[Buku] The Novelist oleh Dean Koontz

Buku kali ini, The Novelist, ber-genre suspense thriller. Hampir mirip dengan genre crime thriller, sama menegangkannya, hanya bedanya tidak ada crime atau kejahatan di sini. 😀  Well, sebenarnya kejahatan atau kebaikan (baca: keadilan) adalah sesuatu yang relatif dalam buku ini. 😉

Oh ya, judul asli versi bahasa inggris buku ini bukan The Novelist, tapi Relentless. Jangan tanya saya mengapa judulnya berbeda. Jangan tanya saya apakah hal ini wajar terjadi atau tidak. Satu hal yang pasti, saya bingung sekali waktu mencari tahu buku ini di internet. Situs resmi penerbit, Ufuk Fiction, tidak memberi tahu apapun tentang judul asli buku ini. 😦

Pertama-tama…

Pertama saya membaca rangkuman cerita di sampul belakang buku ini bulan desember tahun 2011 lalu, saya nggak langsung beli. Saya masukkan dulu ke daftar incaran, dengan maksud saya telusuri dulu di internet seperti apa review orang-orang dan siapa Dean Koontz sebenarnya. Sebenarnya saya sudah tertarik dengan jalan ceritanya yang tampak menegangkan —apalagi saya suka thriller. Tapi tak ada salahnya, ‘kan, mencari tahu dulu di internet. :mrgreen:

Ternyata, saya cari dengan kata kunci “The Novelist” dan “Dean Koontz”, tak ada hasil pencarian yang menuju situs review luar negeri. Saya cari di situs pribadi Dean Koontz, tak ada juga buku karangan beliau dengan nama The Novelist. Nah lho, ada apa ini? Hasil pencarian dengan kata kunci “The Novelist Dean Koontz” memberi saya halaman sang penerbit buku di Indonesia, Ufuk Fiction. Di sana tak ada informasi yang berguna, tak ada informasi yang membantu. Ya sudah, karena saya sudah kadung penasaran, saya beli aja The Novelist beberapa hari kemudian.

Setelah saya baca di dalamnya, di halaman hak cipta, baru menjadi jelas bahwa novel ini terbit dalam judul Relentless untuk versi aslinya. 😐

Satu hal aja yang saya sayangkan. Mengapa di situs resmi Ufuk Fiction, tepatnya di halaman yang membahas mengenai The Novelist, tidak memberi tahu pembaca bahwa judul novel versi indonesia dan versi inggris tidak sama? 😐 

Bahasan buku dan sedikit kritik untuk penerbit…

Ternyata wawasan saya tentang buku thriller masih amat kurang. 😆 Saya nggak kenal dengan Dean Koontz! 😀  Saya sudah sering lihat nama Dean Koontz waktu saya melihat-lihat deretan novel di berbagai event penjualan buku-buku lama. Tapi karena ketidaktahuan saya, buku-buku Dean Koontz (dalam versi bahasa inggris tentunya) semua nggak saya hiraukan. Padahal ada banyaaaaaak sekali buku beliau. 😆

Penampilan buku ini memang besar dan tebal. Ukurannya hampir sebesar A5, beda tipis. Tebalnya pun 552 halaman. Tapi tenang aja, jangan langsung gusar dengan jumlah halaman segitu. 😆 Itu normal untuk sebuah novel. Apalagi novel thriller. Malahan menurut saya halaman buku ini terlalu sedikit. Ketebalan halaman jadi tak terasa karena ukuran tulisan terlalu besar. Bisa jadi, jumlah halaman yang membengkak itu karena ukuran tulisan yang besar. Memang sih jadi lebih enak dibaca, tapi akibatnya buku malah sulit untuk dibawa-bawa. Bayangkan buku-buku Harry Potter yang keempat hingga ketujuh. Besarnya buku kira-kira segitu, dan ukuran teks juga kira-kira hampir sama. 🙂

Seharusnya ukuran novel thriller jangan terlalu besar. Cukuplah sebesar novel karangan Jason Pinter atau J.T. Ellison seperti yang pernah saya bahas di posting-an terdahulu. Enak digenggam dan enak dibawa kemana-mana. Atau jikalau memang ingin ukuran besar seperti A5, hendaknya ukuran teks jangan terlalu besar, dan jenis kertas cukup kertas buram biasa. Ambil contoh buku The Vanished Man karangan Jeffery Deaver yang dulu saya bahas. Ukuran buku itu sama seperti The Novelist ini, jumlah halamannya malah lebih banyak. Tapi penampakan ketebalannya beda jauh! 😆  Jenis kertas The Novelist menurut saya berlebihan, terlalu “mewah”, malah memberi efek nggak perlu pada penampilan buku. Harus diingat, orang biasa cenderung malas membeli buku yang kelihatan tebal.  🙂

Gaya penulisan Koontz berbeda dengan gaya menulis penulis-penulis thriller yang pernah saya baca. Deaver, Pinter, Ellison, Shuman, Delaney, dan Connolly, tulisan Koontz berbeda dari mereka. Paling terlihat jelas adalah gaya narasi. Mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu sang tokoh utama, di buku ini Koontz banyak memasukkan ide-ide dan pemikiran lucu pada sang tokoh. Pada akhirnya memang terjadi cukup banyak dialog lucu di dalamnya, tapi nggak sedikit juga yang membuat saya harus membaca berulang-ulang supaya saya ngerti maksudnya. 😀  Entah ya, mungkin bisa akibat kualitas terjemahan yang kurang baik. Itu pendapat saya pribadi. 😉

Sedikit jalan cerita…

Relentless. Sesuai dengan judul bukunya, jelas bahwa yang diutamakan dalam cerita adalah kekejaman. Atau tanpa belas kasihan.

Sang tokoh utama, Cullen Greenwich, adalah seorang penulis novel yang sukses dan dikaruniai hidup yang amat bahagia. Cubby —panggilan Cullen— memiliki seorang istri yang cantik (menurut Cubby sendiri dan menurut deskripsinya amat sempurna) dan seorang putra berumur enam tahun yang amat cerdas. Sang istri, Penny, adalah seorang penulis dan ilustrator buku anak-anak yang sukses, sama seperti Cubby dengan novel-novelnya. Sang anak, Milo —sering dipanggil Spooky— yang genius, hanya bersekolah di rumah (home schooling) dan luar biasanya telah berhasil lulus tes GED (General Education Development), yang artinya Milo telah memiliki kemampuan yang setara dengan anak SMA di Amerika dan Kanada. Sebagai pelengkap ialah seekor anjing Australian Sheppard bernama Lassie. Well, kehidupan mapan khas penulis. 😆

Kehidupan Cubby mulai berubah ketika ada satu review tentang novel terbarunya —novel keenam—, One O’clock Jump, dari seorang kritikus novel yang amat disegani, Shearman Waxx. Hanya Waxx yang menilai buruk buku Cubby, di saat kritikus lain banyak memberi penilaian dan pendapat bagus tentang novelnya. Shearman Waxx bukan orang sembarangan, ia adalah kritikus senior yang bekerja untuk sebuah koran nasional ternama. Ia ditakuti (oleh para penulis), dan karena itulah ia dipuja-puja.

Entah mengapa Waxx menilai buruk novel Cubby, padahal banyak sekali kritikus lain menilai baik novelnya itu, dan banyak kawan-kawan Cubby sesama penulis yang memberi dukungan dan pujian terhadap novelnya. Semua orang terdekat Cubby bilang “Lupakan saja” dan “Tak usah diambil pusing” mengenai review Waxx tersebut. Tapi tetap saja, Cubby penasaran dengan si kritikus ini. Pasalnya, banyak ketidakcocokan antara tokoh dan jalan cerita novelnya dengan tokoh dan jalan cerita yang ada di ulasan Waxx.

Hari itu juga, hari dimana Cubby membaca review Waxx, dia dan istrinya, Penny, makan malam di sebuah restoran favorit mereka, Bistro Roxie’s. Cubby sudah kenal dekat dengan pemilik restoran tersebut, pasangan suami istri Hamal dan Roxie Sarkissian. Dari Hamal —yang mendukung novel Cubby—, Cubby tahu bahwa ternyata Waxx sang kritikus adalah pelanggan tetap restoran ini.  Waxx lebih sering makan siang di Roxie’s ketimbang makan malam. Dari situlah muncul ide di benak Cubby untuk “mematai-matai” Waxx. Cubby benar-benar penasaran ingin melihat wujud sang kritikus itu. 😎

Keesokan harinya, dengan alasan mengantar Milo ke perpustakaan, Cubby pergi ke Roxie’s untuk makan siang —bersama Milo. Penny tidak ia beritahu akan hal memata-matai ini, dan Cubby beralasan ia tidak bohong, karena ia benar-benar pergi ke perpustakaan bersama Milo sebelumnya. Akhirnya ia tahu seperti apa wujud Waxx. Pendek, tidak terlalu tinggi, tapi bertubuh gempal, tampak kekar, leher tebal, dan lebar tubuhnya mencapai setengah tingginya (itu yang Cubby deskripsikan). Hal yang paling Cubby ingat adalah mata Waxx yang merah dan dasi kupu-kupu yang ia kenakan. 😯

Suatu “insiden” terjadi di dalam toilet pria, saat Cubby mengantar Milo untuk buang air kecil. Kebetulan, saat itu Waxx berada di toilet juga. Nah, saat Cubby mengangkat Milo untuk pipis di urinoir, percikan pipis Milo hampir mengenai sepatu Waxx. 😆  Itu suatu ketidaksengajaan, tidak disengaja oleh Cubby dan Milo. Entah karena hal itu atau ada alasan lain, ketika Waxx keluar dari toilet, dia mengucapkan kata Doom —malapetaka— pada Cubby. Satu kata itu Waxx ucapkan dengan amat pelan tapi jelas padanya.

Sejak itulah, teror dimulai.

Sore hari, masih di hari yang sama, Cubby merasa ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Waktu itu Cubby sedang membaca buku di ruang kerjanya. Seperti ada orang yang mondar-mandir di rumahnya. Setelah ia cek, Milo dan Lassie ada di kamar Milo sendiri, dan Penny sedang melukis untuk ilustrasi bukunya yang baru di ruang kerja Penny. Cubby menyadari bahwa sang penyusup adalah Waxx. Wujud sang penyusup persis seperti penampilan Waxx yang tadi ia lihat di Roxie’s saat makan siang. Anehnya, Waxx hanya berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Dari dalam rumah ke teras belakang, lalu ke halaman rumah, dan ke dalam lagi. Waxx tampak seperti “hanya” berjalan-jalan biasa, seperti orang yang menginspeksi rumahnya sendiri, dan sama sekali tidak menggubris Cubby yang bolak-balik berteriak memanggilnya.

Cubby yang saat itu masih terkejut dengan nada ancaman “Doom” di toilet Roxie’s hanya bisa membuntuti Waxx tanpa memanggil polisi. Pada akhirnya Waxx keluar dari rumah, dan Cubby —yang mengikuti Waxx ke luar— jelas melihat mobil Escalade hitam milik Waxx melaju menjauhi rumahnya. Mobil yang persis sama seperti mobil yang Cubby lihat di restoran tadi siang. Ya, jadi itu memang benar adalah Shearman Waxx. Kejadian yang sangat cepat.

Tak cukup bukti dan saksi mata, Cubby tak bisa melapor ke polisi. Ia memutuskan untuk membiarkan kejadian tadi.

Malamnya, dini hari, ketika seluruh isi rumah tertidur, Cubby terbangun oleh sebuah suara. Cubby mendengar suara seseorang berkata “doom”. Ya, kata yang sama dengan yang tadi diucapkan oleh Shearman Waxx. Cubby yakin suara itu bukan dari dalam mimpinya. Ia yakin suara itu nyata, senyata Waxx yang berada di dalam kamar tidurnya. Gelap gulita, tak ada cahaya sedikitpun, Cubby curiga Waxx telah mematikan listrik dan sistem alarm rumahnya. Jam digital-nya tak hidup, dan lampu indikator sistem alarm tak menyala. Dalam usahanya mencari senter di laci sebelah ranjangnya —yang ternyata sudah raib—, Cubby disetrum dengan taser oleh Waxx —atau siapapun itu seseorang yang ada di dalam kamarnya. Penny yang mendengar suara gaduh bergedebuk Cubby-pun terbangun. Sayangnya, Penny juga terkena taser dan jatuh pingsan.

Teror malam itu berakhir. Ketika subuh menjelang, Penny dan Cubby mulai tersadar dan bangkit. Milo masih tertidur dengan tenang di kamarnya, dengan Lassie setia menjaganya. Aneh, Penny dan Cubby berpikir demikian. Apa yang dilakukan Shearman Waxx malam tadi di rumah kami? Apakah hanya sekadar meneror? Bagaimana cara Waxx mematikan sistem alarm rumah? Semua pertanyaan itu menggelayut di benar mereka berdua.

Berpikir bahwa jika Waxx mampu menembus sistem keamanan rumah mereka artinya mereka tak aman lagi di sana, Cubby dan Penny memutuskan untuk pergi dari rumah. Entah ke mana, pokoknya pergi dulu menjauh. Ketika Cubby berkemas, seseorang meneleponnya. John Clitherow, seorang penulis yang telah lama menghilang, memberitahu Cubby agar ia dan keluarganya segera pergi dari rumah mereka, sejauh mungkin. Cubby ingat siapa John Clitherow. Dulu, novel karya Clitherow juga mendapat kritik buruk dari Shearman Waxx, dan beberapa bulan setelah itu keberadaannya tak diketahui lagi.

Clitherow bercerita bahwa dia ternyata juga diteror oleh Waxx. Kejamnya, keluarganya semua terbunuh. Kedua orang tuanya, istri, dan kedua anaknya tewas dengan cara yang mengerikan. Memang tak ada bukti yang mengarah bahwa yang melakukannya adalah Waxx. Tapi Clitherow amat yakin bahwa pelakunya adalah Waxx.

Saran Clitherow terbukti benar. Tak jauh ketika Cubby dan keluarganya keluar dari garasi rumah mereka —dengan mobil, rumah mereka meledak. Ledakan yang tak sembarangan, sebuah ledakan yang terencana dengan amat baik, hingga rumah mereka jadi abu tak tersisa sama sekali.

Dimulailah perjalanan Cubby dan keluarganya untuk mencari tahu apa sebab Shearman Waxx ingin membunuh mereka. Sambil berusaha bersembunyi dan menghindar dari kejaran Waxx, Cubby terus mencari cara bagaimana mengetahui latar belakang Waxx. Shearman Waxx sendiri adalah sebuah misteri. Tak banyak informasi tentang dirinya di internet. Tak banyak foto dirinya di internet. Bahwa ternyata Waxx memiliki nama samaran lain untuk mengritik bidang seni (lukisan), tak banyak yang tahu.

Ternyata, korban Waxx tak hanya John Clitherow dan Cullen Greenwich. Banyak korban lain dari sesama penulis dan pelukis. Sayangnya, tak ada sama sekali bukti pembunuhan atau teror pada mereka semua yang mengarah ke Waxx. Sangat terorganisir dan rapi. Apakah Waxx hanya bertindak sendirian? Ataukah ada tim di belakang Waxx yang selalu mendukungnya? Apa penyebab Waxx membunuh dan meneror para penulis yang dibencinya? Semua itu bisa terjawab kalau narablog dan pembaca sekalian membaca bukunya. :mrgreen:

Akhir kata…

Ini adalah buku Dean Koontz pertama yang pernah saya baca. Jadi, saya nggak bisa membandingkannya dengan buku Koontz yang lain. Satu hal yang pasti, cerita buku ini benar-benar menegangkan. Nggak salah kalau diberi genre suspense thriller. Dan nggak salah juga banyak orang memberi cap ke Koontz sebagai ahlinya thriller. 😀  Saking mendebarkannya, dan juga saking bikin penasarannya, saya nggak bisa berlama-lama meninggalkan novel ini. 😳

Bahwa di akhir cerita nanti ada unsur science-fiction-nya, itu tak masalah bagi saya. 😀  Hanya dua hal yang mengganggu dari buku ini. Pertama, soal gaya narasinya yang kadang terlalu berbelit-belit dan terlalu panjang. Terlalu banyak tambahan unsur eksternal ke dalam narasinya. Rasanya seperti Koontz terlalu banyak memasukkan pikirannya sendiri ke dalam tokoh Cullen Greenwich. Terlepas dari mungkin hanya masalah terjemahan yang kurang baik atau bagaimana, saya tetap merasa terganggu dengan itu. Kedua, akhir cerita yang menurut saya kurang menggigit. Pas saya selesai membaca, sontak saya berpikir, “Hah? penyelesaian akhirnya cuma ini?”  😀

Yah, dari lima poin keseluruhan, saya beri nilai 3, deh. 😆

Jadi, selamat membaca! 🙂

******

Dean Koontz, seorang penulis kisah suspense-thriller yang telah mendunia. Hasil karya pria kelahiran 9 juli 1945 ini telah diterjemahkan ke 38 bahasa dan telah terjual lebih dari 400 juta kopi. Ada tiga belas bukunya yang berhasil masuk ke jajaran nomor satu New York Times bestseller lists (salah satunya buku Relentless ini), membuat Koontz menjadi salah satu di antara sedikit penulis yang berhasil meraih pencapaian itu. Saat kuliah di Shippensburg University, ia pernah memenangi Atlantic Monthly fiction competition, dan sejak saat itu ia terus menulis. Saat ini Koontz bersama keluarganya tinggal di California selatan.   *sumber: situs resmi Dean Koontz*

———————————————————————————————————————————————————–

Gambar buku di atas macbook adalah hasil jepretan saya sendiri, sedangkan gambar sampul buku dan sang penulis saya ambil dari sini dan sini. Gambar buku versi bahasa inggris, Relentless, saya ambil dari sini. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

113 Comments

      1. Saya baru beli siang hari ini, saya baru mau buka plastiknya, eh ternyata malah mas Asop udah nge-review. Huah, saya ngelewatin bagian summary yang ditulis mas Asop… biar saya makin penasaran :mrgreen: Ntar kasih komen di sini lagi ah, kalau sudah selesai membacanya 😀

        Reply

    1. ahahaha setuju saya sama mas Cahya, Asop pelit ih.
      aku aja baru belajar nulis aja jatuh bangun, gimana ngarang novel beratus halaman Sop?
      ayooo ganti nilainya jadi 4 kek hahahaha …

      Reply

  1. Ooo mas asop kalo mau beli novel, ditulis dulu jd daftar incaran, trus browsing, trus baru beli ya? Tips bagus nih heheheh perlu aku tiru 🙂

    btw aku jarang deh nemu cowok yg suka baca novel thriller, mereka lbh cenderung suka nonton film daripada baca novel.

    Reply

  2. Wiw, sayang ya gak dijelasin gitu kalo versi Indo dan Bule beda judul 😀
    Lagian kenapa dibuat beda ya judulnya? 😀
    Oh..ya, kayaknya blog ini jadi sering banget ya bahas novel, hihihih… 😀

    Reply

    1. Makanya itu dia Bang, saya juga penasaran, apa sebab kok judul indonesia ama inggris beda? 😐

      Apa boleh buat Bang, saya suka novel. 😀

      Reply

  3. aku lagi tobat dulu baca/nonton aliran thriller, Bang. abisan secara gag langsung mereka mempengaruhi pikiranku. aku yang udah sadis gini baca/nonton yang sadis2 juga malah bakal bikin gawat tuh. huhuu

    Reply

  4. Membaca buku itu hal yang mewah buatku sekarang..

    Btw kamu suka buat2 resensi buku gitu, kenapa gak sekalian ikutan lomba resensi dari @gramedia?
    Coba aja cek twitter mereka 🙂 *kalo tertarik aja sih*

    Reply

  5. Hmm, belum pernah baca bukunya bung Dean otomatis ndak bisa ikutan menilai, tapi kalau baca deskripsi singkat yang ditulis, nilai 3 (tiga), sungguh terlalu 😉

    Reply

  6. wah keren. kayaknya suasananya penuh teror gimana gitu ya. 😦 aku juga rada ngerasa penerbit2 yang gak begitu major kadang terjemahannya rada2 kurang pas. 😕 so, lebih keren yang crime atau suspense nih sop? 😀

    Reply

  7. Wuih, kayaknya seru ya kalau dari cuplikannya di atas itu. Tapi kayaknya serem juga (iyalah namanya aja novel genre thriller, hahaha 😆 ). Berasa nonton film thriller juga

    Reply

    1. Sebenernya sih yang serem itu genre horror, Bang… 😆
      Kalo thriller/crime/suspense lebih tepat dibilang mendebarkan atau menegangkan. 🙂

      Reply

      1. ah, ya benar. Tapi bagiku sih mendebarkan atau menegangkan ya sama aja serem, soalnya penjahatnya kan biasanya digambarkan sadis banget tuh, huahahaha 😆

        Reply

  8. setiap kali mampir ke sini dan Asop lagilagi membuat resensi buku, sukses bikin saya merasa bersalah. tahun ini sama sekali belum membeli buku 😦
    ngga pernah baca selain yg genre thriller ya Sop?

    Reply

  9. novel thriller? hehe, saya lebih suka baca novel yang ringan-ringan, seperti metropop atau teenlit~ 😳
    itu juga masih pilih-pilih dulu pengarangnya siapa~ :mrgreen:

    Reply

  10. pas baca prolognya. seorang penulis sukses, yang novelnya dapat pujian di mana-mana, tapi dapat satu kritikan tajam dari kritikus ternama.. entah kenapa membuat saya inget sama kartun ratatouille.. hehhehe

    Reply

  11. hmm, sebagai bukan penikmaat thriller novel, klo kata mas asop tadi kritik nya bahwa terlalu besar, ya bisa jadi masuk akal, karena klo terlalu tebal dan besar utk ukuran novel yg digemari masy indonesia (menurut saya) jadinya bisa mempengaruhi keinginan utk membeli. kecuali novel2 yg benar laris di pasaran dan terkenal dunia 😀

    Reply

    1. Ooooh, kalo memang orang Indonesia sukanya yang tebal2 dan besar2 ya saya angkat tangan… 😀
      Kalo benar begitu ya wajar aja pihak penerbit mendesain bukunya seperti itu. :mrgreen: Tapi tidak bagi saya. Saya gak suka buku yang terlalu besar.

      Reply

  12. Review yg lengkap bgt Sop 🙂
    banyak yg menyamakan Koontz dgn King, jd sy pnasaran…sy bli Dragon Tears, tp sygnya sy mandek di halaman 10, hehe aga bosan jd rada mls nerusinnya.

    Ngomong2, ayo ditntn Sherlocknya!! buat sy Benedict lbh mrp Sherlock di buku drpd Downey. Ah iya, yg Asop punya itu series 1, yg sy br review series 2 (di Inggris nyebutnya series bukan season kyk US)

    Reply

    1. Oh ya? Saya belom pernah baca novel Stephen King! 😀

      Waaaah makasih atas infonya ya Mbak, ternyata sudah ada season dua. 😀

      Reply

  13. Daku stuju ama Asop…kalo emang ga bgs ya blg ga bgs supaya si pnulis bs memperbaiki diri.

    sy jg suka nulis dan suka bgt kl da yg kasih kritikan dan masukan

    Reply

  14. mungkin maunya si penulis bukunya di kenal sebagai Relentless, jadi engga buat jembatan untuk ngenalin The novelist..

    Reply

  15. jadi kesimpulannya novel ini gak greget ya, sampe-sampe dikasih point 3 sama Asop, tapi jujur saja sayalebih suka komik sejenis kotaro, hehe sure ada gambarnya, teks sedikit, jadi imajinasi bisa tersusun, wew.
    sempet juga baca novel, tapi bahasa indoneisa ya, bahasa lain gak ngerti, tp sampai saat ini novel wiro sableng lah yg terbaik menurut saya, bayangin sob, jumlahnya ampe puluhan, trus gak pernah masuk toko buku besar spt gramedia, GA dan sejenisnya, tp sampe di filmin, keren ga 😉

    Reply

    1. Bukan, saya kasih poin 3 itu karena saya belom punya pembanding novel2 Koontz sebelumnya. Sebenernya bisa aja saya kasih nilai 3,5 atau 4, tapi saya mesti baca novel2 Koontz yang lain. 🙂

      Wah, bagus itu Mas, mbaca novel dalam negeri. :mrgreen:

      Reply

    1. Iyaaaaa Mbak Sri juga di Bandung? 😀
      Waaah, kalo Mbak Sri mau dateng silakan ajaaaa! 😀
      Ini terbuka untuk semua blogger! 😀
      Saya juga bingung, apa di ciwalk aja ya? Boleh sih, tapi kalo tanggal 21 hari sabtu jangan pagi atau siang, ada blogger lain yang masih kerja. 🙂

      Jadi, apa Mbak Sri punya ide lain di mana tempatnya dan hari apa? 😀

      Reply

  16. Wah keren ni .. #NungguFilmNya hehehe.. soalnya saya kurang suka novel tapi genre thriller kayak gini keren sekali. Teringat filmnya Johny Depp yang seorang penulis novel yg ternyata punya kepribadian ganda (lupa filmnya) pokoke tak tunggu film hollywoodnya hihi

    Reply

  17. pernah sekali baca novel dean koontz.. tapi kok agak terlalu far-fetched alias nggak masuk akal banget.. yah harry potter juga sih,, tp lebih enak baca yg harpot.. hehehe,, *selera*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s