27
Aug
13

Perihal Toilet di Tempat Umum

Wah. Wow. Sudah lama sekali sejak posting-an terakhir saya, ya. Padahal dulu saya sudah ingin rutin posting setiap tiga hari. Inginnya seperti dulu lagi, tahun-tahun aktif saya sebelum hiatus setahun yang kemarin itu. Membuat komitmen itu mudah, tapi melaksanakannya yang susah. Saya nggak mau mencari pembenaran atau alasan, tapi seminggu-dua minggu kemarin di dunia nyata benar-benar “mengasyikkan”, dalam tanda kutip. Ada kuliah tambahan—program studi saya menyebutnya kuliah pra-magister—bagi kami para mahasiswa baru. Dan itu cukup seru. Saya mendapat kenalan dan teman baru, dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang pekerjaan. Ada yang masih baru lulus, dan ada yang sudah bekerja di instansi pemerintah dan di perusahaan swasta. Rentang umur kami juga cukup lebar. Kesempatan untuk membaur dengan orang dewasa. :mrgreen:

Mau tidak mau, tak ada waktu kosong bagi kami walaupun masa perkuliahan resmi belum tiba. Kuliah baru dimulai kemarin, senin (26/8), menurut kalender akademik. Kuliah pra-magister berfungsi seperti kuliah matrikulasi bagi yang pendidikan sarjananya tidak sama atau tidak sesuai dengan program studi pascasarjana saat ini. Dan bagi kami yang sarjananya di program studi yang sama, seminggu kemarin jadi momen untuk mengingat-ingat kembali pelajaran zaman dulu. Jadi seperti mengingat “mimpi buruk” yang telah lalu untuk beberapa mata kuliah. Hahaha… 😆

Tentang Toilet, WC, Kamar Mandi, Atau apapun itulah…

toilet_square

Saya teringat tadi di kampus sewaktu buang hajat. Ada satu hal penting yang harus diingat oleh kita semua, sebagai penduduk Indonesia maupun sebagai manusia. Sebagai manusia yang memiliki keperluan untuk membuang kotoran dari dalam tubuh secara rutin, pasti tidak akan lepas dari WC. Prasarana MCK (Mandi Cuci Kakus) harus tersedia di tempat kita beraktivitas, dan harus mudah dijangkau. Di sekolah, di pusat perbelanjaan, di pasar, bahkan di kantor. Sebenarnya sih semua sama saja, mau dimanapun itu WC-nya. Berhubung kasus yang saya alami di kantor dulu tempat saya bekerja di Jakarta, ya saya ambil itu saja.

Isunya sih simpel, sederhana. Soal toilet duduk. Karena saya laki-laki, jadi ini soal toilet duduk di kamar mandi laki-laki (lain soal kalau di kamar mandi wanita). Saya kalau buang air kecil tidak mau di urinoir. Saya lebih memilih masuk ke dalam bilik WC. Entah kenapa, rasanya risih kalau sedang pipis terlihat oleh banyak orang (apalagi kalau di mall begitu). Seringkali, setiap kali saya masuk ke dalam bilik bertoilet duduk, itu dudukan toilet ada dalam keadaan turun. Artinya, ada orang habis menggunakan itu tapi nggak dikembalikan ke posisi naik. Ini yang menurut saya menyeramkan dan menyebalkan. Seram, karena saya nggak tahu itu dudukan memang bersih, atau habis diinjak sepatu, atau habis kena cipratan air seni. Sebal, karena masih banyak dari kita yang belum mengetahui tata krama dalam bertoilet umum.

Memang, saya sadar, saya sendiri enggan buang air besar dengan cara duduk di toilet umum. Lebih baik menahan BAB daripada harus BAB di tempat umum. Kalaupun harus BAB darurat, saya akan memilih toilet jongkok. Jadi memang sebenarnya agak nggak relevan saya menulis ini, karena toh saya hanya ingin pipis, jadi nggak harus menggunakan dudukan tersebut, ‘kan? Lagipula, barangkali mayoritas lelaki Indonesia juga berpikiran seperti saya, “siapa yang mau pakai dudukan di toilet umum?” Tetapi, bagaimana kalau ada orang yang ingin memakai dudukan itu? Siapa tahu ada orang yang nggak bisa memakai toilet jongkok. Siapa tahu saat orang itu ingin buang hajat, semua bilik penuh, hanya tersisa bilik toilet duduk.

Belum lagi bule-bule, terutama wisatawan. Mereka belum terbiasa dengan toilet jongkok. Kasihan kalau mereka disajikan pemandangan “aneh” di WC Indonesia. Toilet yang disediakan adalah toilet duduk, tapi kok seperti habis dibuat jongkok? Ada bekas sepatu. Sudah begitu tak ada tisu pula. Padahal fungsi tisu besar, lho. Kalau dalam keadaan darurat, tisu bisa dipakai sebagai alas bokong kalau ingin BAB duduk. Bagi yang tak ingin tangannya kotor, tisu bisa dipakai untuk pelindung tangan saat menekan tombol flush, menaikkan dudukan toilet, dan membuka pintu bilik toilet (tetap jangan lupa cuci tangan sebelum keluar kamar mandi!).

Toilet dg penutup

Seperti inilah keadaan saat saya masuk, dudukannya ada di bawah….

Toilet tanpa penutup

Seharusnya seperti ini, dudukan dalam keadaan terangkat.

kaki ke toilet

Saya terpaksa pakai kaki untuk menaikkannya karena tak ada tisu tersedia di sana…

Kalau seperti kasus gambar di atas mau bagaimana? Saya masuk ke dalam bilik toilet duduk, dudukan toiletnya turun. Sudah begitu dudukannya basah. Ada sedikit noda hitam. Lalu tak ada gulungan tisu di sana. Kalau sudah begini, lebih baik semua toilet di WC laki-laki diganti toilet jongkok saja. Lebih baik begitu daripada toilet duduk dibuat jongkok. Tentukan juga WC-nya kering atau basah, jangan setengah-setengah. Kalau kering, sediakan tisu dan tulis peringatan bahwa ini adalah WC kering. Di Jepang saja ada WC kering bertoilet jongkok. WC kering nggak harus selalu bertoilet duduk.

Atau begini saja bagaimana, dibuat dua ruang kamar mandi laki-laki yang berbeda. Satu ruang untuk toilet duduk semua, dan satu ruang untuk toilet jongkok semua. Jadi orang barat yang pengen WC kering atau toilet duduk, ada tempatnya. Ribet ya…. 😆

Tampaknya masih butuh proses dan waktu yang panjang agar penduduk Indonesia mayoritas bisa mengerti dalam bertoilet umum. Bagaimana caranya saya nggak tahu, barangkali bisa sejak SD atau TK dibiasakan, atau perlu ditempel banyak pengumuman atau peringatan di dinding WC. Tampaknya setiap instansi, badan usaha, kantor, gedung, atau apapun tempatnya harus bisa mengatur hal kecil ini. Hal kecil yang berhubungan dengan “hajat hidup” orang banyak. Kalau disepelekan, bisa bikin penyakit. :mrgreen:

******

Bagaimana dengan narablog sekalian, kalau habis memakai WC, dudukannya dikembalikan seperti semula tidak? Atau kalau hanya buang air kecil, cukup di urinoir? Apapun itu, jangan lupa cuci tangan sebelum keluar dari WC umum ya.

———————————————————————————————————————————————————————

Foto di atas adalah hasil jepretan saya sendiri, dengan menggunakan kamera Motorola Fire XT. Foto kloset duduk yang kecil di atas saya comot dari sini. Seluruh terbitan ini sangat dilindungi oleh hak cipta. Jadi, sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.
Advertisements

65 Responses to “Perihal Toilet di Tempat Umum”


  1. 27 August 2013 at 22:56

    Hihihhiih..mencoba mengingat doloo
    memang sebel ya kalo melihat tapak sepatu di toilet duduk
    ya udah naikkin aja #kebeletpipis #kaboor

    tapi jujur lebih suka toilet jongkok
    ga perlu di naikkin 😀

    • 8 March 2014 at 09:55

      Hahaha Teh Nchie, toilet jongkok mah dijongkokin. :mrgreen:

  2. 27 August 2013 at 23:14

    Walaaah… tempat cewe sih nggak jauh berbeda sama yang tempat cowo. Dudukan closet ada di bawah lebih banyak dan yang pasti banyak jejak sepatu disana. Berhubung saya perempuan dan hobby bawa tissue basah, jadi masih sempat lap pake tissue basah dulu…

    Salam kenal ya…

    Mona – yang ngarepin banyak supaya orang Indonesia bisa ngurangin joroknya…

    • 8 March 2014 at 09:54

      Saya juga berharap Indonesia bisa lebih bersih. 🙂 dan itu dimulai dari diri masing2.

  3. 28 August 2013 at 06:24

    uwah, udah lama saya ga baca tulisannya mas asop. akhirnya kembali nulis lagi 😀
    jujur saya ga pernah mikir begini. saya ga pernah peduli posisinya naik/turun, selama bisa dipakai, ya saya pakai. karena saya cuma pakai WC umum kalau bener2 darurat.
    dan mungkin, saya termasuk tersangka yg tidak menaikkan posisi dudukannya. pengalaman saya terhadap WC duduk masih newbie soalnya 😀
    paling ga, sekarang saya tau hal yang benar 🙂

    • 8 March 2014 at 09:53

      Kalau di rumah sendiri, dan ada wanitanya, memang etikanya katanya sih mengembalikan dudukan ke posisi tidur, atau menutupnya sekalian. 🙂
      Kalo di tempat umum, gak usah seperti itu. 😛 Berdirikan aja dudukannya, apalagi kalo di WC cowok.

  4. 28 August 2013 at 08:21

    Ho, baru tau kalo etikanya gitu. Biasanya sih saya kalo habis pake malah ditutup full. Ternyata salah.

    • 8 March 2014 at 09:51

      Kalau di rumah, dan ada wanitanya, barangkali itu benar. Tapi kalo di WC umum, apalagi di toilet pria, saya rasa nggak begitu. 😯

  5. 28 August 2013 at 08:51

    mungkin user terakhirnya udah terbiasa dengan default dudukan toilet dalam keadaan turun (kalo ada wanita di rumah, etiketnya setelah pake toilet adalah mengembalikan dudukan ke posisi tidur kan). atau jangan2 ada prinita(waria versi wanita) yang masuk WC itu 😐

    • 8 March 2014 at 09:50

      User-nya tidak terbiasa menggunakan WC umum? Hmmmm okay… 😮

  6. 28 August 2013 at 11:07

    :), saya juga sering mendapati tempat duduknya belum dinaikkan.
    Terpaksa saya juga menggunakan “jurus” yang sama dengan mas, pake kaki.:D
    Saya pernah denger dari Ibu saya, kalau WC itu sejatinya menunjukkan kepribadian seseorang itu bersih atau tidaknya.
    Ya belum lagi masalah lain, misal BAK dab BABnya samape gak disiram, waduh itu mau diapain tuh orang. 😦

    • 8 March 2014 at 09:49

      Ck ck ck kalo soal BAB atau BAK gak disiram, jelas keterlaluan. Untuk soal kehigienisan aja kayak begitu, gimana soal kehidupannya yang lain?

      Soal kepribadian seseorang, ada banyak versi ya. 😀 Ada yang bilang kebersihan mobil mencerminkan kebersihan si empunya. :mrgreen:

      • 13 July 2014 at 00:03

        Pernah bbrp kali menemukan BAB atau BAK gak disiram 😦 di toilet umum.

        • 19 November 2015 at 11:37

          Hoeeeeks ugh

  7. 28 August 2013 at 12:02

    sama persis kaya saya kalo lagi di toilet macam ini.
    saya biasa ngangkat dudukan dengan kaki.
    soalnya paling males banget sekalipun ada tisu ngangkat dudukannya pake tangan.
    dan biasanya saya juga gak duduk sih. melainkan jongkok di dudukan itu.

    hehehehe

    • 8 March 2014 at 09:46

      Jangan jongkok di dudukannya dong, jongkok di porselennya aja. 😛

  8. 28 August 2013 at 15:10

    Asoooooooooppp..

    *kunjungan perdana setelah sekian lama gak apdet

    • 8 March 2014 at 09:40

      Yang gak apdet aku atau Mbak nih? 😀

  9. 19 Agfian Muntaha
    28 August 2013 at 15:56

    sama bang, gue juga sukanya toilet jongkok, tapi kalo yg tersedia toilet duduk, ya gue buang air dengan cara duduk. Kan kata orang, kita harus keluar dari zona nyaman, biasanya jongkok, sekali-kali coba duduk, HAHAHAHA!

    • 8 March 2014 at 09:37

      Huahahaha ini lagi, pake zona nyaman di dunia pertoiletan. 😆

  10. 21 pitshu
    28 August 2013 at 17:08

    yah di indo masih banyak kurangnya sih! hahaha.. yg bikin orang naik yah karena ga ada tissue ga bisa alasin. Ada juga orang yang ga mikir, itu klo duduk na di injek bekasnya susah ilang, kenapa ga diangkat dulu, nginjek di porselennya aja, tapi di porselen biasanya licin sih 🙂
    jarang emang di indo ada toilet yang tissue selalu tersedeia, apa lagi yang ada Toilet Seat Sanitizers-nya hihihi. Tapi g lebih risih, toilet yang enggak ada semprotan buat cebok, g kan bukan bule yang pipis boker cukup pakai tissue kering doank! kudu cebok ^^, klo tissue g terbiasa bawa sendiri sih! tapi masa g kudu bawa aer buat cebok juga wakakakaka~

    • 8 March 2014 at 09:37

      Saya pikir Pitshu terbiasa bawa tissue sendiri… 😆

      • 23 Pitshu
        8 March 2014 at 11:04

        kadang bawa kadang lupa wakakaka… cuma kan berharap di mall2 selalu tersedia tissue .. apa lagi mall yang mewah hihihihi~

        • 19 November 2015 at 11:53

          Bisa gawat kalo ga bawa dan pas ga ada tisu di sana. 😀

  11. 28 August 2013 at 17:13

    Waaahh.. aku baru tahu sop kalau yg bener itu dudukannya diangkat.. selama ini aku biarin aja.. 😛

    • 8 March 2014 at 09:36

      Kalo di toilet khusus cewek, rasanya gak diangkat gak apa2. Lain halnya kalo di WC umum yang campur (kalo ada) ato di rumah sendiri. 🙂

  12. 27 sabaiX
    28 August 2013 at 19:44

    berhubung saya cewek, jadi ya dudukan toiletnya selalu di posisi ke bawah. Dudukan toilet diangkat kan untuk pemakai cowo biar kalo pipis nggak nyiprat ke dudukan toilet. Yang sebel justru di kamar mandi rumah kalau suami abis pipis dudukannya tetep dia biarkan terangkat, tidak dia kembalikan ke bawah 😦

    • 8 March 2014 at 09:35

      *uhuk* ini pelajaran buat saya, dan semoga saya gak seperti itu. :mrgreen:

  13. 29 August 2013 at 13:01

    ahahahaha aku lucu baca post ini 😀 sebegitu mendetail untuk urusan wc 😛 benar2 melankolis sejati 😛 aku nih justru paling sering BAB tempat umum, paling sering disambangi itu wc SPBU hhohho, biasanya wcnya bersih2 kok klo di SPBU hhehhe
    udah pernah BAB n BAK di hutan sih, jadi ada wc bersih dan airnya oke, sudah bersyukur sekali hhohho #pamer yg aneh

    • 8 March 2014 at 09:34

      Pemikiran seorang anggota Mapala memang berbeda. Bisa dimaklumi. SUdah terbiasa BAB dan BAK di belantara hutan sih. :mrgreen:

  14. 29 August 2013 at 13:02

    Sudah banyak kok mall & RS yg menyediakan opsi duduk dan jongkok di samping urinoir.

    • 8 March 2014 at 09:33

      Iyap. Tapi di gedung perkantoran belum…

  15. 30 August 2013 at 06:44

    aku juga lebih prefer toilet jongkok daripada toilet duduk, terutama di tempat umum, ya karena masalah itu tadi, kebersihannya perlu ditanyakan

    • 8 March 2014 at 09:33

      Sip. Kebersihan adalah nomor satu! 😉

  16. 30 August 2013 at 10:55

    Sakarang saya masih mikir apa arti sesungguhnya dari “hajat”.
    Perbedaan arti dari “hajat hidup”, “buang hajat”, dan “hajatan” membuat saya makin tidak mengerti apa arti “hajat”. Mungkin untuk posting berikutnya Asop bisa membantu saya untuk memahami artinya.

    *salaman
    Saya juga milih pake WC daripada urinoir. Walaupun seharusnya dengan cara penggunaan yang benar “punya” kita nggak mungkin kelihatan, tapi tetep aja kalo pake urinoir rasanya kayak orang-orang bisa ngelihat “punya” kita dengan mudah. Di dalam bilik WC lebih private, lebih enak, lebih lega.

    Wkwkwkwk…. dahsyat bahasannya!

    • 8 March 2014 at 09:32

      Soal hajat, kayaknya bagus sekali kalo ada yang menuliskannya dan dikirim ke rubrik “bahasa” di KOMPAS. 😀

      *salaman
      Rasanya gak ada privasi ya di zaman modern ini. 😆

  17. 30 August 2013 at 16:52

    jadi inget pulang kampung kemarin, toilet jongkoknya mampet… ngambang ga karuan euy…

    • 8 March 2014 at 09:31

      Iyaks…. Tak usah dibayangkan ya… 😕

  18. 1 September 2013 at 21:35

    yah namanya juga toilet umum jadi harap maklum aja soal kebersihannya. tidak setiap orang memiliki pemikiran yang sama meski ia tau mana yang benar dan salah

    • 8 March 2014 at 09:31

      Betul. Seharusnya kalau tahu mana benar mana salah, mereka tak bisa mengelak lagi. Tapi, apakah mereka tak punya kapasitas otak untuk itu?

  19. 3 September 2013 at 03:43

    memang nggak salah kalo cewe ribet suka bawa-bawa tissue basah, nah kalo keadaan seperti di atas kan jadi berguna sekali tissue basah ny,,,

    **Ingin lebih SEHAT bonus Berat Badan Ideal? Yuk mampir ke blog Q yang ini juga yah Q yang ini juga yah http://nutrisicantik.blogspot.com/2013/08/akibat-benturan-kepala_27.html

    • 7 March 2014 at 11:55

      Betul. Saya mengerti kalo wanita bawa tisu setiap kali ke WC. 🙂

  20. 4 September 2013 at 13:53

    akhirnya Asop posting juga 🙂

    • 7 March 2014 at 11:54

      Tapi masih mandeg-mandeg. 😆

  21. 5 September 2013 at 14:10

    Hmm .. kalau di Cina jauh lebih parah lagi … benar-benar bisa stress kalau tidak biasa ….

    • 7 March 2014 at 11:54

      Saya inget postingannya Bang Keven…. Toilet RS di Tiongkok ada yg kurang berkenan…. 😦

  22. 8 September 2013 at 19:43

    nah ituuu kadang ga ada tisunya, jadi harus sedia terus kak 🙂

    • 7 March 2014 at 11:51

      Iyap, saya bisa mengerti kalo wanita bawa tisu tiap kali ke WC. 🙂

  23. 20 September 2013 at 21:17

    Indonesia emang suka aneh-aneh, udah tau buat duduk malah di Jongkokin,hehehe 😀

    • 7 March 2014 at 11:48

      Jongkok malah didudukin… 😆

  24. 20 September 2013 at 23:37

    Makanya aku lebih suka toilte jongkok kalo ditempat umum. Selain susah bab kalo ditoilet duduk, ada alasan lainnya juga. Kan di toilet duduk, pantat yang lagi bab nempel di toiletnya, ga tau juga kan kulit orang lain itu ada penyakitnya apa engga? hahahaha….

    • 7 March 2014 at 11:48

      Ada panu….

  25. 28 September 2013 at 11:30

    haha sama..
    tapi sekarang udah ada kertas tebel buat jadi alas duduk untuk dibawa kemana-mana..
    tapi saya juga sebisa mungkin gak usah deh nempel2 segala.. 😆

    • 7 March 2014 at 11:47

      Ngeri juga ya kalo nempel2 di toilet2 Indonesia. 😆

  26. 2 October 2013 at 16:46

    Memang fasilitas umum yang memadai dengan fasilitasnya di Indonesia masih terbatas, apalagi ditunjang oleh prilaku kita pada umunya yang belum care terhadap kebersihan.

    • 7 March 2014 at 11:45

      Barangkali harus didenda dulu kali ya baru jera….

  27. 1 November 2013 at 20:04

    Pasti yang memakai sebelum Asop orang terbiasa di toilet jongkok, wkwkwk…
    Kayaknya di kita orang belum terbiasa ber-toilet duduk. Sebaiknya diberi pilihan, ada toilet duduk dan toilet jongkok.

    • 6 March 2014 at 22:32

      Tapi kata penelitian, WC jongkok lebih menyehatkan. 😆 harus diakui, kalo jongkok BAB terasa lebih lancar. 😀

  28. 16 November 2013 at 05:25

    Klo ingat WC d’ bandara mksr kn slalu ada thu yg jaga n cleaning service dpn pintu tiap ada yg kotor lgsung d’bersihkan, d’cek setiap pintu”, yg gk enak d’ liat d’bersihkn dg lap pke tangan aja d’pel lantainya.

    • 6 March 2014 at 22:23

      Wow. Ini menulis komentar dari hape? Disingkat-singkat… :mrgreen:
      Kalau memang begitu, maka tak ada salahnya kita memberi sedikit tip untuk para pembersih itu. 🙂

  29. 1 December 2013 at 10:23

    Wc skg bau2

  30. 11 March 2014 at 23:10

    Oh…kirain cara aku salah, ternyata bener. Soalnya di rumah ada WC duduk dan ditutup full 🙂
    Tapi emang nyebelin sih kalau toilet duduk dipake jongkok.
    Dan lebih nyebelin lagi kalau WC-nya bau dan airnya nggak berkualitas.

    • 19 November 2015 at 11:51

      Hehehe itulah dia, lain keluarga lain kebiasaan. Kalo di kosan misalnya, yang cowok semua, jelas harus otomatis dudukannya diberdirikan setelah BAB. Karena cowok semua kan. Kalo di kosan cewek, tentu dudukannya dibiarkan tetap saja, kan cewek selalu duduk kalo pipis. 🙂

  31. 8 December 2015 at 17:53

    Lebih sebel lagi kalo kepaksa nemu toilet beginian yang gak ada selang airnya. Menyiksa banget hahaha

    • 10 December 2015 at 18:10

      Pokoke saya mah kalo ke WC umum, saya berharap ada tisunya banyak. Udah itu aja. Kalo ga ada air gapapa, asalkan ada tisu banyak dan WC-nya kering. 😆


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Si Empunya Blog

Siapa saya? Monggo lihat halaman "Tentang Saia..." di atas. Tinggal klik! Mau meninggalkan jejak? Monggo klik halaman "Tinggalkan jejak..." di atas. Jangan lupa, nikmatilah hidup ini. ^_^

Hubungi saya di jejaring sosial

Kadang-kadang di blog ini saya menggunakan emoticon Parampaa. Silakan datang ke blog Bang Ova di sini. Dapatkan emoticon-nya di sini. HAJAR!!

Masukkan e-mail Anda di sini kalo mau dapet pemberitahuan postingan baru saya via e-mail

Join 973 other followers

Powered by FeedBurner

Saya sedang membaca ini


Tulisan Saya Berdasarkan Bulan

Arsip Tulisan

Ups, maap, kalau mau melihat arsip semua tulisan saya, lihat halaman di atas ya, yang "Arsip Tulisan" itu lho....

TIPS!

Kalo tulisan di blog saia ini terlalu kecil, monggo diperbesar. Untuk pengguna windows, tahan [Ctrl] sambil di-scroll mouse tengah. Untuk pengguna Mac, tahan [Cmd] dan tekan [+] atau [-].

Ga nyambung sih ini, bukan promosi, tapi kalo mau browser Safari, donlot di sini.

Blogroll: By Name


Abed Saragih "disave" |
Abi Harestya dan Bidadarinya |
Abu Aufa |
Abu Bakar "Bchree" |
Abu Ghalib |
Achmad Edi Goenawan |
Achoey El Harris |
Ade Kurniawati |
Adi Surya Pamungkas "bacelzone" |
Fan Adie Keputran |
Adya Ari Respati "abstractdoodle" |
Afra Afifah |
Ageng Indra |
Agry Pramita |
Agung Budidoyo |
Agung Firmansyah |
Agung Hasyim |
Agung Rangga "Popnote" |
Agung Yansusan Sudarwin |
Agustantyono |
Agyl Ardi Rahmadi |
Ahmad Musyrifin |
Akhmad Fauzi |
Alfi Syukrina |
Alid Abdul |
An Fatwa "Siho" |
Andi Nugraha |
Andi Sakab |
Andhika |
Andreas A. Marwadi |
Andrew Paladie |
Andrik Prastiyono |
Andyan |
Angga "SERBA BEBAS" |
Angga Dwinovantyo |
Anies Anggara |
Anindita |
Anistri |
Anita Rosalina |
Anto "Kaget" |
Anyes Fransisca |
Are 3DRumah |
Ari Artanto "Cah Gaul" |
Ari Muhardian "Tunsa" |
Ariana Yunita |
Arief Hartawan |
Arif "Bangkoor" Kurnia |
Arif Nurrahman |
Arif Sudharno Putro |
Ariyanti "Sauskecap" |
Arnolegsa Maupasha |
Arundati R.A. |
Aruni Yasmin Azizah |
Aryes Novianto |
Asep Saiba |
Asrul Sani |
Atha "kepompong" |
Aul Howler |
Awalul Hanafiyah "Masyhury" |
Baha Andes |
Baiq Fevy Wahyulana |
Bernadine Hendrietta |
Betania G. Rusmayasari |
Big Zaman |
Budi Nurhikmat |
Budi Prastyo "Kimbut" |
Calvin Sidjaja "Republik Babi" |
Cempaka Ariyanti |
Chocky Sihombing |
Citra "ceetrul" Hapsari |
Dadi Huang |
Danar Astuti Dewirini |
Daniel Hendrianto |
Daniel Maulana |
Deady Rizky |
Dede A. Hidayat |
Deny Marisa |
Depriyansyah Ramadhan "Iamcahbagus" |
Desita Hanafiah |
Destiana |
Desy Arista Y. |
Dewi Puspitasari |
Dewisri Sudjia "Desudija-DSK" |
Dhanika Budhi |
Dhewi Buana |
Dhimas Nugraha |
Didot Halim |
Dina Aprilia |
Dismas |
Ditya Pandu |
Doni Ibrahim |
Edda Nainay |
Efinda Putri |
Eko Ghesi Bardiyanto |
Elfa Silfiana |
Ella "Brokoli Keju" |
Erick Azof |
Erika Paraminda |
Erlin Fitriyanti |
Evan Ramdan |
Evet Hestara |
Fadhilatul Muharram |
Fahmi Nuriman |
Faisal Afif Alhamdi |
Faiza "MIDWIFE'S NOTES" |
Fandy Sutanto |
Fanny Azzuhra |
Fatra Duwipa |
Febe Fernita |
Felicia |
Ferry Irawan Kartasasmita "makhluk lemah" |
Fier "Pelancong Nekad" |
Fikri "Blue Zone" |
Fira "Fiya" |
Fitri Melinda |
Fitriyani |
Galih Gumilang "Gege House" |
Galuh Ristyanto |
Ghani Arasyid |
Gilang F. Pratama "Babiblog" |
Gitta Valencia |
Gugun "idebagusku.com" |
Gusti Ramli |
Hanif Ilham |
Hanny Aryunda Herman |
Hendrawan Rosyihan |
Hera Prahanisa |
Herni Bunga |
Herry "negeribocah" |
I Gede Adhitya Wisnu Wardhana |
Husfani A. Putri |
Ibnu Fajar "Ikky" |
Ilham JR |
Inge "Cyberdreamer" |
Intan Permata Kunci Marga |
Iqmal |
Irfan Andi|
Isdiyanto |
Ivan Prakasa |
Januar Nur Hidayanto "Yayanbanget" |
Jasmine Aulia |
Joko Santoso |
Joko Setiawan |
Juhayat Priatna |
Julianus Ginting |
Kang Ian . info |
Kang Ian . com |
Karina Utami Dewi |
Khalid Abdullah |
Khalifatun Nisa |
Kuchiki Rukia |
Lailaturrahmi Sienvisgirl Amitokugawa |
Lambertus Wahyu Hermawan |
Lerryant K. |
Lina Sophy |
Lucky DC |
Maghfiraa Alva |
Marchei |
Mario Sumampow |
Mas Ardi |
Mas Bair |
Mas Yudasta |
Mikhael Tobing |
Mirwanda |
Miswar Rasyid |
Mochammad AHAO |
Mohamad Husin |
Muhammad Abdul Azis |
Muhammad Hamka Ibrahim |
Muhammad Ihfazhillah |
Muhammad Riyan |
Muhammad Saiful Alam |
Muhammad Zakariah |
Nadia Fadhilah Riza |
Nanang Rusmana |
Nandini R.A. |
Necky Effendi |
Ninda Rahadi |
Nindy Ika Pratiwi |
Novina Erwiningsih |
Nur Azizah |
Nuri |
Perwira Aria Saputra |
Pipin Pramudia |
Pratita Kusuma |
Puji Lestari |
Pungky "PHIA" Widhiasari |
Putri Chairina |
Qori Qonita |
Radinal Maruddani |
Rahad Adjarsusilo |
Rahmat Hidayat |
Randi Rahmat |
Rasyida |
Regina |
Reisha Humaira |
Rie "Cerita Rie" |
Richie Lanover |
Rif'atul Mahmudah |
Rina Sari |
Rini Andriani "Athamiri" |
Riza Saputra |
Rizki "Hitam Putih Jingga" |
Rizki Akbar Maulana |
Ronie "Ravaelz" |
Rowman |
Rudi Wahyudi |
Ruri Octaviani |
Saipuddin Ar |
Septirani Chairunnisa Kamal |
Shafiqah Adia Treest |
Silvi Mustikawati |
Surya "Javanes" Pradhana |
Tasya Myanti |
Thyar |
Tiffany Victoria "Tiffa" |
T I W I |
Tony Koes "Macsize" |
Triana Frida Astary |
Triyani Fajriutami |
Uka Fahrurosid |
Ummu El Nurien</a. |
Upik "Pemburu Konstruksi Makna" |
Wahyu Asyari Muntaha |
Wahyu Nurudin |
Wahyu Putra Perdana |
Wendy Achmmad |
Widyan Fakhrul Arifin |
Wien Wisma |
Wildan Lazuardi |
Wiwin Siswanty |
Wiwing Fathonah Pratiwi |
Yori Yuliandra |
Yuli Anggeraini |
Zuli Taufik |

I’m a Liverpudlian!



%d bloggers like this: