[Fiksi] Kesetiaan dan Loyalitas

Tersiar kabar di koran, telah ditemukan mayat seorang pria di Danau Ceska. Jasad Mr. X tersebut ditemukan dalam keadaan terikat rantai pada kakinya, dan rantai tersebut tersambung ke sebuah balok baja di dasar danau. Menurut keterangan polisi, terdapat luka tembak di kepala pria itu, dan balok baja tersebut bukan benda yang sudah lama terkubur di dasar danau. Kesimpulannya, seseorang menembak pria tersebut, baru mayatnya dibuang dengan pemberat di Danau Ceska.

Itulah berita yang dibaca oleh Mikel pagi tadi. Tak ada hari yang lebih menyenangkan selain hari yang dimulai dengan membaca koran. Mengetahui kabar dari seluruh wilayah negeri dan juga dari belahan dunia lain membuat diri ini merasa pintar dan berwawasan luas, well, setidaknya untuk satu hari. Itulah yang mendasari rutinitas Mikel, kebiasaan yang telah dilakukannya semenjak masih remaja. Membaca adalah hobinya, hidupnya, dan berkat membacalah ia bisa berada di posisi seperti sekarang.

Sebagai anak yang lahir di permukiman kumuh dan besar hingga remaja di antara kehidupan mafia dan gangster, tak heran melihat kedudukannya saat ini yang berada di dunia mafia pula. Jabatan yang ia rengkuh sendiri dari bawah adalah berkat kecerdasan, kepintaran, dan pengorbanannya. Pengorbanan harta dan keutuhan keluarga, itu pasti. Ditipu, ditangkap polisi, merugi dalam bisnis, diserang lawan hingga hampir tewas, hingga perceraian dengan istrinya, itu semua yang membuat Mikel menjadi sekarang ini, menjadi seorang pemimpin grup mafia yang amat disegani di wilayah timur kota.

Saat ini Mikel sedang bersama sahabat masa kecil sekaligus orang terpercayanya, Toly Zakher, di depan sebuah rumah pertanian di pinggiran timur kota. Bersama Alex-lah ia membangun jaringan mafianya dari nol hingga besar seperti sekarang. Mereka berdua bagaikan ban kiri dan ban kanan mobil. Saling melengkapi. Jika salah satu dari ban itu rusak, mobil tak akan bisa jalan dengan benar. Seperti itulah kelompok mafia Mikel. Mereka berdua adalah duo yang tak tergantikan. Tak ada penduduk di belahan timur kota yang tak mengenal nama Mikel dan Toly Zakher.

adegan dari kill the irishman

“Aku sudah tahu mayat pria itu adalah Alex Rondo, Tol,” ujar Mikel memulai percakapan. Mereka berdua berdiri sambil menghisap cerutu. Toly sedikit tersenyum.

Mikel melanjutkan, “Ayolah, kabar kematian petinggi mafia bagian selatan pasti cepat tersiar di kalangan musuh-musuhnya. Kau yang melakukannya, ‘kan?”

Toly menghisap cerutunya dalam-dalam dan menyeringai. “Mengapa kau berpikir aku yang melakukannya?” tanya Toly.

Inilah yang disukai Mikel dari Toly, sekaligus kadang dibencinya. Sahabatnya itu suka berbasa-basi, jika ditanya sesuatu, ia akan berputar-putar dahulu sebelum menjawab inti pertanyaan.

“Kau pikir aku tak tahu? Aku dengar kabar bahwa Rondo mencoba mengajakmu bergabung dengan kelompoknya, dan kau langsung menembaknya. Itu benar, ‘kan?” ucap Mikel.

Toly terdiam sebentar, dan seringainya berubah menjadi senyum lebar. “Kau percaya kabar itu?”

“Tentu saja, Tol, aku percaya.”

Asap berhembus keluar dari hidung Toly. “Sebenarnya tak seperti itu ceritanya. Rondo menemuiku malam dua hari yang lalu di Pub Madame, dan tanpa basa-basi ia mengajakku bergabung dengannya. Ia berkata bahwa kau, Mikel Foligno, ‘akan mati malam ini’. Ada rencana pembunuhan terhadapmu malam dua hari yang lalu.”

Mikel tak akan kaget mendengarnya. Memang benar ada percobaan pembunuhan terhadap dirinya malam dua hari yang lalu. Tak tanggung-tanggung, rumahnya dilempari bom dan seluruh lantai satu hancur hingga meruntuhkan lantai dua rumahnya ke halaman depan. Mikel dan pacarnya selamat tanpa luka ringan sedikitpun.

“Kesalahan mereka adalah mereka tak melempar bom itu ke lantai dua,” ujar Mikel terkekeh geli.

“Siapapun itu yang melakukan percobaan itu, pastilah bukan mafia selatan. Rondo tak menyebut kelompoknya sama sekali malam itu. Saat kutanya siapa yang akan melakukan pembunuhanmu, ia tak menjawabnya.”

“Heh, Rondo bajingan, hingga saat akhir hidupnya ia masih cerdik. Ia bilang apa padamu?”

“Begitu dia datang masuk ke dalam pub, ia duduk di sampingku di bar. Ia dengan tenang bicara padaku, ‘bergabunglah dengan kelompok selatan, kami membutuhkanmu’, katanya. Saat itu aku sudah mendengar isu rencana percobaan pembunuhanmu, tapi masih simpang siur. Aku memasang mimik muka serius waktu itu. Kutanya lagi padanya siapa yang mencoba melakukannya, dan dia menjawab tidak tahu. Aku tahu ia berbohong.”

Mikel diam mendengarkan penuturan Toly. “Kubiarkan saja pertanyaan itu berlalu, dan aku tanya kapan pembunuhan itu akan terjadi. Ia menjawab ‘malam ini’. Aku pura-pura berpikir sejenak, dan Rondo kemudian bilang, ‘kau mau bergabung?’ Aku bilang iya —tentu hanya pura-pura—, dan aku mengajaknya ke gang di belakang pub untuk mendengarkan penawarannya lebih lanjut.”

“Di gang belakang pub, Rondo bilang padaku bahwa pembunuhan ini ada hubungannya dengan pelebaran usaha kita yang mencaplok wilayah mafia utara. Sekali lagi kupancing dia dengan bertanya apakah mafia utara yang akan melakukan pembunuhanmu, tapi dia tak meresponnya dengan jelas. Entah apakah ia memang tak tahu atau sengaja menyembunyikan fakta.”

“Cih, rupanya dia dan kelompok selatan benar-benar menginginkanmu, Tol.”

Toly terkekeh. “Yeah, ternyata diriku sudah sebegitu terkenalnya.”

“Jangan bodoh begitu, tanpa dirimu, aku tak bisa menegakkan kekuasaan di timur ini.”

“Ouch, itu berlebihan, dan itu menyakitiku,” ujar Toly menimpali, sembari meninju pelan lengan Mikel. Mikel tertawa.

“Lalu, bagaimana kau membunuhnya, Tol?”

“Yah, begitulah. Saat aku mengiyakan akan bergabung dengannya, ia menyuruhku mengikutinya. Sebuah kesalahan bodoh. Aku bisa memasang peredam pistol dengan cepat dan sebelum kami melangkah keluar dari gang, aku menembaknya tepat di tengkoraknya. Selesai,” ucap Toly.

Mikel terdiam dengan cerutu di mulutnya. Ia memandang takjub sahabatnya itu. Toly adalah sahabatnya sejak kecil, bahkan jika bisa didramatisir, mungkin sahabat sejak mereka masing-masing masih di dalam kandungan. Toly mengikuti Mikel kemanapun Mikel pergi, dan selalu bisa memberikan nasihat yang berguna di kala Mikel membutuhkannya. Toly amat setia.

Akhirnya Mikel berkata, “Terima kasih atas kesetiaanmu, Toly. Kau adalah sahabatku, kau sungguh luar biasa. Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu.”

Mikel menjabat tangan Toly dan memeluknya dengan erat. Dalam hati Toly juga bersyukur memiliki sahabat yang memikirkan dirinya dengan segenap hati. Tak ada orang yang bisa dipercaya sebaik-baiknya selain Mikel bagi Toly. Mikel adalah pelindungnya, saudaranya, dan Toly akan dengan senang hati mengabdikan diri pada Mikel.

“Oh ayolah, Mikel sahabatku, aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain dirimu. Kau tahu itu.”

adegan dari kill the irishman

******

Ah, indahnya sebuah kesetiaan. Kesetiaan tak dapat diukur. Kesetiaan mahal harganya, dan tak bisa didapat dengan mudah. 😳  Bahkan kelompok mafia-pun memiliki ukuran loyalitasnya sendiri, yang barangkali sulit diterima nalar khalayak umum.

Nama Alex Rondo dan Toly Zakher saya dapat secara tiba-tiba. Tahu-tahu aja pas mikir nama yang cocok, saya terpikirkan nama-nama itu. Ternyata setelah cerita ini jadi dan saya coba telusuri “Alex Rondo” di google, ada orang yang bernama seperti itu. :mrgreen:   Kalau nama “Foligno” itu saya dapat dari nama sebuah kota lama di Italia. Saya sengaja mencari nama belakang yang pas untuk mafia dengan nama yang berbau Italia. Setelah saya lihat nama-nama kota di Italia, saya rasa “Foligno” adalah nama yang bagus. Foligno adalah nama sebuah kota kecil yang ada di Provinsi Perugia, kota yang penuh dengan bangunan berarsitektur zaman Romawi sebelum masehi.

Kalau sekiranya ada narablog sekalian yang ingin melanjutkan cerita di atas, monggo, silakan lanjutkan. Dan seperti biasa, saya memohon kritik dan saran untuk kisah ini. :mrgreen:

———————————————————————————————————————————————————————

Dua gambar di atas saya ambil dari cuplikan film “Kill The Irishman” (2011). Seluruh terbitan ini sangat dilindungi oleh hak cipta, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.

56 Comments

  1. Seperti biasa, penuturan ceritanya keren Sop 🙂

    Btw, ini setting-nya ternyata di Italia yah? Hmm, kalau harus memberi kritik, ya ini sih kritikku. Ketika membaca kisah ini, aku kurang merasa “Italia”-nya gitu, somehow, hmmm. Mungkin ini juga disebabkan nama “Mikel” yang menurutku sih bukan nama ala Italia gitu ya, hehe. Nama Mikel menurutku lebih terdengar seperti nama orang dari Eropa Timur deh, mungkin dari negara bekas pecahan Uni Soviet gitu. 😀

    Reply

    1. sepertinya masalah latar atau seting tempat tidak dijelaskan, tapi harus ditebak. kemudian disebutkan ada kelompok mafia, saya juga menerka-nerka bagaimana setting waktunya. apakah italia hari ini, eropa timur 20 tahun lalu, atau uni soviet beberapa tahun mendatang…

      Reply

    2. Saya gak bilang ini di Italia, Bang. Sengaja. Hehe. Jadi, pembaca bisa membayangkan sendiri negara favoritnya. 😀
      Bahkan di Amerika ada jaringan mafia italia lho. 😉

      Soal nama, makanya itu, karena ini memang bukan spesifik di Italia, saya buatlah sembarangan.

      Reply

  2. ceritanya keren, singkat tapi pesan utamanya kena dan disampaikan dengan cara yang nggak biasa 😀

    1) Sebagai anak yang lahir di permukiman kumuh dan besar hingga remaja di antara kehidupan mafia dan gangster, tak heran melihat kedudukannya saat ini yang berada di dunia mafia pula.
    –> entah kenapa, menurutku kalimat ini agak mengganjal pas dibaca. Mungkin lebih baik kalau seperti ini:
    …, tak heran bila kedudukannya saat ini berada di dunia mafia pula.
    atau kalimatnya dibalik, jelaskan siapa Mikel saat ini, baru jelaskan kenapa keadaan Mikel saat ini wajar terjadi. misalnya:
    Mikel adalah orang yang (…) dalam dunia mafia, tak heran melihat dirinya yang lahir di permukiman kumuh dan dibesarkan hingga remaja di antara kehidupan mafia dan gangster.

    2) Ditipu, ditangkap polisi, merugi dalam bisnis, diserang lawan hingga hampir tewas, hingga perceraian dengan istrinya, itu semua yang membuat Mikel menjadi sekarang ini….
    –> mungkin lebih tepat kalau : …membuat Mikel menjadi seperti sekarang ini

    ini cuma saran aja sih, aku juga bukan orang sastra, saran-saran diatas berdasarkan feeling-ku aja.

    Reply

    1. Nah, sepetri ini nih yang saya inginkan. 😀
      Makasih ya atas komentarnya!
      Ini bisa jadi pertimbangan ketika saya bikin cerita lagi. 😉

      Reply

  3. menanggapi kisahnya aja ah.
    kalo mereka bisa sebegitu setianya, padahal setia mereka salah, mengapa kita tidak bisa setia pada kebenaran dan kebaikan ya? hmm…
    met puasa bang asop.. mohon maaf lahir bathin ya..

    Reply

  4. Dinikmati dengan penuh rasa syukur! Bukan menikmati dengan segala kesombongan kita sebagai manusia. Ceritanya bagus! Semangat menulis teruuussss! 😀

    Reply

          1. Tapi, selama ini kalau yang itu belum pernah…hahahahaaa…Sehari sampai beberapa kali. Itu yang belum pernah 😀

            Kalau tulisanku dikangenin baru dimunculkan…hahahahaaa…halaaahhh….ada-ada aja 😀

  5. Benar sekali, Mas Asop. Kesetiaan itu sangat berharga dan tidak dapat dibeli dengan apapun.

    Reply

  6. Keren. Mungkin bisa diperkaya dengan dialog2 pake bahasa Italia (tapi kemudian disertain terjemahannya). Atau diperbanyak lagi pake istilah2 Italia atau dunia mafia. 🙂

    Reply

  7. hi Sop. Lama sekali gak berkunjung ke mari. Saya suka ceritanya, meski kadang saya merasa bahwa gaya bahasanya terlalu kaku di beberapa tempat. Mungkin karena terbawa gaya novel-novel terjemahan ya 🙂

    Tapi gapapa Sop. Daya imajinasimu keren! Ditunggu episode selanjutnya.

    Reply

    1. Saya juga lama gak BW, Bang.
      Yap! Itu benar, Bang! Saya terpengaruh novel terjemahan! 😀 Tapi saya lebih suka gaya bahasa yang kaku dan formal, karena itu menurut saya lebih mudah dibaca.

      Reply

  8. lama gak sowan kesini. ayo bang asop terbitin buku kumpulan cerpen atau novel sekalian bang 😀

    Reply

  9. bagus, Sop! kalo ada yg komentar mungkin sisi setting-nya kurang mengena ke italia, mungkin saya bisa memaklumi karena Kang Asop lebih menekankan ke sisi cerita dan pesan yg disampaikan, lagipula ini cerita pendek 😀
    saya cuma ingin tanya, bedanya kesetiaan dan loyalitas apa ya? soalnya selama ini saya menganggap dua kata itu satu kesatuan, bukan dua hal yang berbeda, hehe 😀

    Reply

    1. Eh lho, jangan salah mengerti, ini aku bikin emang sengaja gak pake setting tempat. Aku bingung soalnya enaknya di mana. Jadi, emang bukan di Italia, karena saya gak bilang. 😆
      Silakan imajinasikan sendiri. Lagipula, mafia italia juga ada di Amerika lho.

      Eh iya sih, itu kata sebenernya sama. Itu aku sengaja aja bikin begitu, biar supaya terkesan “loyalitas” itu penting dan teramat penting. 😛

      Reply

  10. asop pernah baca “the virgin suicide” ? itu tentang tragedi 5 bersaudara bunuh diri setiap tahun. udah ada filmnya loh. itu buku sama film udah lama di cari dan akhirnya ketemu juga bukunya yay!! coba cek sinopsinya deh. kayanya bakal menarik buat asop.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s