Tampilan Sampul Novel yang Kurang Pas

Pernah lihat novel berjudul “Habiburrahman El Shirazy”? Ada lho. Ini buktinya. 😆

Desain layout atau tampilan novel ini kurang bagus, kurang pas. 😦  Saya, yang nggak punya latar belakang pendidikan desain, pun merasa nggak sreg, ada yang salah dengan tampilan depan buku ini. Harusnya, yang ditulis besar-besar dan tampak mencolok adalah judul novelnya, jangan nama pengarangnya! 😆  Aduh, saya takjub (dalam tanda petik) dan geli pas lihat novel tersebut. Kok bisa ya, judul cerita dan pengarang berlomba besar-besaran ukuran. :mrgreen:

Apa ya tujuan si pengatur tampilan novel ini? Apakah ia bermaksud mempromosikan nama Kang Abik? Saya rasa nggak usah dipromosikan dengan cara penulisan yang besar pun nama Kang Abik udah terkenal. Saya rasa nggak masalah nama pengarang ditulis kecil, karena orang-orang tanpa disuruh pasti akan melihat dengan teliti ketika di toko buku. Sebagai contoh saya sendiri. Ketika saya menemukan judul novel yang tampak menarik, saya akan mengangkatnya dari tumpukan, dan mencari tahu nama pengarang secara otomatis. Nggak perlu lah nama pengarang dibuat besar-besar. Justru di sinilah harusnya si pengarang memberi judul semenarik mungkin, yang mencolok, yang bisa mengundang minat calon pembeli, bahkan cenderung kontroversial. Begitu lebih baik. 🙂

Saya penggemar karya-karya Kang Abik, saya punya semua novelnya (kecuali buku yang saya bahas di sini), sama sekali nggak ada maksud menjatuhkan Kang Abik di sini. 😳  Saya harap ini bisa menjadi masukan dari seorang penggemar novel, untuk sang layouter sampul tentunya. 🙂

*

Ada yang punya pendapat lain? Bantahan, atau tanggapan?

——————————————————————————————————————————————————

Semua gambar adalah hasil jepretan sendiri. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

136 Comments

      1. gimana kalo dua2nya aja digedein tulisannya. soalnya ada lho mas, pembaca seperti saya yang kadang2 melihat sebuah karya berdasarkan nama besar pengarangnya. 🙂

        buku itu bisa populer lantaran dua hal: memang isinya menarik atau pengarangnya sudah terkenal. nama pengarang dengan sendirinya bisa dijadikan jaminan bahwa tulisan-tulisan yang dia buat layak dibaca.

        untuk buku yang isinya menarik, tapi nama pengarangnya belum dikenal, judulnyalah yang ditulis dengan huruf besar. seperti sampul novel kang abik sebelum dia terlanjur terkenal dulu, ayat-ayat cinta. ini berlaku juga untuk buku yang karakter novelnya lebih terkenal ketimbang pengarangnya, seperti harry potter atau einstein’s dreams.

        sementara untuk buku-buku yang pengarangnya sudah punya nama, yang paling lazim ditulis dengan ukuran huruf yang lebih besar adalah nama pengarangnya, seperti sampul bukunya david sedaris. atau seperti jonathan safran foer yang judul dan nama pengarang ditulis dengan ukuran yang hampir sama.

        jadi sebenarnya tidak aneh kalau nama pengarang ditulis lebih besar ketimbang judul. yang menurut saya aneh dengan sampul buku di atas justru adalah judulnya: ‘the romance’ atau ‘dalam mihrab cinta’? setau saya sih dalam mihrab cinta, tapi kok? ..

        Reply

        1. Hoaaaaaaa makasih komentarnyaaaa!

          Saya senang sekali ada yang memberikan kometar panjang!

          Nah, bingung juga ‘kan, ini judulnya “The ROmance” atau “Dalam Mihrab Cinta”?

          Reply

  1. Kalau saya selain lihat judul, juga lihat ringkasan cerita, kemudian beberapa halaman manuskrip di dalamnya, gaya bahasa, dan adakah sesuatu yang unik yang bisa saya dapatkan? Kalau biasa-biasa saja, ya sudah saya lewatkan, meski pun pengarangnya terkenal :).

    I used my chemistry to find a suitable book for me, dan sering kali malah kemudian saya baru tahu kalau pengarangnya memenangkan pelbagai penghargaan kelas dunia, karena kadang pengarang sekelas itu tidak akan mencantumkan embel-embel ketenaran, mereka lebih suka pembaca membeli buku-nya karena memang tertarik dengan isinya, bukan karena dicap dari pengarang terkenal atau best seller dan sejenisnya :).

    Reply

    1. Seandainya buku yang saya incar gak berbungkus dan di dekat saya gak ada tulisan “membuka bungkus berarti membeli”, saya bakal lihat2 halaman dalamnya. 🙂

      Reply

  2. asumsi saya sebagai orang awam bukan penggemar novel Kang Abik (karena saya juga penggemar Kang Abik :oops:)
    Mungkin si penerbit pengen supaya begitu orang ngeliat buku itu yang diliat adalah bahwa buku itu karangan kang Abik, sehingga si orang awam tadi tanpa pikir panjang bisa langsung meletakkan buku tersebut ke dalam keranjang belanjaannya karena dah tau kalo kang Abik itu pengarang novel best seller, gitu kali ya???

    tapi emang aneh sih layoutnya!

    Reply

  3. cocok Sop. kesan pertama yg ditangkap, kenapa nama penulis ditulis tebel?
    mungkin krn penerbitnya belum terkenanl kali ya ?

    jd dia ngejar duit agar laku
    “Ini Lho Novel Karya Habiburrahman..”

    Reply

  4. Setuju dengan pendapat anda sop. Saya aja baru menyadari akan keanehan itu, hehe.
    (dari pada rame-rame lebih baik seluruh font besarnya di sama’in wae. hoho)

    Reply

  5. mungkin tujuan desaingner nya hendak menjual nama besar penulis..

    tapi saya lebih setuju dgn pendapat kang asop..
    biasanya ngeliat judulnya dulu, baru penulisnya.

    Reply

  6. Wah.. Norak banget yah!
    Saya sih belum liat bukunya langsung. Tapi di liat dari gambar diatas udah kelihatan aneh banget!
    Rasanya logo BestSeller itu aja udah cukup mewakili ketenaran kang Abik, gak perlu sampe pake Tulisan segedek itu.. Huh.. Kesannya jadi murahan..!!
    *gak tertarik membacanya… 😆

    Reply

    1. Iya! Benar sekali! Murahan! Kesannya jadi murahan! 😀 😀 😀
      Itulah isitlah yang saya cari2 tapi gak muncul2 di kepala saya… :mrgreen:

      Reply

  7. Eh emang judulnya yang mana ya Sop :mrgreen:
    Hmm, sepertinya ini yang dinamakan celebrity book, alias lebih menjual nama pengarang daripada judul buku. Eh, saya jadi ngarang istilah sendiri. Hehehehe.

    Reply

      1. Saya juga awal lihat mengira itu buku bercerita tentang Habiburrahman El Shirazy, semacam biografi gitulah, pas baca postingan Asop baru tahu kalau itu sebuah novel karangan beliau.

        Saya termasuk maniak dengan buku karangan Ippho Right Santosa, dan saya salah satu penggemar beratnya, kagum dengan tulisan dan perjalanan hidupnya utk meraih kesuksesan, jadi tanpa melihat judul apabila pengarangnya Ippho, saya akan usahakan membeli buku tersebut. Kadang judul yang menarik bisa sangat menipu pembeli, saya pernah bahkan mungkin sering beli buku dgn judul bagus tp stlh sampai kos, membuka plastik, dan membacanya ternyata isinya “ga bngt”.

        Mungkin penerbit melihat pangsa pasar sprti itu, jd yg ditonjolkan adalah pengarangnya bkn bukunya.

        *hanya pendapat dr saya sj.* 😳 panjang bener komennya.

        Reply

  8. Wahahah, emang berlebihan tuh kalau kayak gitu. Idealnya kalaupun pengen menonjolkan nama pengarangnya, kasih maksimal 1 baris aja. Jadi judulnya tetap mencolok, nama pengarangnya juga keliatan jelas. Kalau kayak gini kesannya yg pengen dijual cuma nama besar penulisnya, tapi cerita yg ingin ditawarkan novelnya sendiri malah ‘disembunyikan’ 😀

    Reply

  9. ooh ada buku baru lagi ya, produktif juga nih. saya udah gg begitu update buku beliau, kisah cinta mulu agak bosen *yah meskipun banyak pelajarannya*. Tiara setuju dengan memilih buku pada pandangan pertama pada judulnya. judul kan menggambarkan keseluruhan cerita ya.

    Reply

    1. Hehehe, iya sih, tapi pelajaran yang bisa diambil buanyak banget. :mrgreen:
      Saya suka karena saya bisa belajar banyak dari sana. 😳

      Reply

  10. Kalo menurut saya sih… ini cuman strategi dari penerbitnya, Sop. Biar jumlah orang yang baca buku Kang Abik nambah.

    Logikanya kayak gini:
    Nama kang Abik kan udah tenar dan punya penggemar sendiri yang mungkin jumlahnya harus dihitung pake kalkulator ato komputer. Kang Abik kan pasti terus berkarya. Penggemar biasanya sudah pasti beli buku penulis idolanya. Nah, sekarang penerbit sudah tidak memperhitungkan lagi penggemar-penggemar itu. Yang jadi incaran adalah mereka yang masih penasaran ato cuma dengar dikit-dikit tentang karya Kang Abik. Dengan font yang gedhe kayak gitu, dijamin sambil merem pun mereka tahu harus kemana untuk menemukan buku Kang Abik.

    Tapi secara naluri dan nurani, saya juga nggak suka sih sama layout yang kayak gitu. Nanti kalau saya udah bisa nerbitin buku (Amin), saya harus intens komunikasi sama layouternya biar font nama saya nggak lebih besar dari tubuh saya. wkwkwkwkwk

    Reply

  11. iya yah bener juga, baru ngeh… biasanya emang judul dengan kata2 yang catchy, font nya harus lebih besar.. Dan biasanya karya2 terkenal, nama pengarangnya cukup ditulis kecil2, seakan2 sang maestro ini nggak butuh pujian, hanya karyanya yg berbicara, sooo coool…

    btw, sama2 penggemar nikon nih… salam kenal yah.. 🙂 gile foto2nya keren2, belajar dmana? salah klo mau tanya2 boleh ya… 🙂

    Reply

    1. Hehehe, entahlah apakah saya pantas disebut sebagai “penggemar NIKON”… 😀
      Saya kebetulan aja dekat dengan orang2 pemakai Nikon, makanya saya naksir merek yang satu itu. :mrgreen:

      Saya belajar dari banyak sumber di internet. Bisa dari video youtube (tinggal telusur aja trik2 fotografi), dari blog-nya Gavin Hoey (fotografer dari Inggris), bahkan dari situs photography school. 😀
      Saya justru banyak banget baca2 tentang fotografi dari situsnya Nikon sendiri, di sini tepatnya, banyak banget tutorial2 untuk pemula. 🙂
      Di situs video Vimeo juga ada cukup banyak video tutorial untuk kamera Nikon. 😉

      Reply

  12. wahaha,, saya udah liat lama buku ini, tapi ga kepikiran sampe kesitu2nya..
    detil banget yah :mrgreen:
    diantara buku2nya kang abik, memang rasanya cuman AAC yang “nendang” sampe rela begadang mengkhatamkannya 😀 yang lainnya,, yah.. gitu deh
    buku ini juga sy blom baca *gadayangnanya* 😆

    Reply

    1. Iya, ‘kan udah jaminan mutu yah, kok masih digembar-gemborkan sih… 😦
      Pendesain tampilannya kurang pengalaman nih….

      Reply

  13. eh iya yah…dan sepertinya sebagian besar bukunya emang yg ditonjolkan adalah namanya bukan judul nya (cmiiw) 🙂

    Reply

  14. Ngegedein nama pengarang = Ngejual ‘nama’ pengarang = Jual kang Abik-nya ??? 😯 😆
    heem saiia sih emang kurang suka novel-novel begini, Mas.. jadi ngga pernah ngelirik rak-rak bagiannya kalo lagi di toko buku 😀

    Reply

  15. mungkin memang ingin mengangkat nama penulisnya mas, kali aja dengan teknik itu nama penulis akan dikenang, dan dinantikan tulisan berikutnya dg catatan ” Buku itu bagus ” dan dinantikan seri berikutnya, namun jika ternyata tidak seperti yang diharapkan, bisa jadi menjadi bumerang.

    Reply

    1. Haha, menurut saya sih gak bisa gitu. Harusnya bikin judul yang menarik, yang kontroversial. 😀 Jadi yang menarik perhatian calon pembeli itu jangan nama pengarangnya, tapi judul bukunya.

      Reply

  16. Aslinya daku kira itu nama malah judul novelnya. Ternyata bukan. Daku punya buku berjudul “Blink” yang judulnya 1 itu saja besar banget. Jadi malah mencolok dan menarik perhatian. Akhirnya terbeli lah buku itu walau pun sampe skrg belum daku baca. Hihihi

    Salam

    Reply

  17. sepertinya itu udah takut tersaingi popularitasnya oleh penulis yg lain…makanya ditulis gede banget, sampai judulnya dinomor duakan :mrgreen:

    Reply

  18. Ini kan salah satu teknik marketing dengan memanfaatkan nama besar sang penulis novel. Saya rasa sah-sah saja sih, namun terasa kurang pas kalau dipandang.

    Reply

  19. Assalamualaikum bang Asop.

    Juur bang,,,bukan cuma masalah font aja…

    Gradasi warna pn bagi saya kurang menarik (sok tahu.com). Serasa bosenin ngonoh lho…gak tahu kenapa..kenapa ya novel2nya kang Aik keseringan pake warna oranye, merah, atau yg berasa merah kuning gitu….

    One of the best cover layout is tetralogi LP. Hp juga….Semuanya great kopernya. Hahahha

    Hehehehe

    Reply

  20. Saya juga ngga bakal tertarik membeli novel dengan sampul seperti itu, ya tidak suka saja, hehehe

    Reply

  21. Saya novel kang Abik cma 2, ketika cinta bertasbih sama ayat2 cinta doank..hehe (eh bener gak)

    soalnya saya gak suka baca novel tebel..hihi

    Reply

  22. kalo saya melihatnya, tujuannya sudah pasti menjual nama pengarangnya,,
    cuma judulnya yang terlalu jauh kebawah jaraknya. naik dikit lagi,, kayaknya ga bakal terlihat aneh,, tapi ga tau juga, saya bukan ahlinya disini 🙂

    Reply

  23. Ya, saya juga begitu. Judul dulu yang utama, kalau menarik minat pasti kita ambil bukunya.
    Itu untuk apa tarok nama si dude di situ, emg ngaruh gitu ya?

    Reply

  24. Inilah kesalahan kang Abik… Harusnya yang ditulis besar itu jangan namanya, tapi namaku “TonyKoes” ini nama membawa hoki…. 😀 hahaha

    Memang sih.. kita kalo melihat Buku/Novel tentulah yang kita lihat adalah “Judul” kemudian lihat bandrol “Harga ” baru lihat Sinopsis (Ringkasan cerita atau apa eta naminyalah, abdi poho oe…) baru kita melihat nama Pengarang dan terakhir kalo sempat lihat juga Penerbitnya…Baru yang terakhir “Kira-kira apa manfaatnya ” kalo aku beli buku/novel ini… 🙂

    Reply

  25. Justru karena Kang Abik besarlah mungkin namanya ditulis besar, agar menarik pembaca. Karena judulnya tidak populer. Atau tidak sepopuler sebelumnya.

    Entahlah, ngga pernah mikirin yang begini. Asop jenius!

    Reply

  26. mantap!
    mungkin biar nama kang abik terlihat mencolok. Biar kelihatan dari jarak 100 Menter. Trus orang akan terpana lalu mendekat untuk menilik lebih lanjut. Strategi marketing penerbit kali yak. :mrgreen:

    Reply

  27. nama pengarang jadi seperti judul novel kalau penempatannya dan font huruf besar seperti itu ya.
    Mungkin maksudnya menitikberatkan pada nama besar habiburrahman elshirazy agar menarik minat pembaca, tapi jadinya bikin aneh

    Reply

  28. jd yg salah kang abik atau yg mendesain covernya? 😉
    mungkin itu srategi marketing kali biar bukunya cpt laku….hehehe
    saia siyh gak terlalu mempersalahkannya krn kbtulan kang abik bkn novelis favorit saia… 😀

    Reply

    1. Lah, yang ngedesain dong. 😀 Gak tahu lagi kalo ternyata Kang Abik sendiri yang mendesain sampulnya lho ya. 😉

      Saya tetap suka novel2 karangan Kang Abik, tenang aja. :mrgreen:

      Tetep aja, hal ini membuat saya geram. 😡

      Reply

  29. banyak juga buku novel atau roman yg penah saya baca dan beli,sesungguhnya juga yg lbh dicetak tebal si penulisnya. seperti dalam beberapa buku lama/jadul NH Dini, seno gumiro,dll 🙂

    Reply

  30. Aku menyukai novel-novel reliji, benar… tapi entah kenapa waktu disodorin novel Kang Abik, trus baca sekilas-sekilas, nggak ada sama-sekali hasrat buat menamatkan cerita. Susah kujelaskan dengan kata-kata, kenapa aku kurang menyukai novel-novel karya Kang Abik.

    Maaf ya, Mas, komenku ke luar jalur, aturan yang kukomentari sampulnya ya? 🙂

    Reply

    1. Mungkin bahasanya yang terlalu kaku, ya? 😛
      Kalo itu, saya rasa saya juga kurang sreg. Tapi, saya tetap baca, lebih banyak manfaatnya sih. 😉

      Reply

  31. Aha, sekarang aku udah tahu kenapa nggak sreg sama novel karya Kang Abik, yang pertama itu udah disebut Mas di atas: bahasanya emang rada-rada kaku gitu. Yang kedua ceritanya itu sendiri, terkesan klise. Ketiga, Kang Abik mengandalkan alur cerita yang serba kebetulan, contoh: si a dan si b bertemu seolah-olah ‘dipaksakan banget’ oleh pengarangnya untuk bertemu. Kelima… memang benar setiap novel Kang Abik pasti sarat dengan pesan agama, tapi cara ia menyampaikannya seakan-akan menggurui pembaca.

    O ya, Mas, salam kenal. Mampirlah ke blogku barang sejenak. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi di dunia maya ini.

    Reply

    1. Hahaha, kalo menurut saya sih dia gak terlalu menggurui, Mas. 🙂 Pokoknya, saya serap aja ilmu2 yang ada di dalamnya. 😉

      Reply

  32. novel kang abik yg paling gw suka adalah pudarnya pesona cleopatra. hehehe novel kedua kang abik yg gw baca setelah ayat-ayat cinta.
    oh iya, malah gw kira judul novel yg lo bahas itu judulnya “The Romance”, ternyata “Dalam Mihrab Cinta” yah -.-‘

    Reply

  33. pengarangnya sudah memiliki nama jual, tapi novel terbarunya belum, jadi sah2 saja bila nama pengarang ditulis besar2 :mrgreen:

    Reply

    1. Menurut saya sih nggak… 😦
      Itu malah membingungkan.
      Coba sekarang, Rio tahu nggak, itu judul novel apa, apakah “Dalam Mihrab Cinta”, “THE ROMANCE”, atau “Habiburrahman El Shirazy”? Hayoooo… 😛

      Reply

  34. Justru karena Kang Abik terkenal, maka namanya yang ditonjolkan. Agar orang melihat pertama kali akan berpikiran: “Wah, novel barunya Kang Abik, nih. Pasti bagus punya. Beli, ah…”

    😀

    Reply

  35. Bisa saja sop buat orang yang belum mengenal/familiar dengan si pengarang, maka si pembaca mungkin akan langsung terkesiap / tertarik / penasaran dengan itu pengarang. mungkin 😀

    Reply

  36. mungkin emang yang mau “dijual” adalah nama pengarangnya, karena mungkin penulis dianggap sudah punya nama…, jadi biar novel judul apapun diharapkan bisa tetep laku… 😀

    Reply

  37. iya sihh.. kalo nama pengarangnya yang besar malahan ntar dikirain itu judul novelnya.
    yang bikin layoutnya parah tuhh.. =.=

    Reply

  38. Aduh udah panjang aja komentarnya, dan saya ga kuat baca semuanya. Maaf ya sop kalo udah ada yg komen sama sebelumnya :mrgreen:

    Mirip sama poster film lah sop. Kadang yang ditonjolkan bukan bintangnya, tapi malah sutradara atau produsernya. From the director/producer of bla bla bla…

    Yang paling bikin ga sreg dari sampul buku ini adalah… seragam banget sih dengan buku-buku sebelumnya dan semua buku kang abik wanna be.

    Reply

  39. hahahaha…. itu kan biasa, udah sering di buku2 yang penulisnya memang udah terkenal..

    mereka menjual nama, banyak kok..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s