[Fiksi] Konfrontasi, Terbunuh, dan Terkoyak

Anton dan Tobias. Bukan nama satu orang seperti tokoh utama dalam film Idle Hands yang diperankan oleh Devon Sawa. Dua nama itu adalah nama dua orang yang saat ini sedang bersitegang di sebuah rumah di pinggiran kota. Ini adalah rumah Tobias, sebuah rumah model lama dengan halaman yang amat luas jauh melebihi luas bangunannya. Tiga anjing Rottweiler yang tampak ganas selalu bersiaga di halaman rumah, menjaga dari apapun makhluk hidup yang mencoba masuk ke dalam rumah.

Dua pria dewasa ini sebenarnya saling berteman, mereka satu hobi, sering keluar makan malam bersama, dan mereka saling menghargai satu sama lain. Baru akhir-akhir ini hubungan mereka rusak akibat perselingkuhan. Ya, lagi-lagi kembali ke masalah wanita. Istri Anton main gila dengan Tobias, entah siapa yang memulai.

Anton mengetahui kebenaran pahit ini dari penuturan beberapa temannya yang melihat istri Anton, Bella, berjalan bergandengan tangan dengan mesra di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika itu Anton sedang dinas di luar kota, berada sembilan ratus kilometer dari kota tempat ia tinggal. Tak ada orang yang menyangka bahwa ternyata sang istrilah yang berselingkuh.

Maka, saat ini, Anton ingin membuat perhitungan.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan hal ini?” ujar Anton, setengah berteriak. Ia merasa dikhianati, seperti ditikam dari belakang oleh orang kepercayaannya.

Tobias menjawab, “Maafkan aku, Anton. Sungguh, aku minta maaf. Aku tak bermaksud merusak pertemanan kita.”

Tobias mencoba bersikap tenang. Itu sulit, mengingat pisau dapur yang sedang dicengkeram Anton saat ini. Sungguh bodoh, pikir Tobias, mengapa ia membawa Anton ke dapur? Tobias tak mengira sama sekali Anton akan datang ke rumahnya secepat ini untuk meminta penjelasan. Konfrontasi ini sungguh di luar persiapannya.

Anton tak habis pikir. Untuk apa selama ini ia berbagi cerita, berbagi tawa, dan berbagi kesedihan pada pria jelek di hadapannya ini? Ternyata memang tak mudah mencari teman yang bisa dipercaya.

Pisau Anton terangkat, mengarah ke Tobias. “Kau… Selama ini aku percaya padamu, tapi kau berkhianat!” kata Anton. Ia mendekat selangkah ke pria yang ada di hadapannya. Tobias mengangkat tangan.

“Tenang, Bung, tenang. Singkirkan pisau itu, dan kita akan bicara baik-baik. Aku akan beri penjelasan.”

“Persetan kau, bajingan! Kau merebut istriku!”

“Anton, bukan salahku kalau istrimu lebih memilih aku.”

“Kau tak pantas bicara begitu, pecundang!”

Harga diri Tobias bergetar. “Kau yang pecundang, Anton, tak dapat mempertahankan istrimu sendiri,” ujar Tobias.

Tubuh Anton bergetar sesaat, dan sejurus kemudian ia menyabetkan pisaunya ke arah Tobias. “Kurang ajar!”

Tobias berhasil menghindar dari ayunan pisau pertama. Sabetan kedua dan ketiga yang tak beraturan juga berhasil ia hindari. Mereka berdua kembali menjaga jarak. Dua pria ini bukan petarung ataupun orang yang pernah belajar bela diri. Jangan harapkan pergulatan yang apik dari mereka.

“Itu salahmu, Anton. Artinya ada yang kurang dari dirimu,” kata Tobias. Ia mengganti strategi, ia akan menghasut Anton hingga batasnya.

Raut wajah Anton berubah semakin gelap. Niat menghabisi pria di depannya ini sudah tak bisa dihentikan. “Seharusnya aku tak mempercayaimu, pria brengsek.”

Bibir Tobias membentuk seringai licik, lebih cocok disebut seringai merendahkan. “Aku heran, mengapa Bella mau menikah denganmu. Bella begitu cantik, ia makhluk yang begitu indah, tak pantas bersamamu.”

Cengkeraman pisau Anton semakin erat. Urat-urat bertonjolan di lengannya.

“Biar kukatakan langsung, Bung. Aku sudah menidurinya.”

Cukup sudah.

Anton meledak. Sekalipun kemarahan akan menyebabkan orang bertindak tak kenal ampun dan di luar logika, Anton menyerang Tobias membabi buta. Ia mengayun-ayunkan pisau yang dipegangnya. “Bella adalah istriku! Bella mencintaiku!” jeritnya. “Dia tak akan selingkuh dengan pria seperti dirimu—“

Tobias berusaha mengelak dari semua sabetan pisau Anton. Tubuhnya membungkuk, bergerak ke samping, dan memanfaatkan meja makan untuk mengambil jarak dari Anton. Berkelahi di ruangan penuh barang seperti dapur membawa kelebihan dan kekurangan. Sepintas dengan ujung matanya, Tobias melihat pisau lain di dekat wastafel. Dengan sedikit gerakan mundur sebagai pancingan, Anton mendekat ke arahnya, menjauhi wastafel. Memanfaatkan itu, ia segera berlari menuju pisau tersebut dan menyembunyikannya di balik pinggang. Sudah saatnya mengakhiri ini, pikirnya.

Sebuah tusukan dari depan dilayangkan Anton ke arah perut Tobias. Sambil menghindar ke samping kanan Anton, Tobias memegang lengan kanan Anton dengan lengan kiri. Dengan cepat, lengan lain Tobias yang memegang pisau berayun tepat ke arah leher Anton.

Amarah sengsara pria itu berakhir dalam jeritan menggelegak. Pisau di tangan Anton terlepas. Satu lengan Anton mencengkeram luka di lehernya. Tobias melompat mundur, menjauhi satu ayunan tinju Anton yang tak terarah, dan sekali lagi mengayunkan pisau ke arah Anton. Pisau tersebut mengiris lengan Anton dalam-dalam. Lalu tungkainya. Anton jatuh telentang, mencengkeram luka di lehernya.

Tobias mengangkat lengan dan menghunjamkan pisau dapur itu ke perut Anton. Tapi dengan kekuatan yang mengejutkan, Anton mendorongnya menjauh, berguling, lalu bangun dan berlutut. Kursi-kursi meja makan berantakan. Anton berusaha bangkit berdiri dengan bertopang pada meja makan, namun ia ambruk kembali ke lantai membawa serta meja makan tersebut. Darah mengalir di sela-sela jemari yang mencengkeram lehernya yang robek. Tobias menyerang Anton beberapa kali lagi, tapi Anton merangkak cepat di luar kemampuannya, menuju pintu keluar ke halaman belakang. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Anton membuka pintu dan jatuh di halaman belakang.

Tobias tak bersusah payah mengejarnya. Anton berdiri, berjalan menjauh beberapa langkah, dan kembali jatuh terduduk. Tobias perlahan mendekat. Lalu berhenti. Ia mendengar geraman. Geraman itu semakin dekat. Ia bergegas mundur menjauhi tubuh yang mulai kejang-kejang itu.

Ia belum memberi makan anjing-anjingnya hari ini. Saat ini sore, ketiga anjingnya pasti sangat kelaparan. Dan lagi, ia memang tak mengikat ketiga Rottweiler-nya.

Suara langkah-langkah berderap cepat mendekat. Anjing-anjing Rottweiler-nya menyerbu lapar, mengendus aroma daging dan darah segar. Tobias berbalik ke rumahnya, masuk, dan menutup pintu. Anjing-anjingnya mengerubuti Anton, yang tampak begitu beringas sesaat lalu, sekarang hanya berupa daging yang tercabik-cabik.

Tobias mengamati melalui kaca pintu, puas, mengawasi pria itu mati. Anton melawan— ia berusaha bangkit dan berusaha menghantam anjing-anjing itu. Tak ada gunanya. Satu anjing Rottweiler jantan yang besar menggigit bagian belakang leher Anton dan mengguncang-guncangnya. Sesaat kemudian Anton terkulai.

Hewan-hewan itu menyeretnya menjauh keluar dari pandangan Tobias, untuk berpesta. Tubuh Anton menghilang di balik mulut-mulut menyeringai berlumuran darah.

Sisa tubuhnya akan kubereskan nanti, Pikir Tobias. Ia menatap penjuru dapur dan ruang makannya yang berantakan. Ceceran darah di lantai dan perabotan. Kursi dan meja rusak, terbalik. Saatnya membereskan kekacauan ini.

*****

Tidak, Anton di atas bukan Anton kulit putih yang ada di kisah “Perkelahian Bebas”. Ini Anton yang lain. :mrgreen:

Dan saya mohon maap kalau cerita dalam kisah ini terlalu vulgar, terlalu menjijikkan bagi beberapa narablog sekalian. 😐 Maap, judulnya terlalu vulgar. Maap, saya hanya menuangkan imajinasi saya. 😐

———————————————————————————————————————————————————————

Gambar di atas saya ambil dari sini, sini, dan sini. Peta dari Semarang ke Balikpapan saya buat berdasarkan peta dari Google Maps. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi oleh hak cipta, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

96 Comments

  1. lagi suka nge-fiksi ya sob,
    itu pisaunya wow, tapi kurang serem..
    coba kalau pakai samurai …syutttt…
    blood n blood

    Reply

  2. wah … semakin bisa membuat pembaca “menghabiskan” satu cerita :mrgreen: asop semakin pandai dengan kata-kata euy …

    btw … ini kebetulan saja atau melihat fenomena selingkuh yang dilakukan oleh kaum urban? …

    jangan meminta maaf sop atas kata-kata yang fulgar … belum membaca buku djenar maesa ayu yah :mrgreen: … dalam kesustraan kalimat seperti itu diperbolehkan … kamu sudah baca Tom Sawyer-nya Mark Twain belum? disitu terdapat banyak sekali kata-kata penghinaan terhadap kulit hitam (Nigger dan sebagainya) … tapi kata itu kan dibutuhkan untuk “menggambarjkan keadaan saat itu” … walau kontrofersi tapi toh jadi referensi sastra toh 😀

    Reply

    1. ..wow…Mark Twain… belom, saya belum pernah baca… 😦

      Kalo memang ini kebetulan mirip seperti fenomena selingkuh kaum urban, itu hanya kebetulan. Sungguh, saya membuat ini tiba2 aja keluar. 🙂

      Reply

        1. Ooooh ya? 😀 Saya lupa, saya pikir kamu orang Bandung asli… :mrgreen:

          Itu bener2 kebetulan, saya milihnya Balikpapan. Saya iseng menghitung jarak Semarang dengan skala yang ada, hampir 900 km. 😀

          Reply

          1. Tuh, sama dong ama saya, gak jelas. 😆

            Ayah saya orang Palembang, tapi lahir di Martapura, Kalimantan. Ibu saya lahir di Bandung, besar di Bandung, tapi kedua orang tuanya (nenek-kake saya) dan buyut2nya orang Semarang. Lha saya, dari ayah dan ibu yang begitu, lahir dan besar sampai SMA di Surabaya. :mrgreen:

  3. berasa pernah baca yang kaya gini, Sob. tapi bukan fiksi, kaya berita gitu.
    gara-gara istrinya selingkuh, akhirnya dua orang pria berkelahi.
    tapi bagus kok 🙂

    Reply

  4. Ternyata anjing tersebut ber jenis Rottweiler, aku menyebutnya Buldog. Pokoknya yg ganas-ganas gitu aku sebut buldog, sudah terpatri di otak.

    Reply

          1. Situ ngetik dari hape ya?

            “lo” itu maksudnya apa ya?

            Apakah “elo” yang berarti “kamu”, apakah “kalo” yang berarti “kalau”, atau “lom” yang berarti “belum”?
            Tolong, jelaskan pada kami semua, karena ini bener2 baru bagi saya.
            Mari, berbahasa dengan baik dan benar.

          2. Tuh ‘kan, satu kata “lo” aja bisa beragam makna. 😐
            Jangan disingkat ah…
            Ini kayaknya beneran pake hape ya?
            Soalnya kalo nulis “kl” repot. Apalagi kalo nulis “kalo”…

  5. mestinya lebih sadis dkit, kayak Ninja Assassin 👿
    hmm dari cerita ini, kayaknya Bella deh yg emang ga setia sama Anton, istilahnya ga betahan, trus pas selingkuh, dia njelek2in suaminya sendiri. atau malah sebetulnya dia ngadu domba biar harta Anton jatuh ke mereka? hmmm
    tp mestinya klo aku jadi Anton, yang aku lakuin emang nyiksa Bella dulu, ntar si Tobias pake sewa pembunuh bayaran (intinya, Anton harus menang :lol:)

    Reply

  6. Itu guguknya nyeremin banget ya, wkwkwkw… 😆
    Btw, si Tobias itu nama guru SMA saya lho, hahahha…. 😆
    Kenapa ya, segalau sesuatu yang berbau “main gila” itu pasti laris manis 😀

    Reply

  7. Hahaha, seru fiksinya Sop, nggak fokus sama mellow-dramanya tapi fokus sama perkelahiannya, hehehe 😛 Btw, akhirnya tragis juga ya. Jadi membayangkan andai piaraannya Anton itu bukan anjing tapi ikan hiu gitu *piaraan macam apa ini, ikan hiu, wkakakaka 😆 *. Trus mereka bertanding di atas kolamnya gitu trus Tobias jatuh ke kolamnya setelah lehernya terluka. Trus dia dimakan ikan hiunya deh, wahahaha 😆 :mrgreen:

    Reply

    1. Aduh, maap. Itu sudah kebijakan baru dari wordpress-nya, bukan saya yang ngatur. 😦
      Iya, jadi, pengguna wordpress kalau mau ngasih komentar harus login dulu ke akun wordpress-nya. Meskipun pakau akun email gravatar, tetap harus masuk login dulu. 😐

      Reply

  8. Gore. Nyesel bacanya malem-malem pula -____-”

    Btw, emang anjingnya itu beneran makan daging manusia ya? Padahal kan kayanya anjing ga sekejam itu juga

    Reply

    1. Maap… 😳

      Nah, itu dia, saya sendiri juga ngarang… 😳
      Saya cuma iseng nyari di google “anjing terganas”. Rottweiler ada di urutan kedua. 🙂

      Tapi rasa2nya bisa saja seperti itu. Bayangkan, anjing besar seberat lebih dari sepuluh kilogram, jantan, dan lapar seharian belum dikasih makan. Apalagi binatang seperti kucing dan anjing itu pada dasarnya kan punya insting liar. Bukan gak mungkin kalo mencium bau darah atau daging segar mereka jadi liar. Makanya, meskipun anjing sudah jinak karena terbiasa dengan manusia, harus tetap hati2. 🙂

      Reply

  9. sukaa gak biasanya saya membaca habis fiksi.tapi fiksi ini membuat saya penasaran dengan endingnya meski endingnya udah saya perkirakan pasti si Anton yang terbunuh…

    Reply

  10. anton yang malang. udah istrinya selingkung sama temennya, jadi santapan anjing2 galak pulak.
    wiis..ada bang matt demen. 😀 am a fan.

    Reply

  11. cerita fiksi khususnya yang berisi aksi dan cinta memang seru
    apalagi ditambah dengan perselingkuhan
    tambah geregetan deh yang baca.

    kalau saja peran utamanya yang kalan atau terbunuh
    pasti lebih mencekam.

    Reply

  12. kyaa~~~~~ huwa~~~~~~~ atuuuu~~~~t!!!!! atu~~~~~t!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    ga bisa bobok… !!!!! (melek seharian) 0_0

    Reply

  13. nih fiksi lagi uy, lagi demam fiksi nampaknya dan yang berdara-darah bacok, tebas, tusuk dan lainnya, hehe
    anjing Rottweiler itu ganas terdua?

    Reply

  14. Terus pas lagi berantem sebelum badannya hancur dimakan anjing, ada tetangga yang nyetel lagu “Kau kau kau mencuri hatiku hatiku…” eyalah…mendadak dangdut! 😛

    Reply

  15. Fiksinya bagus mas Asop. Saya ngebayanginnya saya lagi di TKPnya. Hahaha…..

    OOT: Eh sori mas, kalo tersinggung sama postingan saya. Mas termasuk juga kok blogger yang pengen saya temuin. Lagian itu kan baru 20 nama. Hehehe. Plus itu juga ngandai2 doang, blum tentu juga benar2 ketemu sama mereka semua. Hahaha. Jangan marah ya. Nggak ada maksud lupain. Eh tau gak, blogmu sering kubaca. Cuma lupa komen aja. Hehe. Peace ya.

    Reply

    1. Gak apa2, Bang, saya gak tersinggung kok, saya kan gak mudah tersinggung… 😳 *tersipu*
      Saya juga gak marah, Bang. Tenang. Itu saya tulis tanpa emosi sama sekali. 🙂

      Reply

  16. aku hanya mencatata satu nama : Anton!!
    entah kenapa, didalam benakku nama tersebut selalu tergambar sebagai sosok yang sangat tidak menyenangkan minimal perangainya tidak aku suka ❗
    (meski sejujurnya aku tidak punya kenangan tertentu tentang nama tersebut!)

    Reply

  17. gak vulgar kok sop (bagi aku seh) hehehe.. dan ceritanya detail banget.. Aku juga lagi belajar buat fiksi yang menceritakan detail tempat kejadian seperti ini, salah satu cara untuk memperpanjang isi dari cerita kan yak 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s