Tentang Beratnya Tugas Polantas dan Kemacetan di Bandung

Kota Bandung saat libur lebaran sungguh “mengerikan”, bahkan bagi kami penduduk permanen dan penduduk sementara Bandung. Entah dari mana asalnya, banyak kendaraan-kendaraan bermotor dan orang-orang luar kota menyerbu masuk ke dalam Bandung dan “hinggap” di titik-titik wisata belanja. Kota sekecil Bandung diserbu jutaan orang (ekstrem nih…), padahal untuk menampung penduduk yang menetap saat ini saja sudah tidak mencukupi.

Yap, Kota Bandung Sangat Bermasalah…

Lahan parkir tak mencukupi, mobil tumpah hingga di pinggir jalan dan parkir di sana, para pejalan kaki turun ke jalan karena trotoar direbut Pedagang Kaki Lima (PKL) dan akhirnya menyeberang sembarangan karena zebra cross tak jelas dan jembatan penyeberangan tak ada. Belum lagi ditambah proses keluar masuknya mobil dari mall-mall atau pertokoan dan factory outlet (FO), semakin membuat lalu lintas kacau. Lampu pengatur lalu lintas (traffic light) juga banyak yang mati tak berfungsi. Dan ingat, kebanyakan jalan di Kota Bandung kecil-kecil, hanya cukup untuk dua mobil bersisian. Sialnya, banyak objek wisata belanja terletak di ruas-ruas jalan yang sempit.

Polisi Lalu Lintas di Bandung

Tugas Berat Polisi

Tugas polisi lalu lintas di saat-saat seperti ini sungguh berat. Mulai saat lebaran (rabu, 31/8) dan H+1 lebaran (kamis, 1/9) Bandung sudah sangat ramai (hingga hari saya menulis posting-an ini, sabtu 3 september). Kemacetan merajalela di beberapa kawasan. Bahkan pihak kepolisian sampai melakukan rekayasa arus lalu lintas di sebuah jalan yang amat ramai, yang sudah terlanjur stuck (berhenti total) akibat entah apa. Arah jalan dibuat berlawanan untuk mengurai kemacetan.

Di titik-titik kemacetan yang saya lewati, saya melihat polisi-polisi mengatur lalu lintas dengan gigih. Well, sebut saya sotoy, karena saya tak tahu apakah mereka benar-benar gigih dan ikhlas dalam bekerja. Tapi yang pasti, saya bersimpati pada mereka, karena di saat orang lain berkumpul bersama keluarga, para polisi lalu lintas malah bekerja di jalan. Mereka berpeluh di antara udara berkualitas buruk —penuh debu dan polusi— yang mereka hirup, sedangkan kita pengguna jalan bersenang-senang bersama keluarga. Kadang saya berpikir, sungguh kontras keadaan ini.

Saya berharap dan berdoa, semoga para polantas yang bekerja itu benar-benar ikhlas dan rela dalam menjalankan pekerjaan mereka. 😐

Kemacetan: Sebuah Masalah  yang Berulang

Tak hanya tahun ini saja kemacetan dan kesemrawutan terjadi. Malah sudah menjadi rutinitas setiap tahun. Saya masih ingat, kondisi semrawut, kacau balau, dan macet hampir total seperti saat ini tahun lalu dan dua tahun lalu terus terjadi (karena tahun-tahun itu saya nggak pulang ke Surabaya). Entah mengapa, apakah mungkin pemerintah Kota Bandung menutup mata terhadap masalah ini, atau memang pemerintah sesungguhnya sadar tapi tak bisa berbuat apa-apa.  🙄

Kota Bandung itu sangat kecil, hanya setengah dari luas total Kota Surabaya. Bayangkan saja, dengan perbandingan luas seperti itu, jumlah penduduk Bandung dan Surabaya tak jauh berbeda, sama-sama sekitar 2-3 juta penduduk. Jalan-jalan yang ada pun juga kecil, bukan tipe jalan yang pantas untuk sebuah kota tujuan wisata. Dan memang sebenarnya, dulu waktu pemerintah Belanda mendesain Bandung, Bandung tidak direncanakan untuk menjadi kota yang padat penduduk dan tidak juga sebagai kota wisata. Tujuan pemerintah Belanda ingin menjadikan Bandung sebagai kota pusat pemerintahan. Makanya jalan-jalan yang ada di Bandung kecil-kecil.

Barangkali pemerintah Belanda melihat letak Kota Bandung yang berada di pegunungan sebagai sebuah kelebihan. Kontur yang naik turun dan dikelilingi pegunungan membuat Bandung sulit diserang musuh saat perang terjadi. Udara di sini pun bersih dan sejuk. Sangat kondusif sebagai pusat pemerintahan. 😎

Lihat keadaan sekarang. Sangat berbeda jauh. Kota sekecil ini malah dibuat sebagai kota tujuan wisata. Kota yang didesain hanya untuk menampung beberapa ratus ribu penduduk malah ditempati jutaan penduduk. Tak pelak berbagai masalah menghampiri. mulai dari kemacetan lalu lintas, banjir yang selalu terjadi di kala hujan deras, sampai masalah penyediaan air bersih. 😐

Jadinya tampak bahwa sejak dulu para punggawa pemerintah Kota Bandung tidak mengerti sejarah dan karakteristik kota yang mereka pimpin. 😆

Sebagai Penduduk Kota Bandung…

Penduduk Bandung (yang punya rumah di Bandung atau yang menetap sementara) pasti malas ke luar rumah saat libur lebaran seperti ini, kecuali untuk urusan yang benar-benar mendesak dan darurat. Sebelum lebaran mereka pasti nge-stock makanan banyak-banyak di rumah supaya nggak harus beli makanan di luar saat Bandung diserbu “orang asing”. :mrgreen:

Pokoknya, di saat libur seperti ini, Bandung seperti dikuasai oleh orang luar. Dari Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, Jogjakarta, Solo, sampai dari Denpasar dan Medan. Kami, penduduk Bandung, tak berkutik. 😆

Yah, mau bagaimana lagi, dinikmati saja. Bagaimana dengan keadaan kota tempat narablog tinggal? 😀

——————————————————————————————————-

Gambar adalah hasil jepretan sendiri. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

194 Comments

  1. iya sih bandung sekarang jadi macet bukan main kalo pas liburan ya.
    abis gimana lagi ya.. itu tempat pelarian orang jakarta sih. karena relatif deket, biar dapet suasana baru. sekalian bisa shopping2 dan makan2. 😀
    yang ada, jalanan di bandung yang relatif gak terlalu lebar jadi gak nampung ya…

    Reply

  2. ah, iya….emang beneran deh bandung kemana-mana macet yah sekarang. gue terakhir ke bandung taon 2007…itu ramenya naudjubilah pas wiken. dan isinya rata2 plat B semua, hoahahahhahaha. ya abis, akses kesana sekarang gampang gitu sih ya. bosen di jakarta, ya kabur aja ke bandung 😀

    Reply

  3. Jogja tidak ada bedanya dengan Bandung.. Setiap kali liburan selalu saja padat oleh para pengunjung, terutama pada libur lebaran seperti saat ini..

    Reply

  4. komenin tentang polisinya deh. yang tentang bandung ga tau menau saya. Kalo polisi, emang salah satu bidang yang kudu rela ga bisa berkumpul sanak keluarga pas lebaran. bidang lainnya kek Perhubungan, Kesehatan Masyarakat, dan bidang lain yang melayani kepentingan umum. Yah, bokap juga gitu sih, pas lebaran tanggal 31, habis sungkem ama nenek langsung brangkat tugas. Semoga mereka ikhlas melaksanakan tugasnya n dapat balasan yang setimpal

    Reply

  5. yay, ke Bandung baru sekali g sempat kena macet, oahh tinggal Depok g macet yg dikhawatirin, tp takut kecelakaan waktu nybrang. Margonda Raya terkenal bgt suka bermasalh d persebrangan gitu deh:0

    Reply

  6. di Purwokerto mah gak pernah jalanan sampe macet meski rame sekali pun, eh kecuali lg ada wisuda, itu macet setengah mati..
    biasa’a macet’a itu di dlm pusat perbelanjaan’a, sesek orang gak bs jalan,whahhaa

    Reply

  7. emang males klo kudu keluar sekarang mah, klo ga penting2 amat mah.
    hari2 biasa udah sering macet, sekarang tambah macet.
    liburan di rumah sendiri aja menunggu para wisatawan pulang 😦

    pastinya stock makanan melimpah ruah pas lebaran mah 😀

    Reply

  8. selamat menikmati sop :mrgreen: … kalau weekend dulu di bandung saya juga paling jauh ke BIP. itu juga naek angkot. kbayang yang punya kendaraan mau ke tempat-tempat seperti jl. riau dago dll beuh … berasa di jakarta atmosfir-nya 😆

    Reply

  9. Wah, di Jogja juga gitu, Sob. Jalanan utama maceeeeet… Didominasi plat luar kota, khususnya Jakarta dan Surabaya. Daerah Malioboro dan Alun-Alun Selatan lebih “mengerikan” lagi. Pada jam-jam tertentu bisa macet total, nggak bergerak. Kalau udah kyk gitu, polisi lalu lintas harus bekerja ekstra keras supaya kemacetan bisa terurai. Semangat pak/bu polisi lalu lintas!!

    Reply

  10. Beruntung bener ya kamii tinggal di Sumatera gak semacet di bandung, tapi konco-koncoku pada hijrah neng bandung ki, mungkin termasuk yg buat macet kota Bandung yaa..hehehehe..kunjungan perdana nih mas

    Reply

    1. Kalau hijrahnya untuk jadi mahasiswa atau pekerja, saya rasa gak masalah. 😀
      Yang jadi biang kerok adalah pendatang sementara alias wisatawan musiman. 🙂

      Reply

  11. Bandung sering dikunjungi karena dari dulu kesannya Bandung tuh adem, sejuk, dan indah…
    tapi kayaknya skrg dah nggak beda jauh ya sama kota2 besar lainnya…
    masihkah Bandung adem dan sejuk?
    sudah naik berapa derajat ya suhu udara di Bandung…?

    Reply

    1. Kadang Bandung sejuk, Mbak. Tapi sekarang udah gak lagi…. 😦
      Bulan juli sempat beberapa kali Bandung teramat dingin. Saya lari pagi bisa melihat uap napas saya. 😀

      Reply

  12. di tempat tempat wisata pun kayaknya polantas juga yang disuruh jaga, ya biar aja. mereka dibayar pakai pajak yang kita setorkan, hehehe

    Reply

  13. Sekali ke Bandung pas weekend, naudzubillah…kaya mau bikin mobil bersayap saja tapi aku di Bali sekarang juga terbiasa ama macet di kampung sekarang? Alhamdulillah tak ada macet….kan para pelajar belum balik ke Malang 😀

    Reply

  14. lho ga pulang ke surabaya mas? wah ga kebayang deh gimana macetnya kalo libur lebaran, waktu hari biasa aja di simpang udah ruwet banget karena pedagang yg luber sampe jalan raya. bahkan dosenku sampe pernah pagi-pagi di kelas nggambar diagram kemacetan simpang,hehe

    Reply

  15. Pontianak juga mulai padat. kalau tahun tahun sebelumnya pas lebaran kerasa sepinya karena orang mudik atau para mahasiswa prnambah jumlah kendaraan motor pulang kampung tahun ini lebih terasa rame..

    Btw tugas polisi emang berat yak pas lebaran. mudah2an saja mereka gak menebar horor dengan raziah sembarang utk mencari keuntungan ;p

    Reply

  16. saya kurang sependapat…kalau dibilang tugas polisi itu berat. Pernyataan ini terlalu meng-generalisasi. Polisi yang mana dulu yang menjadi sentral pembahasan? polisi baik atau polisi jahat?

    keadaan lalu lintas di indonesia yang parah serta banyak korupsi dan kolusi dalam institusi penegakkan hukum, memang membuat tugas polisi yang ingin jujur makin sulit.

    tapi bagi oknum polisi yang nakal, kondisi lalu lintas yg semrawut justru menguntungkan. tidak berat bagi mereka.

    Reply

    1. Haha, siapa pula yang meng-generalisasi? 😀 Saya ‘kan membahas Polantas di sini. 😉

      Sekali-sekali menghargai polisi (lalu lintas) tak masalah, toh? 😀 Bersimpatilah barang sedikiiiiit saja pada mereka. Tak ada salahnya. 🙂

      Sekarang gini deh. Gaji mereka kayaknya gak sebanding dengan keadaan yang harus mereka hadapi tiap hari. Bayangin aja, setiap hari polantas yang bertugas di lapangan menghirup udara kotor, buruk, berdebu. Paru-paru mereka bakal bertahan berapa lama? Dengan gaji kecil, mereka nanti kalau sakit organ pernapasan biaya dari mana? 😦

      Jangan samakan pekerjaan Polantas di lapangan dengan polisi2 di pusat (Jakarta). Barangkali benar seperti katamu, kotor penuh KKN. 😐

      Reply

  17. fotonya kok bisa kayak dari atas gitu sih bang ?
    udah jalannya sempit orang-orangnya gg sabaran lagi ya jadi makin nambah macet deh
    pak polisi lantas gitu emang berat, kata tanteku gajinya sama aja katanya sih hhehhe
    Subang mah lancar aja asal gg ke jalan utama jalur pantura, Purwakarta sepi 😀

    Reply

    1. Bisa dong, itu saya foto dari atas jembatan. 😉

      Itu yang saya permasalahkan, Tir. Gaji mereka kayaknya gak sebanding dengan keadaan yang harus mereka hadapi tiap hari. Bayangin aja, setiap hari polantas yang bertugas di lapangan menghirup udara kotor, buruk, berdebu. Paru-paru mereka bakal bertahan berapa lama? Dengan gaji kecil, mereka nanti kalau sakit organ pernapasan biaya dari mana? 😦

      Kasihan, kan? 😦

      Reply

  18. dulu beberapa kali saya termasuk pendatang yang ikut membuat sesak kota bandung, yakni saat berlibur dengan anak-anak sekolah. Tapi saat lebaran nggak pernah….

    Reply

  19. Jangankan di Bandung, di Jayapura aja macet parah.
    Nggak lebaran aja udah macet, apalagi menjelang lebaran kemarin.
    Waduw,,,jalanan penuh sesak 😀
    Dimana2 macet mah, banyak pengendara yang suka parkir seenak udel 😀

    Reply

  20. walah bang asop dari bandung… kapan2 kalo saya ke sana. mau tanya tmpat wisata oke ke bang asop ah… 😀

    tabah ya bang, itu di berita saya tonton emang bandung lagi crowded bangeeeeet *menepukPunggung*

    Reply

    1. Saya bukan orang asli Bandung sih… saya orang Surabaya lho. Lahir dan sampe SMA di Surabaya. 😉

      Hiks… makasih udah menghibur saya… 😥

      Reply

  21. Wih…serem juga ya.
    Di lombok aja yang macetnya nggak separah di sana, saya udah merinding ngeliatnya.
    Dan saya ndk mau ngebayangin kemacetan di sana huhu

    Reply

    1. Masuk, kok, maap ya, komentar kamu masuk ke spam. 😀
      Komentar aja, gak usah takut hilang, emang orang dari luar wordpress yang baru ke sini selalu dimoderasi dulu komentarnya. 🙂

      Reply

  22. hehe udah kerasa makin macet ya sop. kalau lagi liburan pulang ke bandung emang enak diem di rumah aja sop, jalan-jalan juga bakalan macet ma orang ‘luar’ 😀

    Reply

  23. waduh jadi ga enak feb gw, sebagai org jakarta yang menjadikan bandung sbg tujuan wisata. Soalnya di bandung enak sih feb, banyak tempat buat wisata kuliner, tempat belanja trus ngesot dikit ke lembang banyak kebun stoberi. udaranya juga masih lumayan laah….daripada jakarta yang udah high-polluted banget.

    Reply

    1. Hyahahaha iya nih, dasar orang Jakarta, jangan ke Bandung terus dong! 😆
      Wisata kek ke Pulau Tidung, Pulau Seribu, atau ke Ujung Kulon. 😀

      Nah, tapi kayaknya gue kalo jadi orang Jakarta juga bakalan pengen keluar dari Jakarta saat liburan. Cuma gue aja yang belum ngerasain penatnya hidup di Jakarta sih…. 😐

      Reply

  24. gak jauh beda sama di jogja
    jalanan padet sama mobil plat B, L, AD, dan H

    paling sebel klo liat yg di dalem mobil cuma 1 orang, yg nyopir doang
    udah menuh2in badan jalan, nambah polusi, jalannya 20 km/jam, apalagi pake’ plat luar kota
    😀

    Reply

  25. saya aslinya dari di Cimahi, dulu masuk kabupaten bandung.
    Sekarang saya kapok ke bandung (dalam kota maksudnya). Pengalaman sebulan lalu, sehabis dari tangkuban perahu, maksa ke ciateul. Apes .. terjebak macet … cet!
    Besok-besok, kalaupun mau masuk bandung, saya mesti kontak sohib saya di bandung. Supaya bisa dipandu lewat jalan-jalan tikus 🙂
    *ternyata dulu ditujukan untuk kota pemerintahan yaa? wah sepertinya cocok banget ituh

    Reply

  26. Bener, geuleuh abdi mah..hayang senang-senang ka bandung, kalaka kejebag maced dimamana..
    hegh
    tapi teuteup, gak kapok..biarpun pelat mobil yang ada cuma B F, B F yang penting mudikkk sekaligus liburan jalan terus!
    Hep..Hep..Hep..Hepi LEBARAN!

    Reply

  27. iya pernah waktu lebaran 2009 di bandung wuah macet gak karu2an, dan kebanyakan plat nomernya B
    tp paling kapok mah di bandung pas buka puasa di punclut gak bs gerak sama sekali sampe harus muter jalan lewatin jurang2 nembus di dago hehehe 😛

    Reply

  28. ternyata Bandung sama saja dengan Jakarta~ 🙄
    ibukota provinsi kayaknya gak ada yg gak ‘semrawut’ ya~ 😆

    Reply

  29. kelihatannya bukan hanya di kota besar macam Bandung saja nih kondisinya macam di atas kang Asop.. di kampung saya menjelang Ramadhan mendadak rame juga, bahkan malam lebaran tiap tahunnya jalan hampir pasti macet.. jadi pingin nyewa pesawat saya nih buat ngatasinya hehehe

    minal aidzin kang Asop.. mohon maaf lahir batin ya.. kapan mudik nang Suroboyo rek..?

    Reply

  30. waktu masih penelitian disana, saya juga sering kejebak macet, bahkan di jam-jam pulang kerja, duchhh ampun dech,,,bukan hanya badan yg lelah pikiran juga, salut ma pak polisi yang sabar menjalani tugasnya

    Reply

  31. gaakk.. gak.. gak 😀
    trotoar direbut pedagang kaki lima..
    berati dijajah sop?

    ngomong2 emang ente d bandung sop?
    sayah juga sering lewat bandung sop..
    sambil makan sop
    pake kuah sop

    di bandung kan banyak peyeum sop..
    peyeum bandung kan keras-keras sop..
    ga kaya peyeum bogor sop,
    pada lembek.

    tapi apapun peyeumnya sop.. minumnya tetep kuah sop
    (^_^)v piss sop –>> sekali mengudara, tetap mengudara!! MERDEKA!

    Reply

    1. Hahahaha apaan sih Bang?? 😆 😆 😆

      Ini adalah komentar ter-GEJE yang pernah saya dapet, Bang. 😀

      Yah gak apa2lah, yang penting komentar. 😆

      Reply

  32. sepertinya kejadian ini sama dengan kota Malang. makanya belakangan aku jadi rada’ males di Malang. soalnya makin banyak aja orangnya, lahan kosong makin kecil, jalanan sempit, n bla bla bla.

    Reply

  33. waaahhh..berat yah kang di Bandung…kalo pas lebaran enaknya di Jakartaaa….
    lapaaaaangg…hahahaha…pas hari H sempet macet juga, tapi beberapa ruas malah kosong….
    sabar yah kang… bagaimanapun parahnya, tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan lebih terasa nyaman *pendapatsayasendirilohhh…hehehe
    salam….
    mohon maaf lahir dan batin

    Reply

  34. di Cilacap juga macet. Pantainya penuh sesak pasca lebaran….
    Pas hari H nya malah lowong, bisa tidur2an di jalan malah kalau mau. heehehee

    Reply

  35. Sama mas, di Jogja juga macet sekali. Bahkan jalur masuk ke Jogja juga padat merayap. Lampu lalu lintas banyak yang tidak berfungsi meski masih nyala dengan baik, tapi polisi menggantikan tugasnya untuk mengatur sesuai dengan tingkat kepadatannya

    Reply

  36. Hal seperti itulah yang terjadi setiap memasuki tahun baru di Bali. Tapi kalau lebaran, Bali lumayan lebih lengang. Kalau Bali adalah perahu, mungkin sudah lebih mengapung saat lebaran. “Meledaknya” jumlah kendaraan pribadi adalah biang kerok masalah ini. Walaupun dibuatkan jalan selebar apapun, tetap saja masalah ini terjadi. Sepertinya pemerintah harus membuat kebijakan yang ekstrim untuk membatasi kendaraan pribadi.

    Reply

    1. Betul, Mas. Saya juga pernah berpikir demikian. Bagaimana kalo pemerintah berani mengeluarkan pembatasan jumlah kendaraan pribadi. 😡
      Tapi pastinya industri kendaraan bermotor akan protes dan mengeluarkan berbagai macam alasan bantahan. 😡

      Reply

        1. Kamu belum lihat laman “Tentang Saia” atau “Tinggalkan Jejak” di atas sih.. 🙂
          Coba klik sana, dan lihat berapa banyak komentar yang ada. 🙂

          Reply

  37. Lha mau gimana lagi, masih untung pak polisinya ngatur-ngatur jalan. Coba kalau pak polisinya ikutan belanja di Mall itu, bisa macet total 5 hari berturut-turut.

    Reply

  38. mas Asop ini orang Bandung apa Surabaya?
    wah ya bener pas lebaran kemarin saya berkunjung ke Bandung, macet nya itu menurut saya karena kebanyakan angkot.. beh…

    Reply

    1. Mas Nico gak baca laman “about” saya ya? 😦

      Saya lahir dan sampe SMA di Surabaya. Saya memang menetap sementara di Bandung tapi saya tetap cinta Surabaya. Saya rindu Surabayaaa! 😀

      Reply

  39. aman aman saja
    seperti biasa jalur pantura selalu ramai oleh kendaraan
    kemarin minggu sempet ke bandung dan ternyata emang banyak kemacetan
    yang sabar yah hehehe

    Reply

  40. Jadi ingat waktu dulu tinggal di Bandung. Tiap wiken atau liburan pasti malas keluar! Keluar cuma dapat emosi aja soalnya jalanan macet dan susah dapet parkir di tempat tujuan! hehehe 😀

    Reply

  41. secara mengejutkan Kota Ambon juga mengalami masalah yang sama..
    Macet yang menjengkelkan yang diperparah dengan hujan yang nggak kenal waktu istirahat *eh

    Reply

  42. klo saya di Semarang paling parah daerah Selatan (Banyumanik) dan utara (dekat pelabuhan Tanjung Mas)
    maklum dua daerah itu sering tempat transit dari luar kota.
    saya ga permasalahin yg daerah utara (karena ga pernah kesana, saya tinggal di Selatan :mrgreen:). Tp waduh klo uda ke Banyumanik masyaAllah banget 😦

    Reply

  43. Betul-betul!
    Kebetulan lebaran kemarin saya pulang ke Bandung, tepatnya di daerah Ciumbuleuit. Mau keluar sudah dihadapkan dengan Persimpangan Jalan Babakan Siliwangi dan Cihampelas yang keadaannya cukup menyesakkan jiwa raga : MACET

    Reply

    1. Oooooooh, PR di Ciumbuleuit?? 😀 😀

      Rumah saya di deket Cihampelas. :mrgreen:

      Betul kan? Bandung saat libur lebaran sungguh menyesakkan. 😐

      Reply

  44. makanya perbaiki transportasi, bikin monorel, kereta cepat, dll. intinya jgn membuat situasi rakyat lebih senang beli dan pakai kendaraan pribadi

    Reply

  45. kelihatannya problem kemacetan sudh melanda semua wilayah, bahkan desa saya yg dulunya sepi sekarang jd ramai dg kendaraan.
    kira2 jalannya yg kesempitan atau pemakai jalan yg overload ya? hehe
    salam kenal.. 🙂

    Reply

  46. iya sekarang padatnya Bandung bersaing sama Jakarta. semrawut bener kalo ke Bandung. Tapi……harus saya akui daya tarik Bandung emang bikin pendatang betaaaaaaaaah banget *saya* sebut saja daerah Dago atau Cihampelas. Belum lagi Gasibu tiap weekend pagi 😀
    duh, entah kenapa bandung itu ngangenin dan susah rasanya kalo ninggalin Bandung 😀

    oiya Mohon maaf lahir batin ya kak asop, kesempatan tinggal di Bandung jangan disia2kan :mrgreen:

    Reply

  47. jangankan kota Bandung-nya, di pinggiran kayak tempat saya aja kalo liburan bisa macet kok .. hiks, bener2 males ke luar rumah …

    Reply

  48. Itu nomor mobil D semua berarti pemililnya urang Bandung.

    Serba salah ya…saat Cipularang ditutup karena ambles, Pemda Bandung protes karena wisatawan tak datang ke Bandung, FO sepi, hotel sepi..padahal sebelum Tol Cipularang, orang bisa lewat jalur Puncak, atau Purwakarta.
    Saya kalau ke Bandung cuma nengok rumah, males kemana-mana.

    Reply

    1. Iya Bu, serba salah. Ahahaha~ 😆

      Itu yang di foto hanya ilustrasi saja, Bu, kalo yang sebenarnya, bermacam-macam plat nomor ada di Bandung. :mrgreen: Dari L ada, AB, AD, Z, BE, BM, bahkan dari kalimantan saya pernah lihat juga ada. 😀

      Reply

  49. Penduduk Bandung (yang punya rumah di Bandung atau yang menetap sementara) pasti malas ke luar rumah saat libur lebaran seperti ini, kecuali untuk urusan yang benar-benar mendesak dan darurat. Sebelum lebaran mereka pasti nge-stock makanan banyak-banyak di rumah supaya nggak harus beli makanan di luar saat Bandung diserbu “orang asing”.

    >> ekstrim banget ya Bandung? aku baru tau kalo tnyata size kotanya cm 1/2 kota Surabaya. haloooo? buset, turis domestik yg ke bandung dari jakarta aja udah segitu banyaknyaaa…. apalagi dari kota2 lain. makanya, aku rencana, kalo one day liburan ke bandung mah ya hayuk pas tengah minggu aja, senin-kamis gitu.

    dan itupun bukan pas musim liburan, hehehe….

    Reply

    1. Iya Mbak, luas kota Surabaya beberapa tahun yg lalu itu sekitar 13ribu hektar. Sedangkan di waktu yg sama Bandung “cuma” 6000 hektar. Entah sekarang berapa luasnya, pasti bertambah. 😐

      Bener banget, kalo mau enak leluasa jalan di Bandung, mending hari kerja. 🙂

      Reply

  50. sy salut pd polisi kalau pas lebaran saja Sop 😀
    mungkin di Bandung perlu sedikit dibikin sistem lalu lintas tersentral kayak di Solo.
    sehingga lampu lalu lintas bisa diatur dr jarak jauh.

    Reply

    1. Nah itu dia, di Bandung sini lampu stopan sering mati, dan yang mati ya lampu yang di situ-situuuu aja, jadi kayak langganan mati gitu Mas! Ck ck ck… 😡

      Reply

  51. Menurut saya sepadan sih pekerjaan Polisi, kalau melihat polisi di gambar tersebut kayaknya santai saja. Saya sudah melihat kelakuan polisi yang tugas di jalanan dan di kantornya, sungguh … sangat terlalu untuk diceritakan.

    Reply

    1. Ya elah, jangan disamain yang di kantor dengan yang di gambar dong. 😡
      Yang ada di gambar atas mah cuma ilustrasi, bukan saat macet lebaran. Belum lihat sih betapa ruwetnya Bandung… 😦

      Reply

  52. dulu pertama denger kata bandung, adem tentram nyaman pokoknya suasana hunian yang asoy, eh setelah baca ini postingan ternyata bandung tidak jauh berbeda dengan jakarta.
    😦

    Reply

  53. Kalau boleh cerita sedikit, kota Medan pun sekarang sudah mulai padat jalanannya.
    Bukan mau menyalahkan tingginya laju pertambahan kendaraan bermotor, karena itu sudah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Tapi saya mau tunjuk kondisi yang mirip dengan Bandung, yaitu

    Sialnya, banyak objek wisata belanja terletak di ruas-ruas jalan yang sempit.

    Disini yang jadi penyakit (atau yang sering bikin saya kesal) adalah parkir yang menggunakan badan jalan. Tentunya ruas jalan jadi tidak selapang rancangannya..

    Toh BPP gak keberatan sepertinya, terlihat dari selalu tersedianya Juru Parkir di setiap titik kemacetan.

    Reply

  54. mungkin masalah tata kotanya perlu diperhatikan lagi, ya…
    perlu ruang2 yang harus diperluas… karena.. toh semakin lama.. penduduk Indonesia akan bertambah, ya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s