[Fiksi] Balas Dendam

Kesal. Aku masih kesal dikatainya. Dasar dia sok tahu. Dasar dia sok jago.

Apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya?

Sekarang aku berada di kamar mandi. Baru saja aku selesai buang air besar, dan ini bukan rumahku. Ini adalah rumah orang yang tadi mengejekku, perkataannya sangat menjengkelkan sampai-sampai perutku mulas. Bagiku, bukan telinga yang panas, tapi perut.

Aku tak punya perkataan balasan untuknya. Oke, aku akui, dia lebih hebat dari aku. Ya, tak bisa dipungkiri.

Tak masalah, aku akan balas dendam dengan cara lain. Cara yang dia pun tak akan bisa mendeteksinya.

Kuambil sikat gigi orang itu di depanku, dari dalam gelas berisi tiga sikat gigi. Aku tahu yang mana punya dia. Jangan tanya bagaimana.

Tak pakai pikir panjang, aku jejalkan kepala sikat gigi dia ke dalam ketiakku. Aku gosokkan dengan semangat membara. Betapa senangnya hati ini, sebuah luapan kegembiaraan yang entah muncul dari mana.

Jangan lupakan fakta bahwa hari ini aku tidak memakai deodoran. Lupa. Sebagai pria dewasa seberat 94 kilogram yang punya banyak aktivitas, sebuah keajaiban sampai malam ini tubuhku belum menguarkan aroma busuk. Maaf, aku berlebihan, bukan “busuk”. Bukan berarti aku merendahkan tubuhku ini, hanya saja aku tak bisa menemukan kata yang pas.

Gerakan menggosokku sangat bergairah, sampai-sampai aku merasa apakah aku masih normal jika melakukan hal ini. Dari ketiak kanan, aku jejalkan juga ke ketiak kiri. Masing-masing ketiak harus ambil bagian dalam pembalasan ini. Aku berharap partikel-partikel keringat yang tertinggal di ketiakku terambil oleh bulu sikat yang kupegang ini.

Aku rasa sudah cukup. Sudah cukup lama aku menggosok-gosokkan sikat gigi ini. Coba kulihat jam, sudah berapa lama aku melakukan ini? Oh, belum sampai semenit. Tak apa, sudah cukup.

Bagus, kulihat ada tiga helai bulu ketiakku di antara bulu sikat gigi orang itu. Sempurna. Wahai bulu ketiakku, pengorbanan kalian tak akan tersia-siakan. Aku jamin pembalasan dendam model begini tidak akan menyakitkan. Malah aku yang penasaran, seperti apa “rasa” sikat gigi itu sekarang.

Kutaruh lagi sikat gigi dia ke gelas di atas wastafel. Aku cuci tangan dan merapikan kemeja. Oke, saatnya aku pulang. Keluarlah aku dari kamar mandi dengan beban di perut telah berkurang.

Tanpa muka bersalah, wajah polos tanpa ekspresi—meniru judul lagu Lady Gaga, poker face—, aku keluar dari rumah. Baru sampai di teras, sudah memakai sepatu, aku tersadar barang-barangku masih ada di dalam, di kamar orang yang tadi mengejekku.

Terpaksa aku kembali dan bertemu muka dengan sang pengejek. Sebenarnya, aku enggan melihat wajahnya, khawatir aku kembali sakit perut. Entahlah, di wajahnya terdapat sesuatu yang mampu merangsang orang untuk menamparnya. Sesuatu itu adalah keadaan yang sangat dibenci oleh kaum bermuka pas-pasan seperti aku. Efek paling ringan selama ini yang kuterima ketika memandangnya adalah kentut beruntun lima kali, seperti rentetan bunyi kembang api di malam pergantian tahun.

Di kamarnya, aku melihat tasku digeledah oleh sang pengejek. Buku catatanku tergeletak di lantai. Novel yang belum selesai kubaca terbuka terbalik di ranjang. Tempat pensilku yang berisi penuh spidol dan pensil berwarna dalam keadaan terbuka di lantai, hampir semua isinya keluar. Kertas-kertas tugasku berserakan di lantai dekat meja komputer-nya. Kalau ada yang namanya pelecehan terhadap benda mati, maka inilah bentuknya.

Sang pengejek hanya tersenyum jahil padaku. Sialan, kutampar wajahmu baru tahu kau. Tak ada yang bisa aku lakukan selain tetap mempertahankan poker face-ku. Pelajaran yang kudapat tiga tahun lalu ketika aku di-bully oleh senior, jangan tunjukkan kelemahanmu —termasuk wajah idiotmu— atau kau akan menjadi sasaran emosi senior.

Kuambil dan kubereskan barang-barangku kembali, tanpa mendengar segala macam ocehannya. Aku tak mendengar sekalipun ucapan maaf dari mulutnya. Bah, memang ada saja bentuk iblis di dunia ini.

Sebelum aku keluar dari kamarnya, ia masih mengoceh. Ocehan tentang diriku. Sempat terbersit keinginan menyumpal mulutnya dengan kepalan tanganku. Tapi kalau kulakukan itu, giginya bisa rontok semua.

Pintu tertutup di belakangku. Aku memandang sekali lagi ke kamar mandi.

Hm. Oke, telah aku putuskan, akan aku tambahkan menu selangkangan ke sikat gigi tadi sebelum aku pergi.

******

Pernahkah di benak narablog dan pembaca sekalian terlintas untuk membalas dendam pada seseorang? Terlaksanakah? :mrgreen:

———————————————————————————————————————————————————–

Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

125 Comments

  1. bwahahahahaha…. mantaaaap….
    walaupun *mungkin* fiksi, tapi dapat dibayangkan kekesalannya
    kalau soal mengerjai dan dikerjai, itu hukum alam yg normal bagi saia 😀
    laksanakan mas asop! laksanakan! hahahaha….

    Reply

  2. yaolo Sop
    gara2 baca ini ga bakal lagi deh aku ninggalin sikat gigi di kamar mandiku sekalipun
    bakal aku bawa masuk kamar molai hari ini
    takut ada yg iseng entah balas dendam
    beda tipis itu
    huek
    asoop …. *kethak*

    Reply

      1. oiya Sop
        ada yg blom dijawab

        pernah sih terlintas mau balas dendam sama orang yang udah jahatin
        tapi sayangnya engga terlaksana huehue ….

        ciri anak bae gitu emang yak hahaha

        Reply

  3. oooh 😐 pikiranku jadi kyk gini:
    si pengejek itu pacarnya (yg kepaksa sama “AKU” karena ortunya), sukanya ngece klo “AKU” agak… yah klo dikatakan, tidak seatletis Ade Rai, dan juga kekayaannya “AKU” lebih kecil dari si pengejek. dan kejadian sikat gigi ketek 😆 itu terasa baru 2 tahun tokoh “AKU” tinggal di rumahnya pengejek.

    balas dendam? sering sih kepikiran, tapi yg terealisasi ga ada, karena rata2 balas dendamku berupa jebakan2 yg kayak di Vietnam itu. pokoknya yg berhubungan dengan darah lah 🙂

    Reply

      1. duh salah ya? tp itu pikiranku yg terlintas, soalnya jg lagi sebel ma temen cowokku yg sifatnya persis plek kayak musuh itu
        sayangnya ga tau rumahnya dimana, jadi ga bisa pasang strategi *sikat ketek* itu 😆

        looh masi untung dalam mimpi mas, klo kenyataan, satu kelas isinya uda tinggal aku aja 😀

        Reply

  4. kejam … kau sungguh kejam sop 😀
    balas dendam yang benar2 kejam
    bakteri di ketiakmu akan menyerang gusinya dengan baik
    lalu dia akan merasakan sensasi luar biasa gila
    apakah dia masih hidup sekarang? 😉

    Reply

  5. HUAHUAHUAHUAHUAHAUHAUHA…cara yg keren banget untuk bales dendam
    Kepikiran untuk bales dendam? Jelas pernah.
    Gua punya orang yg gua benci dari SMP, dan gua rela lakuin apa aja untuk bikin hidup orang itu menderita…dan ya, gua bisa dikatakan berhasil

    Tapi seiring usia kita bertambah, kita jadi lebih banyak mikir
    Misalnya tadi pagi, gua tiba2 dapet kesempatan untuk membalas seseorang yg akhir2 ini terus2an bikin gua kesel
    Tapi waktu mau gua lakuin hal itu, tiba2 aja ada suara di kepala gua
    “You’re an adult, Keven. I think you should act like one.” (Dan ya, suara itu ngomong dalam bahasa Inggris)
    Akhirnya gua batal deh bales dendamnya…ya sudahlah, laen kali aja kalo dia bikin gua kesel lagi

    Sometimes it sucks to be an adult…

    Reply

    1. Ini bukan saya lho Bang, ini bukan saya, ini murni cuma ada di otak saya, fiksi. :mrgreen:

      Hmmm… kadang kita pengen banget kembali ke masa kanak-kanak ya… 🙂

      Reply

  6. Saleum,
    Wowww….. sangat2 kejam metode balas dendam seperti itu sop, hahaha….. aku jadi ngakak nih 😆
    tapi aku gak mendendam kok sop, jadi gak ada pengalaman seperti itu

    Reply

  7. HAHAHA, USIL DAN JAHIL yang menyatu dalam sebuah upaya pembalasan dendam #lebay nih komentator.

    yang penting jangan suka mendendam , kalo mendendang tak apa2 meski berlagu melayu #nggak nyambung

    Reply

    1. Ah gak lebay kok, saya suka komentar Mas Iwan… 😳

      Bener, daripada memendam dendam, bara api yang terus tersimpan itu gak bagus, harus segera dipadamkan. 🙂

      Reply

  8. Jadi ya Sop, aku baca postingan kamu pas sambil makan siang. Ahahahahahaa..

    Aku pernah balas dendam, kecil-kecilan sih. Tapi sering 😀
    Biasanya sama cewek (-cewek) tak dikenal di angkot. Cewek (-cewek) yang duduk di pojokan ud gitu duduknya miring, padahal angkotnya penuh. Kan makan tempat. Ditegur baik-baik malah ngeyel. Biasanya kalau saya turun duluan, saya sikut dia kuat-kuat, minimal dia mengaduh, maksimal jatuh ke depan, deh. Lalu saya akan menoleh sekilas dan bergumam, “Maaf,” padahal dalam hati mah puas banget :))
    Kalau angkotnya kosong sih, terserah aja, ya. Mau tidur-tiduran juga saya nggak akan protes.
    Pernah juga sama perokok yang duduk di depan saya di kopaja. Kan asapnya ke belakang, tuh. Saya tegur baik-baik, dia marah-marah nggak jelas gitu. Ya udah, saya diem. Males banget berdebat sama orang yang udah tau salah kok malah galakan dia. Pas saya turun, saya injek kakinya kuat-kuat sambil pasang poker face itu, hihihihi..

    Ah gawat nih nulis di sini, kalau “korban” saya ada yang baca, gimana ya.. :p

    Reply

  9. Asop!! postinganmu nggilaniiiii >.< untuuung hari ini tidak ada jadwal makan siang

    walaupun tipe orang yg memegang asas "easy to forgive hard to forget" tapi ngga pernah tuh punya niat balas dendam, palingan sampai batas makimaki dalam hati aja hehehehe

    Reply

      1. Senin jadwalnya cuma makan dini hari sama makan malam

        tapi kan aku orangnya suka berimajinasi kebablasan, jd kebayang aja ituuu kalo sampe sikat giginya kepake sama si korban, ya ampuuuuuuuuunn, hueekkkkkk :-&

        Reply

        1. Oooooooh, pola makanya (dietnya) begitu ya?

          Harusnya makan siang itu wajib, jangan sampe nggak. 😦
          Makan malem yang jangan banyak-banyak. 😦

          Reply

  10. balas dendam sih, enggak pernah ya. langsung aja marah ke orangnya kalo emang dia salah. tentang ceritanya, -,- kerasa sih jiwanya, tapi topiknya serem ih..

    Reply

  11. pernah sih.. tapi balas dendamnya nggak pake sikat gigi sih Sop..
    gile aje.. tapi mantep nih balas dendamnya..

    semoga cerita Asop TIDAK menginspirasi manusia manapun… AMIN!

    😀

    Reply

  12. sepertinya cerita “unik” di atas adala ekspresi mas asop klo pengen balas dendam, wah kasian sikat giginya ya, main2 ke ketiak dan selangkangan he3. tentu sebagai manusia biasa, pernah ingin balas dendam, tp senantiasa berusaha utk tidak. pun tidak ingin perasaan itu ada, diminimalisis walopun susah,pelariannya kadang2 iseng njahilin teman2 yg lain, ato makan dan tidur hahah a:D

    Reply

  13. dendam sama orang ? pasti perah.. tapi kalo ngebales ? saya kok selalu inget pesan orang tua saya. ngebales orang yang jahat sama kita ga harus dibales dengan kejahatan juga.. tapi baleslah dengan bikin dia sadar bahwa apa yang dia perbuat itu jahat.. itu pasti sangat menyakitkan ! Faktyanya baru 1 kali saja aku bisa melakukan apa yang diminta orangtuaku.. selebihnya aku ngga pernah bales 🙂

    Reply

  14. hhahha~ lucu nih orang, psikopat level SD ini 😀 kayaknya emang track record di-bully-nya udah panjang ya ni orang :O
    ini murni fiksi kan bang ? bukan pengalaman pribadi 😛

    Reply

  15. aku rasa sudah cukup. Sudah cukup lama aku menggosok-gosokkan sikat gigi ini. Coba kulihat jam, sudah berapa lama aku melakukan ini? Oh, belum sampai semenit. Tak apa, sudah cukup.

    Sy stop baca diparagraf di atas.
    NGGAK KUAT BACANYA….
    PLEASE DON’T TRY THIS AT HOME!!!!!
    berimajinasi saja udah bikin mual2, apalgi ada yg tega nglakuin kek gitu… KEJAAAM.
    *pengen-ganti-sikat-gigi-baru* 😦

    Reply

  16. Bahasanya keren, linguistik yang epik, tapi nggaktahu kenapa saya ketawa-tawa sejak paragraf pertama, wuakakakakakak 😆 😆 Balas dendam yang epik… wkwkwk

    Reply

  17. bang asoooopppp haloo 🙂
    gimana kemarin kopdaran sama anak bandung jadi?
    rame nggak?
    😀

    btw hueeekkss banget kalo ada orang yang balas dendamnya beneran kayak gitu.
    mending beli sikat gigi baru kalo tau. hahaha

    Reply

  18. Whuaaaaa…
    Asop kejam nan sadiiiiiiiis…

    Tak akan pernah kuijinkan dirimu tuk menginjak kan kaki di kamar mandi ku Sop…hihihi..

    btw…diledekin apaan sih sampe dendam begituh….
    *langsung ngeri secara pas kopdar kemaren aku yang paling vokal meledek dirimu sebagai anak bawang…hihihi…*

    Reply

  19. huahahaha, mantab tuh acara balas dendamnya, kalo saya yang di gituin langsung aja browsing cari kata makian jawaban hahaha, biar seru say war nya, hahaha # ketawa 2 hari 😀

    Reply

  20. Wah, pembalasan tidak setimpal…
    Tapi nide idea…
    Eh, kalau soal balas dendam sih, biasanya saya tidak lakukan. Karena biasanya saya terlalu telat untuk mengambil keputusan untuk membalas dendam itu…

    Reply

    1. Hm hmm *manggut-manggut* Saya ngerti kok, saat udah lama berlalu, kita baru terpikirkan metode pembalasan yang pantas untuk pengganggu kita.

      Reply

  21. ahahahahah,,, tulisan yang penuh dendam nih,,hahahah bagus bang, kocak… ternyata begini ya gambaran bang asop kalo marah sama orang,, wkwkwkwkwwkwkwk

    Reply

  22. ya ampuuun… kejam nian! hahaha … tapi kalau ternyata si empunya sikat gigi itu bukan si pengejek gimana dong? hihihihi..

    balas dendam? pernah nggak ya? duh, kok lupa sih sop. kali waktu aku kecil, pernah ya

    Reply

  23. hihihi, pernah nonton Horrible Bosses, sop? di situ pegawainya kesel setengah mati sama bosnya, sampai-sampai dia ngerjai bosnya kayak gitu? 😆

    Reply

  24. 😯 Ya Tuhaaaaaaaaaaaaaaannn…. *ambilsikatgigi* *cucipakealkohol*

    saya sering ‘dijahatin’ tapi ga lah ya kalo balas dendam.. takut engga setimpal, ntar jadi ga impas 😀
    biar Alloh aja yang balas, pasti adil 😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s