[Fiksi] Perang Mafia

Suara keras pintu didobrak. Seorang pria masuk menerobos pintu. Aku terlonjak, begitupun lima orang rekanku. Pria itu mengangkat pistol yang ia genggam dengan dua tangan, dan tanpa bicara ia menyerang kami.

Letusan pistol terdengar nyaring di telinga, diikuti dengan jatuhnya rekanku di seberang meja. Tubuhnya terpental ke belakang, jatuh di atas meja, seolah didorong oleh angin. Letusan kedua menyusul, terdengar jeritan tertahan rekanku di sebelah kiri jauh dekat tembok ruangan. Tubuhnya terduduk di lantai dengan noda darah bagai lukisan air terjun merah di dinding. Letusan ketiga menyahut, diikuti oleh ambruknya tubuh rekanku di sebelah kanan dekat jendela. Peluru menerobos tengkoraknya di bagian dahi, menyemprotkan serpihan otak dan darah ke kaca jendela.

Satu rekanku gagal menggunakan pistolnya. Saat ia sudah menggenggam pistolnya di pinggang kiri, tangan kirinya terantuk meja. Benturan itu sangat keras, hingga pistolnya jatuh dari genggaman. Ia panik, dan akhirnya dua peluru menembus dadanya.

Tinggal aku dan satu rekanku. Sesaat setelah letusan kedua, aku dan rekanku membalikkan meja yang tadi kami pakai untuk main kartu. Meja yang kokoh dan tebal, terbuat dari kayu jati tua. Kami berlindung di baliknya.

Aku mengeluarkan pistol. Begitu juga rekanku. Kami saling bertukar pandang dan sepakat, hitungan ketiga kami balas menembak.

Lalu, kami berdiri. Pistol kami genggam mantap, siap menerima serempetan peluru jika pria tadi menembak.

Kosong. Di hadapan kami kosong. Tak ada siapapun.

Tak ada sosok pria yang tadi menerobos masuk. Tak ada siapapun.

Pria itu lenyap. Hilang.

Aku memandang rekan di sebelahku. Ia menatapku dengan pandangan seolah baru saja melihat Candi Prambanan runtuh. Sesaat setelah aku memandangnya, tatapan matanya berubah. Tatapan kaget. Tubuhnya sedikit melengkung ke depan, dan sebatang logam pipih keluar dari dadanya. Sebuah bilah pisau besar.

Aku mundur beberapa langkah, jatuh tersandung oleh kaki meja yang kami balikkan. Aku melihat pria yang tadi menerobos pintu menusuk rekanku. Entah sejak kapan dan bagaimana bisa ia tiba-tiba berada di samping rekanku tanpa kami sadari.

Ia mencabut pisaunya. Tubuh rekanku lunglai begitu saja ke lantai. Baru saat inilah aku menyadari betapa biasanya orang yang menyerang kami. Ia tak terlalu tinggi, tubuhnya tak terlalu kekar, potongan rambutnya pun biasa saja. Semua serba biasa, tak ada tampang pembunuh di tubuhnya. Jika ia berbaur di luar sana bersama ratusan orang lain di stasiun kereta api atau di halte bus Transjakarta, kau tak akan menyadari bahwa ia adalah seorang pembunuh.

Pria itu diam. Pisau di tangan kiri, pistolnya di tangan kanan. Mata orang itu menatapku. Tatapan yang tak bisa kubaca apa maknanya. Tatapan mata yang datar. Tak ada tatapan kebencian, tak ada tatapan penuh dendam. Ia seperti robot.

Aku mencoba bangkit meraih pistol tak jauh di sebelahku. Saat aku bisa mencapainya, menggenggamnya mantap dengan tangan kanan, pria itu tak ada lagi di ruangan ini. Ia menghilang. Lagi.

Keringatku mengucur deras, membuat lengket kemejaku. Aku dapat mendengar detak jantungku sendiri. Suasana ruangan 5 x 5 meter ini sunyi. Hanya ada aku dan lima tubuh rekanku yang tak bernyawa. Aku tak bisa menurunkan kewaspadaanku, bisa saja pria itu tiba-tiba muncul di sebelahku dan menusukku dengan pisau besarnya, seperti yang tadi ia lakukan pada rekanku.

Sial, tak ada yang masuk akal di sini. Seorang pria, satu orang, sendirian, menghabisi lima orang dengan mudah. Lebih buruk lagi, ia memiliki kemampuan seperti ninja yang ada di dalam film-film, mampu bergerak cepat tanpa terdeteksi dan mampu menghilangkan wujud. Sial sial sial, ini tak masuk akal.

Siapa orang itu? Apakah ia adalah suruhan kelompok lawan? Kalau iya, dari kelompok mana? Musuh kami, kelompok Kapak Merah, terlalu banyak. Memang sekarang ini adalah waktu sulit bagi para mafia. Banyak kelompok baru yang berdiri, dan dengan terang-terangan menentang kekuasaan kami kelompok-kelompok besar yang telah lama menguasai wilayah kekuasaan masing-masing. Ada kelompok lama yang berhasil bertahan —seperti kami, Kapak merah— dan ada juga yang tak mampu bertahan, hancur dibinasakan oleh kelompok-kelompok kecil yang sok berkuasa itu. Seluruh anggota dibantai, keluarga diperkosa, aset dirampok, dan kepala sang pemimpin dipenggal. Polisi sampai tak berani turun tangan. Kacau. Lebih mengerikan daripada perang sungguhan.

Kalau sampai bos besar kami mengetahui pembantaian yang terjadi saat ini, ia tak akan tinggal diam. Kapak Merah memiliki harga diri—

Orang itu muncul di sebelah kiriku. Lengan kirinya berayun, pisau menggores pipiku. Aku masih sempat menghindar dengan melangkah ke belakang. Lalu, orang itu berputar dengan cepat, mengayunkan tubuh dan lengan kanannya yang memegang pistol ke arahku seperti gerakan back knuckle dalam K-1. Serangan ini telak mengenai pelipisku. Aku terhempas ke tembok. Sakit sekali. Pandanganku buram.

Aku tak akan kalah dengan cara seperti ini. Penglihatanku kembali dengan cepat, sebelum ia sempat melakukan gerakan menusuk ke arah dadaku. Aku bergerak sedikit ke samping, pisaunya menancap di tembok. Pisaunya masuk dengan sempurna, menunjukkan bahwa pisau itu sungguh kuat, entah terbuat dari apa.

Ini kesempatan, ia tak bisa menggunakan pisaunya. Aku tak peduli akan pelipisku yang berdenyut sakit, atau dengingan di telinga kananku tak berhenti, atau kepalaku yang seperti dihantam palu dari dalam. Aku hanya ingin menghabisi pria di hadapanku ini.

😀  ~mungkin bersambung~  😀

******

Astaga, saya benar-benar nggak menyangka, itu judulnya picisan banget. Kesannya murahan banget, sama seperti nama permainan di facebook. 😐  Maap, tak ada ide judul yang pantas. 😀  *kalau narablog dan pembaca sekalian punya ide judul, mohon berikan di kolom komentar*  Sempat saya mau kasih judul “Serbuan Maut”, tapi nanti jadi seperti film The Raid, dong… :mrgreen:

Dan astaga lagi, saya hanya terpikirkan nama “Kapak Merah” untuk nama kelompoknya. Harap maklum, karena setting-nya di Jakarta. :mrgreen:  *tahulah kenapa…*

Entah kapan saya akan menyambung cerita ini. :mrgreen:

———————————————————————————————————————————————————————

Gambar saya ambil dari sini, sini, dan sini. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi oleh hak cipta, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

99 Comments

    1. Nggak, Mas Arman, saya terinspirasi dari begitu banyak novel thriller yang saya baca.
      Pas mau ngasih judul, saya terpikir “Serbuan Maut”, dan langsung inget ama judul film “The Raid”. 🙂

      Reply

    1. “Kapak merah” itu nama kelompok si tokoh utama, bukan si penyerang misterius. 🙂

      Dan ya, memang benar, itu nama kelompok preman. Cuma itu yang bisa saya pikirkan. 😀

      Reply

      1. mafianya jangan dipake…

        kalo bisa dibikin si pembantai itu sebagai tokoh jahat menurut si mafia,tapi tokoh utamanya tetep si mafia kayaknya akan jadi jalan cerita yg keren

        Reply

        1. Hmmm bisa juga tuh. 🙂

          Jadi, sebenernya tokoh protagonisnya itu si pembantai. Tapi, dari sudut pandang tokoh utama, si mafia, justru pembantailah yang antagonis. Sekali-kali tokoh antagonis (si mafia) jadi tokoh utama keren juga ya. 😀

          Reply

          1. Nggak mungkin, soalnya saya diciduk sama polisi yang pake motor juga. 😆
            Bener2 kebetulan, saya dan temen saya melewati rute yang kami tahu gak bakal ada polisi njaga. Nggak tahunya kami dipepet sepeda motor polisi, disuruh minggir. Sial banget. 😆

  1. bro, cek email ya.. atau mungkin masuk spam, atau kalo gak ada emailnya, kirim email ke alamat email gue ini ya, ada yg mau dibicarain nih.. Thanks 😀

    Reply

  2. menurut saya judul oke juga
    dari judul yang kadang terkesan sederhana itulah justru menarik
    karena memang apa adanya yang ada dalam isi tulisan
    soal kapak merah, justru terasa nyata ceritanya….

    Reply

  3. eh,,,komen diluar konteks tulisan di atas gapapa ya Asop.
    tadi aku liat gambar buku Arswendo Atmowiloto yang lagi di baca.
    kalau udah kelar bacanya dan sempat tolong buatin resensi atau kutipan favorit di buku itu ya (kalau bisa, sempat,&berkenan).
    saya belum mampu beli buku2nya Arswendo T.T, tapi pengen tau isinya.
    makasiiiihhhh Asop….

    Reply

    1. Hmm hmm saya ga janji menulis review-nya lho. 🙂

      Menurut saya, ceritanya sih luar biasa, brilian. Tapi soal gaya cerita, menurut saya biasa banget. Amat sangat biasa. Bahkan saya sampe mikir, tulisan macam gini ternyata bisa jadi novel dan terjual juga. Laku pula. Dan saya mikir juga, kalo begitu, harusnya banyak blogger2 bisa sukses jadi novelis atau penulis kalo tulisan2 mereka dipublikasikan. Lha wong tulisan macam Pak Arswendo aja bisa laku, masa’ tulisan2 para blogger yang lebih bagus ga bisa? 🙂

      Reply

        1. Menurut saya sih ini tergantung selera. 🙂
          Mungkin karena selera saya novel terjemahan thriller-suspense-crime, jadi begitu saya baca novel lokal jadi kagok. 😀 Ah tapi itu bukan sebabnya saya rasa. Saya suka sekali novel karangan Arafat Nur yang berjudul “Lampuki”, ceritanya mengenai Aceh. Lalu saya juga suka banget novel komedi-romantis buatan Ben Sohib, “The Da Peci Code” dan “Rosid dan Delia”. Bagus. 🙂

          Saya akui, cerita Brojo & Projo bagus. Brilian. Jadi itu ceritanya tentang dua orang. Brojo, seorang dari desa yang merantau ke kota, jadi pekerja di bengkel besi, dan baru nikah. Baru kerja 6 bulan, tempat kerjanya udah bangkrut. Di saat putus asa gak ada kerjaan, seseorang mendatanginya. Namanya Zul. Dia menawarkan kerjaan ke Brojo, yaitu bertukar tempat sama orang yang namanya Projo di penjara. Zul ini pengusaha, sahabat Projo.

          Alasan Zul memilih Brojo karena Brojo ini tampangnya mirip sekali sama Projo. Akhirnya dia didandani mirip dengan Projo, dan bertukarlah mereka. 😀

          Itulah dia kenapa saya bilang ceritanya brilian. Konflik di dalamnya begitu dalam. Konflik batin, konflik pikiran dua orang tokoh utama itu begitu dalam. Projo, dihukum penjara 10 tahun, baru menjalani hukumannya 2 tahun, tiba2 keluar penjara. Rumahnya disita, hartanya dibekukan, asetnya juga disita, dan istrinya gak tahu kalau Projo bertukar tempat ama orang lain. Betapa Pak Arswendo pinter menceritakan kelelahan batin Projo yang sudah 2 tahun terkurung di penjara, ketika melihat tempat2 yang dulu sering dia kunjungi sebelum masuk penjara. Kantornya, restoran usahanya, bank tempat dia bekerja, rumahnya…

          Begitupun Brojo, dari hidup miskin di luar sana, di dalam penjara dia dihadapkan dalam hidup yang serba berkecukupan. 😀 Ternyata kehidupan penjara Projo nggak buruk2 amat. Ada uang segepok di dalam kamarnya. Kamarnya bagus, ada TV, gak seperti kamar napi yang lain. Tipikal kamar penjara koruptor lah. 😆 Kekuasaannya besar di penjara. Belum lagi ada seorang wanita yang jadi selingkuhan Projo, ia sering mendatangi Brojo. Luar biasa toh? :mrgreen:

          Reply

          1. Ahhhhh…jadi galau…menarik menurutku.
            karna buku favoritku rata2 yang seperti itu.
            makasih ya sop,,,udah diceritain garis besar jalan ceritanya.

        2. Saya lanjutkan, jadi, dari segi cerita bagus sekali.

          Hanya saja, saya nggak terlalu demen ama gaya tulisannya. Mungkin itu memang gaya Pak Arswendo yang sastrawan dan yang sudah senior. Tapi menurut saya, gaya tulisannya itu… biasa aja. Bener2 biasa. Saking biasanya, saya sampe mikir, kalo yang begini aja bisa jadi novel dan terjual, harusnya banyak sekali blogger2 (yang suka nulis fiksi di blog-nya) yang sukses jadi penulis. 😀

          Reply

  4. ini bersambung atau gimana sop? 😀 duh jadi pengen baca novel action…
    “dimana afika?!!” kata si pembunuh sambil geter-geterin sepotong oreo di tangannya.

    Reply

  5. Keep going Kang Asop…
    Jangan bersambung dunk,,
    Saya juga demen banget baca novel thriller..
    Sapa tau bisa jadi penulis novel best seller..

    aamiiin
    😀

    Reply

    1. Hehe, emang belum saya bikin lanjutannya… Kalo saya bikin terus, nanti kepanjangan, dan malah bikin males baca…

      Reply

  6. kereeeeeeeeeeeeennnn…
    lumayan bikin deg-degan, Sop! adrenalin ikutan naek turun!!!

    betewe, itu kata “terhempas” kenapa dikuning-kuning???

    Reply

  7. Terasa banget ketegangannya, terutama pas bagian ‘kapak merah’ itu. Bagus mah menurutku. Lanjutkan, sop! 😀

    Reply

  8. mas Asop ceritanya sering mafia2 gitu… waktu itu yg tinju2 di bar… skrg tembak2an sampe ke kapak merah =.=” jangan2 mas Asop ini gerombolan mafia yg dicari FBI… *mulai menghayal

    Reply

        1. Wuidih, film “Saw”, sejenis “Hostel” (oleh Quentin Tarantino), “Wrong Turn”, lalu “Martyr” (film perancis), kemudian “The Serbian Film”, dan “Human Centipede”, itu semua film gore, sadis, penuh dengan kekerasan, dan saya gak melihat esensinya. 😦 😦 Menjijikkan. Saya gak suka. 😦

          Reply

  9. Bakat bikin cerita nih Kang..
    Nggak masalah mau picisan apa enggak, yang penting temanya tembak-tembakan..
    Dor!! Dor!! Dor!!
    Rameee.. 😀

    Reply

  10. kak keren kak ! kenapa nggak dilanjut aja ? jarang lho ada penulis Indo yang nulis tentang action begini.
    saya punya saran buat judulnya kaak : Misteri
    hihi, itu asal kak ngasih saran. abaikan saja :mrgreen:

    Reply

  11. Entah kenapa pas baca Kapak Merah saya malah keingetan sama film Kungfu Hustle 😆

    deskripsinya mantap, pembangunan suasananya bagus, penyelipan akar permasalahannya juga sangat pas, jadi kenapa mungkin bersambung? Apa karena kekurangsregan dengan judulnya sehingga mempengaruhi mood menulis?

    Kalau memang kurang sreg dengan kata serbuan, bisa diganti dengan sergapan, gempuran, dst. 🙂

    Reply

    1. Nah itu dia, saya sendiri bingung gak ada ide utk menamai geng-nya. Saya langsung terpikir kapak merah dari Jakarta itu… 😳

      Masalahnya, Bang Rean, ini adalah kali pertama saya mencoba menulis seperti ini. Awalnya saya ingin jadikan ini cerpen. Tapi gak tahunya, perkembangan cerita jadi panjang. 😆 Dan saya mikir, kalau posting-an kepanjangan di blog, orang2 pada males baca. :mrgreen:

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s