[Buku] Every Dead Thing: Orang-Orang Mati

Di posting-an saya yang dulu, saya bilang bahwa saya suka novel genre thriller, ‘kan? Nah, buku yang saya bahas kali ini juga ber-genre itu. 🙂  Well, sebenarnya buku ini pantas diberi genre misteri juga sih, karena mengandung sedikit unsur supernatural. :mrgreen:

Every Dead Thing, adalah buku pertama John Connolly, sekaligus buku pertama dari serial Charlie Parker. Sebenarnya, saya membeli buku ini hanya karena tertarik saat melihat rangkuman cerita di bagian belakang buku (tanpa tahu siapa itu John Connolly). Saya baru tahu baru-baru ini saat saya mulai membacanya, bahwa buku ini ternyata adalah buku berseri, dalam artian ada buku lain setelah buku ini yang menggunakan tokoh utama sama (dan kemungkinan besar cerita tetap bersambung), yaitu Charlie Parker. 🙂

Ukuran buku ini besar, tidak seukuran buku yang saya bahas di posting-an itu. Besar ukuran kertasnya hampir sebesar A5, dan karena buku ini terbitan Gramedia Pustaka Utama, kualitas kertasnya selalu bagus, bahkan (menurut saya) cenderung berlebihan (untuk sebuah novel, sehingga harga buku menjadi mahal).

Seperti yang saya bilang di awal tadi, ada unsur supernatural atau unsur gaib di buku ini. 😀  Ada perihal ramalan dan arwah, digabung dengan gaya penulisan alur waktu campuran antara masa sekarang dan masa lalu (flashback), membuat saya harus mikir dalam membaca buku ini. Butuh sedikit fantasi dan imajinasi untuk mengerti dan memahami jalan cerita keseluruhan —seperti menggabungkan puzzle—  dari nasib sang tokoh utama. Meski saya belum selesai membacanya, tapi saya tahu, novel ini sangat luar biasa. 😳

Oh ya, korban pembunuhan di buku ini digambarkan secara vulgar dan sadis. Saya membayangkannya aja sungguh mengerikan. Dikuliti, mata dicungkil, darah membanjir di lantai, dan beberapa mutilasi…… seperti itulah. 😐

Tapi tenang, tetap ada unsur “kelucuan” di dalam cerita buku ini yang mampu membuat saya tersenyum hingga tertawa sendiri. 😀 Gaya narasi yang mengambil sudut pandang orang pertama (sang tokoh utama, Charlie Parker) ditambah beberapa deskripsi bergaya konyol dan komentar-komentar celetukan sarkastik nan lucu Charlie membuat tensi selama membaca ini naik-turun. Connolly mampu menggabungkan rasa ngeri, seram, dan tawa sekaligus. 🙂

Sedikit jalan cerita…

Saya akan mencoba menceritakan isi buku ini sepemahaman saya, dari intisari yang saya dapat setelah saya menggabungkan seluruh jalan cerita yang ada. *maklum, alur cerita berganti-ganti dari masa saat ini ke masa lalu, dan sebaliknya* 

Sang tokoh utama bernama Charlie Parker. Dia adalah (mantan) detektif polisi di New York Police Department. Dia digambarkan dalam buku ini sebagai orang yang pemurung dan peminum berat. Gara-gara kebiasaannya melampiaskan kekesalan terhadap minum minuman keras dan pergi ke bar itulah, kehidupan rumah tangganya tak begitu baik. Meski sudah punya putri berumur tiga tahun, sang istri merasa Charlie tak terlalu peduli pada anaknya. Sang istri mencoba mengingatkan Charlie atas kebiasaan buruknya itu, tapi itu malah memulai pertengkaran.

Pada suatu malam, setelah bertengkar dengan istrinya, Charlie keluar rumah menuju bar tempat biasa dia minum-minum. Sepulang dari bar, ia mendapatkan pemandangan terburuk dalam hidupnya, yang akan menyebabkan ia depresi dan keluar dari kepolisian. Charlie menemukan istri dan putrinya dibunuh dengan amat sadis. Kulit kepala sang istri dikuliti hingga ke bagian tulang selangka, mata dicongkel, kulit dada dan dari bagian belikat hingga pusar juga dikuliti, dan bagian alat kelamin pun termutilasi (maapkan saya jika penjelasan saya ini terlalu vulgar).

Setelah dua minggu, penyelidikan polisi tidak berjalan lancar. Sama sekali tidak ada petunjuk. Kepolisian telah mengerahkan seluruh detektif terbaiknya, tapi tetap tak ada hasil. Beberapa bulan setelah pembunuhan tersebut, setelah Charlie keluar dari kepolisian, ia bertemu dengan seorang teman dari FBI, Woolrich. Dari Woolrich, Charlie tahu mengenai Marie Aguillard, seorang cenayang di New Orleans. Marie seperti punya kemampuan supernatural, mampu melihat dan merasakan apa yang orang biasa tak bisa lihat dan rasakan. Dari Marie-lah, Charlie mengatahui bahwa yang membunuh istri dan anaknya adalah seseorang yang memiliki sebutan Si Pengembara (The Traveling Man). Ternyata, ada korban lain yang dibunuh oleh Si Pengembara selain istri dan anak Charlie.

Meski sudah tahu siapa pembunuh keluarganya, tetap saja penyelidikan Charlie menemui jalan buntu. Dia pun bekerja di New York sebagai detektif dadakan. Saya sebut detektif dadakan karena ia tidak punya lisensi detektif swasta (Charlie hanya bekerja serabutan menerima tugas seperti tugas detektif). Dari sebuah kasus yang dikerjakan Charlie, ia bertemu kembali dengan teman lama kepolisian, Letnan Polisi Walter Cole. Dari Cole, Charlie mau bekerja untuk Isobel Barton, seorang janda kaya, untuk mencari kekasih anak tirinya yang hilang.

Penyelidikan Charlie terhadap hilangnya Catherine Demeter, kekasih Stephen Barton (anak tiri Isobel), mengantar Charlie pada sebuah misteri baru dan kasus 30 tahun lalu yang belum terselesaikan (berhubungan dengan kakak Catherine). Akhirnya Charlie berhasil memecahkan kasus tersebut, dan menemukan sedikit kaitan kasus tersebut dengan Si Pengembara.

Mulai dari situlah, Charlie mendapat petunjuk dalam mencari Si Pengembara. 🙂  Saya sendiri belum membaca hingga akhir, tapi dari beberapa ulasan di internet yang saya baca, akhir cerita nanti Charlie akan bertemu dengan Si Pengembara, sebuah konfrontasi yang mengerikan dan mengejutkan. 😀  Ada juga ulasan yang mengatakan bahwa Si Pengembara tampak menyedihkan di akhir cerita, lebih pantas dikasihani dan tak tampak kuat. 😉

Cerita buku ini membuat pembaca menerka-nerka bagaimana cerita di bab selanjutnya, dan mampu membuat pembaca mengagumi dan mengasihani sang tokoh utama dan beberapa tokoh sampingan yang lain. 😳

Bagi yang nggak suka baca buku dengan mikir, buku ini nggak saya sarankan. :mrgreen: Tapi bagi yang suka cerita suspense dan mendebarkan, sekaligus suka berpikir dalam membaca buku, karya John Connolly ini amat saya sarankan. 🙂

******

Pengarang buku Every Dead Thing, John Connolly. Lahir di Dublin, Irlandia, 31 Mei 1968. Berdomisili di Irlandia, sebelum menulis novel, ia bekerja sebagai jurnalis lepas di koran The Irish Times. Tak betah dengan pekerjaannya, ia mulai menulis novel pertamanya sambil berkelana mencari data ke Amerika. Connolly lulus sarjana dari Trinity College, Dublin, dan lulus pascasarjana dari jurusan jurnalisme Dublin City University. *sumber: situs resmi John Connolly*

———————————————————————————————————————————————————–

Gambar buku di atas macbook adalah hasil jepretan saya sendiri, sedangkan gambar sampul buku dan sang penulis saya ambil dari sini dan sini. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

179 Comments

  1. bang asop menceritakan sinopsisnya dengan sangat menarik. jadi pengen baca juga 😀
    eh bang, PR masa esde-nya dikerjain dong, abis itu estafet-in ke sayah #eaa #maksagitu #pengendikasiPR
    wkwkwkwkwk :p

    Reply

  2. Oh ya, korban pembunuhan di buku ini digambarkan secara vulgar dan sadis. Saya membayangkannya aja sungguh mengerikan. Dikuliti, mata dicungkil, darah membanjir di lantai, dan beberapa mutilasi…… seperti itulah

    jadi penasaran saya pengen baca.,

    Reply

  3. aaaaaah…pengeeeen baca bukunya
    maknyak suka buku beginian…mau dijadiin giveaway gak tuh #ngarep gratisan hohoho
    hayu atuh bukunya dibikin giveaway ^^
    difollow ah

    Reply

  4. wah, penulisnya ganteng *lho?*

    kok cuma keadaan istrinya aja yg di sebutin jelas, waktu anaknya di bunuh keadaanya gimana? *malah penasaran di segmen yg salah*

    kayaknya bukunya keren, jadi mupeng baca XD
    jadi giveaway buat bagi buku ini kapan?? *teteup banci kontesnya kebawa* =P

    Reply

    1. Walah, tentu ada dong, lha wong yang jadi tokoh utamanya mantan detektif NYPD. 😛

      Tapi unsur detektifnya nggak seperti di novel Sherlock Holmes lah… :mrgreen:

      Reply

  5. wah thriller dan horror,kesukaan mas asop :D, kebetulan lum pernah baca lagi cerita kyk gt lagi selepas dulu jaman kecil baca2 ghostbump :D. ohiya,baru “kenalan” juga ma penulisnya, masih cukup muda ya,tp karyanya banyak dan laris

    Reply

  6. Waaah sama kayal aku neh suka novel yg beginian.. terakhir aku baca hungers games yg dikasih tahu sm mas arman..bagus juga tuh ceritanya..

    Reply

  7. Woowwww… Tampaknya seruuuuu….. Sebenarnya dulu saya suka sama novel yg bikin deg-degan seperti itu. Tapi entah kenapa saat ini saya lagi nggak berminat baca buku fiksi, hehe…. Mungkin ada masanya saya cuma baca buku fiksi dan nggak berminat dgn buku nonfiksi, hehehe….

    Reply

  8. Buku John Connolly yang baru saya baca cuma The Book of Lost Things. Ga ada adegan sadis tapi tema dan kalimat-kalimatnya cakep. Butuh waktu lama sih untuk membacanya, tapi dalam rentang waktu itu jadi keranjingan mengutip buku itu :mrgreen:

    Eh Asop udah baca The Leap sama The Last Siege?

    Reply

    1. Saya baru tahu keberadaan John Connolly dari buku ini… 😳

      Wah, dua buku karangan Jonathan Stroud ya? 😀 Belum Mbak. Sekarang saya lagi bosen ama fantasi. Saya lagi demen ama genre thriller-crime. 🙂

      Reply

  9. thriller,.. sukak banget *kalo buku!!! kalo film, nggak deh yaa,. makasih

    aku suka dengan buku yang alurnya berpindah-pindah, jalan ceritanya jadi tak tertebak sebelum kita selesai membaca bukunya. 🙂

    Reply

    1. Kamu belum lihat posting-an saya yang itu ya, yang ada di tautan di atas.
      Bagi kamu A5 kecil, tapi bagi saya A5 itu besar untuk ukuran novel tebal.
      Kamu suka baca novel? Suka pegang buku novel yang kecil apa yang besar? Coba… 😉

      Reply

      1. ya, untuk ukuran novel A5 itu standar, emang rata2 segitu, jd ga bisa dibilang kecil, yg lebih kecil dari A5 adalah B5!

        Reply

        1. Coba Mas Abi lihat novel2 di luar negeri berbahasa inggris. Ada versi kecilnya lho, yang ringan banget dan enak digenggam. Saya lebih suka yang begitu. 😐

          Reply

  10. Kenapa yaaa sayaa tak suka hal2 yang berbau thriller…
    Asoppp laporan dong, kenapa ya ko linknya asop ga bisa sinkron di blognya zoothera?
    Tahukah letak kesalahan saya di mana?

    Reply

  11. kok sekarang trendnya yang sadis-sadis yah, di film sadis, di buku sadis

    *tadi melayat ke rumah yusnita febri yah? aku ga yakin soalnya bandung-pondok aren kan jauh

    Reply

  12. saya juga doyan buku2 bergenre thriller… sayangnya kalau membaca jarang sampai ceritanya selesai… kadang2 langsung loncat ke endingnya…baru setengah buku sudah nggak dilanjut lagi… hehe

    Reply

  13. aku sendiri suka bingung
    jaman sd suka banget bacaan berat kaya mark twain atau agatha christie
    sekarang malah ga pernah menyentuh sama sekali

    Reply

  14. ugh… kapan ya saya bisa menikmati lagi ngebaca novel berjam-jam sambil bergelung di atas tempat tidur di bawah selimut di kala hujan gerimis di luar jendela… *hiperbola* ahhhhkk… saya sangat merindukannya T__T *nangis di pelukan Cristiano Ronaldo*

    Reply

  15. Saleum,
    saya yakin pasti mengerikan alur ceritannya sop, pake mutilasi segala lagi, ah,… untung gak saya baca, takutnya gak selera makan.

    saleum dmilano

    Reply

  16. mendebarkan kayaknya mas, sy senang jg dgn cerita detektif kayak gini, detectif connan, sherlock holmes jg suka, kalo punya sherlock holmes sy punjem dong heheheh

    Reply

  17. oh no… saya SANGAT SUKA ngebaca cerita yg agak supranatural n banyak mikirnya.
    kadang klo komplikasinya makin rumit malah makin penasaran saya…
    tp ntr ah sekitar bulan Desember, mo UAS dlu hehehehe

    Reply

    1. btw suka nggak sama novel “Dante Club” sama “Nefertiti”? tu dua2nya juga agak supranatural dan critanya cukup simpang siur (tapi akhirannya apik semua kok)

      Reply

      1. Dante Club, karya Matthew Pearl itu aku punyanya cetakan 1 dan 2 pada tahun 2005
        Nefertiti, karya Nick Drake itu punyanya cetakan 1 tahun 2007

        tp terakhir tahun 2008 kemaren Nefertiti diubah judulnya menjadi The Queen. ga tau sih diubah lagi ato ga,

        Reply

  18. kayaknya bagus yah, jadi pengen beli

    tapi setelah baca “Oh ya, korban pembunuhan di buku ini digambarkan secara vulgar dan sadis. Saya membayangkannya aja sungguh mengerikan. Dikuliti, mata dicungkil, darah membanjir di lantai, dan beberapa mutilasi…… seperti itulah”

    ih serem…, bisa2 jadi gak nafsu makan, ntar jadi kurus, gak jadi beli aaaah 😀 *pinjem aja maksudnya* hehehe…

    Reply

  19. uwahhh…sukaaa…sukaaa….cerita yg kyk begini…
    tapi kalo harganya mahal gitu, alternatif laen buat baca kayaknya musti pinjem deh…

    ehhmm…asoooppp….hehe,, *tuing-tuing* *kedip-kedip*

    Reply

    1. Kenapa, Din? Kelilipan? Sini saya tiup.

      Tunggu saya pulang ke Surabaya ya, kita kopdar, terus saya bawa nanti satu buku (iya, satu aja) yang mau kamu pinjem. 😀 Tapi tolong sampulin plastik ya. 😆

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s