29
Apr
10

Pajak Dalam Humor

Lagi-lagi, berselancar di ranah maya di sela-sela deadline draft, saya nemu humor ini di kapanlagi.com. Langsung aja silahkan dibaca. 😀

Dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk mensosialisasikan betapa pentingnya warga negara Indonesia yang juga merupakan adalah wajib pajak.

Direktur Pajak memberikan sebuah pidato untuk membuka acara sosialisasi pajak kepada masyarakat.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati, semua warga negara Indonesia pastinya ingin bangsa ini menjadi lebih maju untuk itu diperlukan adanya pembangunan di segala bidang di negara ini. Agar pembangunan itu bisa terlaksana juga membutuhkan bantuan dari anda semua sebagai warga negara Indonesia yang juga seorang wajib pajak untuk membayar pajak dengan senyuman.”

Direktur pajak yang ketika berpidato masih membuka lembaran pidatonya ke halaman berikutnya sehingga ada jeda pidatonya berhenti sejenak.

Tiba-tiba dibalik ketenangan suasana dalam ruangan tersebut, ada orang yang sedang gembira setelah mendengarkan pidato tersebut.

“Asyiiik, kirain bayar pajaknya dengan uang”, kata orang tersebut.

Sumber humor: http://www.kapanlagi.com/a/bayarlah-pajak.html

Mau humor lain? Main aja ke sini, banyak banget humor yang lucu, walaupun ada juga yang agak jorok. 😀

*

Haha… apakah ini termasuk salah satu penurunan derajat Dirjen Pajak di mata rakyat? Sayang sekali ya, padahal Dirjen Pajak saya pikir sudah berbaik hati dengan sunset policy-nya, yang menghapuskan sangsi pajak kepada wajib pajak tertentu (diatur dalam UU No. 28 Tahun 2007). Pengen juga sih bayar pajak cuma dengan senyum manis saya, tapi nanti negara dapet duit dari mana? APBD daerah-daerah (provinsi, kabupaten, dan kota) nanti ngisinya dari mana, ‘kan ada Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU) yang dananya dapet dari pusat. Kasihan untuk daerah yang miskin. Terus, pemerintah pusat mau membangun dan memelihara infrastruktur negara mau memakai duit dari mana?

Heu, banyak ya pertimbangan kalo mau nggak bayar pajak. Selain di atas mungkin masih banyak lagi efek samping dari “stop bayar pajak”. Jadi yaa… tetap bayar pajak aja lah. 😀

Seandainya Dirjen Pajak bersih, gak korup, dan semua warga negara membayar pajak, termasuk pengusaha-pengusaha (nakal pengemplang pajak triliunan) besar maupun yang kecil, saya yakin negara ini ga bakal kekurangan uang. Dengan catatan pemerintah daerah juga bersih lho ya. Kalo di pusat bersih tapi di provinsi dan kota-nya korup, ya sama aja nanti bocor duitnya…. 😦

———————————————————————————————————————————————————

Sumber gambar dari sini, dan di-crop sendiri. :mrgreen:    Yang dari sini masih murni. 😎

Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.
Advertisements

106 Responses to “Pajak Dalam Humor”


  1. 29 April 2010 at 00:14

    enak juga kalo boleh bayar pajak nya dengan senyuman aja ya.. 😛

  2. 29 April 2010 at 01:03

    enak aje dengan senyuman
    trus jalan, jembatan dan lain sebagainya kagak bisa dibangun ntar
    senyuman itu digunakan saat kita selesai membayar dengan duit lah ya

  3. 29 April 2010 at 02:15

    Sepertinya zakat bisa menjadi solusi pengganti pajak 🙂

  4. 29 April 2010 at 03:43

    hemm…kayaknya utopia banget ya kalo semua omongan bang asop terwujud..hehe..
    tapi ga da salahnya berharap..iya kan>???hoho..

  5. 29 April 2010 at 07:14

    hehe yang bikin sakit ati kan oknum2 yang mengkorupsi pajak dan penggunaan hasil pajak yg kurang jelas, jadi ga rela liat pph yg nominalnya bisa buat makan seminggu >_<

  6. 29 April 2010 at 07:40

    aduh udah mual-mual aja nih liat semua drama pajak itu … kayaknya aku positif deh … positif alergi mafia pajak

  7. 29 April 2010 at 07:42

    ijin nyimak dulu gan =D

  8. 29 April 2010 at 08:26

    orang bijak taat pajak. hari gini gak bayar pajak? apa kata dunia?! *contoh warga negara yang baik* 😛

    • 29 April 2010 at 10:41

      hahah orang rajin taat bayar denda 😀

      • 10 Usup Supriyadi
        29 April 2010 at 15:47

        makin makmur tuh negera, selain dapat dari pokok pajak juga dri denda yang diterima, tapi mana ya buahnya?

    • 29 April 2010 at 20:33

      @TRIANA: bukan masalah bayar pajak atau nggaknya….
      orang mau bayar pajak adlh sebuah kewajiban yg sudah dilakukan…
      minimal jika seorang pegawai, pasti sudah ada PPh nya..

      Maslahnya adalah Pajak itu dibuat apa???
      untuk menggaji orang2 Pajak yg REMUNERASInya tinggi namun tetap korupsi??

      masak nuntut org bayar pajak tp ga ada tanggungjawabnya,….

      ditata dulu sistem nya, bru ngejar2 org supaya bayar pajak yg benar…

      ORANG PAJAK HARUS BIJAK, HARI GINI ORG PAJAK GA KORUPSI ?? APA KATA GAYUS…???

      • 30 April 2010 at 08:45

        eksis banget ni orang 😀

        APA KATA GAYUS…???>>>> gayus ga akan berkata2… diakan pendiem… diemnya menghanyutkan lagi… mantabbb deh 😀

      • 30 April 2010 at 13:59

        @Cempaka: hmm,,,,
        btw, kok km perhatian banget to sama aku???

        :mikir-mikir:

        *jangan-jangan……………
        😀

      • 30 April 2010 at 20:03

        hihihi..aku cuma mengutip slogan2 soal pajak yang sering terdengar ituh koq 😛

    • 30 April 2010 at 21:51

      ooowh

  9. 29 April 2010 at 08:40

    kalau pajak senyuman bayarnya jangan ke ditjen pajak.. tapi ke semua orang. 🙂

  10. 29 April 2010 at 10:24

    Terserah tuh uang mau diapakan yang penting kita sebagai warga yang bijak tetap taat bayar pajak, toh nanti juga allah yang akan membalas semuanya….iya kan?????

    • 29 April 2010 at 20:35

      @Bunda Arun: bukan begitu bunda…
      kita juga punya kewajiban untuk mengontrol agar kita tidak menjerumuskan org ke jalan yg sesat.
      tdk memberikan secara tdk langsung uang2 itu untuk dikorupsi …

      jgn hny memsrahkan begitu saja kepada Allah bunda…

      gmn sih bunda…

  11. 29 April 2010 at 11:12

    saya taat pajak koq.. (okok)
    kemana2 pasti kena pajak :mrgreen:

  12. 29 April 2010 at 11:13

    yaudah sekarang kalo bayar pajak pake senyuman aja
    hahaha

  13. 29 April 2010 at 11:45

    Kantor pelayanan publik yang satu ini, hebat banget, banyak artis2 baru bermunculan dari sana, ya tentunya setelah ketahuan belangnya 🙂

  14. 29 April 2010 at 12:07

    kunjungan perdana…

    Kalo emang bisa bayar pajak pake senyum pasti mantap karna ga bisa dikorupsi…

  15. 29 April 2010 at 12:18

    pajak ya??
    sering nih klo makan di resto.. :mrgreen:
    termasuk ga ya???
    ea,gaji juga dipotong pajak kok..

  16. 29 April 2010 at 12:25

    Senyum kan ibadah, berarti bayar pajak dengan senyum sudah ibadah loh …hhahha

  17. 29 April 2010 at 12:44

    Jadi inget, maren nyetir di belakang truk gede di tol, ada tulisan gini “Senyummu membuat uang jalanku tekor” hahahaha…..

    Klo bayar pajak cuman pake senyum, ntar jargon pajak berubah dong!

    “Bayar pajak pake senyum? Apa kata duniyaaa??”

  18. 29 April 2010 at 12:57

    bayar pake tutup botol aja pajaknya 😆

  19. 29 April 2010 at 13:11

    aya-aya wae
    itu mah cuman humor mereun
    heheheh :mrgreen:
    makanya bayar pajak
    makanya para petugas pajak jangan korupsi
    makanya makan 4 sehat 5 sempurna

  20. 29 April 2010 at 13:19

    wekekek.. yg ada kalo kekantor pajak.. petugas nya jarang yg senyum..
    gimana mo bayar pake senyuman 😀

    Btw Asop ikutan member Kapanlagi.com nggak ?

  21. 29 April 2010 at 13:42

    kasian pemerintah udah susah2 bangun citra buat “orang bijak bayar pajak” tapi dihancurkan sendiri dari dalam oleh mas gayus 😯

    gayus ,oh gayus,nasibmu kini…

  22. 29 April 2010 at 13:47

    idealnya pegawe pajek itu ndak ada yang korupsi, trus wajib pajek juga ndak ada yang ngemplang. saya berharap semoga dengan kasus-kasus yang belakangan terbongkar bisa membersihkan instansi pajak, dan saya yakin mereka bisa.

    yang ndak kalah memprihatinkan, ada beberapa orang yang vokal banget mngkritisi pajek tapi mereka sendiri ndak mbayar pajek dengan tertib. dan beberapa kali saya menemui calon kepala daerah laporan pajeknya asal-asalan.

  23. 29 April 2010 at 14:05

    tersenyumlah…..dan….lunaslah…enak banget

  24. 29 April 2010 at 14:49

    Pajak itu seharusnya diganti dengan zakat ya mas biar adil dan mudah2an minim/tidak ada korup

  25. 33 Rivanlee
    29 April 2010 at 15:04

    jadi gimana tentang pepatah “orang bijak taat pajak” ???

    • 29 April 2010 at 20:36

      salah itu..

      haruse dibalik

      ORANG PAJAK HARUS BIJAK !!! JANGAN MAIN TINDAK !!! JANGAN SEKEDAR BAJAK UANG WAJIP PAJAK !!!

  26. 29 April 2010 at 15:06

    wkwkwkwk… lain kali saya bayar pajak pake senyuman deh… jadi nggak bisa dikorupsi ama gayus2 yang lain heehe…

    Nice info 😀

  27. 29 April 2010 at 16:01

    wah teks pidatonya belum diperiksa tuh.. apa kata dunia 😀

  28. 29 April 2010 at 16:40

    Mo senyum apa enggak, tetap aja di daftar gaji sudah jelas potongan pajaknya 🙂 Kehkehkehkeh…

    • 29 April 2010 at 21:04

      iya mas Sapril..
      kita cukup itu saja dulu..

      soale pajak ndak hanya dr gaji lho mas…

      klo PPh mah dibayar perusahaan mas..

    • 29 April 2010 at 22:34

      jadi gak senyum ingat potongan…ohh pajak..

  29. 29 April 2010 at 16:58

    haha,aya2 wae.. gayus telah mencoreng upaya pemerintah dalam perpajakan 😀

  30. 41 yanrmhd
    29 April 2010 at 17:02

    hehe, dengan senyuman… :mrgreen:
    bakalan sulit buat di korup…

  31. 29 April 2010 at 17:21

    hehehe.. ayo kita bayar pajak dengan senyuman.. :mrgreen:

    hidup pajak senyum.. :mrgreen:

  32. 43 Zeph
    29 April 2010 at 18:09

    jadi..seberapa kelam dan panjang kah lorong gelap perpajakan kita? 😎

  33. 29 April 2010 at 19:10

    bayar pajak sih oke, tapi kalo dikorupsi juga ya percuma

  34. 29 April 2010 at 19:22

    Wah… salah kaprah tuh audiensnya, maksudnya bayar pajak tanpa harus mengeluh, tetapi bayar pajak dengan tetap tersenyum, hehehe.

  35. 29 April 2010 at 19:36

    klo memang bener bayar pajak pake senyum baguslah….daripada pake uang ntar hilang lagi alias raib ke kantong oknum….hehehe

  36. 29 April 2010 at 20:08

    hari gini ga bayar pajak? apa kata gayus…

    ;p

  37. 29 April 2010 at 20:28

    sebenarnya jadi mikir 2 x deh untuk bayar pajak…. takut ditilep duitnya sama orang pajak, kek gayus itu tuh…

  38. 29 April 2010 at 20:53

    pajak oh pajak

  39. 50 tary Sonora
    29 April 2010 at 20:54

    ntar aja dech bayar pajak, kalo udah bener sistemnya aja.

    Oyah, saya pindah rumah, berkunjung ya di http://mengeluh.wordpress.com

  40. 29 April 2010 at 21:00

    jadi males buat bayar pajak nie….

    sebelum kasus gayus meledak, aku dah berpikiran, saat nganggur, pemerintah gak secara nyata mencarikan kita pekerjaan, tapi saat kit abekerja, pemerintah memaksakan untuk menarik pajak dan saat pensiun, kita kembali diterlantarkan pemerintah…… doh…

  41. 29 April 2010 at 21:02

    Gini Sop,,,

    Haha… apakah ini termasuk salah satu penurunan derajat Dirjen Pajak di mata rakyat?
    >> mungkin iya..; krn mereka tdk mau memperbaiki sistem kinerja mereka dg baik dan masih suka dg ‘tradisi’ lama.

    Sayang sekali ya, padahal Dirjen Pajak saya pikir sudah berbaik hati dengan sunset policy-nya, yang menghapuskan sangsi pajak kepada wajib pajak tertentu (diatur dalam UU No. 28 Tahun 2007).
    >> Siapa bilang prakteknya semudah itu Sop…,, kalau untuk pajak NPWP pribadi mungkin iya karena secara nominal tdk banyak. Namun jika untuk perusahaan atau sebuah usaha, maka kenanya bisa sampai dobel2. Lagian, NPWP itu memang wajib dimiliki layaknya KTP Sop…. jd ga ngaruh2 bgt dg sunset policy itu.. “KAMPANYE SAJA ITU Sop..”

    Pengen juga sih bayar pajak cuma dengan senyum manis saya, tapi nanti negara dapet duit dari mana? APBD daerah-daerah (provinsi, kabupaten, dan kota) nanti ngisinya dari mana, ‘kan ada Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU) yang dananya dapet dari pusat.
    >> Sejauh yg kutahu sejak otonomi daerah nih Sop, pendapatan daerah tdk berasal dr PAJAK krn PAJAK sepenuhnya domain milik Dirjen Pajak yg berada di bawah Departemen Keuangan. Daerah dapatnya dr retribusi2, PAD, dll. CMIIW

    Kasihan untuk daerah yang miskin. Terus, pemerintah pusat mau membangun dan memelihara infrastruktur negara mau memakai duit dari mana?
    >> Daerah miskin seharusnya digabung dan dimekarkan dg adanya OTDA. Infrastruktur sebenarnya bs tuh dibangun dr duit2 hasil korupsi di pemerintahan sejak Indonesia merdeka.
    (jangan terlalu mengandalkan negara untuk berbuat kepada rakyatnya Sop.., ciptakan ide2 kreatif mandiri lepas dr negara. Apa bisa? Banyak. Lihat Pak Onno, lihat bu Tri Mumpuni, dll
    moga bs mencotoh mereka…

    Heu, banyak ya pertimbangan kalo mau nggak bayar pajak. Selain di atas mungkin masih banyak lagi efek samping dari “stop bayar pajak”. Jadi yaa… tetap bayar pajak aja lah. 😀
    >> Masalah bayar pajak atau tidak, itu pun nantinya juga bakal disuruh bayar kok. Asal kita bayar pajak dg bukti slip2 lengkap dan datang langsung ke KPP. Insya Allah itu bakal sampai ke negara..dan jd pendapatan negara.
    Yg menjadi persoalan adalah Pajak dg Perusahaan2. Seringkali org2 pajak itu mencari2 alasan dan kesalahan serta pembenaran untuk memungut pajak atas sebuah perusahaan. Perusahaan yg sudah berusaha taat pajak jd jijik tentunya krn merasa sudah membayar pajak dg benar, tp selalu dicari2 kesalahannya. Yg seringnya nilai kena pajaknya selalu di atas batas kewajaran.
    Nah dr situ, muncul2ah tawaran2 dr aparat pajak untuk membantu membuat laporan keuangan sedemikian rupa agar pajak perusahaan itu bs diminimalisir. Logika akan memilih dibantu.
    Sudah umum jika sebuah perusahaan pd awalnya dikenai pajak 20 M misalnya lalu di’bantu’ dan pajaknya hny tinggal 100 juta. Kemudian, aparat2nya itu memperoleh uang membantu yg sebenarnya memeras. Modus ini dilakukan sop … sejak dr dulu sampai sekarang. meskipun sekarang mulai berkurang.

    Seandainya Dirjen Pajak bersih, gak korup, dan semua warga negara membayar pajak, termasuk pengusaha-pengusaha (nakal pengemplang pajak triliunan) besar maupun yang kecil, saya yakin negara ini ga bakal kekurangan uang.
    >> Penggunaan bahasa pengemplang pajak setelah aku berhubungan dg org2 pajak ternyata br kusadari bhw itu istilah dr org pajak yg sebenarnya tiak tepat. Pd prinsipnya para pengusaha dimanapun berusaha untuk membayar sesuai aturan yg mereka ketahui. namun mereka sering diperas krn dicari2 kesalahan2nya.. Kalao bicara pajak dan aturan pajak Sop…., tdk semudah kita mengatakan WARGA NEGARA YG BAIK BAYAR PAJAK. Pajak itu menurut hemat saya perlu ditinjau ulang sistemnya. Kenapa? Krn mereka seperti lembaga super bodi tanpa ada pengawasan selama ini. Mereka bikin aturan sendiri, ditegakkan sendiri, dieksekusi snediri, diadili sendiri. Jd, jika ada seseorang yg merasa dizalimi oleh org pajak bukan ke PN mereka menggugat, tp ke pengadilan pajak. Otomatis ya ga bakal adil. Wong mereka yg bikin pengadilannya…
    Pajak sebenarnya adalah peninggalan zaman penjajahan dan kerajaan yg punya pemimpin dzalim namun sampai saat ini msh dipertahankan.
    Bila mau, ZAKAT -lah solusinya. Tapi sifatnya wajib. bukan seperti skrg ini yg hny sukarela.

    intinya, ditata dulu itu sistem pajak-nya dg baik dg mekanisme kontrol yg baik pula. Baru deh, rakyat disuruh bayar pajak dg baik.
    “Sy jd teringat saat ada seorang kawan mau bayar pajak di KPP lalu diminta pulang sama kepala-nya sambil berkata “mas, ga usah bayar pajak banyak2 mas.., pajak sampeyan khan ndak banyak2. Ini juga sudah cukup. PPh saja. Penghasilan di luar gaji anda seperti jualan dagangan ga usah dipajaki gpp. Toh, org2 CHINA yg ga bayar banyak kok” katanya ….

    so??? PAJAK ga sekedar membayar saja kale.. kita perlu mengontrolnya..
    Toh, memaksimalkan pendapatan dr SDA seharusnya cukup jika negeri ini memang niat..

    • 29 April 2010 at 22:58

      Oouw, makasih atas kesedian Ahmed untuk menjelaskan opininya di sini dengan panjang lebar. 🙂

      But, i’ll correct you because you’re wrong at #3 .
      Pendapatan daerah memang bukan berasal dari pajak secara langsung, dan benar adanya bahwa daerah dapat duitnya dari retribusi dan PAD (salah duanya). Tapi, sudahkah Ahmed membaca link DAU dan DAK di atas? Sudahkah mencari informasi tentang dua hal itu?
      Patut diingat, di setiap APBD daerah2 terdapat Dana Perimbangan, terdiri dari DAU dan DAK.
      Setiap daerah di Indonesia PASTI mendapatkan DAU dari pemerintah pusat. Ada jatah DAU (dari pusat) di setiap APBD. Besaran DAU ini ada perhitungannya, tergantung dari jumlah penduduk dan luas wilayah. Semakin besar wilayah dan jumlah penduduknya, makin besar DAU yang didapat. Sebaliknya berlaku. Sekedar tambahan, ada beberapa daerah yang mendapat perlakuan khusus, seperti Papua dan Kalimantan. Papua dan Kalimantan adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, tapi penduduknya sedikit. Aturan yang tadi saya tulis tidak berlaku, karena untuk ini ada perhitungannya sendiri.
      Dari mana sumber DAU ini? Ya dari kas negara, dan kas negara itu salah satu sumbernya adalah pajak (sumber lain dari usaha negara seperti Pertamina, dan pinjaman luar negeri).
      DAK (Dana alokasi khusus) juga sama sumbernya, dari kas negara. DAK ini dana untuk membiayai kegiatan khusus di daerah yang sesuai dengan prioritas nasional. Perlu diingat, tidak semua daerah dapat DAK di dalam APBD. Namanya aja DAK, hanya untuk daerah yang sangat miskin sekali, seperti NTT, (atau) NTB.
      Pajak di setiap daerah itu pertama masuk ke kanwil pajak. Kanwil pajak ini ada di setiap daerah (provinsi, kabupaten, kota). Jenis pajak-pajak ini contohnya seperti PPh, PPn, dan PBB. Setelah dipungut oleh kanwil pajak, disetor lah uangnya ke pusat, dengan Dirjen Pajak sebagai pemungutnya. Uang2 hasil pajak dari daerah ini masuk ke dalam kas negara. Barulah setelah dikumpulkan di pusat, disebarkan ke seluruh daerah berupa DAU dan DAK.
      Jadi inilah yang saya maksud dengan tulisan saya di atas. Secara tidak langsung, mungkin akan mempengaruhi jumlah pendapatan negara kalau banyak sekali orang yang gak bayar pajak. Jika kas negara kurang, bagaimana mau membiayai daerah2 yang miskin? Masa’ dari pinjaman luar negeri lagi? 😐

      Untuk poin #4:

      Daerah miskin ini sudah saya jelaskan di atas kan, mereka ini yang mendapat jatah DAK.
      Untuk infrastruktur negara, memang sudah tugasnya Departemen Pekerjaan Umum Pusat untuk memelihara dan membangunnya. Contoh infrastruktur negara ini seperti jalan dan pengairan. Sungai-sungai yang besar, yang lintas provinsi (sungai Musi, sungai Solo), dikelola oleh negara. Memang untuk beberapa kasus diserahkan pengelolaannya ke Dinas PU daerah, tapi tetap biaya dari pusat.
      Yang saya katakan di sini adalah dalam konteks pajak, kewajiban pemerintah, bukan dari konteks apa yang bisa masyarakat lakukan. Jadi saya rasa opini Ahmed kurang cocok di sini. Bagus sih, saya rasa kurang cocok aja.

      Makasih lho info2 mengenai modus penggelapan pajak dan istilah yang kurang tepat di atas. 🙂
      Nice.

  42. 29 April 2010 at 21:04

    SALAM KENAL BOS?

  43. 29 April 2010 at 21:41

    Wah bener tuh mas asop, pajak harus tetap dibayar. dengan catatan sistemnya harus bener dong mulai dari bawah sampai ke atas. Tapi zakat saya rasa lebih efektif.

  44. 29 April 2010 at 22:10

    Hebat goda-gado…Hebat mas Asop

    Saya hanya mau menantang setiap pribadi untuk berusaha menjadi pengaruh menghilangkan budaya korupsi di sekitar kita..

    Saya sendiri sulit sekali menerapkan itu, kemarin habis dari luar kota, ada uang perjalanan dinas, saya tidak displin mencatat pengeluaran, akhirnya saya reka-reka..Hasilnya tetap selisih dengan aslinya, meski tidak bermaksud korup tapi ini salah satu bibit korup loh…

    Dari pajak kok ke korup sih saya?????

    hwewhwe

    Salam Romailprincipe

  45. 29 April 2010 at 22:14

    wah…masih hot juga rupanya berita tentang ‘Pajak’ :mrgreen:

    menurut sya pribadi kaya nya asik ya kalo sampe benar-benar terjadi dengan membayar pajak pake ketawa haha..hihi *di pentung DIRJEN PAJAK* sebetulnya ini bukan merupakan ‘barang baru’ namun yang membuat menariknya adalah, selalu ada saja ringkasan masa lalu dan bisa lebih wah lho :mrgreen:

    salam hangat

  46. 29 April 2010 at 22:17

    itu namanya pajak senyuman too

  47. 29 April 2010 at 22:24

    pegel juga kalau suruh bayar pake senyum….

  48. 29 April 2010 at 22:51

    Ayyoo semua…
    Kita taat pajak…

  49. 29 April 2010 at 23:36

    klo pajak bisa dibayar pake senyum,, dijamin ga bakal ada markus kaya gayus.. hehehh

  50. 29 April 2010 at 23:41

    hmmmm .. pajak gie jadi bauah bibir yuuaa… :mrgreen:

  51. 29 April 2010 at 23:42

    gimana seandainya ga ada pajak ajah?? ganti yang lain yang lebih Ok gtu… (halah, ngaco nie rose…. 😛 )

  52. 29 April 2010 at 23:51

    katanya pendapatan terbesar negeri ini dari sektor pajak ya…
    gak kebayang aja kalo rakyat kompak gak bayar pajak, bisa bangkrut nih negara
    tapi hendaknya kasus gayus itu dijadikan pelajaran bagi mereka, sudah kaya dengan jalan halal, mengapa masih mau mencuri uang rakyat?

  53. 30 April 2010 at 00:09

    wao. aku speechless! :))

    bicara soal pajak, sop? aku mundur selangkah dua langkah deh. diberikan pada yang ahli sahaja. hehehe.

    tapi pengen ngopi-ni juga si. :p
    setuju sama asopii kalo pajak dihapus sepenuhnya, penghasilan negara yang selama ini didominasi dari pajak (sekitar 80%an malah?) pasti bakal berkurang gila2an, soalnya negara indonesia belum bisa menjadi negara yang mempunyai sektor tertentu yang bisa menciptakan penghasilan lebih tinggi dari yang bisa diperoleh dengan penarikan pajak. so, kalo aku sebenarnya masih go aja sama pajak, cuma masalahnya sebenarnya bukan cuma satu. selain pajak yang masuk ke kantong para tikus, ada juga permasalahan salah alokasi. kadang pajak itu malah digunain untuk yang ngga penting ato bisa diulur di waktu berikutnya.

    ..
    hahah, aku ngelantur lagi. mana ngelanturnya sudah sangat jelas dan umum pula. sori asopii. belakangan emang sering banget terjadi.. :p
    btw apa khabar ni? lama tak bersua. 😀

    • 30 April 2010 at 07:44

      Haha.. Inipun aku ngemeng hanya dengan sedikit referensi dari ranah maya dan bahan kuliah kita dulu. 😀

      Yap, bener banget itu, Hanny. Cuman, aku ga tahu berapa prosentase penghasilan negara yang dari pajak. 😆

      Gapapa Hanny, melanturlah selama melantur belum dilarang. Aku emang jarang ke kampus, Hanny, ngendon di rumah. :mrgreen:

  54. 30 April 2010 at 02:47

    wkwkwk masalah pajak emang aslinya sudah menggekilikan :mrgreen:

  55. 30 April 2010 at 04:57

    Pajak, sungguh bermanfaatkah bagi rakyat? Tinjau ulang krn bagi kebanyakkan ‘atasan’, pajak terlihat nyata manfaatnya….

  56. 30 April 2010 at 07:02

    Rame neh 😀

    Penggelapan dana pajak oleh oknum aparat pajak, bukan berarti menjadi alasan berhenti membayar pajak. Tetep bayar pajak, dan awasi penggunaannya.

  57. 70 Rhyzaboy
    30 April 2010 at 07:35

    Dunia semakin gila sob….

  58. 30 April 2010 at 07:40

    kalau pajak bayarnya pake senyumas, produsen pasta gigi laku keras tuh 😆

  59. 72 zhie
    30 April 2010 at 07:41

    zhie gag ngerti pajak, blom ngeh … (bilang aja males belajar pajak2an)

  60. 73 yuwaku
    30 April 2010 at 07:57

    Bayar pajaklah slagi kewajiban kalian… Embatlah! selagi kita bisa..

  61. 30 April 2010 at 08:22

    Hari gini ngemplang pajak….apa kata dunia??

    salam

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/04/posisi-ml-idaman-wanita/

  62. 30 April 2010 at 08:35

    pajak ku dicuri pajak ku blum bayar….

  63. 30 April 2010 at 08:42

    mmm… gimana ya???mau jadi warga negara yang baik saja deh
    kalau dikorup ya, serahin sama yang berwenang kalaupun mereka bisa lolos
    dari pengadilan dunia mereka ga bisa lolos dari pengadilan Tuhan kok…

    Kembali Kepolos (mario teguh mode ON) heuheu… 😀

  64. 77 darahbiroe
    30 April 2010 at 08:54

    wakwkakwka
    pajak ohhh pajakkk
    warga sudah sadar eh ptugas nya malah nakal
    😀

  65. 30 April 2010 at 08:59

    Mau donk pajak dengan senyuman : tapi kalo pajak dibayar dengan senyum bisa” dibilang gila… semua senyum” sendiri kqkqkkqq…

    Asop QK ada award buat kmu.. diambil ya.. 😉

    HIDUP!!! ^_^

  66. 30 April 2010 at 09:49

    Orang bijak taat pajak
    Orang pajak harus bijak

  67. 30 April 2010 at 09:50

    kekuatan lain dr sebuah senyuman,
    senyum….lunas………… 😀 😀 😀
    salam

  68. 30 April 2010 at 10:05

    wah bagus tuh, satu senyumanku bisa lunasin pajak 10 orang, ayo siapa yg mau titip 😀

  69. 30 April 2010 at 11:20

    Klo dengan senyuman saja, bisa2 giginya kering dunkz senyum truzzzzzzzz… akakakak
    Kapan yach Om negeri kita bebas korup…. hihihihi

  70. 30 April 2010 at 12:34

    saya denger cerita dari orang jakarta.. katanya kondektur bis kota yang melintasi kantor pajak tuh sekarang teriaknya begini: “Gayus, Gayus, Gayus….”

    sampe segitunya ya 🙂

  71. 30 April 2010 at 13:44

    mantab
    pastinya sangatlah kemakmuran sebuah negara tersebut..heheh
    salam hangat dari blue

  72. 30 April 2010 at 14:12

    sepertinya kantor pajak emang lagi disorot saat ini, banyak sekali koruptornya ngak di pusat ngak di daerah sama-sama penjahat

  73. 30 April 2010 at 16:29

    wahh,, kalo bayar pajak dengan senyum, seluruh warga negara pasti ikhlas bayarnya…

    andai senyuman dapat dibuat beli motor..

  74. 30 April 2010 at 19:00

    ya ini soal persepsi dan kepercayaan. pajak dan bea cukai itu masuk dua institusi yang kepercayaan masyarakatnya jelek. termasuk polisi dan kejaksaan. masyarakat kita sudah defisit kepercayaan karena perilaku mereka emang kadang kelewatan.

  75. 30 April 2010 at 19:12

    tau negara Dubai yang terkenal dengan minyak yang melimpah ruah?

    di sana tidak ada pajak untuk warga negaranya… karena saking kayanya pemerintah di sana dari minyaknya!

  76. 30 April 2010 at 19:41

    Saya sering kali alergi kalau denger kata pajak 🙂

  77. 30 April 2010 at 21:48

    smoga tak ada lagi penggelapan pajak

  78. 30 April 2010 at 21:55

    sejak gayus muncul, pajak menjadi sorotan, padahal, setau saya, masih banyak anak2 muda di pajak yang shaleh dan bersih. 🙂

    • 30 April 2010 at 22:13

      @Andrik: masalahnya,,, tahunya drmn ????
      survey??
      justru sy khawatir dg mereka..
      yg tadinya bagus dan shaleh malah jd bubrah..

      misal, jika menerima duit tambahan atas sesuatu yg mereka tdk ketahui asal muasalnya saja main mereka terima dg alasan “dikasih ya diterima”.

      huft….
      *prihatin saja

  79. 30 April 2010 at 22:12

    hari gini…
    masih korupsi???
    Apa kata gayus tambunan?

    huft…

    Jeleknya pemerintahan di Indo,,
    banyak tikus tikusnya yah bang asopusitimus

  80. 30 April 2010 at 22:27

    Apa Kata Dunia?!!
    Sebuah kalimat yang pada akhirnya jadi dilemparbalikan pada si empunya iklan..heuu 😦

  81. 30 April 2010 at 23:26

    selamat malam sobat…
    lanjutkan ….

  82. 30 April 2010 at 23:28

    wow wow rame banget komennya..
    ikutan menyimak lagi ahhh

  83. 1 May 2010 at 07:42

    senang sekali… dunia akan murah senyum kalo gitu.

  84. 1 May 2010 at 13:51

    selamat pagi

    andaikan ada alat yg bisa mengubah senyum menjadi uang :mrgreen:

    terima kasih dan mohon maaf 😮

  85. 1 May 2010 at 22:33

    *ternyata tak cukup hanya senyuman

  86. 2 May 2010 at 12:21

    pajak and zakat…
    Hmm… complicated ❓

  87. 3 May 2010 at 11:39

    pajak…. dikorup… apa kata dunia…?

  88. 4 May 2010 at 18:52

    bener2… dr mn negara dpt duit klo g dr pajak…
    yg hrz distop itu ya para koruptornya 🙂

  89. 5 May 2010 at 14:42

    “Ini pukulan telak bagi MA, karena dari awal MA mengatakan tidak ada masalah (dalam kasus Gayus). Tidak ada pelanggaran dan tidak ada suap, tapi ternyata buktinya ada. Ini menunjukan praktek mafia hukum masih eksis sampai sekarang,” ujar peneliti hukum ICW Febri Diansyah di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (18/4/2010).

    Febri menyatakan, klaim MA telah melakukan pembersihan terhadap mafia hukum, harus diuji lagi. “Kalau begini terkesan MA memberikan perlindungan terhadap pihak bermasalah dengan mengatakan tidak ada masalah,” katanya.

    Febri menyangsikan polisi dapat menyeret aktor utama kasus Gayus Tambunan. Hal ini disebabkan polisi merupakan bagian dari kasus Gayus.
    Selain itu kejaksaan tidak jelas dalam menanggani masalah ini.

    “Jalur konvensional seperti ini pasti akan gagal dalam kondisi yang kita sebut darurat mafia ini. Sebaiknya diserahkan ke KPK agar lebih baik,” katanya.

  90. 8 May 2010 at 23:31

    senyum itu memang mahal 😆

  91. 10 June 2010 at 13:20

    senyum adalah ibadah..ibadah sebagian dari amal..jadi bayar pajak dengan amalan,hehe..(garing)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Si Empunya Blog

Siapa saya? Monggo lihat halaman "Tentang Saia..." di atas. Tinggal klik! Mau meninggalkan jejak? Monggo klik halaman "Tinggalkan jejak..." di atas. Jangan lupa, nikmatilah hidup ini. ^_^

Hubungi saya di jejaring sosial

Kadang-kadang di blog ini saya menggunakan emoticon Parampaa. Silakan datang ke blog Bang Ova di sini. Dapatkan emoticon-nya di sini. HAJAR!!

Masukkan e-mail Anda di sini kalo mau dapet pemberitahuan postingan baru saya via e-mail

Join 973 other followers

Powered by FeedBurner

Saya sedang membaca ini


Tulisan Saya Berdasarkan Bulan

Arsip Tulisan

Ups, maap, kalau mau melihat arsip semua tulisan saya, lihat halaman di atas ya, yang "Arsip Tulisan" itu lho....

TIPS!

Kalo tulisan di blog saia ini terlalu kecil, monggo diperbesar. Untuk pengguna windows, tahan [Ctrl] sambil di-scroll mouse tengah. Untuk pengguna Mac, tahan [Cmd] dan tekan [+] atau [-].

Ga nyambung sih ini, bukan promosi, tapi kalo mau browser Safari, donlot di sini.

Blogroll: By Name


Abed Saragih "disave" |
Abi Harestya dan Bidadarinya |
Abu Aufa |
Abu Bakar "Bchree" |
Abu Ghalib |
Achmad Edi Goenawan |
Achoey El Harris |
Ade Kurniawati |
Adi Surya Pamungkas "bacelzone" |
Fan Adie Keputran |
Adya Ari Respati "abstractdoodle" |
Afra Afifah |
Ageng Indra |
Agry Pramita |
Agung Budidoyo |
Agung Firmansyah |
Agung Hasyim |
Agung Rangga "Popnote" |
Agung Yansusan Sudarwin |
Agustantyono |
Agyl Ardi Rahmadi |
Ahmad Musyrifin |
Akhmad Fauzi |
Alfi Syukrina |
Alid Abdul |
An Fatwa "Siho" |
Andi Nugraha |
Andi Sakab |
Andhika |
Andreas A. Marwadi |
Andrew Paladie |
Andrik Prastiyono |
Andyan |
Angga "SERBA BEBAS" |
Angga Dwinovantyo |
Anies Anggara |
Anindita |
Anistri |
Anita Rosalina |
Anto "Kaget" |
Anyes Fransisca |
Are 3DRumah |
Ari Artanto "Cah Gaul" |
Ari Muhardian "Tunsa" |
Ariana Yunita |
Arief Hartawan |
Arif "Bangkoor" Kurnia |
Arif Nurrahman |
Arif Sudharno Putro |
Ariyanti "Sauskecap" |
Arnolegsa Maupasha |
Arundati R.A. |
Aruni Yasmin Azizah |
Aryes Novianto |
Asep Saiba |
Asrul Sani |
Atha "kepompong" |
Aul Howler |
Awalul Hanafiyah "Masyhury" |
Baha Andes |
Baiq Fevy Wahyulana |
Bernadine Hendrietta |
Betania G. Rusmayasari |
Big Zaman |
Budi Nurhikmat |
Budi Prastyo "Kimbut" |
Calvin Sidjaja "Republik Babi" |
Cempaka Ariyanti |
Chocky Sihombing |
Citra "ceetrul" Hapsari |
Dadi Huang |
Danar Astuti Dewirini |
Daniel Hendrianto |
Daniel Maulana |
Deady Rizky |
Dede A. Hidayat |
Deny Marisa |
Depriyansyah Ramadhan "Iamcahbagus" |
Desita Hanafiah |
Destiana |
Desy Arista Y. |
Dewi Puspitasari |
Dewisri Sudjia "Desudija-DSK" |
Dhanika Budhi |
Dhewi Buana |
Dhimas Nugraha |
Didot Halim |
Dina Aprilia |
Dismas |
Ditya Pandu |
Doni Ibrahim |
Edda Nainay |
Efinda Putri |
Eko Ghesi Bardiyanto |
Elfa Silfiana |
Ella "Brokoli Keju" |
Erick Azof |
Erika Paraminda |
Erlin Fitriyanti |
Evan Ramdan |
Evet Hestara |
Fadhilatul Muharram |
Fahmi Nuriman |
Faisal Afif Alhamdi |
Faiza "MIDWIFE'S NOTES" |
Fandy Sutanto |
Fanny Azzuhra |
Fatra Duwipa |
Febe Fernita |
Felicia |
Ferry Irawan Kartasasmita "makhluk lemah" |
Fier "Pelancong Nekad" |
Fikri "Blue Zone" |
Fira "Fiya" |
Fitri Melinda |
Fitriyani |
Galih Gumilang "Gege House" |
Galuh Ristyanto |
Ghani Arasyid |
Gilang F. Pratama "Babiblog" |
Gitta Valencia |
Gugun "idebagusku.com" |
Gusti Ramli |
Hanif Ilham |
Hanny Aryunda Herman |
Hendrawan Rosyihan |
Hera Prahanisa |
Herni Bunga |
Herry "negeribocah" |
I Gede Adhitya Wisnu Wardhana |
Husfani A. Putri |
Ibnu Fajar "Ikky" |
Ilham JR |
Inge "Cyberdreamer" |
Intan Permata Kunci Marga |
Iqmal |
Irfan Andi|
Isdiyanto |
Ivan Prakasa |
Januar Nur Hidayanto "Yayanbanget" |
Jasmine Aulia |
Joko Santoso |
Joko Setiawan |
Juhayat Priatna |
Julianus Ginting |
Kang Ian . info |
Kang Ian . com |
Karina Utami Dewi |
Khalid Abdullah |
Khalifatun Nisa |
Kuchiki Rukia |
Lailaturrahmi Sienvisgirl Amitokugawa |
Lambertus Wahyu Hermawan |
Lerryant K. |
Lina Sophy |
Lucky DC |
Maghfiraa Alva |
Marchei |
Mario Sumampow |
Mas Ardi |
Mas Bair |
Mas Yudasta |
Mikhael Tobing |
Mirwanda |
Miswar Rasyid |
Mochammad AHAO |
Mohamad Husin |
Muhammad Abdul Azis |
Muhammad Hamka Ibrahim |
Muhammad Ihfazhillah |
Muhammad Riyan |
Muhammad Saiful Alam |
Muhammad Zakariah |
Nadia Fadhilah Riza |
Nanang Rusmana |
Nandini R.A. |
Necky Effendi |
Ninda Rahadi |
Nindy Ika Pratiwi |
Novina Erwiningsih |
Nur Azizah |
Nuri |
Perwira Aria Saputra |
Pipin Pramudia |
Pratita Kusuma |
Puji Lestari |
Pungky "PHIA" Widhiasari |
Putri Chairina |
Qori Qonita |
Radinal Maruddani |
Rahad Adjarsusilo |
Rahmat Hidayat |
Randi Rahmat |
Rasyida |
Regina |
Reisha Humaira |
Rie "Cerita Rie" |
Richie Lanover |
Rif'atul Mahmudah |
Rina Sari |
Rini Andriani "Athamiri" |
Riza Saputra |
Rizki "Hitam Putih Jingga" |
Rizki Akbar Maulana |
Ronie "Ravaelz" |
Rowman |
Rudi Wahyudi |
Ruri Octaviani |
Saipuddin Ar |
Septirani Chairunnisa Kamal |
Shafiqah Adia Treest |
Silvi Mustikawati |
Surya "Javanes" Pradhana |
Tasya Myanti |
Thyar |
Tiffany Victoria "Tiffa" |
T I W I |
Tony Koes "Macsize" |
Triana Frida Astary |
Triyani Fajriutami |
Uka Fahrurosid |
Ummu El Nurien</a. |
Upik "Pemburu Konstruksi Makna" |
Wahyu Asyari Muntaha |
Wahyu Nurudin |
Wahyu Putra Perdana |
Wendy Achmmad |
Widyan Fakhrul Arifin |
Wien Wisma |
Wildan Lazuardi |
Wiwin Siswanty |
Wiwing Fathonah Pratiwi |
Yori Yuliandra |
Yuli Anggeraini |
Zuli Taufik |

I’m a Liverpudlian!



%d bloggers like this: