Kau yang Menanam, Kau yang Menuai

Suatu Kisah

Alkisah, suatu ketika, adik saya ada kuliah jam 11 siang. Pukul 10.00, dia minta saya nganter pakai sepeda motor. Memang hari itu saya gak ada rencana ke kampus, di rumah aja. Gak ada salahnya nganterin, selama gak hujan dan saya gak males, saya sih oke-oke aja. 😀

hanya gambar "menuai padi" yang tak ada hubungannya...

Saya lagi asik aja di depan Macbook, sampai jam menunjukkan waktu setengah sebelas. Saya lihat adik saya, belum siap sama sekali. Mandi sih udah, tapi masih berantakan, masih santai. Saya diem aja. Lima menit kemudian, saya ingatkan dia, “Oy, gak siap-siap? Udah jam segini lho!” Dia menjawab, “Tenang, santai, sempet kok.”

Sampai jarum panjang jam berada di angka 9 (dan tentu jarum pendek ada di dekat angka 11), dia masih belum siap. Sampai akhirnya entah jam berapa, dia bilang ke saya, “Ayo Kak, berangkat!” Oooh… akhirnya berangkat juga, pikir saya.

Di atas motor, dia minta saya cepat, karena waktu udah jam segini (entah ‘segini’ itu jam berapa karena saya gak pakai jam tangan). Hey, saya pikir, emang bisa sampai tepat waktu? Saya bilang ke dia, pasti akan terhambat juga (kata adik saya, “ya nggak apa-apa”). Saya tahu, jalan rute yang biasa kami pakai untuk ke kampus pasti padat. Setidaknya akan sedikit terhambat meskipun itu pakai motor.

Pelajaran yang Didapat

Sesuai dengan judul posting-an ini, inti yang didapat dari kisah ini adalah, Anda yang menanam, Anda yang menuai. Analoginya, seorang petani yang menanam padi di lahannya, pasti dialah yang akan menuainya sendiri. Ada konsekuensi atau akibat yang diperoleh seseorang ketika ia telah memutuskan melakukan sesuatu. Konsekuensi di sini bisa positif atau negatif. Katakanlah, jikalau seseorang telah merencanakan apa-apa yang akan dilakukannya hari itu, ia bisa sedikit bersantai karena semua telah terjadwal. “Santai” itulah akibatnya. Kebalikannya, seperti adik saya, ketika ia memilih untuk bersantai-santai sampai beberapa menit sebelum jam kuliah mulai, maka akibatnya sudah bisa ditebak. Jikalau adik saya telah bersiap sejak pukul setengah sebelas, dia gak akan tergesa-gesa seperti itu.

Saya tekankan lagi, ketika kita memutuskan suatu hal, maka kita harus siap menerima konsekuensinya. Terimalah kenyataan yang telah kita ciptakan sendiri. Kalau mau dihubung-hubungkan dengan tindak kejahatan, bisa saja begini: ketika seseorang telah membunuh alias mengambil nyawa orang lain, harusnya dia telah siap kehilangan nyawanya. Jelas ‘kan? Atau ketika seseorang merampok harta benda orang lain, ia harus menerima jika keluarga atau dirinya sendiri menerima hal yang sama, yaitu kerampokan. Tentu hal ini berlaku juga untuk koruptor, jika mereka sudah berani mengambil uang yang bukan haknya, harusnya mereka sudah siap untuk ditangkap, dipenjara, dan diperlakukan sama seperti tahanan yang lainnya. Atau setidaknya, keluarganya harus siap untuk menerima kucilan dari masyarakat, cemoohan, ejekan, dan sindiran.

Saya pikir, semua butuh pengorbanan. Untuk mendapatkan suatu kenikmatan atau kesuksesan, kita harus mau berusaha. Tak ada kenikmatan (dan kesuksesan) di dunia ini yang didapat secara cuma-cuma. Coba aja cari, nggak ada. Sedikit keluar dari topik posting-an, nikmat tubuh sempurna plus lima panca indera yang diberikan Tuhan, nggak gratis. Kita harus mengembalikan kebaikan Tuhan ini dengan cara berbuat yang baik-baik, menjauhi larangan-Nya, beramal baik, membantu sesama, dan segala perbuatan baik lainnya. 😥  Itulah keadilan yang ada di dunia ini, keadilan yang diciptakan oleh Tuhan. Dunia ini adil, Bung, hanya kita manusia aja yang memandang sesuatu dengan tidak adil. 😐

Akhirnya kembali lagi ke topik posting-an, ingat-ingatlah, bahwa apa yang kita perbuat maka kita sendiri yang harus menerima akibatnya. Harus jantan, menerima keadaan dan kenyataan, jangan jadi pengecut yang lari dari kenyataan (seperti koruptor yang gak mau ngaku). Kalo emang apa yang kita dapatkan hari ini jelek, introspeksi diri, apa yang kurang dari diri ini, jangan malah menyalahkan orang lain (seperti yang masih saya lakukan). 🙂

Maka itu, apakah narablog sekalian sudah introspeksi diri masing-masing?

——————————————————————————————————————————————————————–

Gambar diambil dari sini. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

232 Comments

  1. Itulah kehidupan… sudah diciptakan sedemikian rupa agar seimbang. Tuhan memang luar biasa.

    Bahkan dalam pemrograman pun mengenal hal seperti yang Asop jelaskan… GIGO bisa “Gold In, Gold Out” atau “Garbage In, Garbage Out”… menjelaskan mengenai output yang bergantung pada inputnya. Kalau sejak awal inputnya salah, bagaimanapun prosesnya, outputnya pasti salah.

    Reply

  2. saya bukan tipe orang yg suka buru2 kayak gitu..
    kalo mau kuliah, biasanya saya udah siap2 dari se-jam sebelum kuliah..emg sih rumah saya kan rada jauh dari kampus, jd emg harus siap2 dari lama..tp kalo janjian jg, saya biasanya udah siap setengah jam sebelum jam janjian..ternyata, temen2 yg laen nggak kayak gitu..pas saya udah nyampe tempat janjian, biasanya mereka cengengesan pas saya telpon, “tunggu yah, put..masih di angkot nih” dan kemudian dateng se-jam kemudian..ahhh bikin males aja -.-‘
    *curcol 😀

    Reply

  3. Menarik sekali,
    ternyata semua kejadian kalo di hubung-hubungkan, ada hubungannya juga ya,,
    Seperti kejadian di atas, ngantar adik ke kampus, seorang petani di sawah, sampek ke koruptor tetep ada juga hubungannya,, hihi.. 😀

    Reply

  4. berpikir sebelum bertindak, memikirkan baik dan buruknya dengan demikian akan lebih mudah menerima resiko yang mungkin terjadi… dan intropeksi diri… itu penting agar tidak terjadi kesalahan yang sama ^^

    Reply

  5. Sip, siapa yang berbuatm harus berani bertanggung jawab, begitu kira2 sop.. heleh.. 🙂

    *salam buat adikmu, besok2 jangan kebanyakan ngaca, ntar telat lagi deh kuliahnya, ihiyyyy..* 😛

    Reply

    1. Itu benar, “siapa yang berbuat harus bertanggungjawab, tapi yang saya tekankan di sini bukan itu, yg saya tekankan di posting-an ini adalah harus mau menerima kenyataan yang telah dibuat akibat ulah kita sendiri, jangan jadi pengecut yang lari dari kenyataan. 🙂

      Hush, adik saya cowok. 😛

      Reply

  6. Saya sendiri termasuk yang percaya kalau yang menanam pasti akan menuai, entah apapun bentuknya dan darimanapun datangnya…
    Sama seperti ketika berbuat baik ke seseorang, pasti kita akan mendapat kebaikan yang lain, meski nggak harus datang dari orang tadi…

    [sama seperti komentar di blognya orang, kalau sekarang saya comment disini, saya yakin saya akan dapat kunjungan balasan, entah dari Mas Asop ataupun dari yg lainnya] 😀

    Reply

  7. saya menanam lombok tidak bakalan menuai tomat. Yang pasti sebab mengulur-ulur waktu artinya akan menuai terlambat, tidak akan mungkin menuai semangkuk bakso atau atrian tiket *halah mbulet*

    Reply

    1. Itu benar, tapi bukan itu inti dari posting-an ini. Yang ingin saya tekankan di sini adalah kita harus menerima kenyataan yg telah kita buat akibat ulah diri sendiri, jangan lari dari kenyataan dan malah membuat orang lain susah. 🙂

      Reply

  8. Yang menanam pasti menuai. Yang tidak menanam apa apa, ya nggak mungkin menuai.
    Yang sekarang berhasil, pasti sebelumnya berusaha keras, dengan pengorbanan yg nggak sedikit;

    Reply

  9. kunjungan balasan ah.

    ya begitulah, apa yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri. ini prinsip yang saya pegang juga.

    tapi kadang saya capek juga menyalahkan diri sendiri atas apa yg menimpa saya, haha..

    nice post!

    Reply

  10. adikmu prinsipnya gini kali, pelan tapi pasti!… pasti telat mksudnya heheheheh

    tapi saya setuju sama tulisan ini, kita perlu introspeksi diri kita masing-masing. melihat ke belakang untuk perbaikan dan melihat kedepan utk masa depan.

    Reply

  11. Karena itu saat ingin melakukan sesuatu harus direncanakan dengan matang ya, kalau perlu ditulis 🙂
    Insya Allah, saya berusaha introspeksi diri, kalau ada kesalahan mohon dimaafkan.

    Reply

  12. kalau bunda gak bisa keburu2 kayak gitu Sop.
    semuanya pasti sudah disiapkan jauh sebelum waktunya.
    jadi, alhamdulillah, bisa selalu tepat waktu, mungkin krn kebiasaan dulu sewaktu msh bekerja yg mana waktunya gak bisa diulur2, kalau terlambat khan kasihan penmumpang yg di airport, mosok krn kita, pesawat jadi terlambat, memalukan , bukan saja bagi diri sendiri, terlebih tentunya bagi perusahaan .
    salam

    Reply

    1. Saya juga sama Bun.. gak bisa terburu2 kayak gitu. Trus kalo janjian ketemu, juga lebih baik saya yg nunggu daripada ditungguin..*eh ini nyambung gak sama posting-annya? :D*

      Reply

      1. Nah, tergantung dulu siapa yang bikin janjian ketemu duluan. Kalo Anda yang minta ketemu duluan, memang harusnya Anda yang menunggu, jangan membuat orang lain menunggu. Sebaliknya begitu, kalo orang lain yang ngajak duluan ketemu, harusnya dia udah siap menunggu Anda kalo-kalo Anda terlambat (tapi jangan sampai).

        Reply

  13. kalo saya di posisi Asop mungkin akan bilang
    “Sukurin! Lagian dari tadi bukannya siap2 malah nyantai2!”
    dan saya ga akan mempercepat laju kendaraan saya, karena ini bukan tugas saya, udah untung saya bantu nganterin!

    *untung saya bukan Asop 😀

    Reply

      1. KERAS
        maklumlah! watak orang Jatim (katanya) biasanya keras! 😀
        *padahal suamiku orang Jateng yang lemah lembut, gubrak!!!

        JUDUL
        bisa donk! kan mikir begitu ketika baru baca 3 kata pertama : Kau yang Mulai……….., nah ketika 3 kata itu terekam di otak yang keluar Kau yang Mengakhiri, jadi salahkan saja otak saya yang telah menyimpan informasi itu di alam bawah sadarnya 😛

        Reply

      2. Sama kok Bun, saya juga orang jatim. 😀

        Bundaaaaaaaa saya gak ingat menulis rangkaian kata “Kau yang mulai” di posting-an iniiii! 😛
        Oke, ini salah otak Bunda. 😆

        Reply

    1. Yap, benar. Tapiiiii… bukan tanggung jawab yang saya tekankan di sini. Saya tekankan di sini adalah harus mau menerima konsekuensi, terima kenyataan dari akibat ulah diri sendiri. Jangan cengeng dan jadi pengecut. 🙂

      Reply

  14. hampir mirip dengan saya
    cuman bedanya saya ga pernah sesantai itu jika sedang ingin bepergian tepat waktu
    yang penting, semua keperluan dan persiapan untuk bepergian harus beres sejam atau setengah jam sebelum keberangkatan, biar ga terburu-buru dan kuatir terlambat

    Reply

  15. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah [77]: 7-8)

    “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri …” (QS. Al-Israa’ [17]: 7)

    Reply

    1. …apakah ini dimaksudkan untuk melucu?

      Eh eh, tapi Mas Didot, yg saya tekankan di sini bukan sisi tanggung jawab. Saya tekankan di sini bahwa kita HARUS mau menerima kenyataan akibat ulah diri sendiri, jangan jadi pengecut yang lari dari kenyataan. 🙂

      Reply

  16. tapi adekmu tenang juga ya?
    uda tau bakal telat masih bilang : “ya nggak apa2”
    kalo aku jadi dia, uda pasti panik deh. (walo itu karena kesalahanku sendiri juga misalnya)

    Reply

    1. Benar, tapi yang saya tekankan di posting-an ini bukan tanggung jawab. Saya tekankan di sini adalah, kita harus mau menerima kenyataan yang dibuat akibat dari ulah diri sendiri. Jangan kabur dari kenyataan dan jadi pengecut. 😡

      Reply

  17. hoh…pantes ternyata jadi “budak” macbook juga akhirnya hahahahahaha…..

    adeknya cewe yak 😀 tipenya sama, siap2 satu jam sebelum tetep aja belum selesai2 haha….

    Reply

    1. Eeeeh saya belom bilang ya kalo aku udah ganti ke Macbook? :mrgreen:
      Aku udah ganti ke Macbook sejak awal 2009, gara2 ACER-ku rusak. 😡 Datanya ilang semua, menyebalka. 👿

      Reply

  18. iya lah ada sebab ada akibat hehe..

    saya sih siap2 jauh sebelumnya, mending dateng lebih awal dari pada telat. kalau waktunya mepet ntar di jalan jadi buru2 dan gak tenang 😀

    Reply

    1. hmmm… tapi yang saya tekankan di sini bukan “adanya sebab dan akibat”, saya tekankan di sini bahwa harus mau menerima kenyataan yang dibuat oleh ulah diri kita sendiri. 🙂

      Reply

    1. Iya Bli, benar adanya bahwa “ada sebab ada akibat”, tapi yang saya tekankan di sini bukan “adanya sebab dan akibat”, saya tekankan di sini bahwa harus mau menerima kenyataan yang dibuat oleh ulah diri kita sendiri. 🙂

      Reply

  19. Adeknya justru sudah punya perhitungan yang matang Sop,,
    kecepatan kakaknya bawa motornya udah tau, dosen yang dihadapi juga udah,,
    kalo telat, resikonya juga tahu,, yaa,, nyantai aja :mrgreen:

    Reply

  20. dari “pelajaran yg di dapat” dari kisah ini, Alhamdulillah ane tenang deh bacanya,gak kesentil bo 🙂 tapi pas balik lagi ke “kisah adiknya ” jadi garuk-garuk kepala deh gue 🙂 gue gak yakin kalo kakaknya gak sama ama adiknya,coba lihat jam tangan aja lupa dipake 😀 becanda Sob,soalnya gue juga kena disitunya,kadang-kadang tapi.. *ngeles mode on* 😀

    Reply

    1. Kena sentil kok malah balikin ke yang nulis?? Hayoooo 😛 😛

      Lagian itu emang sengaja saya gak pake jam tangan, cuman nganterin adik doang, yang wajib dibawa cuman hape ama dompet. Hape pun optional. 😀

      Reply

      1. balik lagi nih Sob,hanya mau ngomentari gambar “menuai padi” diatas,kalo kata org bijak,jika kita menanam padi sudah pasti rumput akan ikut tumbuh,kalo kita menanam rumput so pasti padi ogah tumbuh (wong gak ditanam koq) 😀 trus kalau kita menanam kebaikan sudah pasti akan “menuai” pujian dan hujatan pun biasanya ngikut (biasanya sih dari orang yg sirik),tetapi ketika kita memilih menanam kejahatan jangan berharap menuai pujian.. 🙂

        Sehubungan dengan tulisan Asop ini,saya melihat di berita tentang pak tua dilereng Merapi,yang kerjanya berkebun (menanam singkong) benar sih beliaunya “menuai singkong” 🙂 tapi hasil beliau cuman Rp 100.000,- / bulan.Kebayang kan gimana susahnya hidup beliau?..

        Tetapi bukan “kemiskinan” beliau yang ingin saya angkat,melainkan beliau adalah rakyat negeri ini juga,yang tentu saja beliau juga membayar pajak.Kebayang kan? gimana susahnya beliau bergelut dengan panas teriknya sinar matahari bahkan ganasnya wedhus gembel Merapi.Tetapi siapa coba yang “menuai” pajak yang beliau tanam? Gayus Tambunan cs yang “menuai” pajak beliau bukan?..Sy sih setuju aja dengan wacana “memiskinkan Gayus Tambunan cs” kalo ente gimana Sob?

        Reply

        1. …kalo kata org bijak,jika kita menanam padi sudah pasti rumput akan ikut tumbuh,kalo kita menanam rumput so pasti padi ogah tumbuh (wong gak ditanam koq) trus kalau kita menanam kebaikan sudah pasti akan “menuai” pujian dan hujatan pun biasanya ngikut (biasanya sih dari orang yg sirik),tetapi ketika kita memilih menanam kejahatan jangan berharap menuai pujian..

          Iyap, kalo dipikir-pikir, itu benar. 🙂

          Sehubungan dengan tulisan Asop ini,saya melihat di berita tentang pak tua dilereng Merapi,yang kerjanya berkebun (menanam singkong) benar sih beliaunya “menuai singkong” tapi hasil beliau cuman Rp 100.000,- / bulan.Kebayang kan gimana susahnya hidup beliau?..

          Ehem.. ini apa hubungannya dengan tulisan saya?? 😀 Oh saya ngerti, ini mau menghubungkan dengan gambar yang ada ya, bukan tulisannya? 🙂

          Tetapi bukan “kemiskinan” beliau yang ingin saya angkat,melainkan beliau adalah rakyat negeri ini juga,yang tentu saja beliau juga membayar pajak.Kebayang kan? gimana susahnya beliau bergelut dengan panas teriknya sinar matahari bahkan ganasnya wedhus gembel Merapi.Tetapi siapa coba yang “menuai” pajak yang beliau tanam? Gayus Tambunan cs yang “menuai” pajak beliau bukan?..Sy sih setuju aja dengan wacana “memiskinkan Gayus Tambunan cs” kalo ente gimana Sob?

          Oh, oke, benar-benar gak ada sangkut pautnya dengan tulisan saya. 🙂
          Memang Gayus Tambunan ini keterlaluan sekali. Saya yakin masih banyak lagi makelar pajak yang seperti dia. Harusnya Gayus ini ditekan ama pihak berwajib (entah KPK atau polisi) untuk membeberkan siapa orang2 (makelar) seperti dirinya dan siapa aja kliennya. Kalo udah begini, kemungkinan besar perusahaan Pak Ical bisa kena. 😀 Bukannya saya benci dia, tapi udah banyak orang tahu bahwa perusahaan2nya itu banyak masalah.
          Saya sih setuju sekali denga pemiskinan Gayus. Seperti yang telah saya tulis, Gayus ini harusnya udah ngerti bahwa ketika dia menjadi makelar pajak, suatu ketika pasti akan ketahuan dan akan ada hukuman untuknya. Keluarganya pun harus siap menerima hujatan. Tapi tampaknya, Gayus ini gak punya rasa malu, gak punya rasa bersalah, terlihat dari wajahnya (setidaknya menurut saya :D). Istrinya, saya gak ngerti kenapa istrinya mau2 aja ngeliat suaminya korup. Kelihatannya dia udah cukup malu sampe2 malu untuk ke tempat kerja. 😆
          Jadi, saya heran, apakah semua kekayaannya udah dibekukan? Rekening bank-nya, aset2nya… Kalo udah, gimana ya cara dia bisa ke Bali??? Kok bisaa?? Dapet uang dari mana? Apa dia punya cadangan uang tunai? Atau jangan2 ada yang membiayai dia? 😆 Masih berupa misteri besar.

          Reply

      2. 🙂 Sob,menggunakan asumsi penghasilan pak tua itu dibanding dengan yang di “jarah” Gayus cs dari Kas Negara.Bisa di bayangkan berapa juta penduduk Indonesia yang di “dzalimi” Gayus cs.

        Momentum kasus Gayus cs,bisa digunakan dengan baik oleh semua pihak yg komit dgn pemberantasan gurita korupsi dinegeri ini,termasuk keseriusan Pemerintah.Korupsi di perpajakan,kehakiman,birokrasi disinyalir sudah lama merambah sampai ke daerah-daerah.Sebagai masyarakat yang selama ini menjadi pihak yang dirugikan,kita harus mengawal ini dan mendorong Pemerintah,kalau perlu secara serentak di Seluruh tanah air.Kita lihat saja pihak manapun yang akan berusaha membawa kasus ini ke wilayah politik,justru akan terpuruk di Pemilu 2014 nanti.

        Pak Adnan Buyung Nasution mungkin punya pikiran lain,tapi memang beliau terlihat berada dalam “wilayah” abu-abu,mari kita pantau komitmen Pak Adnan cs dalam membersihkan nama baik Hukum di Negeri ini.Beliau harus bisa membuktikan apakah beliau seorang “pahlawan” atau justru menjadi seorang “pecundang”.

        Reply

  21. Atau setidaknya, keluarganya harus siap untuk menerima kucilan dari masyarakat, cemoohan, ejekan, dan sindiran.

    Istrinya koruptor yang inisialnya Ga*yus kayaknya contoh bagus tuh, jadi jarang banget masuk kantor. Di awal2 berita, ibu mertuanya tersangka malah sakit parah.
    Tapi malah yang bersangkutan (diduga) nonton tenis di Nusa Dua, santai2 aja kayaknya ya~ 😆

    Reply

  22. setujuu, respect sekali sm post mu! (tepuk tangan+jingkrak”)
    walaupun agak tersindir,hihihi..
    belajar konsisten, menghargai waktu, & bertanggung jawab dgn pilihan yg kita ambil, memang ga gampang tapi hasil yang akan kita tuai pasti berkualitas.
    kata-katamu baguss! keep bloging =)

    Reply

  23. Selamat sore MAs Asop….

    Halah, halah lama nggakmampir karena kesibukan yang bejibun dan naudzubillah kini Mas ASop telah berubah drastis………

    Trimakasih mengingatkan mas, ya tentunya seperti melempar bola semuanya aan kembali ke kita…

    He he he he

    Salam hangat-hangat kuku mas….

    Reply

    1. Ah, Mbak Hani meskipun jarang BW tapi tetep nulis terus, itu bagus… 😳

      Saya masih tetep sama kok Mbak, cuman kadang nulis serius kadang nulis ga serius. 🙂

      Reply

    1. Eits, saya gak ngomongin hukum sebab-akibat dan karma di sini. Yang saya tekankan di sini adalah bahwa kita harus mau menerima kenyataan yang dibuat dari ulah diri sendiri, jangan malah lari dari kenyataan dan jadi pengecut. 🙂
      Saya gak bawa2 karma di sini. 😉

      Reply

  24. Bener sop, apa yang kau lakukan sekarang pasti akan berdampak di kemudian hari…
    Banyak2 berbuat baikaja, supaya kita akan menuai kebaikan juga hehehe 🙂

    Reply

  25. Apa yang membuat diri kita benar, maka tidak akan membuat diri kita salah. Sebaliknya apa yang membuat diri kita salah, maka tidak akan membuat diri kita benar.

    Dengan Mengatasi Permasalahan Yang Kecil; maka, Kita Dapat Mengatasi Permasalahan Yang Besar.

    Sukses selalu.

    Salam ~~~ “Ejawantah’s Blog”

    Reply

  26. wah, nice post mas….^^
    jgn lari dari kenyataan…hadapilah secara gentle jgn hanya ‘amnesia mendadak’ seakan-akan semua yg sudah terjadi tdk pernah diingat lagi ataupun berusaha untuk tidak mengingat-ingatnya lagi karena kalau seperti itu terus kita hanya akan menjadi benalu dalam hidup ini dan menjadi pengecut selamanya.
    mari kita introspeksi diri masing-masing, semoga semakin hari semakin baik dan berkualitas diri kita amin.

    Reply

    1. Itu benar, tapi yang saya tekankan di sini bukan sisi “tanggung jawab”nya, yang saya tekankan adalah menerima kenyataan akibat ulah diri sendiri. 🙂

      Reply

  27. Jadi ingat, “botol susu keluar susu, botol air keluar air, tidak akan tertukar” Sungguh adalah nasihat untuk saya sendiri. Thanks mas asop. 🙂

    Reply

  28. mungkin prinsip penting yg harus ditanamkan di diri kita adalah

    SI KONTOL PANJANG mas..

    Situasi, Kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan,. asal semua dipikir masak² sblm melakukan pasti kita akan menuai yg baik jg

    Reply

  29. hEY ASOP that picture really looks awesome. I read your blog like every time I can. I just need to ask you a favor if you please could. Can you please advertise my blog on your site on a post? Please man I’m almost like begging here. I mean I’m only getting 50 or 25 views a day. Could you please help me by advertising my blog, please man. And thanks………….

    Reply

  30. apa yg kau tanam..kau yg menuai…
    walaupun gak setiap yg kita tanam..bisa kita menuainya…karena smua butuh proses..kesabaran…dan kadang cobaan…
    tapi itulah hidup kan ya mas..semua harus dimulai dari menanam…. 🙂

    Reply

  31. jika yg ditanam bibit2 yg baik dan bermutu, hasil yg dituai pun akan baik. menanam kebajikan, akan mendapatkan kebaikan yg lain, entah datangnya dr mana. sunatullah.

    Reply

  32. Wah, foto judulnya benar2 ga nyambung. Yg disitu menuai pada, yg di artikelnya menuai yg lain. Hehehe *OOT*

    Omong2 saya setuju soal pernyataan bahwa “Tuhan itu adil, tapi manusia yg suka menganggap Tuhan ga adil”. Kebanyakan manusia yg berpikir bahwa Tuhan nggak adil itu hanya suka memandang kelemahan dirinya sendiri & melihat orang lain yg kebetulan lebih baik, tapi dia sendiri ga berusaha memperbaiki kelemahannya & malah merenung sambil menyalahkan Tuhan, serta menutup matanya dari kenyataan bahwa tiap orang punya kelebihan & kekurangan masing2

    Reply

    1. Salam juga. 🙂

      Ehem… posting-an saya ini gak bicara perihal pengeluaran sama sekali lho… :mrgreen: Dan lagi, tiba-tiba ada gula dan ada semut… 😆

      Reply

  33. ooooo gitu ya..
    baiklah kalo gitu saya juga mo pergi dulu ah udah ditungguin dari tadi.
    *ngelipir

    empat kali empat sama dengan dua belas
    sempat ga sempat,asal jgn bablas
    hoho

    Reply

  34. Yah, Kau tanam padi, mungkin tumbuhnya padi plus banyak rumput (yang harus dimusnahkan), tapi kau tanam rumput nggak akan tumbuh padi 🙂

    Reply

  35. ya ya ya…dan sy bkali kali mlakukan hal yg sm sprti adeknya smpean
    dan sy jg bkali kali brusaha untuk introspeksi diri
    tp y bkali kali mlakukan hal yg sm lgi
    hihihi
    😀

    Reply

  36. nggak selalu sih, dulu di kebun belakang rumah saya tumbuh pohon pepaya padahal ga ada yg nanem. entah ada burung lewat yg ga sengaja ngejatuhin biji pepaya, mungkin juga tikus, atau itu pohon pepaya ajaib? Tidak ikut menanam tapi ikut menuai kan ;))

    Reply

  37. Hei ASOP gambar itu benar-benar looks awesome. Saya membaca blog Anda seperti setiap kali aku bisa. Aku hanya perlu menanyakan sesuatu jika Anda silakan bisa. Dapat Anda harap beriklan blog di situs Anda pada posting? Silakan man aku hampir seperti memohon di sini. Maksudku, aku hanya mendapatkan 50 atau 25 dilihat sehari. Bisa Anda membantu saya dengan iklan blog saya, silahkan manusia. Dan thanks…………. 🙂 🙂 🙂

    Reply

      1. No, it’s actually bing translator, lol. Hey but Asop can you do me a favor and advvertise my blog on your blog. I’m desperate for comments and views.

        Reply

    1. Itu benar, tapi yang saya tekankan di sini bukan di aksi-reaksi-nya, tapi saya tekankan bahwa harus mau menerima kenyataan yang telah kita buat sendiri, jangan jadi pengecut yang lari dari kenyataan. 🙂

      Reply

  38. selamat pagi.

    bener banget bro, setiap tindakan pasti ada resiko nya.
    bahkan bermalas2an di rumah dan tidak melakukan apapun juga ada resiko nya 😛

    terima kasih dan mohon maaf 😮

    Reply

  39. intinya itu resiko kan mas?
    kaya misalnya kita berani ngeduain si pacar, trus udah resiko kalo si pacar ninggalin kita atau malah diduain balik heheh kenapa jadi ngomongin pacar?!

    sekian bulan saya kenal mas Peb, saya baru liat tulisannya yang panjaaaaang begini 😀
    tolong positivkan apa yg terbaca negativ yah
    karna tak ada niat dalam hati
    *ga nyambung*

    Reply

    1. Intinya, kalo nDa ngeduain pacar, nDa harus mau menerima kenyataan kalo nDa juga diselingkuhin. Jangan malah nyalahin pacar nDa. 🙂

      Ah, nDa belum ngubek2 semua posting-an saya…. 😀

      Reply

  40. sangat menyentuh sekali tulisan anda.
    sama seperti di atas, jd teringat kata dosen sya dlu.
    Beliau berkata : masa muda masanya bekerja keras dan klo sudah tua tinggal mengambil hasil tanam masa muda namun klo masa mudanya bermalas ria maka masa tuanya lah dia ahrus bekerja keras. siapa yg menanam dia yg akan menuai

    Reply

    1. Saya tekankan di posting-an ini, bahwa jadi manusia itu harus mau menerima kenyataan yang diperbuat akibat ulah diri sendiri. Jangan lari dari kenyataan dan malah menyalahkan orang lain. 😎

      Reply

  41. begitulah introspeksi.. maka Nabi pun pernah menuturkan, Haasibuu anfusakum, qabla an tuhasaba.. hisablah diri-diri kalian sebelum kalian menghisab pribadi-pribadi lain.. dengan demikian akan menyebabkan kita senantiasa berfikir positif atas orang lain..

    Reply

  42. “jalan rute yang biasa kami pakai untuk ke kampus” >> adek lo di ITB juga Sop?

    intinya adek lo telat ya? 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s