[Film] Blindness: Seorang Diri Di Tengah Kebutaan

[UPDATED!] Ada taut untuk mengunduh film ini di akhir posting-an. Tautan oleh Mas Ahmed. 🙂

*

Ini adalah ulasan film ketiga saya, setelah beberapa minggu lalu saya mengulas film perang buatan Australia. Sekarang giliran film yang menyentuh. 🙂 Sebisa mungkin saya mengulas film yang kurang dikenal (di Indonesia), tapi tetap sangat layak ditonton. 🙂     ….tapi, ingatkan saya, apakah film yang satu ini pernah muncul di bioskop Indonesia apa nggak… 😎   *sotoy*

Saya ingat film keluaran tahun 2008 ini pernah ditayangkan seklias di sebuah stasiun televisi. Saya ingat sekali, waktu itu pagi hari di kosan, di segmen acara terakhir sebuah program berita, cuplikan (teaser/trailer) film ini ditayangkan (sayang sekali saya nggak ingat tahun berapa). Dari situ, saya tertarik dengan jalan ceritanya, seseorang yang hidup di tengah-tengah penyakit misterius yang tiba-tiba muncul dan menyebabkan semua orang buta, kecuali dirinya. Bisa dibayangkan betapa menariknya. 😀 Harus hidup normal sendiri di antara orang buta… sebuah cerita yang unik waktu itu.

Setelah lama saya melupakan keberadaan film itu, tahu-tahu akhir bulan Oktober lalu saya tiba-tiba ingat. Pas juga ingatnya waktu saya ada di toko DVD bajakan langganan saya. Lebih menakjubkannya lagi, secara aneh mata saya langsung tertuju ke rak lemari deretan abjad “B”, secara tak sengaja dan tanpa disuruh, mata langsung melihat bungkus film ini. 😆   Betapa senangnya waktu saya ngebaca rangkuman cerita di bagian belakang, mirip sekali dengan yang dulu saya inginkan. Gak pake mikir lama, saya beli. 🙂

Film ini membuat saya benar-benar menyadari bahwa betapa berharganya salah satu panca indera yang diberikan oleh Tuhan. Satu indera aja udah berharga sekali, apalagi kalo kelima indera kita ini sempurna. Betapa meruginya seseorang yang nggak memanfaatkan kelima inderanya dengan baik. 😐

Jadi, sesuai dengan judulnya, bisa dibilang film ini bercerita tentang kebutaan. Bayangkan, entah kenapa secara misterius (tak diketahui) tiba-tiba semua orang di sekitar narablog sekalian terserang kebutaan, gak bisa melihat. Awalnya hanya seorang yang kena, dan lama kelamaan “menular” ke orang lain yang terdekat. Perantara penularan tidak diketahui, dan penyebab bisa terkena juga gak diketahui. Penderita mengatakan bahwa matanya hanya melihat latar belakang yang putih, sama sekali tak ada apa-apanya. Bayangkan juga, orang terdekat narablog udah buta semua, tapi anehnya narablog sendiri nggak buta. Menteri-menteri, pejabat pemerintahan, orang kaya, orang miskin, semua buta. Hanya narablog yang nggak buta.

Menarik juga, ‘kan? 😀

Sedikit Pendahuluan

Film ini dibuat berdasarkan novel karangan José Saramago, yang berjudul Ensaio Sobre a Cegueira (terbitan tahun 1995). Novelnya berbahasa portugis, dan memang kelihatannya nggak diterjemahkan ke bahasa kita, hanya ke bahasa Inggris.

Nggak kalah menarik, sutradara, cinematorapher1, dan komponis musik film ini sama-sama berasal dari Amerika Latin. Sang sutradara, Fernando Meirelles, dan komponis, Marco Antônio Guimarães, lahir di Brasil, sedangkan César Charlone sang sinematografer lahir di Uruguay. 🙂  Penulis skenario film ini, Don McKellar, main juga sebagai salah satu karakter dalam film, dan cukup lama juga durasinya nongol. Mau yang lebih menarik lagi? Salah satu aktris yang main di film ini, Alice Braga, adalah orang kelahiran Brasil juga. 😀

Hasil kerjaan Pak Meirelles sebagai sutradara sebelum ini gak bisa diremehkan. Ada film The Constant Gardener dan City of God hasil besutannya. Kemungkinan narablog sekalian udah pernah nonton kedua film itu. Keduanya film yang teramat bagus dan mendapat rating tinggi di imdb.com. Saya hanya pernah nonton The Constant Gardener, dan memang luar biasa. Jalan ceritanya sangat menyentuh, dan lagi-lagi di film Blindness ini saya terhanyut oleh hasil karyanya. 😥

Ternyata eh ternyata, Pak Meirelles dan Pak Charlone sang sinematografer udah bekerja sama sebelumnya di kedua film yang saya sebut di atas. Posisinya pun sama, Meirelles sebagai sutradara dan Charlone sebagai cinematographer. Mungkin Pak Meirelles udah klop ama Pak Charlone kali ya… :mrgreen:  Dan.. hei, Mbak Alice Braga sang aktris juga bermain di film City of God! Entahlah sebuah kebetulan atau apa, mereka bertiga kembali bekerja sama di film ini. 🙂

Pastinya, penggambaran film ini benar-benar menakjubkan. Habis nonton film ini, selama beberapa saat masih terngiang-ngiang di benak saya bahwa saya adalah salah satu dari para korban kebutaan. Saya terbawa suasananya. Bisa dibilang saya ikut “depresi” (dengan tanda petik, karena saya tidak benar-benar depresi :D), sedih, takut, dan bahagia seperti para korban yang digambarkan di dalam film.

Sedikit Jalan Cerita

Saya bingung juga gimana cara menceritakan sedikit jalan ceritanya. Apa pasal? Semua karakter di film ini tak bernama! 😀 Itu benar, saya nggak bohong. Sama sekali nggak ada dialog dengan nama seseorang di film ini. Di situs imdb.com pun, daftar karakter ditulis hanya dengan first blind man, first blind man’s wife, dan Man with Black Eye Patch. Di film ini juga nggak jelas diceritakan seberapa luas dampak penyakit kebutaan ini, apakah menyerang semua benua ataukah hanya di Amerika aja. Cerita hanya berpusat pada sebuah kelompok kecil yang berusaha bertahan hidup.

Ada tujuh tokoh sentral yang menjadi pusat cerita sampai akhir, enam orang dewasa dan satu anak kecil. Sebenarnya ada dua lagi karakter, tapi yang satu di pertengahan film tewas, dan yang satunya kira-kira di 3/4 film dia terpisah dari rombongan dan nggak diketahui nasibnya.

Cerita penyebaran penyakit dimulai secara tiba-tiba ketika seorang businessman Jepang (Yūsuke Iseya) mengendarai mobil. Benar-benar secara tiba-tiba, waktu dia menunggu lampu traffic light, matanya mendadak hanya melihat latar belakang putih. Keadaan jadi kacau, lalu lintas terhenti, keadaan bising oleh klakson. Setelah didekati dan ditanyai “are you okay? what happened with you?” oleh orang banyak, si Yūsuke (saya sebut begini aja ya biar gampang bercerita) diantar pulang ama seseorang yang kebetulan lewat di dekat situ, diperankan oleh Don McKellar (seperti yang saya sebut sebelumnya, merangkap sebagai penulis skenario). Dari awal aja tingkahnya udah mencurigakan, kok baik banget ada yang mau nganterin Yūsuke ke rumahnya. Ternyata, dia ini maling. Setelah sampai  di rumah, Don membawa kabur mobil Yūsuke.

Adegan selanjutnya memperlihatkan Yūsuke dan istrinya (Yoshino Kimura), pergi ke dokter mata (Mark Ruffalo) untuk memeriksakan keadaan Yūsuke. Di ruang tunggu pasien, ada anak kecil (Mitchell Nye) beserta ibunya yang udah lama nunggu giliran, kesal karena sang perawat malah mendahulukan Yūsuke. Omelan sang ibu nggak berlangsung lama karena ditengahi oleh seorang bapak tua kulit hitam (Danny Glover) yang berpenutup mata. Setelah memeriksa Yūsuke, sang dokter juga memeriksa si anak kecil dan seorang wanita berkacamata hitam (Alice Braga). Di waktu yang hampir bersamaan, malam itu juga, si maling mobil Yūsuke mendadak terkena kebutaan ketika lari dari kejaran polisi.

Sampai di rumah, sang dokter cerita ke istrinya (Julianne Moore) perihal penyakit ini. Istri dokter inilah yang jadi tokoh utama. Keesokan pagi, saat bangun tidur, sang dokter mata nggak bisa melihat. Sama seperti keluhan si korban pertama, dia hanya melihat latar belakang putih terang, nggak ada objek lain. Sang istri langsung menelepon pihak berwajib, dan pihak berwajib menyatakan bahwa suaminya harus dikarantina. Luar biasa rasa cinta sang istri (atau mungkin karena kasihan juga, masa’ membiarkan orang buta hidup sendirian), dia mengaku udah buta juga, dan akhirnya mereka berdua pun dibawa. Dibawa ke mana para korban awal ini? Ke sebuah tempat bekas rumah sakit jiwa. Rombongan korban pertama ada tujuh orang (semua tokoh yang saya sebut di atas), yang memang benar, ternyata penyakitnya menular.

Bayangkan, entah ini kejam atau gimana, masa’ orang yang mendadak buta disuruh mengurus dirinya sendiri? Bangsal-bangsal di penampungan karantina itu memang udah bersih, kasur udah siap. Tapi, mereka disuruh jalan sendiri dari pintu gerbang hingga ke bangsal. Cukup berbelok-belok juga alurnya. 😐  Saya pikir, untung sekali ada sang istri dokter yang nggak buta. Sejak itulah, dia hidup di antara korban yang terus berdatangan ke tempat karantina itu. Jumlahnya mencapai ratusan, banyak sekali. Bisa dibilang keadaan cukup kacau. Kotoran dan pipis ada di mana-mana, yang membersihkan itu semua ya si istri dokter. Dia juga yang melatih dan membimbing para korban dalam menghafal rute untuk ke kamar mandi dan toilet. Jangan heran, ada adegan telanjang dan menjijikkan di sini, seperti kencing, kotoran, dan ada sedikit adegan seksual. Buta, siapa yang bisa melihatmu telanjang? Dan, apa pedulimu? 😎

Cukup sampai sini aja ceritanya, yang pasti, nanti penyakit misterius ini berkembang sampai ke seluruh kota (atau negeri?). Keadaan kacau, terjadi chaos di tempat penampungan ini, dan para korban di tempat karantina itu melarikan diri. Rombongan kecil tujuh orang ini bertahan hidup di tengah kota yang “buta”. Sang istri dokter pun jadi seperti baby sitter bagi enam orang dewasa. 🙂

Sedikit Kutipan Dari Film

“…all those people made me think of how lucky we are that we have a leader with vision. So I think it’s up to you to decide what we should do next.”

– Wanita berkacamata hitam, bersyukur dipimpin oleh orang yang nggak buta –

“….if anyone’s willing to go, I think you should raise your hand…….. That’s about the most ridiculous thing I’ve ever suggested.”

– Bapak dengan penutup mata –

Sedikit Cuplikan Gambar

Silakan klik untuk memperbesar gambar. 🙂

Korban pertama, dan istrinya… Bahasa Inggris mereka berdua bagus banget… ^__^

Dokter dan istrinya, sang tokoh utama

Si anak kecil, dan wanita berkacamata hitam (tanpa kacamata)

Bapak tua berpenutup mata

Hidup yang mendadak berubah… Mendengar musik dari radio aja udah membahagiakan…

Jadi…

Film ini HARUS narablog tonton! 😀  Bagus untuk menyadarkan kembali diri ini seandainya satu aja indera tubuh kita diambil ama Tuhan. Setidaknya, film ini membuat saya sadar betapa selama ini saya masih menggunakan mata ini untuk hal-hal yang tidak baik. Saya pun bersyukur udah diberi tubuh yang sempurna dengan kelima inderanya. 😥

Akhir ceritanya benar-benar nggak saya duga. Nggak akan menyesal beli dan nonton film ini. 🙂

Terima kasih untuk Mas Ahmed atas tautan unduhnya di sini. 😀

Selamat menonton! ^__^

 

*

1Kadang disebut juga sebagai director of photography, seseorang yang bertanggung jawab “menerjemahkan” scene yang ingin ditampilkan sutradara, selengkapnya lihat di sini

——————————————————————————————————————————————————————————————–

Gambar sampul resmi diambil dari sini, sisanya hasil snapshot sendiri. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

Posting-an yang berhubungan:

69 Comments

  1. terus akhirnya penyakit itu bisa disembuhkan nggak?? apa cuma samapi sang istri menjadi baby sister bagi 6 orang itu saja.. wah DVD bajakan ya… sama dunk saya juga pembeli DVD bajakan…. hahaha habis yang asli kemahalan…

    Reply

    1. Bener, mahal! ^__^
      Apalagi, susah nyari DVD asli pilem2 agak lama di sini… 😀

      Ehem…. jangan ah, saya gak mau bocorin ceritanya. 😉

      Reply

  2. Thanks ulasannya… saya sangat tertarik rik rik…
    Tapi lucu juga ya, karakternya gak punya nama… 😆

    Betul, bersyukur karena indra kita lengkap

    *btw udah lama gak bw nih

    Reply

  3. Hmm, selain hobi baca komik, ternyata suka nonton film/DVD juga, ya….

    Wah, kalau tokohnya nggak ada namanya, bisa bikin bingung, tuh….

    Reply

  4. Terus terang saya belum nonton nih film… lets I Guess..yang jelas menurutku kejamlah, namanya orang tiba-tiba buta kok disuruh ngurus diri sendiri,jelas perlu adaptasi.. Tapi salut deh kepada yang Mpunya blog, dah berusaha menampilkan se detail mungkin..Salam Kenal..tks

    Reply

  5. kayaknya kerenn.. cari link downloadnya aja ah ntar.. 😀
    saya terakhir nonton film spirited away.. film animasi jepang.. bagus loh.. 😀

    Reply

    1. Haha, “Spirited Away” ya…
      Saya udah punya tuh film dari duluuu banget dari temen saya, tapi belum ketonton ampe sekarang…. 😀
      Kebiasaan buruk saya…

      Reply

  6. asoopppp kok kek nya keren pilemnya?
    makasih yaaak review nya

    huaaahh jadi penasaran banget pengen nonton.

    btw,kek nya nih film belum diputer di bioskop deh
    (atau tidak yah?)

    Reply

  7. Intinya adalah dengan melihat sekuel film ni setidaknya harus membuat diri kita lebih mensyukuri segala nikmat pancaindera yang telah diberikan sang pencipta kepada kita.

    Reply

  8. cerita film yg menarik sangat …
    sepasang mata kita akan selalu melihat kemana-mana karena itu tugasnya,
    sedangkan ‘mata-hati melihat dgn sempurna dan pari purna … 😀

    Reply

    1. Lah, kenapa saya bilang gitu, karena sebagian besar orang nggak suka spoiler. Kalo mau tahu jalan ceritanya, kasih tahu saya via email. 🙂
      Saya nggak mau melukai hati para movie freak yang pengen tahu jalan ceritanya sendiri. 🙂

      Reply

    1. Familiar, mungkin….
      Tapi, kalo mirip kayak “the happening”, itu nggak banget. 😛

      Kalo “the happening”, penyebabnya adalah suatu zat dari tumbuhan yang membuat manusia “gila”, bisa membunuh dirinya sendiri. Kalo di pilem ini, penyebabnya nggak diketahui, dan tiba2 menyerang gitu aja, buta. 🙂

      Reply

  9. Wah baru dengar film yang kayak beginian mas,kalau dari ilustrasinya cukup menarik mas,walau saya lebih suka film yang bergenre action dan colosal 😀

    Reply

  10. Hhehehehehe…pas pertama baca kayanya seru, pas ke tengah agak2 horor, pas liat gambar, beneran serem…hahahahah… kayanya mencekam banget mas..hehehehehe *sotoy
    mudahan kalo jalan2 ke tukang dvd bisa ketemu, maklum disini hutan, wkakakkaka… salam

    Reply

  11. The Constant Gardener sudah pernah nonton, untuk blindness semoga ada di video eazy, langganan saya untuk nonton video 😀

    Reply

  12. bisa diliat dimana filmnya yang gratis hehe…terus ceritain dong akhirnya gimana?ga ketemu2 filmnya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s