Bernadine Hendrietta |
Betania G. Rusmayasari |
Big Zaman |
Budi Nurhikmat |
Budi Prastyo "Kimbut" |
Calvin Sidjaja "Republik Babi" |
Cempaka Ariyanti |
Chocky Sihombing |
Citra "ceetrul" Hapsari |
Dadi Huang |
Danar Astuti Dewirini |
Daniel Hendrianto |
Daniel Maulana |
Deady Rizky |
Dede A. Hidayat |
Deny Marisa |
Depriyansyah Ramadhan "Iamcahbagus" |
Desita Hanafiah |
Destiana |
Desy Arista Y. |
Dewi Puspitasari |
Dewisri Sudjia "Desudija-DSK" |
Dhanika Budhi |
Dhewi Buana |
Dhimas Nugraha |
Didot Halim |
Dina Aprilia |
Dismas |
Ditya Pandu |
Doni Ibrahim |
Edda Nainay |
Efinda Putri |
Eko Ghesi Bardiyanto |
Elfa Silfiana |
Ella "Brokoli Keju" |
Erick Azof |
Erika Paraminda |
Erlin Fitriyanti |
Evan Ramdan |
Evet Hestara |
Fadhilatul Muharram |
Fahmi Nuriman |
Faisal Afif Alhamdi |
Faiza "MIDWIFE'S NOTES" |
Fandy Sutanto |
Fanny Azzuhra |
Fatra Duwipa |
Febe Fernita |
Felicia |
Ferry Irawan Kartasasmita "makhluk lemah" |
Fier "Pelancong Nekad" |
Fikri "Blue Zone" |
Fira "Fiya" |
Fitri Melinda |
Fitriyani |
Galih Gumilang "Gege House" |
Galuh Ristyanto |
Ghani Arasyid |
Gilang F. Pratama "Babiblog" |
Gitta Valencia |
Gugun "idebagusku.com" |
Gusti Ramli |
Hanif Ilham |
Hanny Aryunda Herman |
Hendrawan Rosyihan |
Hera Prahanisa |
Herni Bunga |
Herry "negeribocah" |
I Gede Adhitya Wisnu Wardhana |
Husfani A. Putri |
Ibnu Fajar "Ikky" |
Ilham JR |
Inge "Cyberdreamer" |
Intan Permata Kunci Marga |
Iqmal |
Irfan Andi|
Isdiyanto |
Ivan Prakasa |
Januar Nur Hidayanto "Yayanbanget" |
Jasmine Aulia |
Joko Santoso |
Joko Setiawan |
Juhayat Priatna |
Julianus Ginting |
Kang Ian . info |
Kang Ian . com |
Karina Utami Dewi |
Khalid Abdullah |
Khalifatun Nisa |
Kuchiki Rukia |
Lailaturrahmi Sienvisgirl Amitokugawa |
Lambertus Wahyu Hermawan |
Lerryant K. |
Lina Sophy |
Lucky DC |
Maghfiraa Alva |
Marchei |
Mario Sumampow |
Mas Ardi |
Mas Bair |
Mas Yudasta |
Mikhael Tobing |
Mirwanda |
Miswar Rasyid |
Mochammad AHAO |
Mohamad Husin |
Muhammad Abdul Azis |
Muhammad Hamka Ibrahim |
Muhammad Ihfazhillah |
Muhammad Riyan |
Muhammad Saiful Alam |
Muhammad Zakariah |
Nadia Fadhilah Riza |
Nanang Rusmana |
Nandini R.A. |
Necky Effendi |
Ninda Rahadi |
Nindy Ika Pratiwi |
Novina Erwiningsih |
Nur Azizah |
Nuri |
Perwira Aria Saputra |
Pipin Pramudia |
Pratita Kusuma |
Puji Lestari |
Pungky "PHIA" Widhiasari |
Putri Chairina |
Qori Qonita |
Radinal Maruddani |
Rahad Adjarsusilo |
Rahmat Hidayat |
Randi Rahmat |
Rasyida |
Regina |
Reisha Humaira |
Rie "Cerita Rie" |
Richie Lanover |
Rif'atul Mahmudah |
Rina Sari |
Rini Andriani "Athamiri" |
Riza Saputra |
Rizki "Hitam Putih Jingga" |
Rizki Akbar Maulana |
Ronie "Ravaelz" |
Rowman |
Rudi Wahyudi |
Ruri Octaviani |
Saipuddin Ar |
Septirani Chairunnisa Kamal |
Shafiqah Adia Treest |
Silvi Mustikawati |
Surya "Javanes" Pradhana |
Tasya Myanti |
Thyar |
Tiffany Victoria "Tiffa" |
T I W I |
Tony Koes "Macsize" |
Triana Frida Astary |
Triyani Fajriutami |
Uka Fahrurosid |
Ummu El Nurien</a. |
Upik "Pemburu Konstruksi Makna" |
Wahyu Asyari Muntaha |
Wahyu Nurudin |
Wahyu Putra Perdana |
Wendy Achmmad |
Widyan Fakhrul Arifin |
Wien Wisma |
Wildan Lazuardi |
Wiwin Siswanty |
Wiwing Fathonah Pratiwi |
Yori Yuliandra |
Yuli Anggeraini |
Zuli Taufik |

I’m a Liverpudlian!



%d bloggers like this: