[Fiksi] Tubuh Tergeletak

Waktu sudah memasuki tengah hari. Matahari telah meninggi di atas langit. Saatnya sholat Dzuhur, pikir Rami. Setelah menikmati berbagai macam jamuan dan acara di kampusnya sejak pagi, Rami belum sempat beristirahat sejenakpun. Setelah acara pelepasan di gedung sekolahnya, ia langsung mengikuti berbagai macam pertemuan yang diselenggarakan organisasi yang dipimpinnya. Saat ini, Rami berada di sebuah restoran, tempat ia sedang ditraktir oleh salah seorang kawannya. Rami ingin sekalian beristirahat sehabis sholat dzuhur, cukuplah dengan menyelonjorkan kaki dan berbaring sebentar sambil menunggu makanan jadi.

Rami bergerak menuju musholla. Letak musholla itu berada di ujung belakang bangunan restoran. Kalau tak teliti melihat papan penunjuk arah, tak akan terlihat. Koridor menuju musholla tersebut terlihat dari ruang utama restoran, bersih dan terang oleh lampu. Tak terlihat seorangpun ketika Rami berjalan di sana. Terlihat jelas musholla itu, berada berhadapan dengan tempat wudhu.

Ketika membasuh tangannya di tempat wudhu itu, tanpa disengaja Rami menoleh ke belakang, ke arah musholla. Sepintas tadi ia merasakan sedikit perasaan tak enak. Terlihat karpet hijau yang menutupi seluruh lantai musholla. Namun, samar-samar, terlihat sesuatu di atas karpet tersebut. Tak terlihat jelas, karena keadaan musholla yang gelap. Lampunya tak menyala, hanya diterangi oleh sedikit cahaya dari koridor.

Benda yang dilihat Rami memang tak jelas, namun Rami yakin itu adalah benda yang cukup besar. Perlahan ia mematikan air keran, dan meninggalkan tempat wudhu dalam kesuniyan. Pelan-pelan ia berjalan ke arah musholla, berusaha tak mengeluarkan suara langkah kaki telanjangnya. Semakin dekat dia dengan pintu musholla, semakin tampak jelas apa benda yang tergeletak itu. Kaki. Kaki seseorang. Bagian paha dan betis. Rami melihatnya.

Apakah itu orang yang sedang tidur? Siapa orang yang tidur di musholla restoran besar macam begini?

Benak Rami bertanya-tanya. Dia tak akan heran jika saja ini adalah masjid atau musholla di sebuah pusat perbelanjaan. Banyak orang tidur-tiduran di sana tak mengherankan. Tetapi, ini restoran. Lagipula, perasaan tak enak apa ini? Sebuah perasaan yang mengganjal sejak Rami mendekati musholla sebelum ber-wudhu tadi. Ada yang tak beres di sini.

Rami memberanikan diri melongok masuk ke musholla. Bagian lain tubuh manusia itu terlihat. Tubuh seorang laki-laki tergeletak, dengan posisi miring ke kanan persis seperti orang tertidur. Tangan kanan pria itu menumpu kepalanya, dan tangan kirinya berada di belakang punggung. Tak akan ada yang tahu bahwa laki-laki itu telah meninggal kalau saja Rami tak melihat matanya yang terbelalak terbuka. Dari mulutnya keluar busa, dan dari hidungnya terlihat sedikit darah mengering.

Mayat. Pria ini tewas. Rami bingung, apa yang harus dilakukannya?

******

Sudah selesai. Begini saja kisahnya. Saya sendiri bingung mau melanjutkan seperti apa. :mrgreen:  Tahu-tahu saja saya dapat inspirasi ketika saya sholat di sebuah restoran beberapa waktu lalu. Suasananya mendukung sekali, dengan pencahayaan musholla yang buruk. Suasana gelap memuramkan suasana. 😆

Kasih komentar?

[Buku] The Vanished Man: Si Perapal

Saatnya membahas buku lagi. :mrgreen: Ini adalah novel ber-genre thriller-crime. Yeah, kesukaan saya. 😀 Buku ini adalah buku karangan Jeffery Deaver yang pertama saya baca. Saya bener-bener belum kenal Jeffery Deaver —yang ternyata adalah maestro novel thriller— dan belum pernah baca hasil karyanya. Dan asal tahu saja, saya membeli buku ini hanya karena sebuah kebetulan. Saat itu (tahun 2011 sekitar awal bulan desember) di Togamas Bandung, saya lagi diburu waktu. Teman saya sudah minta dijemput —untuk suatu urusan— padahal saya belum selesai memilih buku. Dan entah mengapa, begitu saya tarik buku The Vanished Man ini dari raknya, dan saya baca rangkuman cerita di sampul belakang, saya langsung tertarik. Saya tertarik karena model pembunuhannya seperti sulap. Ya, sang pelaku kejahatan adalah pesulap. 😀

Sebelum itu, saya laporan dulu…

Sebagai laporan, dua buku yang saya bahas di posting-an terdahulu, novel fantasi Incarceron dan novel thriller-crime 18 Seconds sudah selesai saya baca sejak lama. Sesuai dugaan dan ekspektasi saya, kedua buku itu tidak mengecewakan (silakan simak posting-an tersebut untuk membaca ulasan saya). Di luar dugaan, Incarceron ternyata ringan dan mudah untuk diikuti. Tak perlu terlalu rumit berimajinasi membayangkan setting dan latar belakangnya. Tetapi, meski saya bilang mudah diikuti dan ringan, bukan berarti Incarceron karangan Catherine Fisher ini tidak layak dibeli. 😀 Plot ceritanya unik, lain dari novel fantasi yang selama ini saya baca, meskipun menurut saya akhir ceritanya terlalu menggantung membuat saya penasaran. Dan saya merasa Incarceron terlalu cepat selesai alias masih bisa dilanjutkan ke buku kedua —kalau memang penulisnya ingin. 😐

Mari masuk ke dalam bahasan buku…

Setelah saya cari info, ternyata Jeffery Deaver begitu terkenal. Karya-karyanya banyak, ber-genre fiksi misteri, crime, dan thriller. Tentu saja artinya berkisar di antara kejahatan, detektif, dan forensik. Salah satu bukunya, serial novel yang bertokoh utama Lincoln Rhyme (Lincoln Rhyme Series), adalah buku ini. Terbit di tahun 2003 dan merupakan buku kelima dari seri Lincoln Rhyme.

Seperti yang di atas tadi saya sebut, Lincoln Rhyme sang tokoh utama ialah seorang mantan polisi yang saat ini bekerja sebagai konsultan forensik untuk Kepolisian New York. Tak sendirian, ada tokoh utama lain yang berperan cukup dominan.  Adalah Amelia Sachs, seorang opsir polisi wanita yang bertugas di divisi kejahatan anak-anak sebagai rekan sekaligus kekasih Rhyme. Sebelum keluar dari kepolisian, Rhyme adalah seorang polisi yang hebat. Namun kecelakaan di lokasi TKP membuatnya menderita Tetraplegia, atau nama lainnya Quadriplegia, kelumpuhan dari bagian leher ke bawah. Hanya satu jari dan kepalanya yang masih bisa aktif. Kehidupannya hanya di atas kasur dan di kursi roda. 😐

Semua deskripsi di atas saya dapat dari film The Bone Collector (1999). :mrgreen: Buku pertama serial Lincoln Rhyme tersebut telah di-film-kan. Lincoln Ryhme diperankan oleh Denzel Washington (salah satu aktor favorit saya) dan Amelia Sachs diperankan oleh Angelina Jolie. Dalam film itu nama belakang Amelia masih Donaghy. Entah karena apa.

Lincoln Rhyme dan Amelia Sachs

Berkat film itulah, saya jadi bisa lebih mudah membayangkan rupa para tokoh, setting tempat tinggal sekaligus kantor Rhyme, setting kota New York, juga mengenai penyakit yang diderita Rhyme.

Saya rasa miriplah kedua orang ini seperti Sherlock Holmes dan John Watson. :mrgreen:  Rhyme sebagai Holmes, dan Sachs sebagai Watson. Bedanya, Holmes bertubuh sempurna dan jago bela diri, sedangkan Rhyme hanya bisa mengandalkan tim konsultannya dan otaknya. 🙂

Sedikit jalan cerita….

Dunia sulap. Hebat sekali. Itulah yang saya rasakan dari membaca buku ini. Cerita pembunuhan dalam cerita ini berhubungan dengan trik sulap, dan benar bahwa sang tokoh antagonis adalah seorang pesulap. Semua pembunuhan yang dilakukan oleh sang pelaku meniru trik sulap terkenal zaman dulu. Mau baca lanjutannya? Klik sini!

Dua Buku Novel Lagi Siap Untuk Dilahap

Sial, saya benar-benar jadi jarang posting sesuai dengan apa yang saya katakan di posting-an yang dulu. Saya memasuki fase jarang posting! 😦   *saya akan selalu merindukan blogwalking dan kalian semua, narablog sekalian*

Jadi, ada dua buku…

Iya, ada dua buku novel nih… apa? Oh, bukan, bukan untuk giveaway, bukan. Maap ya. :mrgreen:   Dua buku ini —lagi-lagi novel genre thriller dan sebuah yang ber-genre fantasi— adalah deretan buku baru yang siap saya “lahap”. 😀  Di posting-an yang dulu itu (1/11), dari tiga novel sudah saya habisi dua —yang All The Pretty Girls oleh J.T. Ellison dan The Stolen karya Jason Pinter. Entah mengapa minat saya sampai saat ini masih ingin terus membaca novel ber-genre thriller, tidak yang lain, hingga akhirnya saya melupakan Pelangi Melbourne karya Zuhairi Misrawi. Belum saya baca. 😦

Satu posting-an yang membahas tentang buku Every Dead Thing karangan John Connolly dua minggu setelah itu (14/11) juga membuktikan bahwa saya sedang gandrung dengan yang namanya novel thriller. Sampai-sampai genre fantasi yang saya suka pun tidak saya gubris. :mrgreen:   Jadi, jangan tanya apakah saya sudah membaca The Siege dan The Leap karya Jonathan Stroud, Ranger’s Apprentice: The Icebound Land karangan John Flanagan, dan Abarat: Days of Magic, Nights of Wars karangan Clive Barker. Bahkan The Necromancer oleh Michael Scott belum saya baca. :mrgreen:

Kedua buku itu adalah…

#1 “18 Seconds”, karangan George Shuman

Buku ini yang saya sebut di atas ber-genre thriller. Cerita masih seputar pembunuhan berantai dengan latar belakang negara Amerika di tahun 2000-an. Satu-satunya sebab saya tertarik dengan buku ini karena saya suka dengan konsep “18 detik”-nya. 🙂 Mengapa berjudul “18 detik”? Karena sang tokoh utama novel ini, Sherry Moore, adalah seseorang yang dikaruniai kemampuan untuk melihat 18 detik terakhir ingatan seseorang sesaat sebelum orang itu meninggal. Entah ya, kemampuan itu adalah karunia atau malah musibah, karena Sherry sendiri mendapatkan kemampuan itu setelah sebuah kecelakaan yang ia alami waktu masih berumur 5 tahun dan kecelakaan itu membuatnya buta. Ya, Sherry Moore diceritakan adalah wanita buta nan cantik (sangat cantik dan menarik kalau melihat deskripsi yang disajikan Pak Shuman :mrgreen: ) yang mampu “melihat” sisa ingatan mayat yang ia sentuh. Sherry bekerja sebagai konsultan investigasi, dia sering dimintai bantuan oleh polisi dan berbagai macam pihak untuk membantu menyelesaikan kasus yang berakhir buntu. Tentu, polisi tak terang-terangan memberitahu pers bahwa mereka meminta bantuan Sherry. Semua dilakukan lewat diam-diam, karena pihak polisi tak yakin cara investigasi mereka akan diterima oleh hakim dan para juri, apalagi kalau dihadapkan pada pengacara tersangka yang handal.

Buku fantasi yang saya maksud adalah Incarceron…

[Buku] Every Dead Thing: Orang-Orang Mati

Di posting-an saya yang dulu, saya bilang bahwa saya suka novel genre thriller, ‘kan? Nah, buku yang saya bahas kali ini juga ber-genre itu. 🙂  Well, sebenarnya buku ini pantas diberi genre misteri juga sih, karena mengandung sedikit unsur supernatural. :mrgreen:

Every Dead Thing, adalah buku pertama John Connolly, sekaligus buku pertama dari serial Charlie Parker. Sebenarnya, saya membeli buku ini hanya karena tertarik saat melihat rangkuman cerita di bagian belakang buku (tanpa tahu siapa itu John Connolly). Saya baru tahu baru-baru ini saat saya mulai membacanya, bahwa buku ini ternyata adalah buku berseri, dalam artian ada buku lain setelah buku ini yang menggunakan tokoh utama sama (dan kemungkinan besar cerita tetap bersambung), yaitu Charlie Parker. 🙂

Ukuran buku ini besar, tidak seukuran buku yang saya bahas di posting-an itu. Besar ukuran kertasnya hampir sebesar A5, dan karena buku ini terbitan Gramedia Pustaka Utama, kualitas kertasnya selalu bagus, bahkan (menurut saya) cenderung berlebihan (untuk sebuah novel, sehingga harga buku menjadi mahal).

Seperti yang saya bilang di awal tadi, ada unsur supernatural atau unsur gaib di buku ini. 😀  Ada perihal ramalan dan arwah, digabung dengan gaya penulisan alur waktu campuran antara masa sekarang dan masa lalu (flashback), membuat saya harus mikir dalam membaca buku ini. Butuh sedikit fantasi dan imajinasi untuk mengerti dan memahami jalan cerita keseluruhan —seperti menggabungkan puzzle—  dari nasib sang tokoh utama. Meski saya belum selesai membacanya, tapi saya tahu, novel ini sangat luar biasa. 😳

Oh ya, korban pembunuhan di buku ini digambarkan secara vulgar dan sadis. Saya membayangkannya aja sungguh mengerikan. Dikuliti, mata dicungkil, darah membanjir di lantai, dan beberapa mutilasi…… seperti itulah. 😐

Tapi tenang, tetap ada unsur “kelucuan” di dalam cerita buku ini yang mampu membuat saya tersenyum hingga tertawa sendiri. 😀 Gaya narasi yang mengambil sudut pandang orang pertama (sang tokoh utama, Charlie Parker) ditambah beberapa deskripsi bergaya konyol dan komentar-komentar celetukan sarkastik nan lucu Charlie membuat tensi selama membaca ini naik-turun. Connolly mampu menggabungkan rasa ngeri, seram, dan tawa sekaligus. 🙂

Sedikit jalan cerita…

Saya akan mencoba menceritakan isi buku ini sepemahaman saya, dari intisari yang saya dapat setelah saya menggabungkan seluruh jalan cerita yang ada. *maklum, alur cerita berganti-ganti dari masa saat ini ke masa lalu, dan sebaliknya*  Ayooo lanjut bacaaa ringkasan ceritanyaaaa!

[Film] The Town: Distrik Perampok Bank

Pertama kali lihat sampul film ini, saya tertarik sama embel-embel tagline-nya yang berkata “Welcome to the bank robbery capital of America“. Kedua, tentu saya tertarik ama jajaran pemainnya, ada Ben Affleck (State of Play, Daredevil, Paycheck), Jeremy Renner (The Hurt Locker, 28 Weeks Later), dan Rebecca Hall (The Prestige, Dorian Gray). “Film tentang perampokan, dan pemainnya mereka, pasti menarik,” pikir saya. 😀

Ternyata benar, nggak menyesal saya membeli film keluaran tahun 2010 ini. Setelah saya tonton, luar biasa. Udah lama saya gak nonton film ber-genre kriminalitas dengan adegan tembak-menembak cukup intens, ditambah bumbu percintaan pula. 😀 Saya pun terkejut waktu membalik sampulnya, dan membaca ringkasan di bagian belakang, Ben Affleck adalah sutradaranya! Belum lama ini juga saya nonton The Hurt Locker, saya masih inget dengan pemeran tokoh utamanya, Jeremy Renner. Wah, top dah nih pilem, pikir saya gitu.

Sebagai penghibur, ada Blake Lively di sini. :mrgreen: Bagi yang ngikutin serial Gossip Girl pasti tahu dengan karakter Serena, Serena van der Woodsen. Dia juga main di film The Sisterhood of The Traveling Pants 1 & 2 sebagai Bridget. 😉

Sedikit Pendahuluan….

Film ini diadaptasi dari novel buatan Chuck Hogan yang berjudul Prince of Thieves, terbitan tahun 2004.

Selama ini saya hanya sebatas tahu Ben sebagai aktor, bukan sutradara. Ternyata, Ben udah pernah jadi sutradara sebelum film ini di Gone Baby Gone. Di film ber-genre kriminalitas dan misteri itu, dia menyutradarai adik kandungnya, Casey Affleck, sebagai tokoh utama. Di The Town ini, selain sebagai sutradara, Ben menulis skenario dan screenplay1 (seperti yang dia lakukan juga saat proyek Gone Baby Gone). Melihat nilai film sebelumnya di imdb.com, Gone Baby Gone dapet nilai bagus, 7,9 dari 10. Efeknya terasa juga saat menyutradarai film The Town ini. Gak mengecewakan. 🙂

Mari ikuti pembahasan saya…

Darker Than Black, Kisah “Keiyakusha”…

Anime ini juga udah abis gw tonton, udah beberapa minggu yang lalu sih, dan anime ini bagus menurut gw, karena ceritanya yang orisinil, ga ada yang nandingin cerita anime ini, selain Code Geass dan Fullmetal Alchemist tentunya. Gw suka anime ini juga karena animasinya yang bagus, lain ama anime laen. Rasanya,  gw sebagai penikmat biasa yang ga ngerti terknologi animasi, anime buatan studio BONES ini gerakan2 karakternya dan efek2 pertarungannya terasa halus dilihat, ga putus2 kayak anime laen, enak di mata. Entah juga apa penyebabnya, mungkin emang teknologinya? Ato karena resolusi file-nya yang gw punya gede, 1280×720 pixel? Hmm… ga tau deh…

Nih anime 25 episode (26 plus satu bonus episode) disutradarai ama Tensai Okamura, orang yang bertanggung jawab dalam pembuatan anime Neon Genesis Evangelion, Ghost In The Shell, Cowboy Bebop, Full Metal Panic, Samurai Champloo, dan masih banyak lagi anime bagus lainnya. Siapa sih yg ga tau karya2 di atas? Udah gitu yang buat studio BONES pula, yang ngebuat movie Sword of The Stranger, udah nonton? Hehehe…

Dari segi musik alias soundtrack, ga usah khawatir, ga akan rugi nonton anime ini. Udah animasinya bagus, dilengkapi dengan musik yang bagus pula. Musiknya diramu oleh Yoko Kanno, mantan anggota grup musik The Seatbelts, yang udah banyak ngebuat sontrek banyak game, movie dan anime terkenal macem Cowboy Bebop, Ghost In The Shell: Stand Alone Complex, Wolf’s Rain, Cardcaptor Sakura, sampe yang paling baru Macross Frontier. Udah nonton Honey and Clover Movie ? Dia juga yang ngebuat musiknya…

Jadi, nih anime setting-nya di Jepang, tahun berapa ga disebutin sepanjang anime, pokoknya di awal anime dijelaskan bahwa sepuluh tahun yang lalu, sebuah kawasan yang aneh dan ga normal, disebut Hell’s Gate, muncul di Tokyo. Ga disebutin gimana munculnya gimana, tapi yang pasti kalo di Jepang ada Hell’s Gate, di Afrika Selatan ada kawasan serupa tapi bernama Heaven’s Gate. Sayangnya, Heaven’s Gate udah beberapa tahun yang lalu hilang lenyap ga diketahui apa dan siapa penyebabnya.

Nah, Ketika muncul Gate-Gate ini, bintang di langit hilang semua, digantikan sama “bintang palsu”, dan muncul juga orang2 yang mempunyai kemampuan khusus, yang dikenal dengan nama Keiyakusha ato contractor bahasa inggrisnya. Bintang palsu yang ada langit itulah yang menunjukkan keberadaan para contractor itu. Setiap kali kekuatan ada contractor yang menggunakan kekuatannya, bintang tersebut akan berreaksi, dan kalo ada contractor yang mati, selalu ada bintang jatuh. O ya, keberadaan keiyakusha ini dirahasiakan dari warga sipil, hanya polisi dan beberapa instansi penting yang tahu. Karena itu, banyak contractor yang digunakan sebagai agen rahasia negara asalnya.

Keiyakusha ini awalnya manusia biasa loh, sebelum munculnya gate. Setelah muncul peristiwa sepuluh tahun yang lalu itu, entah gimana bisa ada manusia yang mempunyai kekuatan khusus. Emang enak sih punya kemampuan khusus, tapi para contractor ini udah kehilangan perasaannya. Mereka udah ga punya lagi emosi yang dimiliki manusia biasa. Makanya mereka ga segan2 membunuh orang. Para contractor bergerak berdasarkan rasio dan logika mereka. Ada lagi ga enaknya, contractor harus “membayar” setiap kali menggunakan kekuatannya.  Setiap kali setelah mereka menggunakan kekuatannya, ada hal yang harus mereka lakukan. Makin kuat kemampuannya, makin “gila” juga hal yang harus mereka lakukan. Banyak banget macemnya, ada yang matahin jarinya sendiri, makan rokok (iya, makan, bukan dihisap…), bikin puisi, ngebalikin sepatu orang yang dibunuhnya, sampe yang paling sadis yaitu minum darah anak kecil!! Ada juga yang unik, yaitu setiap kali menggunakan kekuatannya, dia bertambah tua, dan ada yang kebalikannya, malah bertambah muda (“jadi lama2 bisa hilang dong, jadi bayi?” Yup..!! Anda benar! Menghilang!!)

Ada beberapa tokoh utamanya, ada Hei, Huang, Mao, Yin, dan Misaki Kirihara.

Dari ki-ka: Huang, Yin, Hei, Mao

Hei, itu nama agennya. Kalo di kehidupannya yang ngaku sebagai mahasiswa dari Cina, namanya Li Shengsun. Di anime ini dia dikenal punya kode BK-201, itu kode bintangnya (Messier Code). Ntar lama2 di akhir episode bakal ketahuan kalo nomor bintang itu bukan miliknya, tapi milik adiknya, Bai. Kok bisa? …. Jangan ada spoiler ah di sini… tonton sendiri yah…. 😀 Hei ini bergabung dengan sindikat rahasia yang namannya cuman dikenal sebagai Syndicate, untuk mencari adiknya, Bai, yang hilang waktu hilangnya Heaven’s Gate di Afrika Selatan. Hei punya kekuatan untuk membuat listrik, dan bisa menyalurkannya melalui konduktor. Senjatanya seperti kabel di tangan yang bakal ngejerat lawan dan ZZZIPPP!!! … setrum deh….

Hei…

Huang, dia ini rekan kerja Hei, bersama-sama Mao dan Yin. Dia bisa disebut penanggung jawab lapangan untuk grupnya. Jadi, biasanya setiap grup di organisasi Syndicate itu punya satu supervisor (si Huang ini), satu “Doll” (si Yin), dan dua contractor (Mao dan Hei). Huang ini manusia biasa, dan dialah yang mendapat informasi penting dan misi dari organisasi, dan mem-briefing Hei untuk melaksakannya. Ntar di akhir-akhir episode diceritakan kisah cintanya, kekasihnya seorang keiyakusha yang membunuh rekan kerjanya (dulu dia polisi lho…). Di akhir anime Huang nanti mati… wah spoiler nih…

Huang, juga lagi bertugas….

Mao… Kucing yang lucu…

Mao, dia ini contractor loh, meskipun bentuknya kucing. Dia udah kehilangan tubuhnya, ga tahu kenapa. Yang pasti kekuatannya adalah memasuki (atau merasuki?) tubuh hewan, hewan apa aja.  Dia bisa ikut memiliki insting hewan yang dirasukinya. Keren? …. Iya sih, tapi… dia harus rutin menge-cek jaringan wireless di otaknya supaya insting hewan yang dirasuki tidak mengambil alih tubuh. Kalo sampe insting hewannya menagmbil alih, sama artinya dia mati, seperti yang terjadi di akhir anime… Mao benci musim semi katanya, karena pas musim itu adalah musim kucing kawin… dia diuber-uber terus ama kucing betina… Hahaha… :))

Yin, masih bertugas…

Yin, dia ini yang disebut “Doll”. Sama kayak keiyakusha, dulunya dia manusia biasa, namanya Kirsi. JSemenjak muncul gate, dia jadi seperti ini. Jadi yang namanya “Doll” itu kayak spirit medium, dia bisa mengendalikan seperti roh untuk mengintai, bahkan mendengar pembicaraan orang. Kekuatannya yang gw tau ya itu, tapi harus dengan medium air. Tugas dia di grupnya untuk mengintai dan mencari posisi target. Bahkan di beberapa episode dia jadi penuntun arah buat Hei.

Selain keempat karakter utama di atas, ada juga karakter polisi yang mengejar2 sindikat ini.

dari ki-ka: Yutaka Kouno, Yuusuke Saitou, Misaki Kirihara, Kunio Matsumoto.

Foto di atas, adalah grup polisi yang dipimpin ama Misaki di bagian foreign affairs (gw ga tau apa di Indonesia) yang menginvestigasi segala sesuatu yang berhubungan dengan keiyakusha. Gw lupa jabatannya, tapi yang pasti cukup tinggi kok.

Ga ada yang bisa gw ceritain untuk para polisi ini, yang pasti si Saito naksir Misaki. Di episode 26, yang gw bilang sebagai episode bonus karena ga berhubungan sama sekali dengan akhir episode 25, diceritakan di sana grup Misaki lagi ngejar Hei, dan Saito kelepasan ngomong bahwa dia suka Misaki. Sial buat Saito, mereka berempat di atas lupa apa yang terjadi saat itu gara2 gas yang disebabkan ama barang bawaan Mao. Huakakakakakakakak… :)) Poor Saito

Monggo dilihat animenya, ada banyak fraksi yang bertikai di anime ini, ga bisa gw tulis semua, kepanjangan. Sampe agen rahasia Inggris MI6 juga muncul. Overall, anime ini bagus! Gw kasih bintang 4,5 dari 5 bintang! Endingnya menurut gw amat disayangkan sih… tapi gapapa, emang harus gitu nasibnya, kalo ga bukan Syndicate namanya, hahahahahahahaha….