[Fiksi] Takut, Sesal, Marah

Lari.

Berlari. Ia terus berlari. Berlari bagaikan dikejar oleh sesuatu yang tak ingin dilihatnya. Atau dijumpainya. Sesuatu yang dibencinya, sesuatu yang tak ia harapkan untuk ditemuinya.

Bisakah sesuatu itu adalah kenyataan? Ataukah, sesuatu itu adalah dosanya di masa lampau? Bisa juga sesuatu itu adalah kematian.

Bisakah sesuatu itu diubah menjadi seseorang? Ya, seseorang. Mungkin ia tak mau melihat seseorang, seseorang yang amat dicintainya, amat ditakutinya, amat dirindukannya, atau bahkan amat ia benci. Tak ada yang tahu. Ia terus saja berlari dan berlari dengan kencang menjauhi segala sesuatu.

Ia seakan berlari di ruang kosong, tak berisi apapun selain dirinya. Waktu terus berjalan, namun seakan kehampaan terus menemaninya. Tak ada makhluk lain selain dirinya dan kehampaan. Staminanya seakan tak terbatas, nafasnya tak terputus, dan kaki tak pernah lelah. Dunia seakan mendukungnya untuk terus berlari.

Tapi, berlari dari apa?

Jantungnya berdegup dengan cepat, seolah ia merasa tak bisa berhenti berlari selama jantungnya masih berdetak.

Kini, larinya semakin pelan. Semakin pelan, hingga akhirnya ia berhenti. Nafasnya memburu, tubuh membungkuk, dan keringat deras mengucur dari semua lubang pori-pori di kulitya.

Kemudian, ia menangis. Air mata keluar begitu saja, membaur dengan keringat di wajahnya. Tangisannya begitu hebat, air matanya begitu deras. Pertahanannya seolah runtuh. Tembok baja yang mengelilingi hatinya hancur. Serbuan ingatannya dari masa lalu menyeruak masuk tak terbendung, membuat tangisannya semakin menjadi-jadi.

Badannya bergetar hebat, bukan akibat kelelahannya berlari, tapi karena begitu hebatnya perasaan yang ia rasakan. Amarah, kesedihan, keputus-asaan, kerinduan, kebencian, dan ketidakberdayaan.

Dalam tangisan dan ratapannya, ia terduduk. Nafasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan. Kedua tangannya erat melingkari tubuhnya sendiri. Ia jatuh ke tanah. Berbaring seperti anak kecil ketakutan. Tak berdaya, putus asa.

*****

Akhir-akhir ini saya lebih suka segera menuliskan ide yang ada di benak ini… :mrgreen:

———————————————————————————————————————————————————————

Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi oleh hak cipta, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

53 Comments

  1. wow kayaknya pernah mimpi kayak gini. tapi pas itu lanjutannya depanku muncul stasiun kereta api, suasananya malem banget. dan setelah itu cuma natepin kereta2 yg lewat aja 😦

    Reply

  2. wah, rasanya seperti mimpi saya jadi orang kelima yang komen disini
    biasanya dapetnya diurutan 100an keatas…

    wah, Bang Asop lagi lari dari apa nih?
    biasanya kan tulisan tuh menceritakan apa yang sedang terjadi..
    jadi penasaran,…jangan2 dikejar utang lagi *gubrak*

    NB: JANGAN PUTUS ASA!

    Reply

  3. fiksinya bagus. Lebih baik segera menuliskannya kan, dari pada lupa menuliskannya di blog. Akhirnya hanya jadi kenangan saja kalau lupa.

    Reply

  4. Waaah, temanya mellow, hahaha 😛

    Iya, bener bgt tuh. Ketika ada ide memang sebaiknya segera ditulis, atau dicatat deh supaya nggak lupa 😛

    Reply

  5. “Tapi, berlari dari apa?” – Jadi keinget suatu hal.

    Jika kita tidak tahu kita lari dari apa, bisa jadi ada energi tertentu yang memberi jarak antara kita dan “sesuatu tersebut”. Kita tidak berlari, tapi tergeser jarak aman akibat pergerakan “sesuatu tersebut”. Lets call it : Magnet Kutub Utara dan Selatan 🙂

    Reply

    1. Nggak tahu, Pak. 🙂
      Percuma kalau hanya membukukan karya yang ada di blog. Rugi, ngapain ngeluarin duit untuk sesuatu yang bisa dibaca dengan gratis di blog?

      Reply

  6. *baca sambil manggut-manggut*
    *mencoba menangkap isi maknannya*
    Mmm… kesimpulanya, hal paling menyakitkan tidak berasal dari fisik, tapi hati *otak galau*

    Reply

  7. Berlarilah sepuas hatimu, sekuat ragamu. Tapi, setelah itu berbaliklah dan hadapilah! Takkan melegakan hanya sekedar berlari, namun hadapi dan selesaikanlah, itu baru pemenang!

    (petuah dari Ms. Choco 1700-1789)

    Reply

  8. Ugh, iri deh, jadi pengen nulis lagi. Ini keren bangetlah, it’s up to our own interpretation orang ini berlari dari apa atau siapa. We can even relate to ourselves, sebenernya kita lagi melarikan diri dari sesuatu nggak, and is it a bad thing or can it be a good thing?

    Hehe cek blog fiksi saya juga dong Kang di http://imaginadine.blogspot.com hehehehehehehe. 😛 #promosi

    Reply

  9. wah lama gak menyapa nih……. hai 🙂
    bahasa sungguh imajinatif
    i like it 🙂

    Blogku uda berganti dgn yg skrg bro

    Reply

  10. takut..sesal..marah selalu datang pada diri kita…
    tetapi rsa itu akan hilang dengan kesabaran ketawaqalan dan ketabahan dan akhiri semua itu dengan senyuman 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s