09
Nov
10

Kau yang Menanam, Kau yang Menuai

Suatu Kisah

Alkisah, suatu ketika, adik saya ada kuliah jam 11 siang. Pukul 10.00, dia minta saya nganter pakai sepeda motor. Memang hari itu saya gak ada rencana ke kampus, di rumah aja. Gak ada salahnya nganterin, selama gak hujan dan saya gak males, saya sih oke-oke aja. 😀

hanya gambar "menuai padi" yang tak ada hubungannya...

Saya lagi asik aja di depan Macbook, sampai jam menunjukkan waktu setengah sebelas. Saya lihat adik saya, belum siap sama sekali. Mandi sih udah, tapi masih berantakan, masih santai. Saya diem aja. Lima menit kemudian, saya ingatkan dia, “Oy, gak siap-siap? Udah jam segini lho!” Dia menjawab, “Tenang, santai, sempet kok.”

Sampai jarum panjang jam berada di angka 9 (dan tentu jarum pendek ada di dekat angka 11), dia masih belum siap. Sampai akhirnya entah jam berapa, dia bilang ke saya, “Ayo Kak, berangkat!” Oooh… akhirnya berangkat juga, pikir saya.

Di atas motor, dia minta saya cepat, karena waktu udah jam segini (entah ‘segini’ itu jam berapa karena saya gak pakai jam tangan). Hey, saya pikir, emang bisa sampai tepat waktu? Saya bilang ke dia, pasti akan terhambat juga (kata adik saya, “ya nggak apa-apa”). Saya tahu, jalan rute yang biasa kami pakai untuk ke kampus pasti padat. Setidaknya akan sedikit terhambat meskipun itu pakai motor.

Pelajaran yang Didapat

Sesuai dengan judul posting-an ini, inti yang didapat dari kisah ini adalah, Anda yang menanam, Anda yang menuai. Analoginya, seorang petani yang menanam padi di lahannya, pasti dialah yang akan menuainya sendiri. Ada konsekuensi atau akibat yang diperoleh seseorang ketika ia telah memutuskan melakukan sesuatu. Konsekuensi di sini bisa positif atau negatif. Katakanlah, jikalau seseorang telah merencanakan apa-apa yang akan dilakukannya hari itu, ia bisa sedikit bersantai karena semua telah terjadwal. “Santai” itulah akibatnya. Kebalikannya, seperti adik saya, ketika ia memilih untuk bersantai-santai sampai beberapa menit sebelum jam kuliah mulai, maka akibatnya sudah bisa ditebak. Jikalau adik saya telah bersiap sejak pukul setengah sebelas, dia gak akan tergesa-gesa seperti itu.

Saya tekankan lagi, ketika kita memutuskan suatu hal, maka kita harus siap menerima konsekuensinya. Terimalah kenyataan yang telah kita ciptakan sendiri. Kalau mau dihubung-hubungkan dengan tindak kejahatan, bisa saja begini: ketika seseorang telah membunuh alias mengambil nyawa orang lain, harusnya dia telah siap kehilangan nyawanya. Jelas ‘kan? Atau ketika seseorang merampok harta benda orang lain, ia harus menerima jika keluarga atau dirinya sendiri menerima hal yang sama, yaitu kerampokan. Tentu hal ini berlaku juga untuk koruptor, jika mereka sudah berani mengambil uang yang bukan haknya, harusnya mereka sudah siap untuk ditangkap, dipenjara, dan diperlakukan sama seperti tahanan yang lainnya. Atau setidaknya, keluarganya harus siap untuk menerima kucilan dari masyarakat, cemoohan, ejekan, dan sindiran.

Saya pikir, semua butuh pengorbanan. Untuk mendapatkan suatu kenikmatan atau kesuksesan, kita harus mau berusaha. Tak ada kenikmatan (dan kesuksesan) di dunia ini yang didapat secara cuma-cuma. Coba aja cari, nggak ada. Sedikit keluar dari topik posting-an, nikmat tubuh sempurna plus lima panca indera yang diberikan Tuhan, nggak gratis. Kita harus mengembalikan kebaikan Tuhan ini dengan cara berbuat yang baik-baik, menjauhi larangan-Nya, beramal baik, membantu sesama, dan segala perbuatan baik lainnya. 😥  Itulah keadilan yang ada di dunia ini, keadilan yang diciptakan oleh Tuhan. Dunia ini adil, Bung, hanya kita manusia aja yang memandang sesuatu dengan tidak adil. 😐

Akhirnya kembali lagi ke topik posting-an, ingat-ingatlah, bahwa apa yang kita perbuat maka kita sendiri yang harus menerima akibatnya. Harus jantan, menerima keadaan dan kenyataan, jangan jadi pengecut yang lari dari kenyataan (seperti koruptor yang gak mau ngaku). Kalo emang apa yang kita dapatkan hari ini jelek, introspeksi diri, apa yang kurang dari diri ini, jangan malah menyalahkan orang lain (seperti yang masih saya lakukan). 🙂

Maka itu, apakah narablog sekalian sudah introspeksi diri masing-masing?

——————————————————————————————————————————————————————–

Gambar diambil dari sini. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.
Advertisements

232 Responses to “Kau yang Menanam, Kau yang Menuai”


  1. 9 November 2010 at 15:34

    >.< perlukah diberitahu kalo kamu online via MacBook? Ggrrrrg… hahaha

    • 9 November 2010 at 17:10

      iyaa, bikin iri err

    • 9 November 2010 at 17:49

      Macbook tu opo toh?

      • 4 Usup Supriyadi
        11 November 2010 at 17:22

        itu lho mas cahya, kalau orang keluar dari diskotik kan suka macbook…. *itu mah mabook… 😆

        • 11 November 2010 at 21:16

          Gyahahaha, ini baru jayus bin garing yang rada lucu… :mrgreen:

      • 12 November 2010 at 15:14

        sama belum ngeh ta kira memang yang di diskotik 😀

    • 9 November 2010 at 18:31

      Hehe, laptop dan macbook itu beda… 😆

      • 11 November 2010 at 16:46

        introspeksi diri sangat penting sekali ya mas..mantap saya suka mas

  2. 9 November 2010 at 16:12

    Itulah kehidupan… sudah diciptakan sedemikian rupa agar seimbang. Tuhan memang luar biasa.

    Bahkan dalam pemrograman pun mengenal hal seperti yang Asop jelaskan… GIGO bisa “Gold In, Gold Out” atau “Garbage In, Garbage Out”… menjelaskan mengenai output yang bergantung pada inputnya. Kalau sejak awal inputnya salah, bagaimanapun prosesnya, outputnya pasti salah.

    • 9 November 2010 at 18:31

      Luar biasa… 😐

  3. 9 November 2010 at 16:17

    saya bukan tipe orang yg suka buru2 kayak gitu..
    kalo mau kuliah, biasanya saya udah siap2 dari se-jam sebelum kuliah..emg sih rumah saya kan rada jauh dari kampus, jd emg harus siap2 dari lama..tp kalo janjian jg, saya biasanya udah siap setengah jam sebelum jam janjian..ternyata, temen2 yg laen nggak kayak gitu..pas saya udah nyampe tempat janjian, biasanya mereka cengengesan pas saya telpon, “tunggu yah, put..masih di angkot nih” dan kemudian dateng se-jam kemudian..ahhh bikin males aja -.-‘
    *curcol 😀

    • 9 November 2010 at 18:32

      Benaaaaaar orang2 Indonesia harus diajari tepat waktuuu! 😡

      • 12 November 2010 at 18:32

        yoooooooiii setujuuuuuuuuuu
        harus dari kecil sih diajarinnya, biar gedenya udah tertanam

  4. 9 November 2010 at 16:59

    Menarik sekali,
    ternyata semua kejadian kalo di hubung-hubungkan, ada hubungannya juga ya,,
    Seperti kejadian di atas, ngantar adik ke kampus, seorang petani di sawah, sampek ke koruptor tetep ada juga hubungannya,, hihi.. 😀

    • 9 November 2010 at 18:36

      Kalo bisa ambil hikmahnya juga dan renungi lho ya, jangan hihi aja. 😀

  5. 9 November 2010 at 17:24

    berpikir sebelum bertindak, memikirkan baik dan buruknya dengan demikian akan lebih mudah menerima resiko yang mungkin terjadi… dan intropeksi diri… itu penting agar tidak terjadi kesalahan yang sama ^^

  6. 9 November 2010 at 17:39

    Sip, siapa yang berbuatm harus berani bertanggung jawab, begitu kira2 sop.. heleh.. 🙂

    *salam buat adikmu, besok2 jangan kebanyakan ngaca, ntar telat lagi deh kuliahnya, ihiyyyy..* 😛

    • 9 November 2010 at 18:41

      Itu benar, “siapa yang berbuat harus bertanggungjawab, tapi yang saya tekankan di sini bukan itu, yg saya tekankan di posting-an ini adalah harus mau menerima kenyataan yang telah dibuat akibat ulah kita sendiri, jangan jadi pengecut yang lari dari kenyataan. 🙂

      Hush, adik saya cowok. 😛

  7. 9 November 2010 at 17:50

    Sebenarnya, Asop yang salah (walah nuduh 😆 ), sebagai kakak, seharusnya “tut wuri handayani” :D.

  8. 9 November 2010 at 18:23

    Saya sendiri termasuk yang percaya kalau yang menanam pasti akan menuai, entah apapun bentuknya dan darimanapun datangnya…
    Sama seperti ketika berbuat baik ke seseorang, pasti kita akan mendapat kebaikan yang lain, meski nggak harus datang dari orang tadi…

    [sama seperti komentar di blognya orang, kalau sekarang saya comment disini, saya yakin saya akan dapat kunjungan balasan, entah dari Mas Asop ataupun dari yg lainnya] 😀

    • 9 November 2010 at 18:41

      Hahahaha, perihal kungjung-mengunjungi, itu udah peraturan tak tertulis, Pak Mars. 😆

  9. 9 November 2010 at 19:08

    wah, bagus nih hikmahnya. sering datang ah.. :mrgreen:

    • 10 November 2010 at 19:30

      Gitu dong, sering2 ke sini. 😀

      Langganan via rss ato email dong.

      • 12 November 2010 at 15:41

        wah, kurang tahu tuh… hehe.. kunjungi blogku juga dong…. 😀

  10. 25 mandor tempe
    9 November 2010 at 19:25

    saya menanam lombok tidak bakalan menuai tomat. Yang pasti sebab mengulur-ulur waktu artinya akan menuai terlambat, tidak akan mungkin menuai semangkuk bakso atau atrian tiket *halah mbulet*

    • 10 November 2010 at 19:32

      …….saya cuman ngerti kalimat pertama sampeyan, Mas..

  11. 9 November 2010 at 20:14

    nanem linggis aja..
    biar berbuah linggis, buat linggisin rumah koruptor.. !

    • 10 November 2010 at 19:33

    • 12 November 2010 at 15:15

      nanam duit lebih mantap lagi :mrgreen:

      • 12 November 2010 at 21:41

        Sayangnya itu ga mungki. 😆

  12. 9 November 2010 at 20:36

    Iya padahal, Kalo keluarganya diumumin, pukulan batin banget. Pada takut juga mungkin korupsi.

    • 10 November 2010 at 19:33

      Ah, tapi sepertinya mereka udah kebal akan malu…

  13. 33 Numpang Koment
    9 November 2010 at 20:52

    intinya, “Berani berbuat, berani bertanggung jawab” :mrgreen:

    • 10 November 2010 at 19:34

      Itu benar, tapi bukan itu inti dari posting-an ini. Yang ingin saya tekankan di sini adalah kita harus menerima kenyataan yg telah kita buat akibat ulah diri sendiri, jangan lari dari kenyataan dan malah membuat orang lain susah. 🙂

  14. 9 November 2010 at 21:08

    Yang menanam pasti menuai. Yang tidak menanam apa apa, ya nggak mungkin menuai.
    Yang sekarang berhasil, pasti sebelumnya berusaha keras, dengan pengorbanan yg nggak sedikit;

    • 10 November 2010 at 19:34

      Yap, itulah keadilan dari Tuhan.

  15. 9 November 2010 at 21:58

    kunjungan balasan ah.

    ya begitulah, apa yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri. ini prinsip yang saya pegang juga.

    tapi kadang saya capek juga menyalahkan diri sendiri atas apa yg menimpa saya, haha..

    nice post!

    • 10 November 2010 at 19:38

      Bagus, sering2 ke sini ya. 😀

      Masih mending nyalahkan diri sendiri, dari pada nyalahin orang lain.

  16. 9 November 2010 at 22:03

    ya bro semua kejadian pasti ada hikmahnya..
    jd manfaatkanlah waktumu sebaik mungkin haha. .

    • 10 November 2010 at 19:41

      Benar, waktu gak bisa diulang.

  17. 41 genksukasuka
    9 November 2010 at 22:06

    kalo saya yang menanam saya juga yang menuai yah,,, 😛
    maksud..

    • 10 November 2010 at 19:42

      Hmmm… maksud komennya apa yah, apa masih gak ngerti penjelasan posting-an saya di atas? ❓

  18. 43 Tari-ssi
    9 November 2010 at 22:46

    adikmu prinsipnya gini kali, pelan tapi pasti!… pasti telat mksudnya heheheheh

    tapi saya setuju sama tulisan ini, kita perlu introspeksi diri kita masing-masing. melihat ke belakang untuk perbaikan dan melihat kedepan utk masa depan.

  19. 9 November 2010 at 23:06

    kunjungan malam!!!

    mo ikutan ronda ga sob? 😀 hehehe

    • 10 November 2010 at 19:46

      Gak ah, saya ‘kan udah bilang di posting-an ini, saya ga suka begadang.

  20. 10 November 2010 at 00:33

    Karena itu saat ingin melakukan sesuatu harus direncanakan dengan matang ya, kalau perlu ditulis 🙂
    Insya Allah, saya berusaha introspeksi diri, kalau ada kesalahan mohon dimaafkan.

  21. 10 November 2010 at 00:44

    kadang air sudah dileher baru mo cari pertolongan hehehhe 😀 cerita yang menarik tapi kadang kita lupa soal hal-hal kecil begini

  22. 10 November 2010 at 02:14

    iya betul, semua pasti ada konsekuensinya ya…

  23. 10 November 2010 at 03:40

    lebih baik datang lebih cepat daripada terlambat, hehe… padinya tadi dikemanain ya? 😆

    • 10 November 2010 at 19:52

      …diolah supaya jadi beras dong…

  24. 10 November 2010 at 07:43

    kalau bunda gak bisa keburu2 kayak gitu Sop.
    semuanya pasti sudah disiapkan jauh sebelum waktunya.
    jadi, alhamdulillah, bisa selalu tepat waktu, mungkin krn kebiasaan dulu sewaktu msh bekerja yg mana waktunya gak bisa diulur2, kalau terlambat khan kasihan penmumpang yg di airport, mosok krn kita, pesawat jadi terlambat, memalukan , bukan saja bagi diri sendiri, terlebih tentunya bagi perusahaan .
    salam

    • 52 Laki-laki Biasa
      10 November 2010 at 12:44

      Saya juga sama Bun.. gak bisa terburu2 kayak gitu. Trus kalo janjian ketemu, juga lebih baik saya yg nunggu daripada ditungguin..*eh ini nyambung gak sama posting-annya? :D*

      • 10 November 2010 at 20:05

        Nah, tergantung dulu siapa yang bikin janjian ketemu duluan. Kalo Anda yang minta ketemu duluan, memang harusnya Anda yang menunggu, jangan membuat orang lain menunggu. Sebaliknya begitu, kalo orang lain yang ngajak duluan ketemu, harusnya dia udah siap menunggu Anda kalo-kalo Anda terlambat (tapi jangan sampai).

    • 10 November 2010 at 19:53

      Ehem… *batuk* 😳
      Luar biasa, namanya juga wanita, lebih rajin dan telaten dari pria. 😀

  25. 10 November 2010 at 08:24

    kalo saya di posisi Asop mungkin akan bilang
    “Sukurin! Lagian dari tadi bukannya siap2 malah nyantai2!”
    dan saya ga akan mempercepat laju kendaraan saya, karena ini bukan tugas saya, udah untung saya bantu nganterin!

    *untung saya bukan Asop 😀

    • 10 November 2010 at 08:33

      kirain tadi judulnya “Kau yang mulai Kau yang mengakhiri” 😀

      • 10 November 2010 at 19:55

        Kirain?? Bagaimana mungkin judul yang jelas begitu terbaca sebagai “kau yang mulai kau yang mengakhiri”?

    • 10 November 2010 at 19:54

      Bunda ini terlalu keras.

      • 11 November 2010 at 11:39

        KERAS
        maklumlah! watak orang Jatim (katanya) biasanya keras! 😀
        *padahal suamiku orang Jateng yang lemah lembut, gubrak!!!

        JUDUL
        bisa donk! kan mikir begitu ketika baru baca 3 kata pertama : Kau yang Mulai……….., nah ketika 3 kata itu terekam di otak yang keluar Kau yang Mengakhiri, jadi salahkan saja otak saya yang telah menyimpan informasi itu di alam bawah sadarnya 😛

      • 11 November 2010 at 14:06

        Sama kok Bun, saya juga orang jatim. 😀

        Bundaaaaaaaa saya gak ingat menulis rangkaian kata “Kau yang mulai” di posting-an iniiii! 😛
        Oke, ini salah otak Bunda. 😆

      • 11 November 2010 at 14:59

        hahahaha.. ampun Asooooooooop!
        kayanya emang otak saya yang error! 😛

  26. 10 November 2010 at 09:08

    terima kasih, kak asop atas pembelajarannya pagi ini …
    yang jelas berani berbuat berani pula bertanggung jawab … ya kan?

    Salam BURUNG HANTU

    • 10 November 2010 at 19:57

      Yap, benar. Tapiiiii… bukan tanggung jawab yang saya tekankan di sini. Saya tekankan di sini adalah harus mau menerima konsekuensi, terima kenyataan dari akibat ulah diri sendiri. Jangan cengeng dan jadi pengecut. 🙂

  27. 10 November 2010 at 11:04

    tapi nyampek kan ke kampusnya?

    • 10 November 2010 at 19:57

      Nyampe dong. 😀

  28. 66 Sang Penjelajah Malam
    10 November 2010 at 11:14

    Pelajaran yang berharga

  29. 67 hellgalicious
    10 November 2010 at 11:51

    hampir mirip dengan saya
    cuman bedanya saya ga pernah sesantai itu jika sedang ingin bepergian tepat waktu
    yang penting, semua keperluan dan persiapan untuk bepergian harus beres sejam atau setengah jam sebelum keberangkatan, biar ga terburu-buru dan kuatir terlambat

  30. 10 November 2010 at 12:11

    kayak hukum aksi reaksi…

    • 10 November 2010 at 19:58

      Fisika? 🙄

  31. 10 November 2010 at 12:30

    MacBook-nya bikin ngiler uey…!

    • 10 November 2010 at 20:03

      ….kalo saya yang bikin ngiler itu makanan, Mas… 😆

  32. 10 November 2010 at 12:32

    iyah..kadang ade saya juga begitu..sering telat padahal akibat kerjaannya sendiri yang suka mengulur waktu

  33. 73 Laki-laki Biasa
    10 November 2010 at 12:41

    “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah [77]: 7-8)

    “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri …” (QS. Al-Israa’ [17]: 7)

    • 10 November 2010 at 20:03

      Makasih petikan ayat-ayatnya.

  34. 10 November 2010 at 13:02

    itu namanya tanggungjawab ya sop,tapi bukan kamu yg nanggung saya yg jawab lho 😛

    • 10 November 2010 at 20:17

      …apakah ini dimaksudkan untuk melucu?

      Eh eh, tapi Mas Didot, yg saya tekankan di sini bukan sisi tanggung jawab. Saya tekankan di sini bahwa kita HARUS mau menerima kenyataan akibat ulah diri sendiri, jangan jadi pengecut yang lari dari kenyataan. 🙂

  35. 10 November 2010 at 13:02

    ada air..ada api… tapi aku memilih kopi…. hehe 😀

  36. 78 delopadi
    10 November 2010 at 13:48

    tapi adekmu tenang juga ya?
    uda tau bakal telat masih bilang : “ya nggak apa2”
    kalo aku jadi dia, uda pasti panik deh. (walo itu karena kesalahanku sendiri juga misalnya)

    • 10 November 2010 at 20:18

      Entahlah…

  37. 10 November 2010 at 13:50

    wah si asop lagi ‘ceramah’, tapi saya setuju tuh sama ‘ceramahan’ kamu. ehehhee

    • 10 November 2010 at 20:21

      Jadikan ini pelajaran juga ya. 🙂

  38. 10 November 2010 at 14:18

    nice post…
    kunjungi ini ya..
    klik ini
    thanks

  39. 10 November 2010 at 14:32

    Introspeksi / evaluasi diri itu kuncinya agar kita lebih bijak menuntukan langkah kita..sukses selalu ya ASop…

    • 10 November 2010 at 20:20

      Makasih dukungannya. 😳

  40. 10 November 2010 at 16:39

    hidup adalah PILIHAN dan TANGGUNGJAWAB

    • 11 November 2010 at 09:54

      Benar, tapi yang saya tekankan di posting-an ini bukan tanggung jawab. Saya tekankan di sini adalah, kita harus mau menerima kenyataan yang dibuat akibat dari ulah diri sendiri. Jangan kabur dari kenyataan dan jadi pengecut. 😡

  41. 10 November 2010 at 17:31

    Kalo orang jawa mah bilangnya “As you sow, so will you reap” 🙂

    • 10 November 2010 at 20:21

      ….serius bahasa jawa?? Apakah ini bermakusd untuk melucu?

      • 14 November 2010 at 17:56

        Gak lucu ya????

      • 14 November 2010 at 18:33

        Iyo Mas, takpikir nganggo basa jawa tenan, aku bingung kok basa inggris?? 😆

  42. 10 November 2010 at 17:48

    i do believe: what you reap is what you sow…nice post, always.like this 🙂

  43. 10 November 2010 at 19:39

    hoh…pantes ternyata jadi “budak” macbook juga akhirnya hahahahahaha…..

    adeknya cewe yak 😀 tipenya sama, siap2 satu jam sebelum tetep aja belum selesai2 haha….

    • 10 November 2010 at 20:33

      Nggaaaaaaak adik saya cowok!!! Silakan telurusi tautan yang saya kasih di sana. 😆

    • 10 November 2010 at 20:36

      Eeeeh saya belom bilang ya kalo aku udah ganti ke Macbook? :mrgreen:
      Aku udah ganti ke Macbook sejak awal 2009, gara2 ACER-ku rusak. 😡 Datanya ilang semua, menyebalka. 👿

  44. 10 November 2010 at 22:06

    Emang adiknya asop kuliah dimana tuh?? kau yang mulai kau yang mengakhiri *lohh jadi kayak lagu ya, hehe*

    • 11 November 2010 at 08:54

      Sama2 di ITB. 😀

  45. 10 November 2010 at 22:30

    Wah jadi takut nih, …

  46. 10 November 2010 at 22:46

    iya lah ada sebab ada akibat hehe..

    saya sih siap2 jauh sebelumnya, mending dateng lebih awal dari pada telat. kalau waktunya mepet ntar di jalan jadi buru2 dan gak tenang 😀

    • 11 November 2010 at 09:17

      hmmm… tapi yang saya tekankan di sini bukan “adanya sebab dan akibat”, saya tekankan di sini bahwa harus mau menerima kenyataan yang dibuat oleh ulah diri kita sendiri. 🙂

  47. 11 November 2010 at 01:32

    setuju banget sobat kita harus siap menghadapi cobaan tersebut salamat malam
    salam 🙂

    • 11 November 2010 at 09:30

      Cobaan?
      Saya gak menyebut tentang cobaan sama sekali. 😛

  48. 11 November 2010 at 04:42

    semacam Hukum Karma, ada sebab, ada akibat…keadilan hukum sebab akibat

    • 11 November 2010 at 09:31

      Iya Bli, benar adanya bahwa “ada sebab ada akibat”, tapi yang saya tekankan di sini bukan “adanya sebab dan akibat”, saya tekankan di sini bahwa harus mau menerima kenyataan yang dibuat oleh ulah diri kita sendiri. 🙂

  49. 104 Abu Ghalib
    11 November 2010 at 07:49

    Sy termasuk org yg sering terburu-buru 🙂

    • 11 November 2010 at 09:32

      Jangan lupa terima konsekuensinya ya Mas Abu. 😀

  50. 11 November 2010 at 08:29

    Emmmm. . . Bis baca ini jd semangat_ ahaha

  51. 11 November 2010 at 10:06

    yup, berfikir dulu sebelum melakukan dan siap dengan resiko dan konsekuensi.
    itu kunci dalam mengambil keputusan..

    thanks kang..

  52. 11 November 2010 at 11:22

    Pelajaran berharga nih, agar selalu ontime :)….

  53. 11 November 2010 at 11:49

    Adeknya justru sudah punya perhitungan yang matang Sop,,
    kecepatan kakaknya bawa motornya udah tau, dosen yang dihadapi juga udah,,
    kalo telat, resikonya juga tahu,, yaa,, nyantai aja :mrgreen:

    • 11 November 2010 at 15:12

      Setuju ama Mbak Ysalma, heeeee

      Dia tahu gimana kakaknya…..

      :mrgren:

  54. 11 November 2010 at 13:34

    dari “pelajaran yg di dapat” dari kisah ini, Alhamdulillah ane tenang deh bacanya,gak kesentil bo 🙂 tapi pas balik lagi ke “kisah adiknya ” jadi garuk-garuk kepala deh gue 🙂 gue gak yakin kalo kakaknya gak sama ama adiknya,coba lihat jam tangan aja lupa dipake 😀 becanda Sob,soalnya gue juga kena disitunya,kadang-kadang tapi.. *ngeles mode on* 😀

    • 11 November 2010 at 14:08

      Kena sentil kok malah balikin ke yang nulis?? Hayoooo 😛 😛

      Lagian itu emang sengaja saya gak pake jam tangan, cuman nganterin adik doang, yang wajib dibawa cuman hape ama dompet. Hape pun optional. 😀

      • 17 November 2010 at 15:23

        balik lagi nih Sob,hanya mau ngomentari gambar “menuai padi” diatas,kalo kata org bijak,jika kita menanam padi sudah pasti rumput akan ikut tumbuh,kalo kita menanam rumput so pasti padi ogah tumbuh (wong gak ditanam koq) 😀 trus kalau kita menanam kebaikan sudah pasti akan “menuai” pujian dan hujatan pun biasanya ngikut (biasanya sih dari orang yg sirik),tetapi ketika kita memilih menanam kejahatan jangan berharap menuai pujian.. 🙂

        Sehubungan dengan tulisan Asop ini,saya melihat di berita tentang pak tua dilereng Merapi,yang kerjanya berkebun (menanam singkong) benar sih beliaunya “menuai singkong” 🙂 tapi hasil beliau cuman Rp 100.000,- / bulan.Kebayang kan gimana susahnya hidup beliau?..

        Tetapi bukan “kemiskinan” beliau yang ingin saya angkat,melainkan beliau adalah rakyat negeri ini juga,yang tentu saja beliau juga membayar pajak.Kebayang kan? gimana susahnya beliau bergelut dengan panas teriknya sinar matahari bahkan ganasnya wedhus gembel Merapi.Tetapi siapa coba yang “menuai” pajak yang beliau tanam? Gayus Tambunan cs yang “menuai” pajak beliau bukan?..Sy sih setuju aja dengan wacana “memiskinkan Gayus Tambunan cs” kalo ente gimana Sob?

        • 18 November 2010 at 11:00

          …kalo kata org bijak,jika kita menanam padi sudah pasti rumput akan ikut tumbuh,kalo kita menanam rumput so pasti padi ogah tumbuh (wong gak ditanam koq) trus kalau kita menanam kebaikan sudah pasti akan “menuai” pujian dan hujatan pun biasanya ngikut (biasanya sih dari orang yg sirik),tetapi ketika kita memilih menanam kejahatan jangan berharap menuai pujian..

          Iyap, kalo dipikir-pikir, itu benar. 🙂

          Sehubungan dengan tulisan Asop ini,saya melihat di berita tentang pak tua dilereng Merapi,yang kerjanya berkebun (menanam singkong) benar sih beliaunya “menuai singkong” tapi hasil beliau cuman Rp 100.000,- / bulan.Kebayang kan gimana susahnya hidup beliau?..

          Ehem.. ini apa hubungannya dengan tulisan saya?? 😀 Oh saya ngerti, ini mau menghubungkan dengan gambar yang ada ya, bukan tulisannya? 🙂

          Tetapi bukan “kemiskinan” beliau yang ingin saya angkat,melainkan beliau adalah rakyat negeri ini juga,yang tentu saja beliau juga membayar pajak.Kebayang kan? gimana susahnya beliau bergelut dengan panas teriknya sinar matahari bahkan ganasnya wedhus gembel Merapi.Tetapi siapa coba yang “menuai” pajak yang beliau tanam? Gayus Tambunan cs yang “menuai” pajak beliau bukan?..Sy sih setuju aja dengan wacana “memiskinkan Gayus Tambunan cs” kalo ente gimana Sob?

          Oh, oke, benar-benar gak ada sangkut pautnya dengan tulisan saya. 🙂
          Memang Gayus Tambunan ini keterlaluan sekali. Saya yakin masih banyak lagi makelar pajak yang seperti dia. Harusnya Gayus ini ditekan ama pihak berwajib (entah KPK atau polisi) untuk membeberkan siapa orang2 (makelar) seperti dirinya dan siapa aja kliennya. Kalo udah begini, kemungkinan besar perusahaan Pak Ical bisa kena. 😀 Bukannya saya benci dia, tapi udah banyak orang tahu bahwa perusahaan2nya itu banyak masalah.
          Saya sih setuju sekali denga pemiskinan Gayus. Seperti yang telah saya tulis, Gayus ini harusnya udah ngerti bahwa ketika dia menjadi makelar pajak, suatu ketika pasti akan ketahuan dan akan ada hukuman untuknya. Keluarganya pun harus siap menerima hujatan. Tapi tampaknya, Gayus ini gak punya rasa malu, gak punya rasa bersalah, terlihat dari wajahnya (setidaknya menurut saya :D). Istrinya, saya gak ngerti kenapa istrinya mau2 aja ngeliat suaminya korup. Kelihatannya dia udah cukup malu sampe2 malu untuk ke tempat kerja. 😆
          Jadi, saya heran, apakah semua kekayaannya udah dibekukan? Rekening bank-nya, aset2nya… Kalo udah, gimana ya cara dia bisa ke Bali??? Kok bisaa?? Dapet uang dari mana? Apa dia punya cadangan uang tunai? Atau jangan2 ada yang membiayai dia? 😆 Masih berupa misteri besar.

          • 18 November 2010 at 11:05

            Saya kecewa kenapa Adnan Buyung Nasution membela orang seperti Gayus… 😦

      • 19 November 2010 at 09:02

        🙂 Sob,menggunakan asumsi penghasilan pak tua itu dibanding dengan yang di “jarah” Gayus cs dari Kas Negara.Bisa di bayangkan berapa juta penduduk Indonesia yang di “dzalimi” Gayus cs.

        Momentum kasus Gayus cs,bisa digunakan dengan baik oleh semua pihak yg komit dgn pemberantasan gurita korupsi dinegeri ini,termasuk keseriusan Pemerintah.Korupsi di perpajakan,kehakiman,birokrasi disinyalir sudah lama merambah sampai ke daerah-daerah.Sebagai masyarakat yang selama ini menjadi pihak yang dirugikan,kita harus mengawal ini dan mendorong Pemerintah,kalau perlu secara serentak di Seluruh tanah air.Kita lihat saja pihak manapun yang akan berusaha membawa kasus ini ke wilayah politik,justru akan terpuruk di Pemilu 2014 nanti.

        Pak Adnan Buyung Nasution mungkin punya pikiran lain,tapi memang beliau terlihat berada dalam “wilayah” abu-abu,mari kita pantau komitmen Pak Adnan cs dalam membersihkan nama baik Hukum di Negeri ini.Beliau harus bisa membuktikan apakah beliau seorang “pahlawan” atau justru menjadi seorang “pecundang”.

  55. 11 November 2010 at 14:05

    Atau setidaknya, keluarganya harus siap untuk menerima kucilan dari masyarakat, cemoohan, ejekan, dan sindiran.

    Istrinya koruptor yang inisialnya Ga*yus kayaknya contoh bagus tuh, jadi jarang banget masuk kantor. Di awal2 berita, ibu mertuanya tersangka malah sakit parah.
    Tapi malah yang bersangkutan (diduga) nonton tenis di Nusa Dua, santai2 aja kayaknya ya~ 😆

    • 11 November 2010 at 14:15

      Eh eh, itu beneran ya, fotonya asli? Bener2 Gayus? 😆 Konyol sekali, sampe pake wig segala…

    • 11 November 2010 at 21:22

      Terlepas dari itu semua benar atau tidak, sungguh mengerikan sikapnya… 😦

      • 17 November 2010 at 15:24

        Gayusnya sudah ngaku Sob,tenang aja jadinya kita enggak memfitnah dia kan? 🙂

        • 18 November 2010 at 10:48

          Udah jadi fakta ya… :mrgreen:

  56. 11 November 2010 at 14:08

    setujuu, respect sekali sm post mu! (tepuk tangan+jingkrak”)
    walaupun agak tersindir,hihihi..
    belajar konsisten, menghargai waktu, & bertanggung jawab dgn pilihan yg kita ambil, memang ga gampang tapi hasil yang akan kita tuai pasti berkualitas.
    kata-katamu baguss! keep bloging =)

    • 11 November 2010 at 14:12

      keep blogging? Itu pasti. 😥

  57. 11 November 2010 at 15:10

    Selamat sore MAs Asop….

    Halah, halah lama nggakmampir karena kesibukan yang bejibun dan naudzubillah kini Mas ASop telah berubah drastis………

    Trimakasih mengingatkan mas, ya tentunya seperti melempar bola semuanya aan kembali ke kita…

    He he he he

    Salam hangat-hangat kuku mas….

    • 11 November 2010 at 15:29

      Ah, Mbak Hani meskipun jarang BW tapi tetep nulis terus, itu bagus… 😳

      Saya masih tetep sama kok Mbak, cuman kadang nulis serius kadang nulis ga serius. 🙂

      • 126 Usup Supriyadi
        11 November 2010 at 17:26

        😀

      • 11 November 2010 at 17:29

        He he he he

        Iya, jadi malu jarang BW, disindir nie 😳

        • 11 November 2010 at 21:13

          Lho lho, saya gak nyindiiir! 😀

      • 129 Usup Supriyadi
        11 November 2010 at 17:33

        sama lah, daku juga jarang BW nih… ^^

        • 11 November 2010 at 21:11

          Wah, luar biasa, Kang Usup langsung panen komen! 😆

  58. 11 November 2010 at 16:28

    Kebiasaany menundanya masih belum hilang, coba bayangkan kalau yang dimundurkan ijab kabul 😀

    • 132 Usup Supriyadi
      11 November 2010 at 17:27

      jangan ampe dah, bikin panas dingin….

    • 11 November 2010 at 17:29

      oh tidaaaaaak!!!!!!!

      • 134 Usup Supriyadi
        11 November 2010 at 17:34

        ono opo cah ayu? 🙄

      • 13 November 2010 at 21:14

        Ha ha ha

        ijab kabul diundurkan…hee

        • 16 November 2010 at 08:40

          Lho, kok ketawa… 😀

    • 11 November 2010 at 21:21

      ….selama kedua belah pihak satu suara, mengapa tidak? ❓

  59. 11 November 2010 at 17:06

    Intinya jangan menunda-nunda sesuatu karena kita gak tau apa yang akan terjadi kemudian…
    selagi masih ada kesempatan, ambillah..

    salam

  60. 139 Usup Supriyadi
    11 November 2010 at 17:23

    mari intropeksi… ^^

  61. 11 November 2010 at 19:35

    yuhu.. berati setuju hukum karma mas?

    • 11 November 2010 at 21:07

      Eits, saya gak ngomongin hukum sebab-akibat dan karma di sini. Yang saya tekankan di sini adalah bahwa kita harus mau menerima kenyataan yang dibuat dari ulah diri sendiri, jangan malah lari dari kenyataan dan jadi pengecut. 🙂
      Saya gak bawa2 karma di sini. 😉

  62. 11 November 2010 at 19:46

    lebih cepat lebih baik sop ^^

  63. 11 November 2010 at 19:49

    Bener sop, apa yang kau lakukan sekarang pasti akan berdampak di kemudian hari…
    Banyak2 berbuat baikaja, supaya kita akan menuai kebaikan juga hehehe 🙂

    • 11 November 2010 at 21:11

      Yang ini juga benar. 😀

  64. 11 November 2010 at 20:29

    ketika kita memutuskan sesuatu, saat itu kita sedang menikahi konsekuensi dari keputusan tersebut..

    • 11 November 2010 at 21:10

      Benar sekali, dan harus ikhlas menerima konsekuensi tersebut.

  65. 11 November 2010 at 22:40

    baru sempet baca nih. post yg bagus dan berat 😉

  66. 12 November 2010 at 02:26

    Apa yang membuat diri kita benar, maka tidak akan membuat diri kita salah. Sebaliknya apa yang membuat diri kita salah, maka tidak akan membuat diri kita benar.

    Dengan Mengatasi Permasalahan Yang Kecil; maka, Kita Dapat Mengatasi Permasalahan Yang Besar.

    Sukses selalu.

    Salam ~~~ “Ejawantah’s Blog”

  67. 12 November 2010 at 07:47

    adiknya bermoto enjoy your life..tapi kalao udah mepet kelabakan 😀

  68. 12 November 2010 at 09:34

    wah tuh adiknya ikut2 kakaknya kali… 😆

    • 12 November 2010 at 21:44

      Mungkin yee… 😀

  69. 12 November 2010 at 10:48

    tentang menabur/menanam dan menuai ini memang benar sekali sop
    sangat gampang dicari contohnya dalam hidup kita

    mudah2an aku juga selalu bisa mengintrospeksi diri

  70. 12 November 2010 at 10:54

    Yah, Kau tanam padi, mungkin tumbuhnya padi plus banyak rumput (yang harus dimusnahkan), tapi kau tanam rumput nggak akan tumbuh padi…
    kata eyang gitu… 🙂
    Salam Sukses

  71. 12 November 2010 at 11:52

    wah, nice post mas….^^
    jgn lari dari kenyataan…hadapilah secara gentle jgn hanya ‘amnesia mendadak’ seakan-akan semua yg sudah terjadi tdk pernah diingat lagi ataupun berusaha untuk tidak mengingat-ingatnya lagi karena kalau seperti itu terus kita hanya akan menjadi benalu dalam hidup ini dan menjadi pengecut selamanya.
    mari kita introspeksi diri masing-masing, semoga semakin hari semakin baik dan berkualitas diri kita amin.

    • 12 November 2010 at 21:43

      Luar biasa. 🙂

  72. 12 November 2010 at 12:18

    wah benar sekali mas asop.. yg penting harus bisa bertanggung jawab ya….

    • 12 November 2010 at 21:42

      Itu benar, tapi yang saya tekankan di sini bukan sisi “tanggung jawab”nya, yang saya tekankan adalah menerima kenyataan akibat ulah diri sendiri. 🙂

  73. 12 November 2010 at 14:27

    kalo gw menanam duit receh rp50, yang keluarnya nanti bakal apaan yak??? whehehehe

    • 12 November 2010 at 15:36

      Jadi pengen nanem biji kwaci deh. Mmm kwaci

      • 12 November 2010 at 19:19

        ??? yang nongol die lagi???

        • 12 November 2010 at 21:36

          Kapan dia nongol sebelum ini?

      • 12 November 2010 at 20:59

        Gue juga bingung. 😆

    • 12 November 2010 at 21:42

      Pohon besi baja.

  74. 12 November 2010 at 15:17

    banyak sebenarnya yang bisa kita ambil dari kehidupan sehari2.

    hehe… ujung2nya lari ke koruptor juga 😀

    • 12 November 2010 at 21:41

      Kalo mau disambung-sambungin ke “hidup ini adil” bisa juga. 🙂

  75. 12 November 2010 at 16:27

    hmm…
    masih mikir2…belum paham juga

    • 12 November 2010 at 21:39

      Santai, Belanda masih jauh. 😀

  76. 12 November 2010 at 16:32

    Ayo, terus menanam biar nanti bisa menuai. haha.. kacau deh!

  77. 12 November 2010 at 17:46

    budaya orang indonesia……. tapi biasanya kalo sudah menanam ga mau mengakui… 😆

  78. 12 November 2010 at 19:38

    iya betul mas..
    kekecewaan itu pasti ada. 😀

  79. 12 November 2010 at 20:14

    Jadi ingat, “botol susu keluar susu, botol air keluar air, tidak akan tertukar” Sungguh adalah nasihat untuk saya sendiri. Thanks mas asop. 🙂

  80. 12 November 2010 at 20:35

    mungkin prinsip penting yg harus ditanamkan di diri kita adalah

    SI KONTOL PANJANG mas..

    Situasi, Kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan,. asal semua dipikir masak² sblm melakukan pasti kita akan menuai yg baik jg

  81. 12 November 2010 at 20:39

    salam kenal.. kunjungan perdana ke blog mas asopp..

    • 12 November 2010 at 21:34

      Eeeeeh beda com ama net-nya doang. 😆

  82. 12 November 2010 at 21:53

    Kunjungan malam, daripada disindir lagi 😆

    Kok belum ada yang baru Mas???

    • 16 November 2010 at 07:48

      Ehehehe, masih dalam tahap pengerjaan nih artikelnya. 🙂

  83. 177 nayyirnensi
    12 November 2010 at 23:59

    hEY ASOP that picture really looks awesome. I read your blog like every time I can. I just need to ask you a favor if you please could. Can you please advertise my blog on your site on a post? Please man I’m almost like begging here. I mean I’m only getting 50 or 25 views a day. Could you please help me by advertising my blog, please man. And thanks………….

  84. 13 November 2010 at 03:21

    yeah… contohnya keren.. sepertipara koruptor 😀

  85. 13 November 2010 at 04:59

    Kang Asop apa kabar? makin asik aja blognya – thanks sudah mengingatkan 😀

    • 16 November 2010 at 07:49

      Baik, maap udah lama gak blog Mas Indra. 😐

  86. 13 November 2010 at 10:13

    apa yg kau tanam..kau yg menuai…
    walaupun gak setiap yg kita tanam..bisa kita menuainya…karena smua butuh proses..kesabaran…dan kadang cobaan…
    tapi itulah hidup kan ya mas..semua harus dimulai dari menanam…. 🙂

  87. 13 November 2010 at 14:56

    kesimpulan akhirnya telat Sop???
    wkwkwkw

    ya Sop, yg penting kita siap dg segala konsekuensi yg kitaperoleh atas setiap pilihan yg kita lakukan.

  88. 13 November 2010 at 17:02

    jika yg ditanam bibit2 yg baik dan bermutu, hasil yg dituai pun akan baik. menanam kebajikan, akan mendapatkan kebaikan yg lain, entah datangnya dr mana. sunatullah.

  89. 13 November 2010 at 18:09

    Wah, foto judulnya benar2 ga nyambung. Yg disitu menuai pada, yg di artikelnya menuai yg lain. Hehehe *OOT*

    Omong2 saya setuju soal pernyataan bahwa “Tuhan itu adil, tapi manusia yg suka menganggap Tuhan ga adil”. Kebanyakan manusia yg berpikir bahwa Tuhan nggak adil itu hanya suka memandang kelemahan dirinya sendiri & melihat orang lain yg kebetulan lebih baik, tapi dia sendiri ga berusaha memperbaiki kelemahannya & malah merenung sambil menyalahkan Tuhan, serta menutup matanya dari kenyataan bahwa tiap orang punya kelebihan & kekurangan masing2

    • 16 November 2010 at 07:53

      Asik, ada yang setuju. 😀

  90. 13 November 2010 at 19:35

    kunjungan malam hari mas. salam

    ada gula ada semut ..kira kira artinya lebih besar pengeluaran dari pada pemasukan..nah lhoo

    • 16 November 2010 at 08:39

      Salam juga. 🙂

      Ehem… posting-an saya ini gak bicara perihal pengeluaran sama sekali lho… :mrgreen: Dan lagi, tiba-tiba ada gula dan ada semut… 😆

  91. 188 Jomblo Sejati
    14 November 2010 at 12:50

    Kunjungi blog vegetarian di http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/

    • 16 November 2010 at 08:45

      Wah, tahu2 nyuruh saya ke sana berkunjung ke sana… 👿

  92. 14 November 2010 at 15:01

    ooooo gitu ya..
    baiklah kalo gitu saya juga mo pergi dulu ah udah ditungguin dari tadi.
    *ngelipir

    empat kali empat sama dengan dua belas
    sempat ga sempat,asal jgn bablas
    hoho

  93. 14 November 2010 at 20:00

    saya jadi gak pngn santai2 lagi ni mas

  94. 14 November 2010 at 21:58

    yup, saya setuju kita yg menanam maka kita yg akan menuainya…
    kunjungan akhir pekan kawan.

    salam, ^_^

  95. 14 November 2010 at 22:01

    itulah terkadang masih byk pemuda eh orang² yg masih saja kurang memikirkan dampaknya.

    • 16 November 2010 at 08:53

      Maka itu, jadilah pemuda yang baik (dari segala sisi). 🙂

  96. 14 November 2010 at 22:03

    kunjungan akhir pekan utk silaturrahmi
    wew komentator bisa smape 180 lebih…salut
    berarti artikel ini mmg bagus deh

    • 16 November 2010 at 08:55

      kalo rajin blogwalking insya Allah blog rame kok. 🙂

  97. 14 November 2010 at 22:07

    yah sebuah konsekuensi yg harus diterima dari setiap tindak tanduk yg ia lakukan

  98. 198 rosalina, anita
    14 November 2010 at 22:58

    wow! tumben tulisannya panjang :P* sengaja ke luar konteks

    • 16 November 2010 at 08:56

      Hehe, sekali2 pengen nulis yang serius. 🙂

  99. 200 nayyirnensi
    15 November 2010 at 07:46

    Yah, Kau tanam padi, mungkin tumbuhnya padi plus banyak rumput (yang harus dimusnahkan), tapi kau tanam rumput nggak akan tumbuh padi 🙂

  100. 15 November 2010 at 11:45

    ya ya ya…dan sy bkali kali mlakukan hal yg sm sprti adeknya smpean
    dan sy jg bkali kali brusaha untuk introspeksi diri
    tp y bkali kali mlakukan hal yg sm lgi
    hihihi
    😀

  101. 15 November 2010 at 12:29

    nggak selalu sih, dulu di kebun belakang rumah saya tumbuh pohon pepaya padahal ga ada yg nanem. entah ada burung lewat yg ga sengaja ngejatuhin biji pepaya, mungkin juga tikus, atau itu pohon pepaya ajaib? Tidak ikut menanam tapi ikut menuai kan ;))

  102. 15 November 2010 at 12:32

    salam kenal mas 🙂
    keren artikel2nya 🙂
    oh ya ditunggu kunjungan balik di blog ane ya bos, sekalian tukeran link yuk 🙂

  103. 15 November 2010 at 14:27

    bener!
    laptop dan macbook itu beda sebagaimana PC itu beda dengan iMac. Hohoho

    • 16 November 2010 at 09:18

      Ah, Deady mengerti diriku…. 😀

  104. 15 November 2010 at 16:47

    setuju saya mas ama yang satu ini… 😀
    emang bener noch keadaanya. 😀

  105. 207 nayyirnensi
    16 November 2010 at 10:07

    Hei ASOP gambar itu benar-benar looks awesome. Saya membaca blog Anda seperti setiap kali aku bisa. Aku hanya perlu menanyakan sesuatu jika Anda silakan bisa. Dapat Anda harap beriklan blog di situs Anda pada posting? Silakan man aku hampir seperti memohon di sini. Maksudku, aku hanya mendapatkan 50 atau 25 dilihat sehari. Bisa Anda membantu saya dengan iklan blog saya, silahkan manusia. Dan thanks…………. 🙂 🙂 🙂

    • 18 November 2010 at 10:37

      Hahaha, Nayyir, Google Translate, eh? 😆

      • 209 nayyirnensi
        25 November 2010 at 08:35

        No, it’s actually bing translator, lol. Hey but Asop can you do me a favor and advvertise my blog on your blog. I’m desperate for comments and views.

  106. 16 November 2010 at 13:23

    Clebb ! ( sambil melepas pisau di punggung ) Hahahahahahaha.. 😀

    Introspeksi. introspeksi. introspeksi. terima kasih telah mengingatkan 😛

    • 18 November 2010 at 10:37

      Sama-sama… :mrgreen:

  107. 16 November 2010 at 14:36

    ceritanya persis seperti yang saya alami setiap pagi ketika nganteris ade saya yang masih kelas 2 SD 😀

  108. 16 November 2010 at 19:09

    terima kasih untuk mengingatkan saya..salam

  109. 17 November 2010 at 00:27

    benar, hukum aksi reaksi berlaku di sini sob!!

    • 18 November 2010 at 10:47

      Itu benar, tapi yang saya tekankan di sini bukan di aksi-reaksi-nya, tapi saya tekankan bahwa harus mau menerima kenyataan yang telah kita buat sendiri, jangan jadi pengecut yang lari dari kenyataan. 🙂

  110. 17 November 2010 at 01:41

    selamat pagi.

    bener banget bro, setiap tindakan pasti ada resiko nya.
    bahkan bermalas2an di rumah dan tidak melakukan apapun juga ada resiko nya 😛

    terima kasih dan mohon maaf 😮

  111. 17 November 2010 at 03:58

    Met Isul Adha mas Asop.
    Mampir yah, sahabatdendy updated!

  112. 17 November 2010 at 03:58

    Met Idul Adha mas Asop.
    Mampir yah, sahabatdendy updated!

    • 18 November 2010 at 10:48

      Wah, dua kali! 😆

  113. 17 November 2010 at 20:56

    ya, segala yang kita perbuat kelak harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Nya

    apa kabar Sop???

    • 18 November 2010 at 11:07

      Baik, Mbak… :mrgreen:

  114. 17 November 2010 at 21:49

    intinya itu resiko kan mas?
    kaya misalnya kita berani ngeduain si pacar, trus udah resiko kalo si pacar ninggalin kita atau malah diduain balik heheh kenapa jadi ngomongin pacar?!

    sekian bulan saya kenal mas Peb, saya baru liat tulisannya yang panjaaaaang begini 😀
    tolong positivkan apa yg terbaca negativ yah
    karna tak ada niat dalam hati
    *ga nyambung*

    • 18 November 2010 at 11:08

      Intinya, kalo nDa ngeduain pacar, nDa harus mau menerima kenyataan kalo nDa juga diselingkuhin. Jangan malah nyalahin pacar nDa. 🙂

      Ah, nDa belum ngubek2 semua posting-an saya…. 😀

  115. 20 November 2010 at 17:14

    hehehhee…. saya pun suka seperti itu dan memang akibatnya seperti itu (yang dilakukan adikmu. red) :mrgreen:

  116. 20 November 2010 at 22:31

    Tp terkadang ada orang yang tidak sadar atas apa yang dia perbuat!

  117. 21 November 2010 at 05:51

    Yah, sepertinya sudah hukum alam ya Sop.. harus menerima konsekuensi terhadap pilihan tindakan maupun pilihan hidup. UUps.. :mrgreen:

  118. 23 November 2010 at 09:33

    sangat menyentuh sekali tulisan anda.
    sama seperti di atas, jd teringat kata dosen sya dlu.
    Beliau berkata : masa muda masanya bekerja keras dan klo sudah tua tinggal mengambil hasil tanam masa muda namun klo masa mudanya bermalas ria maka masa tuanya lah dia ahrus bekerja keras. siapa yg menanam dia yg akan menuai

    • 23 November 2010 at 23:10

      Saya tekankan di posting-an ini, bahwa jadi manusia itu harus mau menerima kenyataan yang diperbuat akibat ulah diri sendiri. Jangan lari dari kenyataan dan malah menyalahkan orang lain. 😎

  119. 24 November 2010 at 08:30

    begitulah introspeksi.. maka Nabi pun pernah menuturkan, Haasibuu anfusakum, qabla an tuhasaba.. hisablah diri-diri kalian sebelum kalian menghisab pribadi-pribadi lain.. dengan demikian akan menyebabkan kita senantiasa berfikir positif atas orang lain..

  120. 12 December 2010 at 12:04

    “jalan rute yang biasa kami pakai untuk ke kampus” >> adek lo di ITB juga Sop?

    intinya adek lo telat ya? 😀

    • 12 December 2010 at 18:35

      Yap, dia lebih pinter dari gue, jurusan informatika. 😀

      Tauk deh telat apa ga, dianya sendiri santai2 aja. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Si Empunya Blog

Siapa saya? Monggo lihat halaman "Tentang Saia..." di atas. Tinggal klik! Mau meninggalkan jejak? Monggo klik halaman "Tinggalkan jejak..." di atas. Jangan lupa, nikmatilah hidup ini. ^_^

Hubungi saya di jejaring sosial

Kadang-kadang di blog ini saya menggunakan emoticon Parampaa. Silakan datang ke blog Bang Ova di sini. Dapatkan emoticon-nya di sini. HAJAR!!

Masukkan e-mail Anda di sini kalo mau dapet pemberitahuan postingan baru saya via e-mail

Join 973 other followers

Powered by FeedBurner

Saya sedang membaca ini


Tulisan Saya Berdasarkan Bulan

Arsip Tulisan

Ups, maap, kalau mau melihat arsip semua tulisan saya, lihat halaman di atas ya, yang "Arsip Tulisan" itu lho....

TIPS!

Kalo tulisan di blog saia ini terlalu kecil, monggo diperbesar. Untuk pengguna windows, tahan [Ctrl] sambil di-scroll mouse tengah. Untuk pengguna Mac, tahan [Cmd] dan tekan [+] atau [-].

Ga nyambung sih ini, bukan promosi, tapi kalo mau browser Safari, donlot di sini.

Blogroll: By Name


Abed Saragih "disave" |
Abi Harestya dan Bidadarinya |
Abu Aufa |
Abu Bakar "Bchree" |
Abu Ghalib |
Achmad Edi Goenawan |
Achoey El Harris |
Ade Kurniawati |
Adi Surya Pamungkas "bacelzone" |
Fan Adie Keputran |
Adya Ari Respati "abstractdoodle" |
Afra Afifah |
Ageng Indra |
Agry Pramita |
Agung Budidoyo |
Agung Firmansyah |
Agung Hasyim |
Agung Rangga "Popnote" |
Agung Yansusan Sudarwin |
Agustantyono |
Agyl Ardi Rahmadi |
Ahmad Musyrifin |
Akhmad Fauzi |
Alfi Syukrina |
Alid Abdul |
An Fatwa "Siho" |
Andi Nugraha |
Andi Sakab |
Andhika |
Andreas A. Marwadi |
Andrew Paladie |
Andrik Prastiyono |
Andyan |
Angga "SERBA BEBAS" |
Angga Dwinovantyo |
Anies Anggara |
Anindita |
Anistri |
Anita Rosalina |
Anto "Kaget" |
Anyes Fransisca |
Are 3DRumah |
Ari Artanto "Cah Gaul" |
Ari Muhardian "Tunsa" |
Ariana Yunita |
Arief Hartawan |
Arif "Bangkoor" Kurnia |
Arif Nurrahman |
Arif Sudharno Putro |
Ariyanti "Sauskecap" |
Arnolegsa Maupasha |
Arundati R.A. |
Aruni Yasmin Azizah |
Aryes Novianto |
Asep Saiba |
Asrul Sani |
Atha "kepompong" |
Aul Howler |
Awalul Hanafiyah "Masyhury" |
Baha Andes |
Baiq Fevy Wahyulana |
Bernadine Hendrietta |
Betania G. Rusmayasari |
Big Zaman |
Budi Nurhikmat |
Budi Prastyo "Kimbut" |
Calvin Sidjaja "Republik Babi" |
Cempaka Ariyanti |
Chocky Sihombing |
Citra "ceetrul" Hapsari |
Dadi Huang |
Danar Astuti Dewirini |
Daniel Hendrianto |
Daniel Maulana |
Deady Rizky |
Dede A. Hidayat |
Deny Marisa |
Depriyansyah Ramadhan "Iamcahbagus" |
Desita Hanafiah |
Destiana |
Desy Arista Y. |
Dewi Puspitasari |
Dewisri Sudjia "Desudija-DSK" |
Dhanika Budhi |
Dhewi Buana |
Dhimas Nugraha |
Didot Halim |
Dina Aprilia |
Dismas |
Ditya Pandu |
Doni Ibrahim |
Edda Nainay |
Efinda Putri |
Eko Ghesi Bardiyanto |
Elfa Silfiana |
Ella "Brokoli Keju" |
Erick Azof |
Erika Paraminda |
Erlin Fitriyanti |
Evan Ramdan |
Evet Hestara |
Fadhilatul Muharram |
Fahmi Nuriman |
Faisal Afif Alhamdi |
Faiza "MIDWIFE'S NOTES" |
Fandy Sutanto |
Fanny Azzuhra |
Fatra Duwipa |
Febe Fernita |
Felicia |
Ferry Irawan Kartasasmita "makhluk lemah" |
Fier "Pelancong Nekad" |
Fikri "Blue Zone" |
Fira "Fiya" |
Fitri Melinda |
Fitriyani |
Galih Gumilang "Gege House" |
Galuh Ristyanto |
Ghani Arasyid |
Gilang F. Pratama "Babiblog" |
Gitta Valencia |
Gugun "idebagusku.com" |
Gusti Ramli |
Hanif Ilham |
Hanny Aryunda Herman |
Hendrawan Rosyihan |
Hera Prahanisa |
Herni Bunga |
Herry "negeribocah" |
I Gede Adhitya Wisnu Wardhana |
Husfani A. Putri |
Ibnu Fajar "Ikky" |
Ilham JR |
Inge "Cyberdreamer" |
Intan Permata Kunci Marga |
Iqmal |
Irfan Andi|
Isdiyanto |
Ivan Prakasa |
Januar Nur Hidayanto "Yayanbanget" |
Jasmine Aulia |
Joko Santoso |
Joko Setiawan |
Juhayat Priatna |
Julianus Ginting |
Kang Ian . info |
Kang Ian . com |
Karina Utami Dewi |
Khalid Abdullah |
Khalifatun Nisa |
Kuchiki Rukia |
Lailaturrahmi Sienvisgirl Amitokugawa |
Lambertus Wahyu Hermawan |
Lerryant K. |
Lina Sophy |
Lucky DC |
Maghfiraa Alva |
Marchei |
Mario Sumampow |
Mas Ardi |
Mas Bair |
Mas Yudasta |
Mikhael Tobing |
Mirwanda |
Miswar Rasyid |
Mochammad AHAO |
Mohamad Husin |
Muhammad Abdul Azis |
Muhammad Hamka Ibrahim |
Muhammad Ihfazhillah |
Muhammad Riyan |
Muhammad Saiful Alam |
Muhammad Zakariah |
Nadia Fadhilah Riza |
Nanang Rusmana |
Nandini R.A. |
Necky Effendi |
Ninda Rahadi |
Nindy Ika Pratiwi |
Novina Erwiningsih |
Nur Azizah |
Nuri |
Perwira Aria Saputra |
Pipin Pramudia |
Pratita Kusuma |
Puji Lestari |
Pungky "PHIA" Widhiasari |
Putri Chairina |
Qori Qonita |
Radinal Maruddani |
Rahad Adjarsusilo |
Rahmat Hidayat |
Randi Rahmat |
Rasyida |
Regina |
Reisha Humaira |
Rie "Cerita Rie" |
Richie Lanover |
Rif'atul Mahmudah |
Rina Sari |
Rini Andriani "Athamiri" |
Riza Saputra |
Rizki "Hitam Putih Jingga" |
Rizki Akbar Maulana |
Ronie "Ravaelz" |
Rowman |
Rudi Wahyudi |
Ruri Octaviani |
Saipuddin Ar |
Septirani Chairunnisa Kamal |
Shafiqah Adia Treest |
Silvi Mustikawati |
Surya "Javanes" Pradhana |
Tasya Myanti |
Thyar |
Tiffany Victoria "Tiffa" |
T I W I |
Tony Koes "Macsize" |
Triana Frida Astary |
Triyani Fajriutami |
Uka Fahrurosid |
Ummu El Nurien</a. |
Upik "Pemburu Konstruksi Makna" |
Wahyu Asyari Muntaha |
Wahyu Nurudin |
Wahyu Putra Perdana |
Wendy Achmmad |
Widyan Fakhrul Arifin |
Wien Wisma |
Wildan Lazuardi |
Wiwin Siswanty |
Wiwing Fathonah Pratiwi |
Yori Yuliandra |
Yuli Anggeraini |
Zuli Taufik |

I’m a Liverpudlian!



%d bloggers like this: