29
Jan
12

[Fiksi] Balas Dendam

Kesal. Aku masih kesal dikatainya. Dasar dia sok tahu. Dasar dia sok jago.

Apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya?

Sekarang aku berada di kamar mandi. Baru saja aku selesai buang air besar, dan ini bukan rumahku. Ini adalah rumah orang yang tadi mengejekku, perkataannya sangat menjengkelkan sampai-sampai perutku mulas. Bagiku, bukan telinga yang panas, tapi perut.

Aku tak punya perkataan balasan untuknya. Oke, aku akui, dia lebih hebat dari aku. Ya, tak bisa dipungkiri.

Tak masalah, aku akan balas dendam dengan cara lain. Cara yang dia pun tak akan bisa mendeteksinya.

Kuambil sikat gigi orang itu di depanku, dari dalam gelas berisi tiga sikat gigi. Aku tahu yang mana punya dia. Jangan tanya bagaimana.

Tak pakai pikir panjang, aku jejalkan kepala sikat gigi dia ke dalam ketiakku. Aku gosokkan dengan semangat membara. Betapa senangnya hati ini, sebuah luapan kegembiaraan yang entah muncul dari mana.

Jangan lupakan fakta bahwa hari ini aku tidak memakai deodoran. Lupa. Sebagai pria dewasa seberat 94 kilogram yang punya banyak aktivitas, sebuah keajaiban sampai malam ini tubuhku belum menguarkan aroma busuk. Maaf, aku berlebihan, bukan “busuk”. Bukan berarti aku merendahkan tubuhku ini, hanya saja aku tak bisa menemukan kata yang pas.

Gerakan menggosokku sangat bergairah, sampai-sampai aku merasa apakah aku masih normal jika melakukan hal ini. Dari ketiak kanan, aku jejalkan juga ke ketiak kiri. Masing-masing ketiak harus ambil bagian dalam pembalasan ini. Aku berharap partikel-partikel keringat yang tertinggal di ketiakku terambil oleh bulu sikat yang kupegang ini.

Aku rasa sudah cukup. Sudah cukup lama aku menggosok-gosokkan sikat gigi ini. Coba kulihat jam, sudah berapa lama aku melakukan ini? Oh, belum sampai semenit. Tak apa, sudah cukup.

Bagus, kulihat ada tiga helai bulu ketiakku di antara bulu sikat gigi orang itu. Sempurna. Wahai bulu ketiakku, pengorbanan kalian tak akan tersia-siakan. Aku jamin pembalasan dendam model begini tidak akan menyakitkan. Malah aku yang penasaran, seperti apa “rasa” sikat gigi itu sekarang.

Kutaruh lagi sikat gigi dia ke gelas di atas wastafel. Aku cuci tangan dan merapikan kemeja. Oke, saatnya aku pulang. Keluarlah aku dari kamar mandi dengan beban di perut telah berkurang.

Tanpa muka bersalah, wajah polos tanpa ekspresi—meniru judul lagu Lady Gaga, poker face—, aku keluar dari rumah. Baru sampai di teras, sudah memakai sepatu, aku tersadar barang-barangku masih ada di dalam, di kamar orang yang tadi mengejekku.

Terpaksa aku kembali dan bertemu muka dengan sang pengejek. Sebenarnya, aku enggan melihat wajahnya, khawatir aku kembali sakit perut. Entahlah, di wajahnya terdapat sesuatu yang mampu merangsang orang untuk menamparnya. Sesuatu itu adalah keadaan yang sangat dibenci oleh kaum bermuka pas-pasan seperti aku. Efek paling ringan selama ini yang kuterima ketika memandangnya adalah kentut beruntun lima kali, seperti rentetan bunyi kembang api di malam pergantian tahun.

Di kamarnya, aku melihat tasku digeledah oleh sang pengejek. Buku catatanku tergeletak di lantai. Novel yang belum selesai kubaca terbuka terbalik di ranjang. Tempat pensilku yang berisi penuh spidol dan pensil berwarna dalam keadaan terbuka di lantai, hampir semua isinya keluar. Kertas-kertas tugasku berserakan di lantai dekat meja komputer-nya. Kalau ada yang namanya pelecehan terhadap benda mati, maka inilah bentuknya.

Sang pengejek hanya tersenyum jahil padaku. Sialan, kutampar wajahmu baru tahu kau. Tak ada yang bisa aku lakukan selain tetap mempertahankan poker face-ku. Pelajaran yang kudapat tiga tahun lalu ketika aku di-bully oleh senior, jangan tunjukkan kelemahanmu —termasuk wajah idiotmu— atau kau akan menjadi sasaran emosi senior.

Kuambil dan kubereskan barang-barangku kembali, tanpa mendengar segala macam ocehannya. Aku tak mendengar sekalipun ucapan maaf dari mulutnya. Bah, memang ada saja bentuk iblis di dunia ini.

Sebelum aku keluar dari kamarnya, ia masih mengoceh. Ocehan tentang diriku. Sempat terbersit keinginan menyumpal mulutnya dengan kepalan tanganku. Tapi kalau kulakukan itu, giginya bisa rontok semua.

Pintu tertutup di belakangku. Aku memandang sekali lagi ke kamar mandi.

Hm. Oke, telah aku putuskan, akan aku tambahkan menu selangkangan ke sikat gigi tadi sebelum aku pergi.

******

Pernahkah di benak narablog dan pembaca sekalian terlintas untuk membalas dendam pada seseorang? Terlaksanakah? :mrgreen:

———————————————————————————————————————————————————–

Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.
Advertisements

125 Responses to “[Fiksi] Balas Dendam”


  1. 29 January 2012 at 22:29

    bwahahahahaha…. mantaaaap….
    walaupun *mungkin* fiksi, tapi dapat dibayangkan kekesalannya
    kalau soal mengerjai dan dikerjai, itu hukum alam yg normal bagi saia 😀
    laksanakan mas asop! laksanakan! hahahaha….

    • 30 January 2012 at 08:57

      Lho, pertanyaan saya yang terakhir gak dijawab….

      • 30 January 2012 at 11:05

        sudah dijawab, secara tersirat.
        itu pada baris ketiga
        😀

      • 30 January 2012 at 15:16

        Belom menjawab saya rasa. 😆
        Sudah terlaksana belom? 😀

  2. 29 January 2012 at 22:35

    asemik….aku malah sik mau muntah Sop…hueeekkkk….

    • 30 January 2012 at 08:58

      Aduh maap…

  3. 29 January 2012 at 22:39

    yaolo Sop
    gara2 baca ini ga bakal lagi deh aku ninggalin sikat gigi di kamar mandiku sekalipun
    bakal aku bawa masuk kamar molai hari ini
    takut ada yg iseng entah balas dendam
    beda tipis itu
    huek
    asoop …. *kethak*

    • 30 January 2012 at 09:00

      *menghindar dari kethakan Mbak Nique*

      • 31 January 2012 at 11:37

        oiya Sop
        ada yg blom dijawab

        pernah sih terlintas mau balas dendam sama orang yang udah jahatin
        tapi sayangnya engga terlaksana huehue ….

        ciri anak bae gitu emang yak hahaha

        • 1 February 2012 at 19:29

          Anak baik dilindungi Allah…

  4. 29 January 2012 at 22:43

    Ugh… Itu sikat gigi….
    Jangan balas dendam deh, gak baik… 😀

    • 30 January 2012 at 09:25

      Oke, saya turuti.

  5. 29 January 2012 at 23:19

    hahaha geli banget… 😛
    kalo gak suka ama orang itu, lain kali jangan main ke rumahnya aja kali ya… 😀

    • 30 January 2012 at 09:26

      Yah, namanya juga musuh dalam selimut, belom tahu kalo itu orang “jahat”….

  6. 30 January 2012 at 01:44

    Hiiiiiiiiiiii
    setelah baca ini pikiranku langsung bayangin macem2
    haduhhh,,,
    hehehheh

    • 30 January 2012 at 09:27

      *maap*

  7. 30 January 2012 at 04:39

    oooh 😐 pikiranku jadi kyk gini:
    si pengejek itu pacarnya (yg kepaksa sama “AKU” karena ortunya), sukanya ngece klo “AKU” agak… yah klo dikatakan, tidak seatletis Ade Rai, dan juga kekayaannya “AKU” lebih kecil dari si pengejek. dan kejadian sikat gigi ketek 😆 itu terasa baru 2 tahun tokoh “AKU” tinggal di rumahnya pengejek.

    balas dendam? sering sih kepikiran, tapi yg terealisasi ga ada, karena rata2 balas dendamku berupa jebakan2 yg kayak di Vietnam itu. pokoknya yg berhubungan dengan darah lah 🙂

    • 30 January 2012 at 09:29

      Hmmmm, pacar? Bukan, kurang tepat.

      Astaga…. balas dendam berdarah-darah?

      • 30 January 2012 at 20:18

        duh salah ya? tp itu pikiranku yg terlintas, soalnya jg lagi sebel ma temen cowokku yg sifatnya persis plek kayak musuh itu
        sayangnya ga tau rumahnya dimana, jadi ga bisa pasang strategi *sikat ketek* itu 😆

        looh masi untung dalam mimpi mas, klo kenyataan, satu kelas isinya uda tinggal aku aja 😀

        • 1 February 2012 at 19:43

          Waduh. Seram.

  8. 30 January 2012 at 05:34

    uweekh. sumpah, Bang, pembukaannya berhasil bikin enek ><

    • 30 January 2012 at 09:30

      Toss dulu!

  9. 30 January 2012 at 06:32

    Wah, vulgar penceritaannya, menarik, hehehe 🙂 Kok barang-barangnya bisa ada di kamarnya? hehehe 🙂

    • 30 January 2012 at 08:11

      ‘Kan memang lagi main ke rumah si musuh itu….

  10. 30 January 2012 at 07:22

    kejam … kau sungguh kejam sop 😀
    balas dendam yang benar2 kejam
    bakteri di ketiakmu akan menyerang gusinya dengan baik
    lalu dia akan merasakan sensasi luar biasa gila
    apakah dia masih hidup sekarang? 😉

    • 30 January 2012 at 08:10

      Huahahaha tanggapan yang bagus.

      Entahlah, gimana nasibnya, lha wong kisah ini ada di dunia lain.

  11. 30 January 2012 at 10:46

    HUAHUAHUAHUAHUAHAUHAUHA…cara yg keren banget untuk bales dendam
    Kepikiran untuk bales dendam? Jelas pernah.
    Gua punya orang yg gua benci dari SMP, dan gua rela lakuin apa aja untuk bikin hidup orang itu menderita…dan ya, gua bisa dikatakan berhasil

    Tapi seiring usia kita bertambah, kita jadi lebih banyak mikir
    Misalnya tadi pagi, gua tiba2 dapet kesempatan untuk membalas seseorang yg akhir2 ini terus2an bikin gua kesel
    Tapi waktu mau gua lakuin hal itu, tiba2 aja ada suara di kepala gua
    “You’re an adult, Keven. I think you should act like one.” (Dan ya, suara itu ngomong dalam bahasa Inggris)
    Akhirnya gua batal deh bales dendamnya…ya sudahlah, laen kali aja kalo dia bikin gua kesel lagi

    Sometimes it sucks to be an adult…

    • 30 January 2012 at 15:16

      Ini bukan saya lho Bang, ini bukan saya, ini murni cuma ada di otak saya, fiksi. :mrgreen:

      Hmmm… kadang kita pengen banget kembali ke masa kanak-kanak ya… 🙂

  12. 30 January 2012 at 10:49

    Alhamdulillah…nay bukan termasuk orang pendendam,, intinye siih cukup tau aza tentang perlakuan orang tersebut 🙂

    • 30 January 2012 at 15:15

      Oh…. eh tapi, sesuai kata orang, “easy to forgive but not to forget.” Apakah Nay seperti itu juga? 😀

  13. 30 January 2012 at 11:08

    Saleum,
    Wowww….. sangat2 kejam metode balas dendam seperti itu sop, hahaha….. aku jadi ngakak nih 😆
    tapi aku gak mendendam kok sop, jadi gak ada pengalaman seperti itu

    • 30 January 2012 at 15:14

      Hahaha, saya jahat ya, memberitahu salah satu ide untuk balas dendam kayak begini. 😆

  14. 33 wanspeak
    30 January 2012 at 11:45

    HAHAHA, USIL DAN JAHIL yang menyatu dalam sebuah upaya pembalasan dendam #lebay nih komentator.

    yang penting jangan suka mendendam , kalo mendendang tak apa2 meski berlagu melayu #nggak nyambung

    • 30 January 2012 at 15:13

      Ah gak lebay kok, saya suka komentar Mas Iwan… 😳

      Bener, daripada memendam dendam, bara api yang terus tersimpan itu gak bagus, harus segera dipadamkan. 🙂

  15. 30 January 2012 at 12:04

    sempurna.. bisa digunakan utk orang2 tertentu .. hehhe

    salam 😀

    • 30 January 2012 at 15:11

      Ada yang berminat mencoba menirunya? 😆

  16. 30 January 2012 at 12:30

    Jadi ya Sop, aku baca postingan kamu pas sambil makan siang. Ahahahahahaa..

    Aku pernah balas dendam, kecil-kecilan sih. Tapi sering 😀
    Biasanya sama cewek (-cewek) tak dikenal di angkot. Cewek (-cewek) yang duduk di pojokan ud gitu duduknya miring, padahal angkotnya penuh. Kan makan tempat. Ditegur baik-baik malah ngeyel. Biasanya kalau saya turun duluan, saya sikut dia kuat-kuat, minimal dia mengaduh, maksimal jatuh ke depan, deh. Lalu saya akan menoleh sekilas dan bergumam, “Maaf,” padahal dalam hati mah puas banget :))
    Kalau angkotnya kosong sih, terserah aja, ya. Mau tidur-tiduran juga saya nggak akan protes.
    Pernah juga sama perokok yang duduk di depan saya di kopaja. Kan asapnya ke belakang, tuh. Saya tegur baik-baik, dia marah-marah nggak jelas gitu. Ya udah, saya diem. Males banget berdebat sama orang yang udah tau salah kok malah galakan dia. Pas saya turun, saya injek kakinya kuat-kuat sambil pasang poker face itu, hihihihi..

    Ah gawat nih nulis di sini, kalau “korban” saya ada yang baca, gimana ya.. :p

    • 30 January 2012 at 15:10

      Waduh…. luar biasa. Saya gak nyangka wanita bisa semarah dan sedendam itu. 😆 Hahahaha..

  17. 30 January 2012 at 13:13

    Asop!! postinganmu nggilaniiiii >.< untuuung hari ini tidak ada jadwal makan siang

    walaupun tipe orang yg memegang asas "easy to forgive hard to forget" tapi ngga pernah tuh punya niat balas dendam, palingan sampai batas makimaki dalam hati aja hehehehe

    • 30 January 2012 at 15:10

      Huahahaha, maap… 😆
      Terus gak makan siang? 😀

      Bukan maksud saya membuat jijik… 😆

      • 30 January 2012 at 16:01

        Senin jadwalnya cuma makan dini hari sama makan malam

        tapi kan aku orangnya suka berimajinasi kebablasan, jd kebayang aja ituuu kalo sampe sikat giginya kepake sama si korban, ya ampuuuuuuuuunn, hueekkkkkk :-&

        • 30 January 2012 at 16:51

          Oooooooh, pola makanya (dietnya) begitu ya?

          Harusnya makan siang itu wajib, jangan sampe nggak. 😦
          Makan malem yang jangan banyak-banyak. 😦

  18. 30 January 2012 at 14:32

    balas dendam sih, enggak pernah ya. langsung aja marah ke orangnya kalo emang dia salah. tentang ceritanya, -,- kerasa sih jiwanya, tapi topiknya serem ih..

    • 30 January 2012 at 15:07

      Huahahaha, serem yah? :mrgreen: Maap deh, ini saya menulis apa yang ada di dalam pikiran saya aja…. 😆

  19. 30 January 2012 at 15:15

    mestinya jangan begitu caranya, begini…(rasanya gak baik deh berbagi ketidakbaikan?) enggak deh!

  20. 30 January 2012 at 15:35

    Kang Asop ini fiksi atau pengalaman sampean sendiri.. hayoooo..?

    tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya memakai sikat gigi itu wkwkwk

    • 1 February 2012 at 19:29

      Ini fiksi. Murni fiksi.

  21. 30 January 2012 at 16:05

    pernah sih.. tapi balas dendamnya nggak pake sikat gigi sih Sop..
    gile aje.. tapi mantep nih balas dendamnya..

    semoga cerita Asop TIDAK menginspirasi manusia manapun… AMIN!

    😀

    • 1 February 2012 at 19:27

      Hehe, maap deh kalo tulisan saya ini ternyata mengilhami teman-teman yang berminat balas dendam…

  22. 30 January 2012 at 16:05

    Sop, jijik banget! Hahhaa….tapi ini kece, the beautiful revenge. Hajar! 😀

    • 1 February 2012 at 19:26

      Saya aja yang nulis ini jijik sendiri, Mbak….

  23. 30 January 2012 at 17:06

    balas dendam? ya pernah sih bbrp kali niat balas dendam, dan terlaksana. hehehe…

    • 1 February 2012 at 19:44

      Luar biasa. 😀

  24. 30 January 2012 at 21:44

    sepertinya cerita “unik” di atas adala ekspresi mas asop klo pengen balas dendam, wah kasian sikat giginya ya, main2 ke ketiak dan selangkangan he3. tentu sebagai manusia biasa, pernah ingin balas dendam, tp senantiasa berusaha utk tidak. pun tidak ingin perasaan itu ada, diminimalisis walopun susah,pelariannya kadang2 iseng njahilin teman2 yg lain, ato makan dan tidur hahah a:D

    • 1 February 2012 at 19:43

      Eits, saya gak pernah melakukan itu lho ya.

  25. 30 January 2012 at 21:57

    Walah, aku bingung ini fiksi genre apa. Nggilani tenan.
    Eh, apa Mas Asop pernah melakukan seperti tokoh aku yang mas tulis?
    Wkwkwk… 😀

    • 1 February 2012 at 19:42

      Hmmmm.. ini fiksi aja. Hanya fiksi. 😆

      Nggak ah, saya belom pernah melakukan itu. 😆

  26. 30 January 2012 at 22:17

    dendam sama orang ? pasti perah.. tapi kalo ngebales ? saya kok selalu inget pesan orang tua saya. ngebales orang yang jahat sama kita ga harus dibales dengan kejahatan juga.. tapi baleslah dengan bikin dia sadar bahwa apa yang dia perbuat itu jahat.. itu pasti sangat menyakitkan ! Faktyanya baru 1 kali saja aku bisa melakukan apa yang diminta orangtuaku.. selebihnya aku ngga pernah bales 🙂

    • 1 February 2012 at 19:41

      Iya sih Bang… kayak Nabi Muhammad SAW, beliau nggak pernah membalas orang2 yang menyakitinya.

  27. 30 January 2012 at 22:37

    hhahha~ lucu nih orang, psikopat level SD ini 😀 kayaknya emang track record di-bully-nya udah panjang ya ni orang :O
    ini murni fiksi kan bang ? bukan pengalaman pribadi 😛

    • 1 February 2012 at 19:40

      Hahaha ini murni fiksi, bukan pengalaman pribadiiii

  28. 30 January 2012 at 22:53

    hoo aku sih nggak bales dendam sih
    aku cuma bakalan tidak menganggap dia ada ckikikik 🙂

    • 1 February 2012 at 19:35

      Huaduh, saya rasa itu lebih kejam.

  29. 64 Tina Latief
    30 January 2012 at 23:19

    aku jejalkan kepala sikat gigi dia ke dalam ketiakku.
    asop jorokkkkkk

    • 1 February 2012 at 19:34

      Mending mana sama diselipin ke selangkangan??

  30. 31 January 2012 at 07:11

    aku rasa sudah cukup. Sudah cukup lama aku menggosok-gosokkan sikat gigi ini. Coba kulihat jam, sudah berapa lama aku melakukan ini? Oh, belum sampai semenit. Tak apa, sudah cukup.

    Sy stop baca diparagraf di atas.
    NGGAK KUAT BACANYA….
    PLEASE DON’T TRY THIS AT HOME!!!!!
    berimajinasi saja udah bikin mual2, apalgi ada yg tega nglakuin kek gitu… KEJAAAM.
    *pengen-ganti-sikat-gigi-baru* 😦

    • 1 February 2012 at 19:33

      Iya, jangan sampe ini dilakukan beneran.

  31. 31 January 2012 at 11:10

    gubrak..tapi kalo sebelum sikat gigi kan biasanya sikatnya dibilas dulu sama air. hehehe

    • 1 February 2012 at 19:31

      Iya, memang. Apalagi ditambah rasa odol yang manis, jadi gak terasa.

  32. 31 January 2012 at 11:23

    serius nih, ini fiksi apa beneran?

    • 1 February 2012 at 19:30

      Fiksi. Hehe, maap ya kalo menjijikkan.

  33. 72 soyjoy76
    31 January 2012 at 13:36

    Cara balas dendamnya kocak… Kalau langsung dihajar aja bukannya lebih puas? hehehe

    • 1 February 2012 at 19:44

      BIsa sih, tapi nanti bisa berkepanjangan….

  34. 31 January 2012 at 14:03

    itu bagian keteknya jadi membayangkan keaseman yang luar biasa :DD

    sempat juga pernah balas dendam sih, tapi itu dulu 🙂

    • 1 February 2012 at 19:44

      Oh pasti dong, gak mungkin ketek tanpa deodoran gak asem….

  35. 31 January 2012 at 15:34

    wah bang usop balas dendamnya keterlaluan wkwkwkwkwk. . . gak sekalian buat cebok aja tu sikat gigi. . .

    • 1 February 2012 at 19:43

      Nah, maunya sih saya bikin begitu, buat cebok.. tapi itu sudah keterlaluan, bisa2 disensor.

  36. 78 Ahmad Alkadri
    31 January 2012 at 16:52

    Bahasanya keren, linguistik yang epik, tapi nggaktahu kenapa saya ketawa-tawa sejak paragraf pertama, wuakakakakakak 😆 😆 Balas dendam yang epik… wkwkwk

    • 1 February 2012 at 19:42

      Aduh, jangan ketawa kebanyakan, Mas Ahmad..

  37. 31 January 2012 at 18:15

    bang asoooopppp haloo 🙂
    gimana kemarin kopdaran sama anak bandung jadi?
    rame nggak?
    😀

    btw hueeekkss banget kalo ada orang yang balas dendamnya beneran kayak gitu.
    mending beli sikat gigi baru kalo tau. hahaha

    • 1 February 2012 at 19:40

      Jadi dong ah! Kamu kemana ajaaaa kok saya hubungi via komentar di blog kamu tapi gak ada kabarrrr!

  38. 31 January 2012 at 19:06

    aaahhh tumben neh si asop nulis fiksi.. keren juga 😀

    • 1 February 2012 at 19:40

      Makasih pujiannya…

  39. 31 January 2012 at 21:02

    wkkkkkwwwkkkkkkk…. sampe hampir lupa baca kata ‘FIKSI’ nyaa… yang pd punya musih, silahkan ganti sikat gigi setiap hari!

    • 1 February 2012 at 19:34

      Huahahaha, jangan anggap ini beneran dong…

  40. 31 January 2012 at 21:25

    Salam kenal buat semua,,saya bloger newbie 🙂

    • 1 February 2012 at 19:34

      Salam kenal!

      Sering-seringlah blogwalking ya.

  41. 31 January 2012 at 21:40

    wakaka nggilani… hoeks… modus balas dendam yang fantastik 😆

    • 1 February 2012 at 19:32

      Huahahaha, maap deh, kalo menjijikkan.

  42. 31 January 2012 at 22:39

    Hehehehe…. Jangan sampai pake menu yang terakhir itu!
    BTW, nice blog, Asop! 😀

    • 1 February 2012 at 19:50

      Iya ya, menjijikkan…

      Ah, blog Rizqi juga bagus, kok! 😀

  43. 31 January 2012 at 23:23

    kok kayaknya ini bukan fiksi deh? *ngikik*

    • 1 February 2012 at 20:34

      Ini fiksi Bang, serius!

  44. 1 February 2012 at 00:21

    Asop, sadis banget kamu bikin karakter. Tulisan ini pelampiasan kemarahanmu ya?

    • 1 February 2012 at 20:15

      Bukan Mas, ini murni hasil pemikiran mendadak pas ngelihat kamar mandi…

  45. 1 February 2012 at 10:28

    Whuaaaaa…
    Asop kejam nan sadiiiiiiiis…

    Tak akan pernah kuijinkan dirimu tuk menginjak kan kaki di kamar mandi ku Sop…hihihi..

    btw…diledekin apaan sih sampe dendam begituh….
    *langsung ngeri secara pas kopdar kemaren aku yang paling vokal meledek dirimu sebagai anak bawang…hihihi…*

    • 1 February 2012 at 20:30

      Huahahahahaha tenang aja Teeeeeh, saya gak dendam, ini ‘kan cuma fiksiiii ini murni karangan sayaaaa

  46. 1 February 2012 at 21:32

    huahahaha, mantab tuh acara balas dendamnya, kalo saya yang di gituin langsung aja browsing cari kata makian jawaban hahaha, biar seru say war nya, hahaha # ketawa 2 hari 😀

    • 3 February 2012 at 16:26

      Browsing dulu? Kelamaaan!

  47. 1 February 2012 at 22:58

    wakakakakakakkkkkk… saia ketawa saja membacanya, bener2 sadis 🙂

    • 3 February 2012 at 16:38

      Syukurlah kalo menghibur.

  48. 1 February 2012 at 23:57

    Hahahaha, berpikiran untuk balas dendam sih pernah, cuma gak yang model begini caranya…

    • 3 February 2012 at 16:35

      Model gimana dong? Damprat langsung?

  49. 2 February 2012 at 05:50

    100. Kasihan 😦
    Emang sikat giginya salah apa, Asop? 😛

    • 3 February 2012 at 16:27

      Sikat gigi adalah pengorbanan.
      Ingat, hidup ini penuh dengan pengorbanan

  50. 2 February 2012 at 07:26

    Wah, pembalasan tidak setimpal…
    Tapi nide idea…
    Eh, kalau soal balas dendam sih, biasanya saya tidak lakukan. Karena biasanya saya terlalu telat untuk mengambil keputusan untuk membalas dendam itu…

    • 3 February 2012 at 16:22

      Hm hmm *manggut-manggut* Saya ngerti kok, saat udah lama berlalu, kita baru terpikirkan metode pembalasan yang pantas untuk pengganggu kita.

  51. 2 February 2012 at 08:43

    wakakakak……ada2 aja feb… fiksi apa pengalaman pribadi hayoo??

    • 3 February 2012 at 16:19

      Ini murni fiksi, murni karangaaaan!!

  52. 2 February 2012 at 18:54

    tentu tidak. Saya kan tidak pendendam :mrgreen:
    hanya pemendam

    • 3 February 2012 at 17:10

      Awas lho, kalo dipendam terus bahaya ah.

  53. 3 February 2012 at 09:42

    ahahahahah,,, tulisan yang penuh dendam nih,,hahahah bagus bang, kocak… ternyata begini ya gambaran bang asop kalo marah sama orang,, wkwkwkwkwwkwkwk

    • 3 February 2012 at 16:59

      Nggak dong, ini cuma karangan.

  54. 3 February 2012 at 13:16

    Hahaha… maaf ijin ngakak dulu disini… Ada2 saja!
    Balas dendam? Seingatku aku belum pernah melakukannya… tapi rasanya perlu juga aku pikirkan hehehehe

    • 3 February 2012 at 20:58

      Ini Mbak Reni ya?

  55. 3 February 2012 at 14:46

    ya ampuuun… kejam nian! hahaha … tapi kalau ternyata si empunya sikat gigi itu bukan si pengejek gimana dong? hihihihi..

    balas dendam? pernah nggak ya? duh, kok lupa sih sop. kali waktu aku kecil, pernah ya

    • 3 February 2012 at 21:07

      Nggak mungkin, sang tokoh utama sudah tahu pasti, kok.

  56. 3 February 2012 at 14:47

    hihihi, pernah nonton Horrible Bosses, sop? di situ pegawainya kesel setengah mati sama bosnya, sampai-sampai dia ngerjai bosnya kayak gitu? 😆

    • 3 February 2012 at 21:08

      Huahahaha udah nonton dong! Itu film komedi luar biasa

      Tapi saya bikin ini bukan terinspirasi dari situ. Memang mirip sih….

  57. 9 February 2012 at 02:40

    ga akan kutinggalin sikat gigiku di kamar mandi kalo asop lagi mampir..jiakakakakakakaka…

    • 9 February 2012 at 23:21

      Oke, hati2 ya. 👿

  58. 10 February 2012 at 09:42

    Aku jarang gosok gigi loh, jadi kemungkinan besar aku tidak akan balas dendam 😛

    • 13 February 2012 at 15:53

      Maksudnya Dyka gak bakal kena balas dendam ya? 😀

  59. 28 February 2012 at 12:38

    😯 Ya Tuhaaaaaaaaaaaaaaannn…. *ambilsikatgigi* *cucipakealkohol*

    saya sering ‘dijahatin’ tapi ga lah ya kalo balas dendam.. takut engga setimpal, ntar jadi ga impas 😀
    biar Alloh aja yang balas, pasti adil 😉

    • 2 March 2012 at 15:09

      Makanya ya Ndi, kalo jadi orang kita gak boleh ngebikin jengkel orang… 😦


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Si Empunya Blog

Siapa saya? Monggo lihat halaman "Tentang Saia..." di atas. Tinggal klik! Mau meninggalkan jejak? Monggo klik halaman "Tinggalkan jejak..." di atas. Jangan lupa, nikmatilah hidup ini. ^_^

Hubungi saya di jejaring sosial

Kadang-kadang di blog ini saya menggunakan emoticon Parampaa. Silakan datang ke blog Bang Ova di sini. Dapatkan emoticon-nya di sini. HAJAR!!

Masukkan e-mail Anda di sini kalo mau dapet pemberitahuan postingan baru saya via e-mail

Join 976 other followers

Powered by FeedBurner

Saya sedang membaca ini


Tulisan Saya Berdasarkan Bulan

Arsip Tulisan

Ups, maap, kalau mau melihat arsip semua tulisan saya, lihat halaman di atas ya, yang "Arsip Tulisan" itu lho....

TIPS!

Kalo tulisan di blog saia ini terlalu kecil, monggo diperbesar. Untuk pengguna windows, tahan [Ctrl] sambil di-scroll mouse tengah. Untuk pengguna Mac, tahan [Cmd] dan tekan [+] atau [-].

Ga nyambung sih ini, bukan promosi, tapi kalo mau browser Safari, donlot di sini.

Blogroll: By Name


Abed Saragih "disave" |
Abi Harestya dan Bidadarinya |
Abu Aufa |
Abu Bakar "Bchree" |
Abu Ghalib |
Achmad Edi Goenawan |
Achoey El Harris |
Ade Kurniawati |
Adi Surya Pamungkas "bacelzone" |
Fan Adie Keputran |
Adya Ari Respati "abstractdoodle" |
Afra Afifah |
Ageng Indra |
Agry Pramita |
Agung Budidoyo |
Agung Firmansyah |
Agung Hasyim |
Agung Rangga "Popnote" |
Agung Yansusan Sudarwin |
Agustantyono |
Agyl Ardi Rahmadi |
Ahmad Musyrifin |
Akhmad Fauzi |
Alfi Syukrina |
Alid Abdul |
An Fatwa "Siho" |
Andi Nugraha |
Andi Sakab |
Andhika |
Andreas A. Marwadi |
Andrew Paladie |
Andrik Prastiyono |
Andyan |
Angga "SERBA BEBAS" |
Angga Dwinovantyo |
Anies Anggara |
Anindita |
Anistri |
Anita Rosalina |
Anto "Kaget" |
Anyes Fransisca |
Are 3DRumah |
Ari Artanto "Cah Gaul" |
Ari Muhardian "Tunsa" |
Ariana Yunita |
Arief Hartawan |
Arif "Bangkoor" Kurnia |
Arif Nurrahman |
Arif Sudharno Putro |
Ariyanti "Sauskecap" |
Arnolegsa Maupasha |
Arundati R.A. |
Aruni Yasmin Azizah |
Aryes Novianto |
Asep Saiba |
Asrul Sani |
Atha "kepompong" |
Aul Howler |
Awalul Hanafiyah "Masyhury" |
Baha Andes |
Baiq Fevy Wahyulana |
Bernadine Hendrietta |
Betania G. Rusmayasari |
Big Zaman |
Budi Nurhikmat |
Budi Prastyo "Kimbut" |
Calvin Sidjaja "Republik Babi" |
Cempaka Ariyanti |
Chocky Sihombing |
Citra "ceetrul" Hapsari |
Dadi Huang |
Danar Astuti Dewirini |
Daniel Hendrianto |
Daniel Maulana |
Deady Rizky |
Dede A. Hidayat |
Deny Marisa |
Depriyansyah Ramadhan "Iamcahbagus" |
Desita Hanafiah |
Destiana |
Desy Arista Y. |
Dewi Puspitasari |
Dewisri Sudjia "Desudija-DSK" |
Dhanika Budhi |
Dhewi Buana |
Dhimas Nugraha |
Didot Halim |
Dina Aprilia |
Dismas |
Ditya Pandu |
Doni Ibrahim |
Edda Nainay |
Efinda Putri |
Eko Ghesi Bardiyanto |
Elfa Silfiana |
Ella "Brokoli Keju" |
Erick Azof |
Erika Paraminda |
Erlin Fitriyanti |
Evan Ramdan |
Evet Hestara |
Fadhilatul Muharram |
Fahmi Nuriman |
Faisal Afif Alhamdi |
Faiza "MIDWIFE'S NOTES" |
Fandy Sutanto |
Fanny Azzuhra |
Fatra Duwipa |
Febe Fernita |
Felicia |
Ferry Irawan Kartasasmita "makhluk lemah" |
Fier "Pelancong Nekad" |
Fikri "Blue Zone" |
Fira "Fiya" |
Fitri Melinda |
Fitriyani |
Galih Gumilang "Gege House" |
Galuh Ristyanto |
Ghani Arasyid |
Gilang F. Pratama "Babiblog" |
Gitta Valencia |
Gugun "idebagusku.com" |
Gusti Ramli |
Hanif Ilham |
Hanny Aryunda Herman |
Hendrawan Rosyihan |
Hera Prahanisa |
Herni Bunga |
Herry "negeribocah" |
I Gede Adhitya Wisnu Wardhana |
Husfani A. Putri |
Ibnu Fajar "Ikky" |
Ilham JR |
Inge "Cyberdreamer" |
Intan Permata Kunci Marga |
Iqmal |
Irfan Andi|
Isdiyanto |
Ivan Prakasa |
Januar Nur Hidayanto "Yayanbanget" |
Jasmine Aulia |
Joko Santoso |
Joko Setiawan |
Juhayat Priatna |
Julianus Ginting |
Kang Ian . info |
Kang Ian . com |
Karina Utami Dewi |
Khalid Abdullah |
Khalifatun Nisa |
Kuchiki Rukia |
Lailaturrahmi Sienvisgirl Amitokugawa |
Lambertus Wahyu Hermawan |
Lerryant K. |
Lina Sophy |
Lucky DC |
Maghfiraa Alva |
Marchei |
Mario Sumampow |
Mas Ardi |
Mas Bair |
Mas Yudasta |
Mikhael Tobing |
Mirwanda |
Miswar Rasyid |
Mochammad AHAO |
Mohamad Husin |
Muhammad Abdul Azis |
Muhammad Hamka Ibrahim |
Muhammad Ihfazhillah |
Muhammad Riyan |
Muhammad Saiful Alam |
Muhammad Zakariah |
Nadia Fadhilah Riza |
Nanang Rusmana |
Nandini R.A. |
Necky Effendi |
Ninda Rahadi |
Nindy Ika Pratiwi |
Novina Erwiningsih |
Nur Azizah |
Nuri |
Perwira Aria Saputra |
Pipin Pramudia |
Pratita Kusuma |
Puji Lestari |
Pungky "PHIA" Widhiasari |
Putri Chairina |
Qori Qonita |
Radinal Maruddani |
Rahad Adjarsusilo |
Rahmat Hidayat |
Randi Rahmat |
Rasyida |
Regina |
Reisha Humaira |
Rie "Cerita Rie" |
Richie Lanover |
Rif'atul Mahmudah |
Rina Sari |
Rini Andriani "Athamiri" |
Riza Saputra |
Rizki "Hitam Putih Jingga" |
Rizki Akbar Maulana |
Ronie "Ravaelz" |
Rowman |
Rudi Wahyudi |
Ruri Octaviani |
Saipuddin Ar |
Septirani Chairunnisa Kamal |
Shafiqah Adia Treest |
Silvi Mustikawati |
Surya "Javanes" Pradhana |
Tasya Myanti |
Thyar |
Tiffany Victoria "Tiffa" |
T I W I |
Tony Koes "Macsize" |
Triana Frida Astary |
Triyani Fajriutami |
Uka Fahrurosid |
Ummu El Nurien</a. |
Upik "Pemburu Konstruksi Makna" |
Wahyu Asyari Muntaha |
Wahyu Nurudin |
Wahyu Putra Perdana |
Wendy Achmmad |
Widyan Fakhrul Arifin |
Wien Wisma |
Wildan Lazuardi |
Wiwin Siswanty |
Wiwing Fathonah Pratiwi |
Yori Yuliandra |
Yuli Anggeraini |
Zuli Taufik |

I’m a Liverpudlian!



%d bloggers like this: