Dialog Bodoh #8

Akhir desember 2011

#1 Homo Semua

Waktu itu kampus kami sedang akhir semester ganjil. Batas akhir pengumpulan tugas dan UAS (Ujian Akhir Semester) mengintai. Adik saya dan teman-teman kelompoknya sedang diskusi menyelesaikan tugas kuliah di paviliun kami. Mereka ada di kamar adik saya. Pagi hari, keadaan mereka benar-benar kacau, belum tidur semalaman.

Adik         : “Aduh, ngantuk nih… Mandiin dong…”      <bicara ke temannya>
Teman 1  : “Ah, homo kau…”      <orang batak>
Adik         :   <mikir>    “Berarti anak kecil homo semua ya?”
Teman 1  : “Haah??”      <agak bingung>
Adik         : “Iya, homo dong, ‘kan dimandiin ama bapaknya…”      <ketawa>
Teman 1  : “……”

(“Ini” dan “itu” ya beda dong:mrgreen: )

Habis ini ada sedikit cerita tentang pepaya, lho!

Pasar Seni ITB 2010: Ramai Sekali!

Catatan: foto-foto di posting-an ini juga saya taruh di halaman “photo release“.

Setelah beberapa teman saya dan narablog yang bertanya-tanya (online maupun offline), kapan laporan Pasar Seni, akhirnya kelar juga ini posting-an. 😀

Luar biasa. Pasar Seni tahun ini, sungguh luar biasa menurut saya. 😀

Sedikit Pendahuluan

Tahun ini, sebanyak 195 produk seni dan kreatif, 26 gerai pendidikan, dan 78 gerai kuliner dipamerkan1. Pengunjung udah mulai datang sejak pagi sekitar pukul 07.00, dan terus menerus datang sampai ditutup pukul 20.00. Saya sendiri datang sejak jam setengah delapan pagi, karena siangnya ada keperluan yang harus saya ikuti di tempat lain (jaah bahasanya… :mrgreen:). Semua foto-foto yang akan saya tampilkan adalah foto yang saya ambil di antara pukul 07.30 dan sekitar pukul 10.30. Dalam rentang waktu segitu aja, pengunjung yang datang udah sangat banyak, padahal jam-jam segitu bukan puncak acaranya. 😀

Secara garis besar, ada dua zona dalam acara ini2. Ada zona “melupakan” dan zona “mengingatkan”. Di Zona mengingatkan, pengunjung diajak untuk mengesampingkan persepsi umum terhadap suatu keadaan. Di zona ini, para seniman menggelar karyanya di jalan dan melebur dengan pengunjung. Tujuannya, menunjukkan sinergi antara jalan dan karya seni. Ada Jamming Area di zona ini, sebuah area tanpa sambungan internet. Mau bawa hape secanggih apapun, gak bakalan berfungsi di area tersebut. Gunanya, untuk memaksimalkan cara bersosialisasi paling tua, yaitu bertatap muka, tegur sapa, dan bertukar kata.

Zona kedua, zona “melupakan”, bertujuan untuk menghadirkan suasana yang seringkali terlupakan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh wahananya, ada “kamar vibrator”. Namanya memang aneh (:lol:), tapi wahana ini mengingatkan kita akan bahaya gempa bumi di Indonesia. Di wahana ini dibuat simulasi gempa, dengan gabungan iptek, serta seni. Ada juga wahana “tamasamasya”, pengunjung akan merasa seperti memasuki ruang waktu karena menjadi saksi perkembangan sejarah dunia. Ada perkembangan mode hingga teknologi buatan manusia.

Contoh wahana-wahana lain yang ada di Pasar Seni tahun ini (dan saya tidak bisa mencoba semuanya :cry:) adalah “Wahana Air Doa”, “Neraka Asoy Geboy”, “Museum Masa Depan”, “Tradisi”, Bamboo Beat, ” Jalan Seni”, “Wahana Sawah”, dan “Menara Jamming.

Nggak lupa, ada penampilan musikus-musikus juga dong. 🙂 Di antaranya (yang saya lihat di flyer promosi) adalah P-Project, Saraasvati, Bottlesmoker ft. Aerli Rasinah, Saratuspersen, Zeke Khaseli, Frau, Armada Racun, Raksasa, Tigapagi, The Panas Dalam, Flower City Rollin, Tabrak Lari Blues, dan Ababil Attack.

FYI, Bisa dibilang, Kota Bandung jadi setengah lumpuh akibat kemacetan parah hari minggu (10/10) lalu. Salah satu penyebabnya, selain karena hari minggu lalu banyak sekali acara pernikahan, juga karena Pasar Seni ini jadi magnet orang yang teramat kuat. 😀

Mari Kita Mulai…

Hari minggu lalu, jalan Ganeca ditutup di dua sisi, barat dan timur. Terima kasih juga kepada Dago Car Free Day (jalan Dago setiap hari minggu tidak boleh dilewati kendaraan bermotor sejak pagi hingga jam 9) di arah timur. 🙂  Jadi, semua kendaraan pengunjung diparkir  agak jauh dari ITB, mungkin sekitar jl. Ranggamalela, jl. Badak Singa, jl. Ciungwanara, Jl. Mundinglaya, dan Jl. Gelap Nyawang. Pengunjung juga tidak boleh masuk via gerbang belakang ITB (gerbang utara), supaya pengunjung bisa menyaksikan acara Pasar Seni ini secara utuh. 🙂

Gapura penyambutan di barat jl. Ganeca, terbuat dari akar ranting.

Gapura penyambutan di sebelah barat jl. Ganeca. Itu jembatan lho, di antara gapuranya… Buktinya, lihat di foto selanjutnya.

Ayo ayo mau lihat seperti apa Pasar Seni tahun ini?

Balada Mahasiswa #4

Whiteboard vs Blackboard

Di suatu kelas, seorang dosen (yang sudah jadi) profesor berumur pertengahan 30-an, sedang mengajar mahasiswanya. Dosen ini terkenal di mata mahasiswanya sebagai dosen yang memakai peralatan “analog” atau “manual” sebagai bahan pengajaran. Tanpa bantuan laptop, infocus, apalagi OHP (overhead projector), selama mengajar beliau hanya menggunakan kapur. Ajaib, karena dia seorang dosen di teknik elektro.

Eits, untuk lanjutkan, klik sini…

Balada Mahasiswa #2

Betty, seorang mahasiswi tingkat 4 (yang bisa dibilang) rajin (namun tidak tekun), senang menanyakan hal-hal “kecil” untuk keperluan Tugas Akhir-nya.

Betty : “Bu, benar ukuran font-nya segini? Jenis font-nya times new roman ya, Bu? Bukan Arial?
Dosen  : “Iya, benar. Di draft yang sudah saya perbaiki sudah ada perbaikan-perbaikannya, termasuk indentation dan paragrafnya.”
Betty : “Iya, Bu, makasih banyak.”       *membuka-buka draft-nya*

Betty: “Jarak antara batas halaman atas dengan judul bab sudah benar segini, Bu?”

Dosen: *melihat ke arah Betty menunjuk di draft-nya* “Oh, belum saya betulkan, ya? Itu seharusnya begini…. begitu… bla bla..”
Betty : “Baik, Bu….”
Dosen  : “Tenang aja, kamu nanti kasih ke saya lagi yang sudah kamu perbaiki, nanti saya lihat lagi.”
Betty : “Iya, maap ya Bu, saya terlalu banyak menanyakan hal2 yang kecil.”
Dosen  : “Nggak apa-apa…”       *tersenyum*
Betty : “Maklum, Bu, saya baru pertama kali ngambil TA…”

Emang mau berapa kali ambil TA? Lanjut!