Omong Kotor dan Umpatan

Akhir-akhir ini, saya berpikir tentang gagasan baru. Gagasan ini mengenai omong kotor atau umpatan. 😀   Sebagaimana kita tahu, umpatan di setiap daerah berbeda menurut bahasa daerah masing-masing. Di Surabaya ada jancok (atau ditulis juga jancuk), nggateli (baca “e”-nya seperti “e” pada desa), matamu (iya, matamu, dengan penekanan di “ma-“, sering dibaca “muatamu” :mrgreen:). Di daerah jawa lain biasa dengan asu (terjemahan: anjing), dan sering kita dengar juga kata-kata lain seperti anjing, anjrot, anjis, anjrit, babi, dan banyak lagi kata-kata turunannya.  😛

Menurut KBBI dalam jaringan, umpatan berkata dasar “umpat“, yang artinya:

1um·pat n perkataan yg keji (kotor dsb) yg diucapkan krn marah (jengkel, kecewa, dsb); cercaan; makian; sesalan; umpatan: — dan puji tidak pernah bercerai, selalu ada yg mencela dan ada yg memuji; tindakannya itu mengakibatkan sesal dan — dr keluarga sendiri;
tidak membunuh, puji tidak mengenyang, pb baik celaan maupun pujian tidak perlu dihiraukan;
meng·um·pat v 1 mengeluarkan umpat(an); memburuk-burukkan orang; mengeluarkan kata-kata keji (kotor) krn marah (jengkel, kecewa, dsb); 2 mencerca; mencela keras; 3 mengutuk orang krn merasa diperlakukan kurang baik; memaki-maki;
peng·um·pat n orang yg suka mengumpat;
peng·um·pat·an n proses, cara, perbuatan mengumpat;
um·pat·an n 1 hasil mengumpat; 2 makian

Sekalian saya mau ngasih tahu, bahwa kata jancok itu sebenarnya dulu bukan untuk umpatan. Dulu, dulu banget, saya baca dari suatu sumber, jancok digunakan ketika kita kagum pada sesuatu atau seseorang. Jadi, contohnya ada lelaki kagum pada kecantikan seorang wanita. Maka dia bilang “Jancok, ayune rek…” (terjemahan: “alamak, cantiknya euy...”). 😀   Lama kelamaan, jadi bergeser deh, penggunaanya.

Nah, jadi, apakah gagasan saya?

Gimana ya, kalo kata-kata umpatan diubah, jangan menggunakan kata-kata yang udah biasa itu, gunakan kata-kata lain. Apakah kata-kata lain itu? Contoh: meja, kursi, pohon, belimbing, kucing, kambing, wedhus (terjemahan: kambing), dan semua kata-kata lain yang belum pernah digunakan untuk mengumpat. 😆   Jadi, ada orang kakinya terantuk ujung lemari, kesakitan sambil bilangWedhus! Lara cak!(terjemahan: “Kambing! Sakit tahu!“). Ada orang-orang lagi nonton konser, jingkrak-jingkrakan, mereka saling tubruk dan nyalahkan satu sama lain.

Pemuda I: “Eh, kucing lu ye, sakit bego!”
Pemuda II: “Buset, duren lu, gue yang sakit!”
Pemuda I: “Enak aja, elu yang nubruk napa elu yang sakit?”
Pemuda II: “Eh, gile, duren beneran lu ye, sini gue timpuk ama duren baru nyaho lu!”
Pemuda I: “Ayo siapa takut, sini mana durennye!?”

Dan, akhirnya berakhir dengan mereka berdua diamankan polisi. 😆

Contoh lain, ada seorang pemuda berdarah panas haus akan petualangan yang jalan di trotoar. Dia gak sengaja tertubruk bapak-bapak penjual sapu keliling yang agak tuli. 😀

Pemuda: “Meja kursi!! Pak, kalo jalan lihat-lihat dong!”
Penjual: “Hah? Maap Dik, saya gak jual meja kursi…”
Pemuda: “Saya ketubruk barang dagangan Bapak nih! Sakit, Pak! Kursi!!”
Penjual: “Hah? Saya emang jualan, tapi saya cuman jual sapu, gak jual kursi. Bisa lihat gak sih?”
Pemuda: “%$&**!^@…!!!”

Bagus, maunya nyalahin orang, malah terhina…  😎

*

Saya bikin postingan ini bukan berarti saya suka mengumpat. 😛 Ya, dengan berbangga hati, saya adalah orang yang bisa menahan umpatan. 😀 Kadang umpatan itu untuk menunjukkan eksistensi kita. Dengan umpatan, kadang bisa menggertak lawan bicara kita. Tapi gak jarang juga malah meruntuhkan karisma diri sendiri. Oke, mengumpat ketika kesal itu memang membuat hati lega, seperti ada beban yang udah keluar. Tapi, itu dosa. DOSA! Lidah gak akan bohong ketika nanti di hari perhitungan di akhirat. Kebanyakan mengumpat, bisa-bisa nanti dosa hasil mengumpat lebih banyak dari dosa-dosa yang lain. Menggunung! 😦

Saya hanya pengen usil aja, lucu jadinya kalo kata-kata yang tidak biasa dijadikan umpatan. :mrgreen:

Eh eh eh, umpatan meskipun diganti kata-katanya, tetep dosa ‘kan ya? ‘Kan niatnya tetap untuk mengumpat… 😀

—————————————————————————————————————————————————————-

Gambar di atas hasli bikinan sendiri. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.


175 Comments

  1. Satu setengah taun lalu saya malah pernah bikin postingan yg saya beri judul Lokalisasi…
    Bukan tentang umpatan, tapi justru saya maksudkan untuk melokalisir umpatan.
    Maksudnya bagi pembaca blog saya yang memang tak mampu kendalikan diri dan tetap ingin mengumpat, saya minta ditumpahkan di komentar blog saya, dengan harapan hanya terlokalisir disitu…
    Ramai juga tanggapan yg comment 😀

    Reply

      1. haaa.. jadi penasaran ingin liat postingannya pak marsu ;))
        yah, saya juga tidak suka mengumpat. takut dosa ah. drpd mengumpat org lain, mending mngumpat diri sendiri deh. biar lbh sadar diri.

        Reply

  2. daripada mengganti kata umpatan, lebih baik gak mengumpat sama sekali kan… 😀

    gua bilang mengumpat itu masalah kebiasaan aja. jadi kalo emang ada yang punya kebiasaan mengumpat, ya harus berusaha untuk berhenti.

    Reply

  3. berarti kalo orang2 soleh/solehah bilang “astagfirullah, sakit tau” , versi aslinya tu “a**ing, sakit tau” ya?

    Reply

  4. memang semua balik ke masalah tabiat, di keluarga juga mungkin ngaruh, bapak saya ndak suka mengumpat, dia lebih diem, tapi kemudian njotos…wwwwaaaaaaaaaaaaa malah parah..ndak sih…dari dulu di keluarga kami ndak ada yang sukak ngumpat, kalok ngupat sering :p

    Reply

    1. Kadang umpatan itu untuk menunjukkan eksistensi kita. Dengan umpatan, kadang bisa menggertak lawan bicara kita. Tapi gak jarang juga malah meruntuhkan karisma kita. 😦

      Reply

  5. ada tuh temen ane kalo “mengumpat” pake kata “TIKUS” yg laen jadi ikutan jadi udeh jarang denger anjing :mrgreen:

    Reply

  6. Duluuuu.. waktu SMP, aku sering mengumpat.. biasalah pengaruh teman. Sejak SMA, aya menghentikan sama sekali umpatan2.. bahkan umpatan yang tergolong ringan.. misal “aseeem”.. “kecuutt” dsb..

    Kultur sosiologis *bener ga ya* Jogja yang notabene orang2nya halus dan mudah tersinggung membuat sedikit umpatan yang tidak bermaksud menjelekkan jadi ‘terasa’ menghina.. 😀 Daripada jadi panjang, lebih baik membuang jauh kosakata umpatan2 itu dalam diri.. ga ada baiknya menurut saya. 🙂

    Reply

  7. Hehehe, idenya unik…iya, di beberapa daerah kata umpatan juga berkonotasi buat mengakrabkan sesama teman, bukan semata digunakan untuk bertengkar 😀
    Meja, kursi, belimbing… 😉

    Reply

  8. ahhahahahha 😆 😆 😆

    lucu mas..lucuuuu…postingannya lucu sekaliiiiiiiiiiii 😆

    sedikit share… indah dulu pernah berkeliling kota…. dari yang kasar..sampe kasar banget….emang biasanya umpatannya kaya yang disebutin mas asop di atas..
    sampai akhirnya..
    indah sampai di kota solo..
    kota yang terkenal alus dan bersahaja…

    hihihi….
    kalau di daerah lain biasanya orang2 mengumpat dengan hewan2 berkaki empat…di solo..
    umpatan paling kasar itu.. “jangkrik” atau “jambu”

    :mrgreen:

    hihihihihi……

    saking alusnyaaa..jadi mengumpat pun menggunakan nama hewan jangrkik yang imut2… dan nama buah yang enak… :mrgreen:

    solo..oh….solo.. :mrgreen:

    Reply

    1. Aaah ada yang mengerti juga akan lelucon yang saya keluarkan.. Makasih, Indah… 😳

      Iya juga ya, halus sekali Surakarta dan penduduknya….

      Reply

  9. hehehehehe…lucu juga..
    sudah membudaya kayaknya mas mengumpat itu..dan tergantung situasi dan kondisi penggunaan umpatan itu tadi..yang katanya mas asop bergeser maknanya sesuai sikon tadi..hehehe

    Reply

  10. “Eh eh eh, umpatan meskipun diganti kata-katanya, tetep dosa ‘kan ya? ‘Kan niatnya tetap untuk mengumpat…” >> ini dari Al-quran ya?

    kadang.. gw emang sengaja mengeluarkan umpatan, padahal bisa ditahan. kadang emang gw tahan 😀

    Reply

  11. tergantung penggunaan dan cara pengucapannya sih. kata ‘matamu’ sering digunakan di lagu dan kalimat rayuan dan tentunya bukan umpatan.

    Pemuda : matamu begitu indah
    Pemudi : *PLAAAK!!!* tega sekali kamu (lari nangis, merasa terhina)
    Pemuda : ????

    ga mungkin kan ada kejadian kaya gitu ;))

    Reply

  12. bisa2 nanti smua kata dalam bahasa indonesia jadi umpatan ya, hee … mudah2an bukan berarti bangsa Indonesia adalah bangsa tukang mengumpat. Mungkin mengumpatnya bisa diganti dengan hal2 positif, seperti : Pinter lu ! Ganteng Lu ! gt, hehe

    Reply

  13. wah mumpung bulan puasa mari kita menahan diri dari umpat mengumpat hehe..
    saya sih insyaallah gak suka mengumpat.. mau kata2nya diganti juga tetep aja gak baik kan niatnya jelek 😀

    Reply

  14. iya Sop
    dulu pernah ada yg mempelajari bentuk kebahasaan (sy g thu apa istilahnya, entah filologi atau linguistik) ga tahu lah..

    kata-kata umpatan itu sebenarnya adalah kata2 kekaguman spt OMG yg sinonim dg WTF

    Asui ig, arek wadon kui ayune pol.

    Bajirut Bajirut,,, mlakune marai motoku ilang ngantu je..

    bisa jug apnggilan sayang or keakraban..

    Su, (Asu_red) piye kabare Dab??

    wah, kabarmu piye Cuk ???
    wakakakaka

    Reply

  15. Kembali ke definisi KBBI di atas, jadi tidak mungkinlah umpatan itu tidak berkonotasi negatif…. meja kursi, duren, kucing, wkwkwkw…. itu semua kan konotasinya positif… 😀

    Tetapi sepakat juga umpatan yang diganti kata-katanya tetap saja umpatan 😀

    Reply

  16. Walah Sob, kata-kata hewan ntu kasar juga kaleee… wedhus itu dah masuk kategori umpatan yang biasa. Saya kasih contoh hasil survei umpatan yang dah biasa (sebagian besar pake bahasa jawa):
    1. Nama Hewan: Asu (anjing), Jangkrik, Wedhus (kambing), Kethek/Munyuk (monyet), Bebek, Kebo (kerbau), Tikus, Kucing, Gajah, Kingkong
    2. Nama anggota tubuh: Matamu, Lambemu (bibirmu), Udhelmu (pusermu), Raimu (wajahmu), Jidatmu (dahimu), Bokongmu
    3. Nama anggota keluarga: Mbahmu, Mbokmu/Makmu (ibumu), Bapakmu, Bebe’mu (bibimu)
    4. LEBIH SADIS! Anggota keluarga dengan tambahan: Makmu kiper, Mbahmu ngesot

    Inilah seni mengumpat… (sumber twitter)

    Reply

    1. Ya ya, saya tahu itu semua dari salah satu kaos Cak Cuk Surabaya. Saya punya cukup banyak kaosnya. 😀

      Tapi saya bener2 belum pernha tahu ada misuh “Kucing” dan “gajah”. 😉

      Reply

    1. Tapi tidak menutup kemungkinan dosa dari umpatan menumpuk bahkan melebihi dari dosa yang lain. Ingat, apalagi kalo mengumpat udah jadi kebiasaan dan sering kebablasan.

      Reply

  17. mengumpat kadang juga baik dalam beberapa alasan, misal untuk mencegah hal yg menjurus kepada kejahatan yg lebih besar 😉

    Reply

  18. haha ! kata ibuku, itu gak baek kalo di ucapin . gak becik . 🙂
    suu.. asu.. we neng ndi ?
    neng kene lo cok ! matamu neng ndi ?
    e.. joh ! yo wes . nggatheli we kii..

    Reply

  19. selamat pagi.

    hahahaha.
    JANCOK begitu familiar untuk daerah Malang, Surabaya, dan sekitarnya.

    mungkin kalo mengumpatnya jadi Astogfirullah gak dosa kali.

    terima kasih dan mohon maaf

    Reply

  20. kalo umpatan wedhus, saya sering liat di sinetron Para Pencari TUhan,
    umpatan khas-nya pak RW disitu hehe

    walau lebih bagus lagi ya mengeluarkan kata2 yg bagus,
    misalnya : Keren Kau ! gitu
    atau mending mingkem sekalian :mrgreen:

    Reply

  21. eh, dasar Jeruk lu!
    hehe..
    tapi malah lucu ya kalo umpatan hewan diganti sayuran apa buah gitu,
    apalagi diganti pake nama2 tokoh kartu mungkin,
    jadinya:

    eh, dasar spongesbob lu! hiihii

    eh, tapi umpatan itu tak selamanya jadi umpatan, bahkan umpatan bisa menunjukkan sebuah keakraban, mau umpatannya seperti apa pun, kalau niatnya gak ngumpat, berarti gak dosa dong?

    cmiiw

    Reply

    1. Uhehehehehe, iye gue suka jeruk! 😆

      Iya, memang kadang begitu, bisa menunjukkan sebuah keakraban. Ngomongnya emang kotor, tapi ga ada maksud menghina ya.

      Reply

  22. eh bang 😀 saya baru tau klo jancok itu seperti kata kagum yang anda tulis alamak itu… 😀 itu taun berapa ya ? pasti saya belom lahir deh… 😀

    Reply

  23. Sebagai orang Surabaya, bahasa Jancok, bermakna dua, sebagai umpatan kekesalan dan bisa sebagai sapaan yang menggembirakan.. 😀

    salam, shutter dari Aziz Hadi

    Reply

  24. ngumpat yah teteup aja ngumpat….
    mo gimana2 klo dah niat juga dosa….
    tp klo di ganti misalnya jadi babi, juga bakal ada yg kesinggung. =))
    yg ga kesinggung tp umpatannya nyambung gimana yah ???

    Reply

  25. ah, jendela lo..!!! kirain gw lo mo ngomong apaan, ternyata dagang meja ama kursi, kenapa gak rumah aje sekalian??? hihihi… 🙂

    nice idea sop, tapi tetep dosa kayaknya,, Astaghfirullah…. 🙂

    Reply

  26. lebih baik istighfar saja…….. kasian binatang2 dan buah2an itu gan…… mereka ga salah apa2 ikut kesebut2….. tapi emang puas banget sih bagi sebagian orang kalo dah menyebut kata2 itu…… ga ada tekek kadal pun jadi……. tapi enakan istighfar……. 😀

    Reply

  27. Meski berawal bukan dari sebuah umpatan tapi kalau dibiasakan mengucapkan dengan nada emosi dan amarah, lama-lama akan menjadi sebuah kata umpatan. Seperti wedhus itu, mestinya nama hewan (kambing) tapi diucapkan dalam bahasa jawa. Sekarang pengunaan wedhus juga sama dengan setan, Jambul (plesetan dari jancuk) dan kalau di tepatku namanya naskleng. :mrgreen:
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Reply

  28. Jika saya berkata ” Jancurit, isih urip kamu “. Itu bukan mengumpat, tapi omongan khas Suroboyo/Jombang sbg tanda ke akraban.
    Kata-kata itu juga tak semua orang memakainya, termasuk saya sangat jarang menggunakan kata2 itu dan sejenisnya.

    Kata : Jancuritz, jancuk, bedhes, dengkulmu anjlog, ususmu mbrodhol, bathukmu atos, dll akan menjadi janggal jika diganti dengan kata : ” Klanting, Soto, Getuk, sabun, dll.

    So, ya sudahlah , itu sudah mapan dan menjadi ciri kok nduk.Jangan diganti lagi, entar malah nggak sedep.

    Mimik dan intonasi serta lagak gaya orang yang mengucapkan akan menentukan apakah jancuritz itu tanda akrab atau marah.

    Salam sayank selalu dari Surabaya

    Reply

  29. kalo setau saya sih kata jancuk itu berasal dari kata ancuk/di ancuk/disetubuhi/ditiduri
    pokonya kata katanya kasar banget deh

    kalo saya sendiri seri ng banget mengumpan dengan kata asem
    hehe

    Reply

  30. oh yah sedikit mau berbagi tentang umpatan. kalu sobat maen ke makassar, pasti terkaget2 dengan umpatan khas mereka. gue lahir disana namun besar di surabaya dan bandung jadi steril dari pengaruh bahasa daerah di sana yg benar2 kasar.. that’s why they got their name, makassar 😆 coba masa ada umpatan yg mengarah ke *maaf* jembut ibu?

    Reply

    1. saya punya teman dari makassar yang sedang belajar di surabaya. dia juga mengungkap umpatan2 yang ada di sana. dari segi arti, menurut saya memang kasar, tapi dari segi pelafalan dan pengucapan, punya surabaya lebih mantab karena ada penekanan di suku kata tertentu… 😆

      Reply

  31. postingan yang sukses bikin denuzz ngakak …
    bagus juga tuh ide mengganti kata-kata umpatan … api kalo bisa sih jgn sampe deh mengumpat … gak bagus … dosa pula…
    ya gak???

    salam akrab dari burung hantu …

    Reply

  32. Tapi gak jarang juga malah meruntuhkan karisma diri sendiri. Oke, mengumpat ketika kesal itu memang membuat hati lega, seperti ada beban yang udah keluar. Tapi, itu dosa. DOSA! Lidah gak akan bohong ketika nanti di hari perhitungan di akhirat. Kebanyakan mengumpat, bisa-bisa nanti dosa hasil mengumpat lebih banyak dari dosa-dosa yang lain. Menggunung! 😦

    >> BETULLL….!

    Reply

  33. kalau pas lagi becanda mungkin orang lain bisa nerima ya…
    tapi liat situasi dan kondisi juga sih…
    jangan sampai saat yang kurang tepat, pasti lawan bicaranya jelas akan MARAH BESAR…

    Reply

  34. ANJRIT!!!! ngakak bacanya,,,,!!! upzzz….QK nggak lagi mengumpat loh sop… 😆
    berarti maksudnya gimana ya??? memakai kata” umpatan tapi bukan dengan maksud mengumpat???

    hmm,,,, memang lebih baik nggak mengumpat daripada bingung itu sebuah umpatan ato cuma untuk menambah keakraban :mrgreen:

    HIDUP!!! ^_^ <<< ini aja lah…. 😛

    Reply

  35. temen saya ada yang suka mengumpat dengan menggunakan nama lembaga atau nama artis, atau bahkan nama temen sendiri.
    Contoh:
    kepada temen cowok yang ganjen ke cewek-cewek dia bakal bilang “wah, Ariel banget sih lo!”
    kepada temen yang ga pedulian dia bilang “DPR lo!”
    kepada temen yang telat dia bilang “dasar, Joko juga lo…” *Joko adalah teman lain yang juga sering telat, no offense ya buat yang namanya Joko*

    Buat saya ini cara yang lumayan lucu meskipun after all tetap berupa umpatan. hehe 😀

    Reply

  36. SAYUR ASEM! SINGKONG! DAUN TALAS!

    Lu ngerti nggak sih wa lagi bete gini lu malah nyeramahin wa?!

    SATE LOE! Jangan sok tahu deh mana dosa apa enggak! Gua muak sama orang yang beraninya ceramah lewat internet, dasar POHON BERINGIN! SALAK! BAYAM!!

    ……………..
    ………………….
    ………………………

    …gimana, kedengaran kayak ngumpat nggak? 8p

    Reply

  37. lhoh lhoh dek, kamu kok ngerti, orang jawa ya….

    ehmm iya jg sihhh

    aku sering denger umpatan J***** pas di malang dulu dan ternyata kata2 mutiara J* di sini g ada, ehmmm

    Reply

    1. Lho lho, aku dari lahir sampe SMA di Surabaya, Mbak!
      Omongan gitu pas SMP udah jadi santapan telinga sehari-hari… :mrgreen: Saya gak ngomong lho ya… 😆

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s