[Fiksi] Makhluk Imajinasi

Malam ini adalah malam yang indah. Bulan begitu besar, tergantung di atas sana. Mungkin inilah bulan purnama.

Bulan yang aku tatap sekarang ini sungguh indah. Cahaya bulan terasa amat terang, membasuh tubuhku dengan cahaya keperakan. Malam ini bulan berpendar dengan riang, memancarkan kekuatan yang serasa mampu membangkitkan jasad di bawah timbunan tanah pemakaman.

Aku memandang kakiku, membayangkan dari dalam tanah di bawah sana akan muncul tangan-tangan kurus yang merenggut pergelangan kakiku. Aku bergidik ngeri. Imajinasi dalam benak bisa terasa amat nyata jika kita membayangkan sesuatu yang tak kita sukai.

Mayat. Kerangka manusia. Kuburan. Bangkit kembali. Itu semua adalah cerita horor yang dulu bisa membuatku tak bisa tidur semalaman.

Bagaimana sekarang? Tak ada bedanya. Aku masih saja tak bisa tidur dengan nyenyak kalau membayangkan hal-hal menyeramkan semacam itu. Sebut aku penakut, tak masalah. Toh hanya aku yang tahu kekuranganku ini.

Di malam yang tenang ini, aku seharusnya ada di dalam ruangan sana bersama kolega-kolegaku, merayakan keberhasilan kami dalam proses akuisisi perusahaan. Kami mengadakan pesta kecil-kecilan di salah satu pondok pantai milik salah seorang atasanku. Pondoknya cukup besar, kira-kira seluas enam ratus meter persegi. Pondok ini sangat pantas untuk ditempati setelah pensiun, menikmati hari-hari tua dengan pemandangan pesisir pantai yang cantik.

Aku terduduk di luar sini, sendirian memandangi bulan dan laut. Dari niatku keluar ruangan yang semula  hanya ingin mencari udara segar, sekarang aku enggan masuk lagi. Sensasi pasir yang terasa lembut di antara jemari kaki dan semilir angin segar mampu menyadarkanku dari mabuk. Jika aku kembali ke dalam sana, inderaku akan kembali tumpul akibat minuman keras.

Pasir putih, laut, cakrawala terbentang nun jauh di sana, dan bulan purnama. Sungguh sempurna. Bahkan dalam keadaan gelap, jauh dari lampu seperti di posisiku ini, cahaya bulan mampu menerangi pandanganku.

Aku berada kira-kira lima puluh meter dari pondok. Cahaya lampu pondok tak sampai ke tempatku, tapi seperti yang aku bilang tadi, bulan membantuku. Aku melihat sesuatu di permukaan air, cukup jauh dari posisiku. Ada yang mengambang. Seperti bola, sebuah benda bundar. Tak hanya satu. Ada banyak. Meski tak begitu jelas, aku yakin benda-benda itu bergerak secara perlahan mendekat ke arah pantai.

Ketika aku akan menghitung jumlah benda-benda itu, tiba-tiba suasana meredup. Cahaya bulan tertutup awan. Gelap seketika. Aku bahkan tak bisa melihat anggota tubuhku. Insting pengecutku menyuruhku berdiri dan segera kembali ke pondok. Namun, alih-alih melesat pergi mendekati cahaya, aku malah berdiri dan hanya terdiam, terpaku di posisi yang sama.

Aku ingin menunggu. Rasa penasaranku mengalahkan rasa takut yang juga membuncah.

Kegelapan tak berlangsung lama, tak sampai satu menit. Awan seperti bergeser ditarik oleh sebuah kekuatan tak terlihat, menerangi pantai kembali dengan cahaya keperakannya.

Benda-benda tadi semakin dekat ke pantai. Aku merasa benda-benda tersebut bergerak lebih cepat saat kegelapan tadi.

Setelah terkena cahaya bulan, tampaklah jelas apa benda itu. Kepala. Banyak kepala. Itu bukan kepala manusia. Itu kepala suatu makhluk asing. Makhluk itu bertelinga runcing. Kulitnya berlendir, tampak licin seperti ikan. Hidungnya rata, dan matanya… mata yang… mata yang bahkan mampu membuat orang dewasa tak bisa tidur setelah menatapnya. Mata itu hampa, mata yang kosong menatapku, seakan-akan aku melakukan kesalahan pada mereka.

Kini kepala-kepala itu bergerak lebih cepat ke arahku— ke arah pantai. Aku melihat lebih dari belasan kepala. Semua sama, dengan bentuk yang hanya ada dalam fantasi penggemar horor.

Aku perlahan melangkah mundur. Kakiku sulit kugerakkan. Rasa takut menguasai diriku. Seketika udara di sekelilingku terasa menusuk kulit. Amat dingin. Mendadak aliran hawa dingin perlahan menerpaku. Hawa ini sangat pekat, paru-paruku terasa sesak. Ini bukan angin dari laut, seakan-akan terkaman udara ini berasal dari bawah pasir yang aku pijak.

Saat aku bimbang apakah aku akan langsung kabur menuju mobilku atau memperingatkan orang-orang di dalam pondok, seseorang memanggilku. Itu rekanku. Tanpa bimbang aku langsung lari melesat ke arahnya, ke arah pondok. Aku tak menoleh ke belakang, berharap kepala-kepala itu hanyalah imajinasiku yang berlebihan akibat pengaruh minuman keras.

Ketika aku sampai di pondok, aku menoleh kembali ke arah bibir pantai. Tak ada apa-apa di sana. Permukaan laut tenang, tak terlihat ada riak-riak yang menandakan suatu makhluk baru saja masuk ke dalam air. Kepala-kepala tadi seakan hilang begitu saja seperti hilangnya hawa dingin yang tadi kurasakan.

Makhluk itu sudah tak ada, tapi bulu kudukku masih meremang. Aku merasakan tetesan keringat dingin di keningku. Ritme jantungku berpacu mengimbangi rasa takut yang masih bergolak.

Tiba-tiba, lampu di seluruh pondok mati.

Kegelapan total. Bulan kembali tertutup awan. Aku tak bisa melihat.

Lagi-lagi Hawa dingin ini. Dan suara. Aku mendengarnya. Langkah mendekat seseorang. Atau sesuatu. Bukan langkah kaki, itu suara bagian tubuh yang diseret. Suara-suara, lebih dari satu. Semakin mendekat ke arahku…

******

Inspirasi kisah ini datang ketika saya melihat sebuah foto bulan purnama di tengah gelapnya pantai… :mrgreen:

———————————————————————————————————————————————————————

Gambar di atas saya ambil dari sini, sini, dan sini. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi oleh hak cipta, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

110 Comments

  1. gaya berceritanya asop ini deskriptif yaa,.
    kalau aku cenderung naratif,.. suka susah jadinya kalau mau masukin deskripsi tempat/suasana ke cerita.. hehehe

    Reply

  2. Kini semua orang seantero pembaca blog ini tahu, bahawa dirimu penakut kan? Hehehehe 😀
    Bagus juga cerita khayalannya, bikin ngeri membayangkan kepala itu menggelinding mendekat kearahmu. HOROR.

    Reply

  3. Foto yang terakhir ngerrriiii…

    Jadi makhluk-makhluk aneh itu sudah tak lagi di pantai, melainkan sudah melesat ke pondok??? Whaoww…

    Reply

  4. Lagi-lagi Hawa dingin ini. Dan suara. Aku mendengarnya. Langkah mendekat seseorang. Atau sesuatu. Bukan langkah kaki, itu suara bagian tubuh yang diseret. Suara-suara, lebih dari satu. Semakin mendekat ke arahku…

    Ini pasti pas laba-laba raksasa datang mendekat, yak? Justru itu suara langkah kaki, tetapi memang seperti suara bagian tubuh yang diseret karena pan laba-laba punya kaki banyak. Haha. 😛

    Ah, curangnya. Tengah bulan ini gak dapat lihat purnama. Mendung melulu di sini. Berbahagialah dikau, Bung. 😀

    Reply

    1. Duh, akhirnya ke sini juga, udah berapa tahun gak pernah ke sini, Mas? 😛
      *rasanya dulu tahun 2011 dan 2010 saya terus yang berkunjung*

      Reply

  5. Kalau kamu bilang bulan di pantai yang gelap, bayangan saya adalah salah satu cover Goosebumps yang judulnya Pantai Mati, kalau tidak salah.

    Eh, mau tanya. Btw buku yang sedang kamu baca yg Heartstopper itu ceritanya tentang apa ya? Kok rasanya aku pernah nonton film dengan judul yg sama.

    Reply

    1. Wah maap Mas Wahyu, baru saya bales.
      Itu ceritanya tentang misteri pembunuhan di sebuah kota kecil, setting-nya di Amerika. 🙂
      Saya gak jadi baca itu sampe habis, Mas, soalnya alur ceritanya terlalu lambat. Terlalu banyak kata2 yang menurut saya gak penting. Terlalu berbelit-belit, lama gak sampe ke tujuan utamanya, yaitu misteri pelakunya. 😐

      Reply

  6. wahhh dari gambar ke dua saja sudah serem, ini yang terakhir hiiiiiiiiyyyyyyyy
    bulannya keren, sekeren aku…haha

    Reply

  7. Hadoohhh kok serem banget sih foto2nya….. apalagi yang terakhir… aihhh… itu bisa bikin gak bisa tidur atau ketakutan ke kamar mandi pas malam hari hahahaa..

    Reply

  8. hadeuh.. Sop.. gue gak nyangka elo adalah Horror writer begini.. 😯 but it’s quite good bro, it’s been a while since the last time I read horror writings kayak Goosebumps (cemen abis bacaan Horror gw) :mrgreen:

    Reply

  9. suara itu semakin mendekat, aku semakin merasakan ketakutan, namun, tiba2 suara itu menghilang, hening, hening sekali, dan … pada detik selanjutnya, tiba2, “byurrrr …. tidur aja lo, bangun udah siang tuh,” …. ternyata ngimpi, hihihi, sory sob, ikut bikin post disini, biara gak serem, heheheh .. PIss

    Reply

  10. bilangin sama tokohnya buruan cabuuuuuuuttt dari situuu… hadeeuh kebawa cerita nih!
    Diiiih itu gambar yang terakhir PR banget deh! malem2 pulak aku bacanya, ga bener niiih…..
    bakal ada lanjutannya ga? kalo ada jgn pake foto ya Sop, mbikin jantungan! hihihi…

    Reply

  11. Hehehe salam kenal kang asop,,,lagi berjalan2 menelurusi blog orang2, ternyata nemu blog yang semenarik ini 😀 Honestly, you almost the same with me. Sama2 gak suka film horror (parno beberapa hari setelah nonton film horror), tapi saya juga suka banget loh sama insidious. Jadi pingin nonton sisnister juga ^^ ; sama2 pingin bikin perpus dirumah. Sama2 punya imajinasi yang aneh2 untuk diceritakan, tapi bedanya,,,saya belum banyak membaca, bahkan novel pun gak suka (cuma suka sama angel and demonsnya Dan Brown aja)hihi plus, saya juga blum seahli bung asop dalam menuliskan imajinasi. Baru mau mulai mencoba rajin membaca dan menulis. Beruntungnya bertemu blog ini, jadi bisa sedikit banyak belajar. Salam kenal ya… Btw, blog saya masih direnovasi habis2an, jadi kapan2 klw udah selesai direnovasi mampir ya…. *panjang banget ini komennya.hahah

    Reply

    1. Heeeey makasih, makasih, kamu udah mau menyampaikan pendapat kamu. 🙂

      Saya senang kalo komentarnya panjang-panjang. 😳 Makasih ya, kamu udah berkunjung ke sini. 😀

      Tapi…. link blog kamu mana…? 😦 Saya ga bisa main ke sana…..

      Reply

      1. Maaf maaf baru sempat membalas…aku ganti alamat blog…hehe ini blog aku yang baru deltaileana.wordpress.com…gak sering update sih gegara kerjaan 😛

        Bikin cerita2 fiksi yang aneh2 lagi dong *request* 😀

        Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s